Kecam Kepemimpinan Jusuf Kalla

 
0
51

Kecam Kepemimpinan Jusuf Kalla

[BERITA TOKOH] – – Sinar Harapan 1/9/2007: Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung mengecam keras kepemimpinan Partai Golkar di bawah Jusuf Kalla, karena Kalla lebih mementingkan bisnis dan urusan jangka pendek, ketimbang mengurusi partai untuk kepentingan jangka panjang.

Kritik Akbar Tanjung tersebut disampaikan ketika menjawab ujian doktoral di Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada, Sabtu (1/9) pagi. Dalam sidang terbuka yang dihadiri tiga menteri kabinet (Mensos Bachtiar Chamsyah, Menko Perekonomian Boediono, Menhukham Andi Matalatta), Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua BPK Anwar Nasution, Anggota Dewan Penasihat Presiden Dr. Sjahrir, Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno, dan Muhaimin Iskandar, Sekjen PDIP Pramono Anung, dan hampir 100 anggota DPR dari Fraksi Golkar, Fraksi PAN, Fraksi PPP, serta para mantan pejabat.

Dalam sidang terbuka yang dihadiri lebih 500 pengunjung, termasuk dengan memasang CCTV di luar ruang ujian, Akbar memperlihatkan kemampuan yang luar biasa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di hadapan sembilan tim penguji di bawah pimpinan Prof Dr Irwan Abdullah (Direktur Program Pasca Sarjana UGM) dan para penguji yang terdiri Prof Ichlasul Amal, Prof Mochtar Mahfud, Prof Bachtiar Effendi, Dr Burhan Magenda, Dr, Purwo Santoso, Dr Ketut Putra Erawan, Dr. Nanang Pamuji dan Dr. Pratikno.

Masih menjawab pertanyaan tim penguji, Akbar Tandjung dengan bersemangat menjelaskan bagaimana pentingnya kepemimpinan di partai politik karena eksistensi dan kebesaran partai sangat ditentukan oleh faktor leadership.

Dia juga mengkritik bagaimana kepemimpinan Jusuf Kalla yang hanya berorientasi pada kekuasaan jangka pendek tanpa memperhatikan tiga hal penting dalam memimpin partai yaitu memperkuat kelembagaan partai, intensitas konsolidasi partai dan rekrutmen untuk mencari kader-kader terbaik. “Itulah bedanya kepemimpinan partai di bawah saudagar dengan kepemimpinan partai oleh politisi pejuang. Saya ini politisi pejuang yang tentunya mempunyai cita-cita untuk membesarkan partai,” kata Akbar sambil menambahkan saudagar yang memimpin partai juga cenderung berpikir singkat menganggap implikasi dari langkah yang diambil belakangan.

Akbar juga menjelaskan bagaimana partai berlambang pohon beringin berubah dari sebuah partai politik yang hegemonik menjadi partai politik yang mandiri baik secara eksternal tidak mendukung lagi pemerintah, maupun secara internal tidak lagi mengandalkan kepemimpinan dewan penasihat.

Dalam sidang ujian terbuka, Akbar tampak sangat menguasai disertasi yang dibuatnya karena memang mantan ketua Umum HMI ini pernah memimpin Partai Golkar selama enam tahun (1998-2004) dan dalam dua kali pemilu partai ini membuktikan kehebatannya karena dipilih mayoritas rakyat.

Salah satu tim penguji doktor Purwo Santoso mempertanyakan kesimpulan Akbar bahwa Partai Golkar bisa bertahan karena ada elemen perubahan. Menurut Purwo Santoso, Partai Golkar bukanlah melakukan pembaruan, tetapi bereaksi terhadap perubahan dan mampu menyelamatkan diri karena kepemimpinan Akbar Tandjung.

Tetapi Akbar langsung menyanggah dan menjelaskan bahwa awal pendirian Golkar sudah merupakan kekuatan alternatif pembaru terhadap sistem politik di masa Orde Lama. Tetapi karena sistem politik Orde Baru, Partai Golkar diharuskan menjadi partai pendukung pemerintah dan tidak bisa leluasa bergerak.

Tetapi setelah perubahan politik, elemen-elemen demokrasi ini menggelorakan perubahan. Menjawab pertanyaan penguji, Akbar menegaskan dirinya tidak akan lagi berniat menjadi Ketua Umum Partai Golkar namun bersedia memberikan nasihat politik, termasuk kepada partai-partai lain agar elemen utama demokrasi ini bisa menjadi faktor dari perubahan politik yang penting.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

Tokoh Terkait: Akbar Tandjung, | Kategori: Berita Tokoh – | Tags: Kritik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here