BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    31.2 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Beranda Berita Horas Indonesia Murni dalam Syukur, Merdeka dalam Misi: Puncak Ibadah 165 Tahun HKBP di...

    Murni dalam Syukur, Merdeka dalam Misi: Puncak Ibadah 165 Tahun HKBP di GBK

    Netral Melampaui Dinamika Politik

    0
    Ibadah Raya dan Perjamuan Kudus memperingati 165 Tahun Pelayanan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di GBK, Jakarta, Minggu, 18 Oktober 2026
    Lama Membaca: 4 menit

    Netral Melampaui Dinamika Politik

     

    Ibadah dan Perjamuan Kudus Peringatan 165 Tahun HKBP di Senayan, Minggu 18 Oktober 2026, akhirnya tidak sekadar menjadi ajang perhimpunan massa yang megah. Ia telah bermetamorfosis menjadi momen pemurnian spiritual: membebaskan gereja dari bias politik, mendorong pelurusan sejarah menuju paradigma yang Kristus-sentris, serta mempertegas komitmen HKBP untuk terus hadir melayani jemaat, bangsa, dan dunia dengan iman yang murni dan misi yang merdeka.

    Stadion Utama Gelora Bung Karno di Senayan, Jakarta, Minggu, 18 Oktober 2026, tidak lagi sekadar menjadi arena olahraga. Sejak pagi, kawasan megah itu berdenyut oleh gelombang iman. Diperkirakan enam puluh lima ribu jiwa, sebuah lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru Nusantara hingga perwakilan dari luar negeri, memadati tribun untuk mengikuti Ibadah Raya dan Perjamuan Kudus memperingati 165 Tahun Pelayanan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Mengusung tema “Dari Seluruh Penjuru Negeri, Bersama Mensyukuri Kasih Tuhan” berdasarkan 2 Petrus 1: 3-11, hari itu menjadi tonggak sejarah bagi salah satu gereja Protestan terbesar di Asia Tenggara.

    Semarak itu telah terasa sejak pukul sepuluh pagi. Rombongan jemaat yang menempuh perjalanan jauh dengan bus antarkota, seperti dari Lampung dan berbagai daerah di luar Jawa, dengan sabar menunggu di luar gerbang yang baru dibuka pada tengah hari. Menjelang ibadah pukul lima sore, lapangan stadion berubah menjadi panggung iman yang kolosal. Sekitar seribu kaum wanita mempersembahkan tarian manortor yang anggun dan penuh khidmat, diiringi alunan musik dari para seniman Batak papan atas di bawah koordinasi Posan Tobing yang membakar sukacita massa. Namun, momen yang paling menyentuh hati justru datang dari kelompok lanjut usia. Di bawah terik matahari yang bertahan dari pagi hingga malam, mereka dengan ceria memainkan alat musik angklung, melantunkan lagu rohani dan nasional. Keteguhan mereka menjadi teladan nyata tentang kesetiaan yang tak lekang oleh waktu dan fisik.

    Perayaan akbar di Jakarta ini sesungguhnya adalah kelanjutan dari napas sejarah yang dihembuskan sebelas hari sebelumnya, pada 7 Oktober 2026, di Auditorium Seminarium Sipoholon, Tapanuli Utara. Di sana, berbarengan dengan Sinode Godang ke-68, HKBP telah meluncurkan dua karya monumental: Buku Sejarah 165 Tahun HKBP yang disusun di bawah pimpinan Pdt. Morhan Doloksaribu, M.Th., serta Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Akit untuk masyarakat di Kepulauan Riau.

    Namun, perjalanan dari Sipoholon menuju GBK tidak berlangsung tanpa riak. Sebelum sorak sorai bergema di Jakarta, sebuah gelombang refleksi kritis menghampiri internal gereja. Melalui sebuah Surat Terbuka bertanggal 4 Mei 2026, seorang anggota jemaat dan jurnalis/penulis Drs. Ch. Robin Simanullang menyerukan sebuah “Pertobatan Sejarah. Ia menggugat narasi lama yang mengultuskan I.L. Nommensen sebagai “pahlawan tunggal” atau “Rasul Orang Batak”, sebuah pandangan yang dinilai ahistoris. Sejarah, demikian tegasnya, harus jujur mengakui para pionir seperti Gerrit van Asselt, W.F. Betz, Dammerboer, J.Ph.D. Koster, J.C. Klemmer, dan C.W. Heine, yang telah membaptis ratusan orang Batak sebelum Nommensen tiba, serta lebih dari seratus misionaris lainnya yang turut berjerih payah.

    Surat itu juga membedah luka lama, mengkritik kolaborasi zending dengan militer kolonial Belanda dalam Expeditio Sacra (Perang Suci), dan menolak keras narasi yang menyudutkan Raja Sisingamangaraja sebagai figur anti-Kristen. Lebih dari itu, diserukan agar bangsa Batak tidak lagi dipandang sebagai objek pasif “paganis”. Mereka adalah bangsa yang telah memiliki aksara, literasi, dan kebudayaan luhur Dalihan Na Tolu yang justru siap dan aktif menerima Injil. Keberhasilan misi, pada akhirnya, sangat ditentukan oleh peran guru jemaat, sintua, dan tokoh adat lokal (Anak ni Raja). Kontroversi kecil pun sempat muncul terkait brosur awal perayaan yang menampilkan gambar tunggal misionaris, yang kemudian segera diklarifikasi oleh Ephorus bahwa hal tersebut bukan terbitan resmi Kantor Pusat HKBP.

    Di tengah pergulatan sejarah itu, bayang-bayang politik praktis juga sempat menyelimuti. Kepanitiaan yang diketuai oleh politisi Dr. Effendi Muara Sakti Simbolon, serta pergeseran tanggal acara ke 18 Oktober yang dikabarkan disesuaikan dengan agenda Presiden RI Prabowo Subianto, memancing spekulasi. Sebagian jemaat pun bergumam, mempertanyakan urgensi perhelatan kolosal berbiaya besar di stadion megah, sementara banyak gereja dan pos pelayanan di pelosok desa masih sangat membutuhkan uluran tangan material.

    Kehadiran Presiden pada acara ini adalah suatu kehormatan. Akan tetapi, Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk memurnikan niat. Hingga rangkaian ibadah dan sakramen Perjamuan Kudus usai menjelang pukul tujuh malam, Presiden Prabowo Subianto tidak tampak hadir. Bagi banyak jemaat, ketidakhadiran ini justru disyukuri sebagai sebuah hikmah besar. Perhelatan sakral itu terbebas dari bias kepentingan politik praktis (vested interest), mengembalikan panggung GBK sepenuhnya bagi kemuliaan nama Tuhan. Juga tidak lagi tampak pengultusan berlebihan kepada seorang misionaris.

    Dalam suasana yang netral, independen, dan penuh hikmat itulah, Ompui Ephorus Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.ST., tampil menyampaikan khotbah secara merdeka, lugas, dan profetis berlandaskan 2 Petrus 1:3–11. 

    Advertisement

    Dengan suara yang tegas, Ephorus menegaskan bahwa kehadiran Injil di Tanah Batak 165 tahun lalu adalah murni inisiatif Allah. Para misionaris diutus bukan hanya untuk membawa jiwa ke surga, tetapi untuk menghadirkan misi yang holistik: mendirikan sekolah dan klinik sebagai bentuk pembebasan manusia dari kegelapan, serta membangun kehidupan jasmani yang sehat, terdidik, bermartabat, dan sejahtera di dunia.

    Menyadari tekanan ekonomi yang sedang menghimpit—anjangnya saham, pelemahan rupiah, hingga kelangkaan BBM—Ephorus mengajak jemaat untuk mendefinisikan ulang rasa syukur. “Kita tidak bersyukur karena ada masalah ekonomi, tetapi bersyukur karena di tengah keadaan yang tidak baik-baik saja pun, Tuhan tetap baik,” tegasnya. Ia juga menyapa dengan penuh kasih pergumulan kaum muda yang masih menantikan jodoh—yang ia kelakarakan sebagai fenomena “Ragunan” (Ragu dalam Penantian)—serta para lansia yang tubuhnya mulai dikeluhkan oleh tensi, kolesterol, dan rematik. Kepada mereka semua, ia berpesan bahwa kekuatan untuk menanggung beban hidup hanya bersumber dari Tuhan.

    Memasuki usia 165 tahun, atau matobang (dewasa), Ephorus menyerukan kedewasaan ber-HKBP. Ia meminta jemaat untuk menghentikan pertikaian sepele yang sering mengotori media sosial, dan mengajak para tokoh masyarakat serta pejabat untuk membuang rasa dengki (hosom, teal, late) demi kedamaian gereja dan bangsa. Ia mengingatkan bahwa meskipun jangkauan geografis HKBP kini membentang ribuan kilometer hingga ke Singapura, Malaysia, Amerika, Jepang, dan prospek Korea, kedalaman iman jemaat masih perlu terus digali.

    Dalam visi yang berani, Ephorus mendorong transformasi peran HKBP: dari gereja yang dahulu menerima misionaris, kini harus beranjak menjadi gereja yang mengutus. Melihat banyaknya gedung gereja yang mulai kosong di Eropa, sudah saatnya HKBP siap mengirim misionaris-misionarisnya kembali ke Jerman dan Belanda untuk mengabarkan Injil.

    Sebagai penutup yang puitis namun menohok, Ephorus menganalogikan keberadaan HKBP seperti tanaman labu (jelok). Batangnya berakar kuat di Bonapasogit, tanah asal di Tapanuli, namun sulur dan buahnya tumbuh lebat, membawa kesejahteraan di tanah perantauan, mulai dari Pulau Jawa, Kalimantan, Papua, hingga mancanegara. Antara perantauan dan Bonapasogit, demikian pesannya, harus saling mendukung dan mengasihi dengan kesadaran penuh.

    Di penghujung renungan, Ephorus memberikan sebuah reinterpretasi indah atas akronim tempat mereka berdiri, khusus untuk jemaat HKBP: GBK bukan lagi sekadar Gelora Bung Karno, melainkan “Gerakan Bersama Kristus” dan “Gerakan Berdasar Kasih”.

    Usai doa penutup dan sakramen Perjamuan Kudus, suasana stadion yang tadi khidmat kini mencair dalam persekutuan yang hangat. Puluhan ribu jemaat larut dalam kegembiraan, menyanyikan lagu-lagu hits Batak dan menari bersama. Peringatan 165 Tahun HKBP di Senayan hari itu akhirnya tidak sekadar menjadi ajang perhimpunan massa yang megah. Ia telah bermetamorfosis menjadi momen pemurnian spiritual: membebaskan gereja dari bias politik, mendorong pelurusan sejarah menuju paradigma yang Kristus-sentris, serta mempertegas komitmen HKBP untuk terus hadir melayani jemaat, bangsa, dan dunia dengan iman yang murni dan misi yang merdeka.

    Laporan: Asasira, TokohIndonesia.com

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini