BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    32.1 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Beranda Supranalar Prolog Supranalar: Mendewakan Logika, Memenjarakan Jiwa

    Prolog Supranalar: Mendewakan Logika, Memenjarakan Jiwa

    0
    Supranalar, Melampaui Batas Langit Logika, Sebuah Gagasan Diksi. Karya Ch. Robin Simanullang
    Lama Membaca: 3 menit

    Kita hidup di puncak sebuah peradaban yang mabuk akan rasionya sendiri. Hari ini, manusia abad ke-21 menatap langit bukan lagi untuk mencari Tuhan atau merenungkan keajaiban penciptaan, melainkan untuk menghitung jarak galaksi, memetakan satelit, dan merencanakan kolonisasi Mars. Kita mengira, dengan menggenggam rumus fisika quantum dan algoritma kecerdasan buatan, kita telah menggenggam seluruh kebenaran.

     

    Dalam lanskap modern yang mekanistis ini, lahir sebuah tren baru yang dianggap sebagai lambang kecerdasan tertinggi: Ateisme. Menjadi ateis hari ini sering kali diposisikan sebagai pencapaian intelektual, sebuah tanda bahwa seseorang telah merdeka dari “takhayul” masa lalu. Kaum ateis modern mendewakan logika duniawi, mengunci diri mereka dalam sebuah ruangan kedap bernama empirisme, dan memproklamirkan bahwa hukum sebab-akibat fisik adalah satu-satunya penguasa semesta.

    Namun, benarkah ateisme adalah puncak dari kecerdasan berpikir? Ataukah, ia justru merupakan sebuah bentuk stunting filosofis—sebuah kondisi di mana nalar manusia berhenti tumbuh tepat ketika ia baru saja menyentuh ambang pintu kebenaran yang sesungguhnya?

    Buku (Supranalar) ini lahir untuk menggugat ke­sombongan ego intelektual (logis) yang sempit itu.

    Ketika para ahli filsafat logis meletakkan premis purba mereka, “Ada yang ada karena sebab-akibat ada yang ada,” mereka sedang menelusuri rantai kausalitas yang tak berujung. Ilmu pengetahuan mencoba melacak rantai ini ke belakang, menyusutkannya menjadi teori evolusi, lalu menyempitkannya lagi menjadi setitik embun purba atau setitik api ledakan besar (Big Bang).

    Tetapi nalar yang jujur dan radikal (tuntas sampai akar-akarnya) tidak akan berhenti di situ. Nalar yang berani akan terus mengejar: Lalu, apa dan siapa penyebab adanya setitik embun atau setitik api tersebut?

    Di sinilah matematika dan logika duniawi menemui jalan buntu. Jika setiap akibat harus memiliki sebab, maka rantai ini akan mundur tanpa batas (Regressus in Infinitum)[1], sebuah kemustahilan logis yang membuat seluruh eksistensi kita hari ini menjadi tidak valid. Untuk menyelamatkan logika itu sendiri, nalar manusia dipaksa membentur langit-langitnya. Nalar dipaksa mengakui adanya Causa Prima—Penyebab Pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun.[2]

    Sayangnya, kaum ateis memilih berhenti di bawah langit-langit itu. Mereka menolak melihat ke atas, takut bahwa apa yang ada di balik langit logika akan meruntuhkan ego rasionalitas mereka. Mereka me­ngira, di atas nalar hanya ada kebodohan dan irasionalitas.

    Melalui buku ini, saya ingin memperkenalkan sebuah kategori berpikir baru, sebuah jembatan linguistik dan filosofis yang saya sebut: SUPRANALAR (Suprarasional, Suprareason, Superreason).

    Advertisement

    Kita perlu meluruskan salah kaprah sejarah. Iman bukanlah musuh dari nalar. Iman bukanlah wilayah bagi orang-orang yang malas berpikir. Sebaliknya, kita beriman justru karena kita berpikir begitu rasional hingga kita berhasil menembus batas langit logika duniawi.[3]

    Supranalar bukanlah irasional (di bawah nalar/cacat logika). Supranalar adalah dimensi di atas nalar—sebuah ruang di mana logika murni melompat dengan sadar untuk memberi nama dan menyembah Sang Causa Prima. Sebagai pembanding: James Lindsay (1910) dalam The Fundamental Problems of Metaphysics menegaskan, Tuhan, sebagai Penyebab Pertama, adalah Landasan dan Penyebab dari semua makhluk atau penyebab sekunder, tanpa Dia semua ini tidak dapat eksis atau ada. Tuhan adalah Sang Causa Prima, segala sesuatu mendambakan kausalitas langsung-Nya.[4]

    Ruang inilah yang kita sebut sebagai ruang religius. Di dalam ruang supranalar inilah Sang Penyebab Pertama disapa dengan penuh intimasi: sebagai YHWH, Sang Alfa dan Omega dalam tradisi Yudeo-Kristen, atau sebagai Debata Mulajadi Nabolon, Na so marmula jala na so marujung (Yang tidak bermula dan tidak berakhir) dalam kearifan luhur kosmologi Batak.[5]

    Buku ini adalah undangan untuk melakukan lompatan logis yang indah itu. Kita akan membedah me­ngapa hewan tidak bisa beriman karena keterbatasan nalarnya, mengapa kaum ateis terjebak dalam sangkar emas yang mereka buat sendiri, dan bagaimana manusia supranalar menemukan kemerdekaan jiwa yang sejati.

    Selamat menembus langit logika. Selamat berpikir melampaui batas duniawi. Mengenal (mengasihi dan memuliakan) Sang Causa Prima dengan segenap hati, segenap jiwa/roh, dan segenap nalar akal budi. Supranalar: Logika Ruang Mahakudus (Superreason: The Logic of the Holy of HoliesSupranalar: Bisuk Banua na Sun Badia).

     

    Penulis: Ch. Robin Simanullang, Cuplikan Prolog Buku SUPRANALAR, Melampaui Batas Langit Logika (Sebuah Gagasan Diksi), Penerbit Pustaka Tokoh Indonesia 2026

    Video:

    THE SUPRAREASON HYMN: THE LOGIC OF THE HOLY OF HOLIES – Asasira Music – The Batak Institute

    Footnotes:

    [1] Kant, Immanuel, 1882. The Philosophy of Kant in Extracts; Belected By John Watson. Kingstone: William Bailie, Printer, p. 98.

    [2] Britannica, First Cause, Philosophy. https://www.britannica.com/topic/first-cause. Accessed, Jun 7, 2026.

    [3] Bandingkan: Tolstoi, Leo N., 1902: What is Religion? And Other New Articles and Letters; Translated by V. Tchertkoff and A. C. Fifi eld; New York: Thomas Y. Crowell & Company, p.10-11.

    [4] Lindsay, James, 1910. The Fundamental Problems of Metaphysics. Edinburgh and London: William Blackwood & Sons, p. 51.

    [5] Simanullang, Ch. Robin, Drs., 2022. Hita Batak: A Cultural Strategy, Jilid 1. Jakarta: Pustaka Tokoh Indonesia, h. 258.

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini