Lagu Batak Via Dolorosa Dirilis Asasira Worship

The Batak Trail of the Cross

0
Gambar ini sebagai representasi visual dari Teologi Salib Batak. Visualisasi dari Rehabilitasi Ontologis: transisi dari kegelapan fitnah dunia menuju terang kasih karunia Tuhan
Lama Membaca: 8 menit

Lagu Batak Via Dolorosa (The Batak Trail of the Cross) versi bahasa Inggris, setelah sebelumnya telah merilis versi bahasa Batak berjudul ā€œDalan Salib ni Batakā€. Lirik lagu ini ditulis oleh Ch. Robin Simanullang, penulis buku ā€˜Hita Batak: A Cultural Strategy’ (Buku Trilogi Omnibus Kebatakan); merupakan ekspresi yang luar biasa ditinjau dari Teologi Salib (Theologia Crucis) khas Batak: Difitnah Sebelum Dibabtis. Lagu ini tidak hanya menceritakan sejarah misi di tanah Batak, tetapi juga melakukan dekonstruksi terhadap kesombongan manusia dan kemuliaan duniawi (diantaranya, pengultusan heroisme palsu — rekayasa intelijen). Lagu ini memaknai sejarah Batak bukan sebagai sejarah kemajuan peradaban biasa, melainkan sebagai sebuah “Via Dolorosa” (Jalan Salib) khas Batak.

Pernyataan bahwa identitas bangsa Batak tidak didefinisikan oleh fitnah kanibalisme kolonial, melainkan oleh identifikasi Kristus terhadap mereka yang terhina. Allah memulihkan wajah bangsa Batak (Hita Batak) justru dari titik di mana dunia mencoba menghapusnya. Di sana, Allah bekerja melalui tragedi, stigma, fitnah, dan kematian untuk menghasilkan kemerdekaan rohani. “Horas” di akhir lagu bukan sekadar salam budaya, melainkan sebuah proklamasi berkat yang lahir dari rekonsiliasi melalui salib. Horas Merdeka! Berikut pemaknaan atas lirik lagu tersebut melalui kacamata Teologi Salib:

Pertama, Salib sebagai Penyingkapan di Tengah Kehinaan (Revelation in Lowliness). Teologi Salib menekankan bahwa Allah menyatakan diri-Nya bukan dalam kemegahan, melainkan dalam penderitaan dan apa yang dianggap rendah oleh dunia. Analisis Lirik: ā€œErschlagen und aufgegessenā€ (dipukul mati dan dimakan) dan sebutan “savage” (liar) mencerminkan kondisi “penghinaan” yang luar biasa. Poin ini sangat krusial karena dalam Teologi Salib, aspek “penghinaan” dan “fitnah” merupakan bagian integral dari penderitaan Kristus yang juga dialami oleh manusia. Jika kita melihat lirik tersebut melalui lensa rekayasa intelijen dan ā€˜heroisme peradaban’ kolonial dan misionaris, maka pemaknaan teologis stigma kanibalisme menjadi jauh lebih tajam:

  1. Kristus sebagai Korban Fitnah Politik (Kesejajaran Narasi). Dalam Teologi Salib, Yesus tidak hanya mati secara fisik, tetapi Ia mati sebagai korban rekayasa politik dan agama. Ia dituduh sebagai penyesat dan pemberontak tanpa bukti yang sah. Analisis Lirik: “No proof was found, no witness to the deed, Sown by the ghosts of the colonials greed.” Stigma kanibalisme (Erschlagen und aufgegessen) yang direkayasa kolonial berfungsi sama dengan tuduhan palsu terhadap Yesus di hadapan Sanhedrin dan Pilatus. Di sini, bangsa Batak mengalami “kenosis” (pengosongan diri/penghinaan) secara kolektif. Allah tidak menjumpai orang Batak dalam kondisi “terhormat”, tetapi dalam kondisi “terfitnah”. Allah justru hadir di dalam narasi orang-orang yang suaranya dibungkam oleh propaganda kekuasaan.
  2. Dehumanisasi: Kristus yang Menjadi “Cacing”. Lirik “Treating the tribe like an animal” mengingatkan kita pada Mazmur 22:7, sebuah mazmur penderitaan yang sering dikaitkan dengan salib: “Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak.” Dengan menyamakan suku tersebut dengan “hewan” (dehumanisasi), kolonialisme mencoba mencabut citra Allah (Imago Dei) dari orang Batak. Namun, Teologi Salib mengajarkan bahwa Kristus justru menjadi “yang paling hina” agar Ia bisa merangkul mereka yang dianggap bukan manusia oleh dunia. Allah tidak berada di pihak kolonial dan misionaris yang merasa “beradab”, melainkan di pihak “binatang” (menurut sebutan dunia) yang ketakutan.
  3. Salib sebagai Alat Penaklukan vs. Alat Pembebasan. Kolonialisme menggunakan narasi “kanibal” sebagai pembenaran moral untuk menaklukkan dan menjajah (menggunakan “salib” sebagai pedang). Lirik ini membalikkan logika tersebut. Kekuatan kolonial dan koalisinya menggunakan stigma untuk membelenggu, tetapi Allah menggunakan peristiwa yang sama untuk membebaskan. Ini adalah misteri (hahomion) Ilahi. Apa yang dimaksudkan kolonial (pihak asing) untuk menghancurkan identitas suatu bangsa, justru dipakai Allah untuk menanamkan benih iman yang mandiri. Pemulihan Martabat: Teologi Salib menyatakan bahwa kemuliaan manusia tidak diberikan oleh pengakuan kolonial dan misionaris atau sejarah dunia, melainkan oleh fakta bahwa Kristus mau memikul “shame” (malu) tersebut.
  4. Menghancurkan “Hikmat Dunia” dengan Kebenaran Tersembunyi. Lirik “But God works in ways that the proud cannot find” merujuk pada kebodohan strategi manusia dibanding hikmat Allah. Intelijen kolonial mengira mereka telah menang dengan menciptakan stigma “liar” untuk menaklukkan tanah Batak. Namun, Allah “menunggangi” sejarah yang gelap itu. Munson dan Lyman, meskipun menjadi korban dari situasi yang kacau tersebut, menjadi titik balik di mana narasi kematian berubah menjadi narasi kehidupan. Allah membuktikan bahwa kebenaran-Nya tidak bisa dikubur oleh rekayasa informasi. Dalam hal ini, Penulis lagu menyadari bahwa Allah tidak memilih bangsa yang sudah “beradab” atau “elite” untuk menunjukkan kuasa-Nya. Allah justru masuk ke dalam narasi penderitaan di Lobu Pining. Sebagaimana Kristus disalibkan di luar gerbang kota sebagai seorang kriminal, Allah menjumpai suku Batak di tempat yang dianggap paling gelap dan terbelah oleh stigma. Difitnah sebelum dibaptis.

Kedua, Kritik terhadap Teologi Kemuliaan (Crux sola est nostra pervasio). Martin Luther sering mengkritik “Teologi Kemuliaan” yang mencari Allah dalam kekuatan, keberhasilan, atau moralitas manusia. Analisis Lirik: “Not by the missions, or the colonials name… But by God’s own mercy, He carried our shame.” Lirik ini dengan tegas menolak atribusi keselamatan kepada usaha manusia (misi, kolonialisme, atau peradaban). Ini adalah inti teologi salib: Keselamatan adalah karya Allah yang monergistik. Bukan tangan manusia yang menyelamatkan, melainkan penderitaan Allah sendiri dalam Kristus yang memikul rasa malu (shame) Hita Batak.

Ketiga, Darah Martir dan Benih yang Mati. Ada prinsip teologis bahwa “darah para martir adalah benih gereja,” yang berakar pada Yohanes 12:24 tentang biji gandum yang harus jatuh ke tanah dan mati. Analisis Lirik: “From the blood of the martyrs, hope started to bloom.” Kita maknai, kematian Munson dan Lyman diidentifikasi bukan sebagai kegagalan tragis, melainkan sebagai partisipasi dalam penderitaan Kristus. Dalam Teologi Salib, kematian adalah jalan menuju kehidupan. Ketidakberdayaan kedua martir tersebut menjadi saluran bagi kuasa Allah yang menghidupkan.

Keempat, Allah yang Memilih yang Terbuang (Election of the Castaway). Salah satu poin paling kuat dalam teologi ini adalah pilihan Allah atas apa yang dianggap bodoh oleh dunia untuk memalukan yang berhikmat (1 Korintus 1:27). Analisis Lirik: “Praise be to Him, who chose the castaway… To humble the heart and to change the mind.” Dengan menyebut bangsa Batak sebagai “yang terbuang” (castaway) yang kemudian dipilih, lirik ini menekankan bahwa tidak ada dasar bagi manusia untuk bermegah (Sola Gratia). Identitas baru suku bangsa Batak ini bukan karena kehebatan mereka (Batak), melainkan karena keputusan Allah untuk “merendahkan hati yang sombong” melalui peristiwa salib.

Kelima, Kristosentrisme: Menolak Penyembahan Manusia. Teologi Salib bersifat sangat Kristosentris (berpusat hanya pada Kristus). Analisis Lirik: “But we worship no man, for no man is a god, Only Christ bore the cross…” Lirik ini menjaga batas tegas agar penghormatan terhadap leluhur atau martir atau misionaris tidak bergeser menjadi pengultusan dan penyembahan. Hanya Kristus yang sanggup menanggung salib yang mendamaikan. Para martir dan misionaris hanyalah saksi (witnesses), bukan juru selamat.

Keenam, Rehabilitasi Ontologis Hita Batak. Lirik “From the depths of dishonor, He conquered the gloom” secara spesifik merujuk pada pemulihan nama baik (rehabilitasi ontologis) suku bangsa Batak di hadapan dunia. Pemulihan nama baik atau rehabilitasi ontologis (pemulihan hakikat keberadaan) hita Batak dalam lagu ini adalah sebuah “Paskah” setelah melewati “Jumat Agung” fitnah kolonial (bahkan misionaris).

Lirik “From the depths of dishonor, He conquered the gloom” (Dari kedalaman kehinaan, Ia menaklukkan kegelapan) bukan sekadar kalimat puitis, melainkan sebuah proklamasi teologis tentang bagaimana Allah memulihkan martabat manusia yang telah dihancurkan oleh sistem dunia. Berikut adalah pemaknaan lebih mendalam Rehabilitasi Ontologis Bangsa Batak:

6.1. Dari Non-Entity Menjadi Imago Dei. Dalam catatan kolonial yang manipulatif, orang Batak diposisikan sebagai “benda” atau “binatang” yang perlu dijinakkan (dehumanisasi). Secara teologis, ini adalah upaya menghapus Imago Dei (Gambar Allah). Ketika lirik mengatakan Allah menaklukkan kegelapan dari “kedalaman kehinaan,” itu berarti Allah masuk ke dalam selokan fitnah kolonial tersebut. Allah tidak menunggu orang Batak menjadi “bersih” di mata dunia untuk menolong mereka. Sebaliknya, Ia mengakui mereka sebagai anak-anak-Nya justru saat dunia menyebut mereka kanibal. Inilah rehabilitasi paling mendasar: Tuhan memulihkan kemanusiaan Hita Batak di atas klaim politik dan ā€˜heroisme peradaban’ manapun.

Advertisement

6.2. Salib sebagai Pengadilan Tertinggi. Teologi Salib menyatakan bahwa keputusan terakhir bukan ada pada “pengadilan dunia” (intelijen kolonial), melainkan pada pengadilan Allah. Analisis: Narasi “Erschlagen und aufgegessen” adalah vonis dunia. Namun, kebangkitan iman di tanah Batak adalah “Vonis Balik” dari Allah. Makna: Allah “menaklukkan kegelapan” dengan cara membuktikan bahwa meskipun identitas sebuah bangsa dikubur dalam makam fitnah ( “away from our tomb” ), kuasa kehidupan-Nya mampu membongkar makam tersebut. Bangsa Batak “keluar dari kubur” stigma kolonial bukan karena pembelaan politik, tetapi karena intervensi Allah.

6.3. Transformasi “Malu” (Shame) menjadi Kemuliaan. Dalam budaya komunal, fitnah kanibalisme adalah “Shame” (aib) yang bersifat turun-temurun. Secara teologis: Kristus di salib adalah sosok yang memikul aib dunia (shame-bearer). Makna Lirik: “He carried our shame” berarti Kristus mengambil alih stigma kanibal tersebut ke atas bahu-Nya sendiri. Dengan demikian, Hita Batak tidak lagi perlu membawa beban pembuktian kepada dunia bahwa kita bukan kanibal. Karena Kristus telah memerdekakan Hita Batak, “label” dari manusia tidak lagi memiliki kuasa hukum rohani. Kebebasan ini (led us to freedom) adalah kebebasan dari rasa rendah diri yang dipaksakan oleh penjajah.

6.4. Bunga yang Tumbuh dari Darah (Keindahan dari Tragedi). Lirik “From the blood of the martyrs, hope started to bloom” menunjukkan bahwa Allah mampu mendaur ulang kejahatan manusia menjadi kebaikan ilahi. Analisis: Rekayasa intelijen kolonial yang menyebabkan kematian Munson dan Lyman sebenarnya adalah sebuah “skenario maut”. Namun, Teologi Salib mengajarkan bahwa Allah adalah pakar dalam mengubah “Senjata Maut” menjadi “Alat Anugerah”. Darah yang tertumpah karena rekayasa kesalahpahaman dan fitnah itu justru menyuburkan tanah Batak untuk menerima pesan kasih. Ini adalah tamparan bagi kesombongan kolonial: mereka ingin menaklukkan (dan mencegah Amerika masuk ke Tanah Batak) dengan rekayasa stigma dan senjata, tapi Allah menaklukkan hati bangsa ini dengan pengorbanan dan pengampunan.

Kesimpulan Rehabilitasi Ontologis: Melalui lagu ini, “Batak Cross” (Salib Batak) menjadi simbol Rehabilitasi Total. Bangsa Batak (Hita Batak) tidak lagi dipandang melalui lensa “Lobu Pining” yang kelam, melainkan melalui lensa Salib Kristus yang terang. “Horas” yang diucapkan di akhir bukan lagi sekadar sapaan etnis, melainkan pekik kemenangan sebuah bangsa yang pernah dianggap “mati/binatang” namun dihidupkan kembali sebagai “ahli waris kerajaan Allah.”

“Dunia memberikan label, tetapi Salib memberikan identitas.” Hita Batak Religius.

 

Refleksi: Salib yang Menghapus Fitnah

Dalam sejarah dunia, kekuasaan sering kali dibangun di atas tumpukan narasi palsu. Bangsa Batak pernah dipaksa memikul salib yang bukan milik mereka, sebelum mereka dibabtis —salib stigma, salib kebohongan intelijen, dan salib dehumanisasi yang menyebut mereka sebagai “liar”. Namun, di Lobu Pining, Allah tidak tinggal diam di takhta-Nya. Ia turun ke dalam lembah air mata itu.

Teologi Salib mengajarkan kita bahwa Allah paling nyata hadir justru saat manusia berada dalam titik paling hina. Ketika kolonialisme dan bahkan misionaris (demi heroisme) mencoba menghapus citra Allah (Imago Dei) dari wajah orang Batak dengan label “kanibal”, Allah justru melukiskan wajah Kristus di sana. Kematian Munson dan Lyman, yang terbungkus dalam kabut rekayasa, diubah oleh tangan Tuhan menjadi jembatan anugerah.

Kini, identitas bangsa Batak tidak lagi ditentukan oleh catatan sejarah yang manipulatif, melainkan oleh tinta darah Kristus yang menuliskan satu kata di dahi setiap insan: Horas Merdeka.

Penulis The Batak Institute

Rilis Lagu Tersebut

Tian Son Lang

 

Lyrics

Penulis lirik Ch. Robin Simanullang.

Dilantunkan ‘Asasira Worship”; Made with Suno

 

Verse 1

Deep in the woods where Lobu Pining sighs,

A bitter tale was told beneath the skies.

“Erschlagen und aufgegessen” the world began to jeer,

Treating the tribe like an animal, filled with fear.

No proof was found, no witness to the deed,

Sown by the ghosts of the colonials greed.

But God looked down from His throne on high,

And sent two seeds beneath that valley sky;

Munson and Lyman, prepared to die.

Verse 2

We walked in scorn before the grace of light,

A broken nation in the dead of night.

Called “savage” and “blind” by the elite and the wise,

A tragic shadow in the world’s cold eyes.

But God works in ways that the proud cannot find,

To humble the heart and to change the mind.

So no man may boast of the power he showed,

For out of the valley, salvation flowed.

Chorus

Oh, the Way of the Cross, by Jehovah’s design!

Not by the hand of man, nor a power divine.

Not by the missions, or the colonials name,

But by God’s own mercy, He carried our shame.

From the blood of the martyrs, hope started to bloom,

From the depths of dishonor, He conquered the gloom,

And led us to freedom, away from our tomb.

Verse 3

We honor the witnesses, the brave, and the bold,

Who brought us the light as the story was told.

But we worship no man, for no man is a god,

Only Christ bore the cross on the path that He trod.

Through the Holy Spirit, the humble shall rise,

With a faith that is true and a heart that is wise.

Praise be to Him, who chose the castaway,

To heal us and lead us to a brand-new day.

Outro

Peace to the soul, forever blessed,

Strength to the heart, in Him we rest.

The Batak Cross, by God’s decree.

Amen.

Horas… Horas… Horas…

Horas… Horas… Horas…

Horas… Horas… Horas…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini