Anak Petani dari Delanggu

[ Soemino Eko Saputro ]
 
0
240
Soemino Eko Saputro
Soemino Eko Saputro | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Dunia Soemino Eko Saputro kecil hanyalah Desa Delanggu, sawah, ternak dan sungai. Soemino lahir dari keluarga petani, pasangan Parto-dihardjo dan Asih di Delangu, Jawa Tengah, tanggal 10 September 1947. Dengan jaringan pengairan yang cukup bagus, Delanggu terkenal dengan hasil pertaniannya, penghasil utama beras Rojolele.

Sang Ayah, Partodihardjo seorang petani yang ulet, menggarap sawah, sebuah pekerjaan yang digelutinya dengan segala senang hati. Sang Ibu, Asih, pedagang beras yang sangat dikenal di desanya. Jadi Sang Ayah yang mengolah lahannya, Sang Ibu yang menjual berasnya. “Bisnisnya berbeda tetapi saling berkaitan,” kata Dirjen Kereta Api, Ir H Soemino Eko Saputro, MM, me-ngenang masa kecilnya di kampung.

Bisnis Ibu Asih, mengumpulkan beras, kemudi-an dijual ke luar, bahkan sampai ke Jakarta. Beras yang dijual di Jakarta diangkut dengan kereta api. Pada saat itu, Soemino belum punya bayangan sama sekali bahwa suatu saat nanti akan bekerja di kereta api.

Soemino menyelesaikan pendidikan sampai di perguruan tinggi dibiayai dengan hasil pertanian dan dagang beras ayah-ibunya. Dia menamatkan sekolah dasar di SR Delanggu (1959), menamatkan SMP (1962) dan SMA (1965) di Solo. Di Solo, Soemino muda sekolah di SMA Negeri III Margoyudan, sekolah lanjutan atas favorit dan paling terkenal di Solo (Surakarta).

Dari Solo, Soemino melanjutkan studinya di Fakultas Teknik Sipil, ITS, Surabaya (tamat 1976). Kenapa Surabaya? Waktu itu dia lebih senang merantau, jauh dari orangtua, supaya bisa mandiri. Dia ingin merasakan, seperti apa jauh dari orangtua.

Pada saat itu dia merasakan kesulitan setiap habis bulan, karena susah mendapat-kan uang. Namun Soemi-no punya pengalaman indekost di Solo. Di situ dia sudah belajar mandiri, misalnya memasak, membawa lauk dari rumah, mencuci dan pekerjaan rumahan lainnya. Dari rumah kost ke sekolah naik sepeda. Soemino satu-satunya anak lelaki dari empat bersaudara. Ketiga saudaranya perempuan.

Namun, itulah pilihannya, untuk lebih mandiri. Dia memilih Institut Teknologi 10 November Surabaya, bukan Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, yang lebih dekat dari desanya. Situasi secara umum antara Surabaya dan Jogja jauh berbeda.

Di Surabaya orang-orangnya berani, tetapi orang-orang Jogja sopan santunnya luar biasa tingginya, sesama kawan saja memakai bahasa halus. Lain dengan Surabaya. Baru pertama kali bertemu, mereka sudah saling memaki dalam dialek Surabaya, bahasa keakraban.

Kepribadian Soemino ter-bentuk di Surabaya, akibat pergaulan dan komunikasi dan tata cara kehidupannya yang khas, dan berbeda dibandingkan dengan daerah-daerah Jawa lain.

Pertama kali ke Surabaya, tahun 1968, Soemino pusing juga. Dia punya kawan orang Surabaya asli, dialeknya yang khas dan akrab. Selama di Surabaya, dia mengalami banyak hal yang menyenangkan dan sebaliknya. Soemino menetap di Surabaya cukup lama, (7 tahun) sampai tahun 1975.

Ketika itu, dia sempat tidak aktif kuliah sekitar enam bulan. Tahun 1973, dia hampir drop out (gugur kuliah), akibat terlanjur senang karate. Dia kadang-kadang lupa kuliah karena asyik latihan karate.

Akhirnya, dia berpikir dan bertanya dalam diri sendiri: “Saya ke Suraba-ya belajar karate atau kuliah.” Dia sadar bahwa ke Surabaya bukan untuk karate, tapi untuk kuliah. Soemino segera sadar dan menyelesaikan kuliahnya tahun 1976, meraih gelar insinyur tehnik sipil, dengan menerima ikatan dinas pendidikan kereta api.

Lulus dari pendidikan, Soemino menjalani masa percobaan enam bulan di Bandung, tetapi dilaluinya hanya tiga bulan. Dia masuk Perjan Kereta Api tahun 1975, dan aktif tahun 1976. Dia mengawali karir di Surabaya, lalu ke Malang, Jember, Medan, Bandung, Padang sampai menjadi Direktur Utama. Setelah sempat tak punya jabatan di Departemen Perhubungan, dia pun di-percaya Menteri Perhubungan Hatta Rajasa menjabat Direktur Jenderal Perkeretaapian, tahun 2005, yang pertama.

Pria beranak dua ini memperoleh gelar S-2 bidang manajemen pemasaran di STIE-IPWI, Jakarta tahun 2000. Dia pun mengikuti sederet panjang latihan, kursus, kongres dan seminar tentang perkeretaapian di Jepang, Inggris, Prancis, Belanda, Australia, Austria, Amerika, Mexico, Malaysia dan Thailand.

Soemino menikah dengan RA Erna P tahun 1977 dan dikaruniai dua putra, Ferry Eko Ernanto dan Ricky Apriyanto yang masing-masing telah berusia 26 dan 22 tahun. mti/crs-sh-ri

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here