Pembawa Suara Masa Depan

[ Surya Paloh ]
 
0
210

05 | Bangsa ini Butuh Perubahan Besar

Surya Paloh
Surya Paloh | Tokoh.ID

Surya Dharma Paloh adalah sebuah pribadi yang unik dan kontroversial. Karenanya ada alasan untuk tidak suka kepadanya. Namun banyak pula alasan untuk sangat suka sekaligus mengagumi kepiawaiannya sebagai pengusaha, politisi dan publisher. Namun, sejatinya dia sosok yang selalu membawa kebenaran suara masa depan.

Dalam percakapan dengan TokohIndonesia DotCom, dia menyatakan kesiapan menjadi salah satu figur alternatif pemimpin bangsa dengan sejumlah tawaran agenda yang menarik. “Bangsa ini butuh perubahan besar,” tegasnya.

Kehidupan pribadinya selalu mendapat perhatian banyak orang. Misalnya kegemarannya mandi sauna, rajin mengunjungi salon langganan di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta untuk memelihara brewok tebalnya agar senantiasa berkilau tanpa menampakkan siratan uban ketuaan. Hotel ini adalah tempat tinggal dia tiga bulan pertama merantau ke Jakarta di tahun 1977.

Demikian pula kesukaan dia berlibur ke Pulau Kaliage, di gugusan Pulau Seribu, tempat dia sering menjamu tamu relasi bisnis maupun para sahabat. Jika ke Kaliage dia sering menggunakan kapal yacht Obsession, dulu Admiral yang dilengkapi koki berwarganegara Australia, kini, setelah mempunyai “mainan baru” Bali Intercontinental Hotel di Jimbaran, Bali dia menambah koleksi dengan pesawat jet pribadi BAE 146 produksi British Aerospace, dari Inggris.

Surya Paloh menjelang melewati usai 50 tahun sesungguhnya sudah ingin pensiun dari segala hal. Namun setelah dipikir, dia tak ingin “tenggelam” dalam kemewahan masa pensiun tertegun dan berdiam diri. Semangatnya masih menggelora untuk terus berbakti kepada bangsa mewujudkan suara kebenaran yang sebelumnya sudah dia perjuangkan tiada henti. Ketika apa yang dia perjuangkan itu memperoleh momentumnya di era reformasi Surya Paloh langsung kembali ke hakekat jatidiri dia yang sesungguhnya, yaitu menjadi surya bangsa yang menyinari segenap bumi persada.

Partai Golkar yang pada masanya pernah memberinya kematian perdata dia bangunkan dengan sebuah gagasan fenomenal: Gelar Konvensi Calon Presiden Partai Golkar Menuju Pemilu Presiden 2004. Untuk lebih menunjukkan sikap bertanggungjawab atas gagasannya itu, Surya lantas ikut pula menjadi salah satu peserta konvensi. Dia mengusung sebuah konsep baru tentang kepemimpinan nasional serta menyiapkan sejumlah agenda penyelamatan bangsa dari krisis multidimensional.

***

Dia tidak ragu-ragu mencerahkan pemikirannya itu dalam kesempatan pembicaraan TokohIndonesiaDotCom, di kantornya yang asri, Kompleks Delta Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dia mengawali pencerahan itu dengan menyerahkan sebuah buku berjudul “Editorial Kehidupan Surya Paloh”, yang khusus ditandatanganinya, kepada Pemimpin Redaksi TokohIndonesiaDotCom, Robin Ch. Simanullang. Buku itu adalah biografi kehidupan dia sebagai anak bangsa selama 50 tahun perjalanan hidup antara 16 Juli 1951 hingga 16 Juli 2001.

“Saya berikan ini kepada sahabat saya, Robin Manullang, anak perantauan, yang dengan saya sama-sama anak perantauan,” katanya sangat bersahabat.

Karena pembicaraan tergolong berbobot dan sangat serius bahkan sangat penting untuk tidak dilewatkan mencerahkan bangsa, maka, selain penulis buku biografinya, Usamah Hisyam, ikut pula mendampinginya Elman Saragih, Ketua Tim Sukses Kepresidenan Surya Paloh yang juga Redaktur Eksekutif Media Indonesia.

Surya Paloh adalah salah satu kandidat calon presiden yang banyak memperoleh apresiasi masyarakat luas. Beberapa polling di media cetak dan elektronik menempatkannya pada posisi sebagai kandidat presiden patut diperhitungkan. Dalam Konvensi Calon Presiden Partai Golkar dia didukung oleh 27 propinsi. Surya maju dengan atribut sebagai profesional media massa, pengusaha sukses, dan politikus yang sudah cukup populer di masyarakat bahkan tergolong cukup berpengaruh di Republik ini. Segala atribut tersebut masih dilatari beragam hal yang semakin membulatkan tekadnya maju sebagai calon presiden.

Seperti, besarnya kebutuhan bangsa ini untuk segera berubah. Dan dia sangat yakin bahwa perubahan besar itu bisa dia berikan kepada bangsanya. Modalnya adalah karunia Tuhan. Yaitu, apa yang telah Tuhan Yang Maha Kuasa berikan kepadanya termasuk kesempatan lahir, besar dan berinteraksi di tengah-tengah bangsa sehingga jadilah dia sebagai anak bangsa bernama Surya Paloh. Dia, yang berusia 52 tahun itu masih enerjik dan ingin berjuang seribu tahun lagi.

Obsesinya semenjak berkarir memulai usaha pada usia 14 tahun, muncul menggoda semakin hari justru semakin keras. Haruskah dia berhenti melakukan sesuatu yang lebih optimal? Atau, haruskah dia menyerah untuk menyatakan selamat tinggal kepada perjuangan yang bukan terbatas kepada diri sendiri dan keluarga?

Pertanyaan yang selalu menggoda dan muncul setiap saat itu menghantarkannya pada sebuah kesimpulan bahwa dia tidak boleh menyerah. “Siapapun diantara kita tahu, bahwa ada sebuah fenomena baru diperkenalkan pada bangsa ini: Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden secara langsung.”

Surya Paloh melanjutkan, fenomena baru tersebut pada dasarnya memberikan kesempatan sama kepada setiap anak bangsa. Yaitu kesempatan untuk menampilkan diri sebagai sebuah pilihan alternatif kepada bangsa sendiri.

Fenomena baru tersebut adalah juga sebuah proses pembelajaran politik yang cukup lama tidak diberlakukan kepada negeri ini. Sehingga, keinginan siapapun setiap warga negara untuk menampilkan atau menampakkan ambisi untuk menjadi sosok seorang pemimpin, apalagi menjadi presiden, kini terbuka. Hal yang dianggap berlebihan bahkan tabu pada masa lalu.

Cara berfikir yang menabukan lahirnya keinginan menjadi pemimpin nasional adalah kesalahan. “Mari, kita dengan tenang mempertanyakan cara berfikir seperti ini. Apakah cara berfikir seperti itu sudah benar di alur yang benar, atau salah? Saya katakan, salah.”

Harusnya, katanya, semakin banyak anak-anak negeri ini yang punya ambisi, obsesi besar, bahkan dari sejak masa belia sudah harus datang dengan keinginan untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa. Kita harus mendorong, kita harus bersyukur.

“Bahkan, ketika kita sudah memasuki abad ke-21 bangsa lain telah mencoba melakukan experience baru mendaratkan warga negara bangsanya bukan lagi di bulan, tapi di Mars, kita masih berpikir antara kesempatan orang di Jawa dengan orang di luar pulau Jawa untuk jadi pemimpin di negeri ini. Di mana perbandingannya? Apa yang harus kita perbandingkan lagi? Banggakah kita dengan pola berpikir seperti ini, atau sebaliknya, kita harus malu hati?”

Sekarang, lanjut Surya Paloh, ada pertanyaan mendasar yang harus kita jawab segera. “Kita memasuki sebuah era baru yang kita sebutkan era reformasi, setelah sistem yang berjalan serba etatis kurang lebih 32 tahun. Kita tentu mengharapkan perubahan-perubahan besar terjadi di negeri ini. Kita akan memperlihatkan bahwa ada suatu hal yang pasti bisa diterima di negeri ini. Yaitu perubahan-perubahan mendasar yang bisa memberikan rasa kebanggaan diri secara pribadi, maupun secara kelompok secara keseluruhan kita sebagai anak bangsa.”

Menurutnya, fakta juga menyatakan kita telah kehilangan kebanggaan itu. “Apa yang bisa kita banggakan, dimana national interest kita, dimana national pride kita saat ini?”

Lalu, ia menguraikan aspek bidang ekonomi kita tidak bisa membanggakan keunggulan apapun. Dalam pergulatan apapun, apakah itu ekspor-impor kita, atau kehidupan sosial. Kita tidak bisa lagi membanggakan semakin banyaknya orang bermurah hati satu sama lain dalam memberikan kontribusi sosialnya. Keamanan, kita tidak merasa nyaman. Politik, kita bisa merasakan suasana stabilitas politik atau instabilitas politik.

Jadi, ujarnya, ekonomi, politik, sosial, budaya, keamanan sama. “Ini harus dilakukan dengan upaya-upaya besar dengan apa yang saya istilahkan melakukan suatu restorasi nasional.” Sementara, lanjutnya, upaya-upaya besar ini tidak mungkin bisa kita lakukan kalau kita tidak memiliki otoritas. “Peran partisipan bisa kita lakukan, tapi rasanya itu tidak bisa memberikan perubahan-perubahan yang berarti.”

Dia mengungkapkan kegelisahan hatinya sebagai seorang publisher dengan berbagai latar belakang eksperimen dan pengalamannya sekian puluh tahun. Apa pun yang dia sumbangkan dalam kemampuan asah intelektual, intelectualitas exercise-nya melalui institusi yang dia pimpin, ternyata tidak banyak nampak perubahan sikap penguasa dan masyarakat.

“Tetapi itu bukan berarti saya harus jemu dan berhenti. Setiap hari editorial demi editorial dan berbagai macam ulasan dan kupasan diberikan oleh institusi yang saya pimpin, tapi toh itu tidak bisa memberikan suatu perubahan-perubahan yang berarti dan besar bagi bangsa ini,” katanya.

Lalu, sekarang, dia ingin memberikan alternatif, sebagai salah satu tambahan alternatif, sebagai kandidat pemimpin bangsa ini. “Saya telah berbicara pada diri saya sendiri. Apabila ini datang dengan landasan semangat ideal, yang bersih, tulus, ikhlas, konsisten, dan penuh dengan komitmen, saya pikir saya tidak salah dengan ini.”

Dia jelaskan bangsa ini pernah kehilangan alternatif untuk mencari pemimpin. Akibatnya, “Kita sudah tertinggal dari bangsa-bangsa lain di sekitar kita. Dan untuk mengejar itu diperlukan perubahan besar dimana seorang yang tangguh, visioner ke depan, punya kejujuran, keteguhan hati dan kemampuan berkomunikasi, segera harus hadir di negeri ini. Seorang Surya, salah satu alternatif.”

Nilai-nilai Kebangsaan
Surya Paloh melihat sesungguhnya persoalan besar bangsa Indonesia hari ini adalah lunturnya nilai-nilai kebangsaan (national values). Pada satu sisi pemulihan ekonomi menghadapi berbagai kendala, pada sisi lain ancaman disintegrasi nasional terus berlangsung. Bahkan, dari hari ke hari kondisi sosial masyarakat semakin mengenaskan.

Angka kemiskinan secara absolut terus bertambah, pemutusan hubungan kerja meningkat. Sementara lapangan kerja semakin terbatas sehingga jumlah pengangguran kian meluas di tengah melonjaknya angkatan kerja baru. Kondisi ini semakin menjauhkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, yakni membangun masyarakat yang adil makmur dan sejahtera.

Surya Paloh yakin pula bahwa masalah tersebut dapat teratasi hanya bilamana seluruh komponen bangsa memiliki komitmen bersama untuk melaksanakan restorasi nasional. Melalui restorasi terjadi perubahan-perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara signifikan ke arah yang lebih maju. Hanya saja, seluruh perubahan tersebut bisa tercapai bila ditempuh melalui sebuah langkah terobosan yang non-konvesional.

Surya Paloh mencatat minimal dibutuhkan 12 program restorasi nasional non-konvensional yang perlu diwujudkan pasca Pemilu 2004, terutama di bidang politik, ekonomi dan kesra oleh seorang Presiden terpilih.

Bidang politik adalah prioritas utama. Di sini, restorasi yang pertama adalah program memantapkan stabilitas politik melalui rekonsiliasi dan pardon nasional, dengan menempatkan persoalan masa lalu sebagai bagian dari fakta sejarah yang dapat dipetik hikmahnya. Seluruh komitmen harus dibangun dengan membuka buku baru dan menutup buku lama.

Dalam konteks itu perlu ditempuh langkah-langkah terpadu dan komprehensif untuk menjaga stabilitas hankam guna memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan membangun TNI yang modern dan profesional.

Program lainnya adalah menciptakan keamanan, ketertiban masyarakat, menghentikan konflik-konflik sosial, etnik, dan agama, serta peningkatan peran aparat Kepolisian untuk melindungi dan mengayomi masyarakat.

Kedua, meningkatkan partisipasi publik agar mendukung penuh program pembangunan. Setiap kebijakan publik harus dikomunikasikan terlebih dahulu dengan bebagai komponen masyarakat dengan membangun hubungan komunikasi yang bottom up. Dengan partisipasi publik maka setiap program pembangunan akan memperoleh dukungan penuh masyarakat.

Ketiga, memperkuat kembali kekuatan pemersatu bangsa yakni semangat kebhineka tunggal ika-an yang kini mulai rapuh.

Keempat, menegakkan supremasi hukum dalam rangka menciptakan clean and good governance, masyarakat yang tertib hukum, serta berorientasi kepada “hukum sebagai panglima”. Langkah terobosan yang perlu dilakukan adalah, menumbuhkan semangat dan kinerja aparatur pengawal hukum agar memiliki kebanggaan terhadap profesi. Misalnya dengan memberikan apresiasi terhadap tugas dan tanggung jawab mereka, antara lain melalui peningkatan gaji dan kesejahteraan pegawi negeri, guru, jaksa, hakim, polisi, dan prajurit TNI agar terhindar praktik KKN.

Kelima, melanjutkan otonomi daerah (desentralisasi pemerintahan) dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan meningkatkan percepatan pembangunan di daerah dalam segala bidang agar dapat mengejar ketertinggalannya.

Sementara di bidang ekonomi, Surya juga mencatat terdapat lima prioritas program restorasi sebagai langkah pemulihan. Program yang harus segera dilaksanakan itu adalah, pertama, menjaga stabilitas ekonomi makro. Kedua, melaksanakan restrukturisasi manajemen hutang luar negeri. Ketiga, mencanangkan reformasi pajak yang mengarah pada prinsip keadilan. Keempat, mendorong tumbuhnya investasi dengan memberikan insentif serta kemudahan-kemudahan perizinan. Kelima, membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dalam rangka mengurangi angka pengangguran.

Di bidang kesejahteran rakyat, Surya mencatat ada dua program yang harus direstorasi. Pertama, menekan tingkat kemiskinan serendah mungkin dengan mengupayakan terciptanya lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Kedua, mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan memberikan dan membuka prasarana pendidikan yang mudah, murah, dan seluas-luasnya.

Cara Berpikir
Surya Paloh sepertinya sudah sangat paham akan segala persoalan bangsa ini. Maka dia mengedepankan restorasi nasional sebagai program atau platform cara berpikir pemimpin bangsa. Dia menginginkan adanya perubahan-perubahan yang berarti dan berskala besar.

Apa itu? “Mengubah way of thinking dan way of life yang ada pada diri kita. Bukan hanya perubahan dalam bentuk infrastruktur yang ada. Cara berfikir kita saat ini, sudah tepat atau tidak sebagai sebuah bangsa besar? Kita harus jujur dan objektif. Sudah tepatkah cara berfikir kita, cara kita melaksanakan pemahaman kehidupan kita sehari-hari dengan interaksi sosial kita?”

Dia menggugah, pantaskah kita sebutkan kita sebagai bangsa yang mengagungkan nilai-nilai religi Ketuhanan Yang Maha Esa? “Saya pikir, itu tidak semudah kita mengutarakan ya atau tidak. Tapi ada masalah besar sekarang di antara kita. Ada sebuah kontroversi dan kontradiksi yang terus menerus terjadi di semua aspek kehidupan kita. Kita ingin maju tapi kita melangkah ke belakang. Kita ini bicara kita anti KKN tapi praktek korupsi, kolusi dan nepotisme terjadi di sekitar kita setiap saat, setiap menit, dimana saja, kapan saja ,oleh siapa saja.”

Menurutnya, kita tidak memerlukan sejumlah teori dengan berlatar belakang mashab apapun yang disarankan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah bangsa ini. “Kita memerlukan pemimpin yang tepat! Kita menaruh harapan baru pada mereka, yang kita anggap tepat. Saya salah satu diantara itu,” ujarnya mantap.

Surya Paloh sudah lama menjadi pemimpin media massa dengan membawa berbagai suara perubahan. Suara itu dia kemukakan melalui editorial maupun pemberitaan secara tak jemu-jemu. Sayang suara itu masih kurang didengar sehingga mendorongnya mencari otoritas yang lebih tinggi untuk lebih bersuara lagi, yaitu harus tampil ke depan berebut tampuk kepemimpinan nasional.

Sangat cukup jelas alasannya untuk tetap bersuara lantang. Bersuara keras menembus tembok arogansi kekuasaan adalah kebiasaannya semenjak masa mudanya. Surya berkesimpulan bahwa kebanggaan nasional atau national pride kita sekarang ini sudah tidak ada lagi yang bisa dibandingkan, alias nothing to compare.

“Kalau implisit dalam deskripsinya Anda bisa sebutkan misalnya pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekonomi kita rendah. Bicara pertumbuhan ekonomi berapa persen, masih di bawah empat persen, saat pertumbuhan negara-negara lain sudah lebih maju. Cina sekarang berada di atas sembilan persen. GDP kita rendah. Pendapatan perkapita kita, apalagi. Kita bangsa besar dengan pendapatan 1.000 dolar AS per satu orang perkapita sementara negara tetangga kita Malaysia di atas 5.000 dolar AS. Singapura apalagi, sudah 11.000.”

Demikian juga dalam investment. Dalam posisi masyarakat Indonesia di tengah-tengah masyarakat dunia yang global, seperti AFTA yang sudah dipersiapkan untuk itu, persaingan yang semakin bebas, kita akan semakin tersudut karena kekuatan fondasi ekonomi kita juga tidak lebih kuat. “Cobalah lihat apa investasi baru yang masuk ke negeri ini dalam kurun waktu empat lima tahun ini, tidak ada, nol,” ungkapnya.

Menurutnya, kalau pun ada pertumbuhan ekonomi sedikit naik, itu karena kita sendiri yang konsumeris. “Pertumbuhan yang sedikit naik itu bukan karena efektivitas, daya saing, atau persaingan ekspor kita dan sebagainya,” katanya.

Jadi, memang harus mau kita akui bahwa policy dan kebijakan yang ada yang selama ini dijalankan oleh pemerintah, tampaknya tidak cukup untuk menggerakkan peran partisipasi publik untuk bersama-sama menyadari bahwa kita ini adalah bangsa besar yang bisa membuat lompatan-lompatan besar untuk mengejar ketertinggalan kita.

Surya Paloh memberi analogi kemunduran bangsa yang mudah dicerna. Hampir 40 tahun lalu Jembatan Semanggi sudah diperkenalkan kepada bangsa Indonesia di Jakarta. Bung Karno penggagas, Ali Sadikin sebagai pelaksana. Sekarang bangsa lain sudah meng-introduce dan menikmati apa yang namanya subway transportasi, underground, dan flyover. Tettapi, Jakarta sebagai satu ibukota negara yang harus konsern terhadap polusi, masih bertempur soal busway. Jakarta sudah sangat tertinggal jauh. Tidak ada yang peduli atas kemacetan demi kemacetan yang ada. Ini artinya antara harapan dengan kenyataan masih belum bergandengan belum bersahabat secara dekat. Harapan di ujung sana kenyataan di ujung sini.

Justeru itu, ia melihat betapa pentingnya perubahan-perubahan besar harus segera bisa dilakukan. “Dan percayalah pada saya, dengan semangat primordial dan paternalistik masyarakat kita, pemimpin memberikan kontribusi yang amat sangat berarti,” katanya.

Merosotnya Moral
Surya sangat sepakat bahwa berbagai masalah krusial yang dihadapi terkait pula dengan moralitas bangsa yang sudah sangat merosot. Bangsa ini terjebak pada semangat pragmatisme yang tinggi sekali. Terjadi sebuah perubahan tata nilai sosial yang begitu luar biasa secara ekstrim dari waktu ke waktu dan mengarah ke hal yang negatif.

Perubahan itu adalah pola pikir masyarakat yang dengan semangat kegotong-royongan, secara mendasar telah bergerak ke arah semangat pragmatisme dan individualistik yang tinggi sekali. Masyarakat individualistik hanya dekat dengan nilai-nilai yang materialistik. Bagi Surya, jika perubahan tersebut tidak segera dihentikan dengan kesadaran penuh maka satu tingkat lagi bangsa ini atheis.

“Kita tetap lihat ada kelenteng, kita lihat tetap ada wihara Budha, kita lihat tetap ada mesjid, kita lihat masih tetap ada gereja, tapi roh keimanan tidak ada di situ,” ujarnya dengan suara dan mimik sangat serius bahkan terkesan marah terhadap kenyataan yang kasat mata itu.

“Hanya merupakan pelengkap. Roh dan jiwa kita sebenarnya kosong terhadap hal-hal itu. Kita tidak percaya akan succes story yang akan terjadi esok yaitu masa depan yang lebih baik. Kita hanya mau bicara to day is the day, tomorrow for another day. Hari ini cash and carry, instant. Dan dengan itu kita tidak mungkin melakukan perubahan-perubahan besar kalau cara berpikir dan moralitas bangsa seperti ini.”

Selain amat sangat sepakat dengan moralitas bangsa yang merosot dan semakin termarjinalkannya masyarakat kecil, Surya menyebutkan terhadap hal itu lebih dari 50 persen kontribusinya disumbangkan oleh faktor kepemimpinan yang salah. Sebab rakyat hanyalah follower. “Ketika pemimpin tidak kuat maka rakyat akan segera berubah menjadi individu liar. Semua merasa punya hak namun tidak ada siapapun yang merasa mempunyai kewajiban,” ujarnya.

“Bangsa apa kita? Apa yang mau Anda harapkan dari suatu bangsa yang semua individu merasa punya hak atas bangsa ini, tapi tidak pernah merasa ada beban kewajiban pada diri kita? Maka akan hancurlah bangsa ini.”

Menurutnya, bukan lagi sekadar ketakutan atas ancaman separatis dari satu-dua-tiga kepulauan daerah, sebab ada hal yang lebih memusnahkan dari itu, yaitu semangat individualistik yang berlebihan. “Saya ingin menjadikan patron unity dan kesatuan dalam traffic.”

Dia jelaskan, kebesaran seseorang yang penuh dengan kemampuan akademik, dia tidak berarti untuk orang-orang yang awam. Orang-orang yang kaya, dia tidak berarti untuk orang-orang yang miskin. Cerdik, pintar, piawai hanya bisa untuk dirinya sendiri.

Terbuangnya Waktu
Masa lima tahun reformasi setelah terkungkung 32 tahun kehilangan kesempatan memajukan alternatif pemimpin, masih belum menunjukkan hasil yang bisa dipetik. Keberhasilan hampir tidak ada kecuali mendengar statement elit politik yang saling caci-maki di antara satu sama lain.

Persoalannya, kata Surya, terletak pada pemimpin era reformasi itu sendiri yang tidak komit kepada gerakan yang mereka pimpin. Mereka tetap mau mengklaim diri sebagai pemimpin yang reformis tetapi tidak ada hasil-hasil reformasi yang bisa mereka berikan kepada bangsa ini.

Kalaupun ada perubahan yang berarti seperti perubahan amandemen konstitusi yang memungkinkan pemilihan presiden secara langsung, Surya mencatat itu namun dia sekaligus mengedepankan pula harga yang harus dibayar untuk itu.

Seperti teror dan destabilitas di mana-mana, terkucilkan dari pandangan dunia luar dan segala macam. Bagi dia itu juga tidak kalah penting. “Dan catat itu, korupsi semakin merajalela. Bukannya korupsi berhenti, malah merajalela di zaman ini. Kita katanya anti KKN, tapi nyatanya semakin merajalela, semakin nepotis.”

Namun Surya mengaku memberi catatan khusus terhadap pencapaian kemerdekaan berbicara, berserikat, dan pers yang bebas sebagai poin-poin yang bisa dijadikan modal untuk berubah.

Surya melihat yang diharapkan atau dibutuhkan masyarakat sebagai buah era reformasi sebetulnya sederhana. Yaitu penegakan hukum atau law enforcement, perbaikan ekonomi, peningkatan taraf hidup rakyat, ketenangan masyarakat bekerja, mendapat pendidikan yang baik bagi anak-anaknya, fasilitas kesehatan bagus, jalan raya tidak terlalu sesak nafas dan lain-lain. Itu semua sudah bisa membuat mereka senang. Masyarakat tidaklah peduli bangsa ini ada ikatan atau urusan sama IMF, misalnya.

Karena itu, jika timbul pernyataan bahwa masyarakat rindu pada masa lalu, seharusnya pernyataan tersebut menjadi pukulan untuk orang-orang yang berpikiran maju ke depan.

“Bagi saya, bisa terpukul.” Kalau ada kaum reformis yang katanya ingin membuat perubahan namun merasa tidak malu tidak terpukul karena ada harapan rakyat untuk setback pulang ke masa lalu, “Saya nggak ngerti manusia apa seperti mereka. “ e-ti | haposan/mlp/crs

Data Singkat
Surya Paloh, Chairman Media Grup dan Pendiri Nasional Demokrat / Pembawa Suara Masa Depan | Ensiklopedi | golkar, Pengusaha, Media Indonesia, MetroTV, Publisher, Nasional Demokrat, Restorasi Nasional, Dirut

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here