Profesionalisme yang Tidak Pernah Marah

 
0
73
Profesionalisme yang Tidak Pernah Marah
Alinafiah | TokohIndonesia.com – Atur

[WAWANCARA] – WAWANCARA ALINAFIAH: Pria yang dikenal sabar dan nyaris tak pernah marah ini membuka ‘rahasia’ kemanusiaannya dalam wawancara dengan Wartawan Tokoh Indonesia.Com. Ia seorang CEO yang mengandalkan kemampuan profesionalisme. Sehingga ia tidak punya alasan yang bisa membuatnya marah. Pengalaman profesionalisme dan kemanusiaannya dapat berguna sebagai cermin yang baik bagi orang lain.

Selain nyaris tidak pernah marah, ia juga mampu mempercayai orang lain. Sebuah sikap yang tidak mudah diterapkan banyak orang. Simak juga visinya tentang bangsa ini terutama dalam kondisi saat ini. Berikut petikan wawancara linafiah, MBA, Dirut PT Pos Indonesia dengan Wartawan TokohIndonesia.com, Ch. Robin Simanullang dan Mangatur L Paniroy di Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Bandung, Senin, 19 Mei 2003.

Banyak orang yang memperhatikan bahwa Anda hampir tidak pernah marah. Apa rahasianya?

Gaya marah itu tidak perlu teriak-teriak atau membenci orang, tapi dengan memberikan disposisi, memberikan arahan sehingga orang menjadi tahu ke mana sebetulnya. Tapi bukan dengan menjadi teriak-teriak. Marah untuk mendidik supaya lebih bagus. Dan saya tidak akan marah sebab marah itu capek dan kebetulan dalam lingkungan dan gaya saya yang seperti ini hampir tidak alasan yang membuat saya bisa marah, kadang-kadang saya heran juga.

Contohnya, saya punya sopir pribadi sudah lima tahun. Saya sendiri mencari-cari pernahkah perlu marah kepada dia? Ternyata tidak ada. Apakah saya harus marah? Sedangkan dia disiplin bagus, tepat waktu, mobil bagus tidak pernah ada masalah. Kadang-kadang saya bertanya, kenapa dia tidak bisa membuat saya marah. Mungkin dengan cara saya menghandle dia, dia sudah siap. Saya sendiri tidak perlu lagi untuk mengatakan “Kamu ingat ya jangan sampai telat?” Saya tidak perlu katakan demikian dia sudah datang lebih awal, tersenggol mobil lain pun tidak pernah.

Jika saya berada di dalam mobil, saya akan bersikap sebagai penumpang, biar dia saja ambil jalan, saya tidak mau komentar. Jika saya terlambat karena macet di jalan, itu adalah urusan saya nanti dengan yang di tujuan. Tapi saya tidak akan pernah marah dengan sopir, itu wewenang dia di jalan. Makanya saya heran jika ada orang menumpang mobil lain, penumpang ini menjadi ikut mengatur jalan, bahkan sampai marah, “kamu bodoh seharusnya kamu motong jalan”. Bagi saya kenapa kita capek berpikir. Saya di dalam mobil bisa mimpi loh! Saya tidur di mobil bisa mimpi, itu yang membuat saya tidak terlihat capek.

Perjalanan saya serahkan bulat-bulat kepada driver sebagai pemimpin dalam perjalanan ini. Saya malah menjadi ngeri jika sopir membawa mobil dalam keadaan marah, itu membuat dia unstabil dan bisa menyebabkan kecelakaan. Pernah saya ganti sopir, saya tidur. Mungkin karena groginya membawa saya, ia membawa saya berputar-putar Jakarta, tetapi saya tidak marah, karena saya tahu dia sopir baru dan dari Bandung lagi. Jadi nggak bisa marah, saya juga heran.

Pernah saya melakukan kunjungan ke daerah, Surabaya. Ketika saya sampai, ternyata Kawilbag tidak menjemput. Saya berpikir kunjungan saya ini adalah kunjungan resmi, dirut datang, jadi tidak mungkin tidak dijemput. Tapi jangan marah dulu. Ternyata akhirnya saya ambil taksi dan bertemu di lobby hotel. Apa sulitnya sekarang naik taksi, apakah jatuh martabat jika naik taksi? Tidak. Sampai hotel saya juga tidak marah dengan Kawilbag itu. Ternyata ia memiliki problem di jalan, traffic jam, yang diluar kendali dia, sedangkan saya tahu orang ini sangat ketat protokolnya. Ketika itu saya benar-benar tidak marah, padahal dia sudah setengah mati ketakutan. Setelah itu pembicaraan malah lebih baik.

Dengan sikap yang tenang itu akhirnya kita dapat melakukan perubahan tanpa adanya resistensi. Contohnya perubahan di wilayah Ujung Pandang, sehingga masyarakat Ujung Pandang jika menerima surat hari ini yang capnya tadi malam, lewat azhar belum sampai ke rumah, harap ditelepon ke kepala kantor Pos Ujung Pandang. Tidak satu pun komplain (keluhan) dari masyarakat. Karena apa? Itulah cara menghandle kawan-kawan karena dirutnya atau kepala kantornya sudah bicara di tivi, dia kepala eksibisi-nya, pasti sudah mengambil langkah duluan. Jadi tidak perlu marah. Kalau kita ceramahin terus, apalagi dengan tidak simpatik, orang pasti bicara “Wah ini orang baru datang udah mau sok merubah, sok pintar lagi” itu resistensi dulu.

Itu sebuah karakter ya, tidak mungkin dibikin-bikin. Menurut Anda, apa proses sehingga Anda mempuyai karakter seperti ini?

Saya dilatih dari kecil hidup dengan masyarakat kebanyakan. Saya bisa menginternalisasi. Saya juga pernah merasakan seperti itu. Saya tahu rasanya orang uangnya 300 ribu kita kasih 10 ribu. Saya pernah merasakan. Jadi artinya tidak menganggap remeh orang lain, termasuk stratanya. Terus terang saja, bapa saya seorang PNS, barangkali telur bisa dibagi enam potong. Dan barangkali ketika saya sudah bisa makan lima telur sekaligus, masih banyak kawan-kawan saya yang di keluarganya kalau makan telur dibagi enam.

Kalau sesekali saya melempar telur satu ke mereka, nah bagaimana kenikmatan mereka itu, meskipun nilai satu telur bagi kita tidak seberapa, tapi bagi orang lain itu adalah lebih dari cukup. Itu barangkali karakter tadi terbentuk karena merasakan. Mungkin berbeda dengan anak saya, ketika dia lahir sudah tinggal di rumah permanen, rumah milik PT. Pos Indonesia, bapanya kepala kantor pos. Mereka bisa cengeng, tidak bisa menerima keadaan, termasuk hal-hal yang menyulitkan dia di sekolah. ?crs-mlp (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia 03, Juli 2003)

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)


02 | Kebanggaan Kepada Orangtua

Dengan pengalaman Anda ketika masih kecil tadi, dimandikan oleh orang tua, sebuah peristiwa yang tidak semua orang mengingatnya. Sejauh mana peristiwa tersebut mempengaruhi perkembangan pribadi Anda?

Pengaruh yang langsung dengan perkembangan pribadi saya sendiri adalah luar biasa, saya masih mengingat jasa orang tua saya, dimandikan oleh ibu saya. Nah lalu bagaimana saya bisa membalas? Bukan duit yang menyenangkan dia, tetapi proud atau kebanggan orangtua itu sampai sekarang. Kalau saya muncul di tivi, suatu kebangaan ibu saya melihat anaknya dari layar kaca.

Sering dia berkomentar dan menelepon saya, “Kamu koq tambah gemuk sekarang atau kamu koq tambah kurus sekarang.” Dia langsung berkomentar. Tapi di balik itu, sebagai orangtua adalah tersirat suatu kebanggaan dan itulah kebahagian juga bagi saya, masih bisa disaksikan oleh orangtua.

Banyak orang ketika berada pada posisi, orangtua sudah tidak dapat menyaksikan. Itulah kira-kira motivasi untuk selalu terus berprestasi. Kita bisa menimbulkan kebanggaan kepada orangtua. Karena orangtua nggak bisa dibalas harta dan rumah lalu selesai. Kebanggaannya di kampung, paling tidak di antara teman-temannya, ia dianggap orang yang sukses karena bisa melahirkan seorang anak yang berhasil ‘jadi orang’. Karena itu untuk ukuran kampung sudah cukup, menjadi kepala kantor. Banyak orang yang bertanya kepadanya. Kebetulan, alhamdulillah, dari keluraga yang banyak itu (12 bersaudara) istilah orang kampung sudah ‘jadi orang’ dan masing-masing hidup mandiri.

Salah satu butir yang kami tangkap dari kisah Anda tadi bahwa Anda berorientasi terhadap prestasi. Bisa dijelaskan bagaimana penerapan orientasi prestasi tadi di dalam karier Anda?

Saya ingin tampil beda. Peran saya pertama-tama sebagai kepala kantor pos, tapi dalam posisi itu saya bisa melakukan berbagai hal baru dan kadang-kadang menentang arus. Misalnya, ketika di Unjung Pandang. Kita dilarang oleh atasan melakukan perubahan. “Kerjakan sistem ini, karena itu peraturan.” Perubahan itu biasanya menyimpang. Tetapi saya katakan, “Ijinkan enam bulan saja kami ujicoba Pak, nanti lihat hasilnya.” Jadi bukan hanya sekedar taat atau loyal tetapi juga dapat mengerjakan hal yang kita yakini lebih baik jika dilakukan. Bisa melakukan perubahan. Barangkali, saya tidak tahu oleh karena berbeda dengan yang lain, atasan jadi percaya.

Tetapi siap juga orang-orang yang seperti ini ditendang, karena dianggap melawan arus. Tetapi sekali lagi, niat kita: “Aku melakukan ini tadi bukan untuk diangkat menjadi kepala wilayah.” Dengan melakukan perubahan yang hasilnya lebih baik, muncul kepuasan batin. Apalagi bila kita lihat berhasil dan bermanfaat bagi orang banyak. Anak buah pun senang dan tambah bergairah, dia bekerja tidak melihat jam tetapi menyelesaikan pekerjaan.

Di Jakarta sebagai kepala wilayah, saya bisa main golf pagi, baru masuk kantor jam 3. Tetapi bukan untuk berolahraga, melainkan berinteraksi dengan dunia luar. Begitu masuk kantor, saya panggil staf, berikan arahan dan disposisi lalu jalan!

Dengan demikian Anda adalah tipe pribadi yang sangat mempercayai orang lain. Suatu hal yang sulit bagi banyak orang. Apa rahasianya?

Sebenarnya begini kuncinya. Bagaimana membuat orang lain senang bekerja dengan kita. Senang menjadi bawahan, kalau kita atasannya. Dan atasan juga senang ketika mempuyai bawahan seperti kita. Tetapi bukan dengan memelas dan menjadi penjilat. Melainkan berani untuk mengkoreksi jika melihat ada keputusan atasan yang tidak tepat. Maka dalam kondisi sekarang, kalau ada keputusan saya yang salah, anak buah itu berani ngomong, dan pasti tidak termasuk blacklist karena mengkoreksi pendapat saya, ada jaminan akan itu.

Contohnya, kemarin kita mendapat penghargaan The Best IT Product of The Year 2003. Hal ini muncul dari ide yang sederhana. Pikiran saya, sekarang ada teknologi, ada handphone, kasih saja semua kantor pos itu handphone. Kemudian pesan orang dari hanphone itu kita terjermahkan ke cetakan. Kita antar untuk orang yang tidak punya handphone. Misalnya dari Pematang Siantar ke Seribudolok, pesan handphone tinggal diantar. Itu saja idenya. Idenya sederhana. Tetapi karena ide itu ditangkap, diterjemahkan dan kembangkan lagi, ternyata produk itu berkembang. Ternyata tidak harus semua kantor pos diberi nomor handphone. Teknologi sudah mengatur sendiri setiap kartu nomor dia akan tahu mana yang ke Siantar, mana ke Tebing, mana ke Medan.

Bagaimana ide itu bisa ditangkap dan diterjemahkan seperti itu? Kuncinya kalau orang-orang di sekitar kita itu mau menangkap, mendukung dan menerjemahkan. Juga bisa berpendapat beda: ide itu percuma, boros, tidak akan efektif. Kita buka dialog. Suara yang kontra bukan untuk dicatat tapi untuk didengar. Sehingga muncul anak-anak muda dengan pendidikan tinggi S-2 – S-3, kita kasih dalam badan legal yang namanya Development Team. Mereka berpikir untuk perusahaan ini. Dia yang merekomendasi. Tapi ingat, keputusan ada di manajemen. Mereka hanya merekomen. Itulah pemikir-pemikir perusahaan. Murah dan tidak perlu sewa konsultan, tapi kontrak. Kalau kita pakai nama-nama yang besar itu belum tentu hasilnya sesuai yang kita harapkan. crs-mlp. (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia 03, Juli 2003)

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)


03 | Tampil Beda dengan Kreatifitas

Untuk menjadi tampil beda diperlukan kreatifitas dan inovasi. Inovasi apa saja yang Anda sudah lakukan?

Posisioning perusahaan ini. Saya tidak mau PT Pos Indonesia diposisikan sebagai pengantar surat pemerintah. Yang kira-kira kalau mengirim itu, mengirim foto copynya kalau hilang nggak apa-apa. Tetapi seharusnya orang berani mengirim ijazah asli melalui kantor pos. Itulah konsep yang kami perkenalkan. Telah diminta ijin dicoba di Jakarta. Dan itulah yang mengangkat image POS masuk ke bisnis. Sekarang sudah menjadi biasa. Kalau tidak, mana mau bank-bank itu memakai jasa pos. Waktu itu kita undang orang-orang bank. Di situlah kita lakukan yang namanya Pos Plus, kiriman bernegosiasi. Masuk ke bisnis.

Nah, itu yang kita bawa ke Jakarta dulu dan sekarang sudah menjadi produk jasa yang rutin, meskipun waktu itu ada pro-kontra. Yang berperan direktur muda Jakarta. Tetapi positip. Kita tetap sopan dengan senior kita. Tapi di bidang ide, ini ya kita coba, harus siap mandiri dan bekerja bukan tergantung PT Pos. Tetapi selagi kita bekerja, kita memberikan yang terbaik. Tapi kalau kita takut diberhentikan, itu pasti tidak siap. Kelurga juga harus tahan. Kebetulan saya memilki pasangan hidup orang Batak, keluarga wiraswasta bukan birokrat. Dia tidak berkata, “hati-hati jangan sampai dikeluarkan.” Ia berani dan mendukung. “Sudah Pak jangan takut.” Seperti suporter, “Ayo maju kamu bisa!” Saya juga menjadi terdukung.

Dari cerita tadi, Anda sedang membangun kultur manajemen profesional, yang tidak terlalu birokratis dan paternalistik, mungkin Anda bisa uraikan?

Itu kan mudah dilakukan karena dimulai dari top eksekutif, yang selama ini sulit diubah. Karena kalau dimulai dari puncak, yang bawah pasti ikut semua. Itulah birokrasi. Anda boleh cek ke dirut BUMN yang lain, tanya lapisnya berapa banyak. Saya sering berkunjung ke dirut BUMN yang lain. Heran saya, itu seperti pasukan militer saja yang menjaga. Ini adalah mental alami birokrasi, perlu proses.

Memang untuk mengubah kultur itu tidak sembarangan, harus dimulai dari level atas. Contohnya, kita tidak mau terlalu birokrat. Kendati ada protokoler, misalnya, kalau pergi jauh, naik pesawat, saya sendiri, efesien, tidak perlu banyak. Saya tidak mau menyusahkan hal-hal yang kurang penting. Kalau saya menginap di hotel, tidak perlu bintang lima, di mana saya bisa nginap di situ, tidur.

Bagaimana tantangan Pos Indonesia dalam menghadapi kemajuan teknologi dengan maraknya surat elektronik (e-mail)?

Luar biasa. Lingkungan berubah dimulai dari regulasi. Teknologi di sebuah zaman metropolitan semua sudah berubah. Untuk eksis harus meningkatkan inovasi. Salah satu jawabannya adalah transformasi bisnis. Apa yang bisa dilakukan? Ditransform dari mulai struktur. Kita mulai bulan depan ini, akan berubah susunan direksi dalam arti bidang penugasan. Kalau sekarang ada dirut, direktur keuangan, operasi, SDM dan perencanaan. Ini sudah tidak sesuai lagi. Susunan tetap tapi kita bagi dalam transformasi ini, hanya stuktur yang dimainkan, kost dapat lebih kecil. Salah satunya nanti adalah direktur jaringan dan teknologi, urusannya hanya jaringan saja.

Karena PT Pos memiliki lima ribu jaringan kantor pos. Selama ini dibebankan ke operasi. Padahal jaringan itu lebih cenderung sekarang ke teknologi. Sehubungan dengan ini kita baru meluluskan ke 451 tenaga D3 informatika yang siap mendukung inovasi di papan bawah.

Saya baru berkunjung ke Jayapura. Saya datang ke kantor pos di ujung sana, saya tanya di komputer Jayapura, rekening hanphone saya, muncul juga di komputer. Udah bayar atau belum? Muncul tuh! Sekarang bisa membayar telepon dengan menggunakan teknologi online. Itulah cara kita menjawab tantangan itu. Selain itu, 8 layanan ekspress ke delapan kota, kita luncurkan bulan April 2003. Itu semua untuk menjawab bahwa pos ekspress berjaminan dan berasuransi kiriman sehingga jangan orang takut. Untuk asuransinya, kita tidak bekerjasama dengan perusahaan asuransi tetapi kelola sendiri. Puluhan miliar kita dapat.

Kemudian direktur bisnis dan komunikasi. Ada lagi direktur bisnis dan keuangan, jadi bisnisnya didikutsertakan. Sehingga dipercaya dengan bisnisnya yang kental. Kita harus siap bersaing, karena kebayang juga kalau nanti akan ada kantor pos Jerman terbangun di jalan Lapangan Banteng depan Borobudur sana. Karena sudah ada kantor pos Jerman di Singapura. Hal ini yang juga akan kita hadapi. Tapi kalau kita tidak menggeliat dengan konsep yang berani dan inovatif, bagaimana?

Apa yang terjadi ketika kita muncul di koran dengan nada negatif. Pos untuk pertama kalinya selama tiga tahun rugi. Memang benar, bukan salah wartawannya. Lalu langkah yang kita ambil, kita datang ke menteri berserta jajarannnya untuk memberikan konsepnya bahwa langkah-langkah ini yang harus diambil dan memberikan prediksi keuntungan yang akan diperoleh, dengan program konsisten. Bukan meributkan siapa yang menulis. Itu mengabiskan energi saja. crs-mlp (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia 03, Juli 2003)

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)


04 | Kesiapan PT Pos Indonesia

Dari segi teknologi, bagaimana kesiapan PT. Pos Indonesia?

Kita sudah menggunakan jaringan online di 180 kantor, seperti tadi Jayapura. Sekarang kita sedang mengembangkan kerjasama dengan FIT, sebuah perusahaan yang menangani sejumlah cicilan sepeda motor. Kantor pos bekerja sama menjadi alat tagih. Tahun ini investasi Pos Indonesia lebih mengarah kepada investasi SDM, pendidikan dan traning.

Tantangan yang pernah dihadapi dalam melakukan inovasi?

Tentu saja ada tantangan. Dari sekian banyak orang, mungkin ada perbedaan pendapat. Itu wajar saja. Bukan aib itu. Oleh karena mereka berpikir berbeda, jangan dijauhi. Jika ada kesempatan kita menjelaskan, kita jelaskan. Maka inovasi yang kita bangun harus dengan perhitungan. Jangan semata dengan hitungan sendiri, tetapi dengan tim, didukung dengan serikat kerja. Tetapi jika itu gagal jangan salahkan tim, karena keputusan ada di tangan manajemen.

Agar dapat menjadi inovator itu perlu proses, bagaimana Anda dapat menjadi orang yang inovatif?

Saya termasuk yang bersyukur. Karena apa? Karena saya termasuk angkatan pertama di PT Pos Indonesia yang disekolahkan di sekolah bisnis. Waktu penunjukan benar-benar keberuntungan, hanya tunjuk jari. Jadi inovasi timbul dari pengalaman operasional ditambah dengan pengalaman konsepsi bisnis dan interaksi dengan dunia luar.

Visi Anda tentang bangsa ini terutama dalam kondisi saat ini?

Pemimpin bangsa ini harus memilki visi yang bukan sekedar pernak-pernik. Permasalahan bangsa diletakkan dahulu seperti apa. Untuk itu, perlu betul-betul, dilibatkan banyak profesional. Jadi saya pikir harus ada visi dan gambaran besar transformasi. Bangsa ini juga harus memiliki perencanaan transformasi yang bagus.

Saya mencoba mengambil contoh PT Pos ini sebagai bangsa, sebagai negara. Sedangkan saya sebagai presidennya. Begitu kan? Saya harus bisa menggambarkan 5 tahun ke depan perusahaan ini mau dibawa ke mana. Mulai berpijaknya 2003 dengan program-program yang terjadual dengan bagus. Dibuat dahulu sebuah blueprint bangsa ini mau dibawa ke mana. Kalau dulu dalam zaman orde baru ada pelita 1, pelita 2 dan 25 tahun lepas landas. Di situ ada program yang jelas.

Falsafah hidup Anda?

Bekerja keras, hemat dan jangan mengeluh, jangan menyalahkan orang.

Hobi Anda?

Saya bisa menikmati alam, pertanian dan perikanan. Mimpi saya selalu berhubungan dengan ikan. Itu sebabnya jika saya puyeng, karena rapat dan urusan kantor, saya pergi ke kebun. Di situ ada ikan. Saya memancing, menangkap ikan. Bukan untuk dijual tapi hiburan. Setelah itu, saya pulang sudah bisa bekerja sampai 12 malam lagi. Jadi benar-benar saya jadikan sebagai tempat hiburan. Kalau golf itu bukan hoby tapi itu hanya untuk networking.

Makanan kegemaran?

Untuk makanan saya tidak pernah rewel. Ibu saya paling mudah untuk melayani saya dalam makanan, tinggal diambil dari kebun dan dimasak. Saya tidak pernah meminta yang macam-macam. Makanan yang dibuat sendiri itulah kenikmatan. Satu lagi makanan favorit saya itu adalah genjer, sudah langka, jadi saya budidayakan di kebun, makanan paling enak, kampungan tapi sehat. crs-mlp (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia 03, Juli 2003)

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Alinafiah, | Kategori: Wawancara | Tags: CEO BUMN, Pejabat BUMN, Profesionalisme, Tidak Pernah Marah, Posindo

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here