Deklarasi GIN: Jangan Ada Kudeta

 
0
35

Deklarasi GIN: Jangan Ada Kudeta

[BERITA TOKOH] – GIN – Berita Tokoh 11/1/11: Dilatarbelakangi keprihatinan atas rendahnya integritas para pejabat publik sehingga praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) masih mendominasi kehidupan bangsa baik di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat, sejumlah tokoh Indonesia mendeklarasikan Gerakan Integritas Nasional (GIN) di Gedung Stovia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa, 11 Januari 2011 (11-1-11).

Mereka adalah Ahmad Syafii Maarif, Shalahuddin Wahid (Gus Sholah), Pendeta Natan Setiabudi, Bambang Ismawan, Putut Prabantoro, Kasturi Sukiadi, Parni Hadi, Wisnubroto, Theresia Kristianty, Mayjen TNI (Pur) Sudrajad dan Teguh Santosa. Deklarasi GIN itu diisi diskusi kebangsaan “Kepemimpinan di Tengah Bencana”. Selain Syafii Maarif, tampil sebagai pembicara adalah Salahuddin Wahid ( yang didaulat menjadi Ketua Umum GIN), Pendeta Natan Setiabudi (jadi Sekretaris GIN),¬† Jend. (P) Endriartono Sutarto (Mantan Panglima TNI), Richard Bagun (Pemred Harian Kompas) dan moderator Putut Prabantoro (anggota GIN).

Menurut Ahmad Syafii Maarif, yang akrab dipanggil Buya Syafii Maarif, rendahnya integritas para pejabat publik sehingga praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) masih mendominasi kehidupan bangsa ini adalah permasalahan besar bangsa Indonesia. “Padahal, kita sudah melakukan upaya pemberantasan korupsi,” ujar Syafii.Namun, menurut Syafii, kudeta merupakan langkah yang harus dihindari, mengingat langkah tersebut tidak menyelesaikan masalah dan akan meminta banyak korban. “Jika ada ketidakpuasan terhadap pemerintah sebaiknya dilakukan dengan membuat alternatif solusi. Jika ekonomi atau pembangunan dikatakan baik oleh pemerintah, sebagai contoh, yang merasa tidak puas harus mengeluarkan angka tandingan,” ujar Syafii Maarif sekaligus menanggapi pernyataan pemerintah yang menunjukkan angka-angka keberhasilan pembangunan ekonomi.

“Angka-angka itu untuk siapa ? Untuk pemerintah atau untuk rakyat ? Cobalah pemerintah untuk melihat hal yang senyatanya. Data-data kemiskinan yang jauh dari apa yang diomongkan pemerintah merupakan salah satu bukti, bahwa pemerintah tidak melakukan apa-apa,” tegas Buya Syafii.

Sementara itu, Gus Sholah yang menjadi Ketua GIM mengatakan, bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas. “Saat ini telah terjadi krisis kepemimpinan. Karena itu,kami akan mencari dan memboyong bibit-bibit muda yang memiliki integritas tinggi untuk menjadi calon pemimpin masa depan,” ujar Gus Sholah.

Sementara itu, mantan Panglima TNI Jenderal (Pur) Endriartono Sutarto mengatakan, upaya mengatasi persoalan penegakan hukum yang sudah karut-marut seperti sekarang ini tidak bisa dilakukan dengan kepemimpinan biasa. Harus ada terobosan langkah ekstra juga tindakan efektif dan efisien dari pengambil keputusan. “Tentu harus ada tindak lanjutnya pula. Kalau tidak begitu, tidak akan ada perubahan,” ujar Endriartono.

Dalam kaitan munculnya banyak ketidakpuasan dari masyarakat atas sikap pemerintah terhadap begitu banyak kasus, Buya Syafii menimpali, integritas harus ditegakkan dan TNI harus jelas berada pada posisinya. “Pertanyaannya adalah di mana posisi TNI saat ini ?” tanya Mantan Ketua Muhammadiyah itu kepada Jend (P) Edriartono Sutarto. Buya Syafii Maarif pun sangat menyayangkan pemerintah tidak berbuat apa-apa di saat masyarakat melihat ketidakberesan dalam penyelenggaraan negara. Oleh¬† karena itu, Buya berharap, jangan lakukan sesuatu yang bias membuat negara dan bangsa menjadi lebih runyam. “Jangan sampai ada kudeta,” harap Syafii Maarif. Berita TokohIndonesia.com | rbh

Tokoh Terkait: Din Syamsuddin, Salahuddin Wahid, | Kategori: Berita Tokoh – GIN | Tags: Kepemimpinan, GIN, Gerakan Integritas Nasional

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here