Pendeta Penyair Wajah Cinta

[ Fridolin Ukur ]
 
0
176
Fridolin Ukur
Fridolin Ukur | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Dr.Fridolin Ukur seorang pendeta penyair. Syair-syair mantan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (Sekum PGI) kelahiran Tamiyang Lajang, 5 April 1930, ini sarat dengan tema kemanusiaan (cinta kasih) dan keagungan Tuhan. Pendeta emiritus Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) yang suka memakai kopiah ini meninggal di Jakarta, 26 Juni 2003.

Sebelum manjadi pendeta, Fridolin memulai karir sebagai Tentara Nasional Indonesia (1946-1950). Pernah jadi anggota Divisi IV ALRI (kini TNI AL), kemudian masuk TNI-AD hingga berpangkat pembantu letnan. Setelah menyelesaikan sekolah pendeta di Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta (1956), ia ditahbiskan menjadi pendeta.

Dari sumber yang diperoleh TokohIndonesia.Com dari Gereja Kristen Evangelis (GKE), PGI dan BPK Gunung Mulia, Fridolin pertama kali bertugas sebagai Pendeta Mahasiswa (1956-1958). Kemudian melayani sebagai Pendeta Jemaat Gereja Kalimantan Evangelis (1958-1959) dan Dosen Akademi Teologi (1959-1970) serta staf di Lembaga Penelitian dan Studi (LPS) DGI. Tahun 1984-1989, ia dipilih menjabat Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Selepas itu, ia menjabat Rektor Akademi Teologi Gereja Kristen Evangelis (GKE) dan menjadi Pendeta Emiritus Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) hingga akhir hidupnya. Ia juga pernah aktif sebagai Direktur Yayasan Komunikasi Massa (Yakoma) dan acap tampil mengisi acara kebaktian di RRI dan TVRI.

Fridolin Ukur, seorang pendeta yang suka memakai kopiah. Ia seorang pendeta yang humoris dan dekat dengan anak muda. Seorang pendeta yang tidak hanya larut dalam upaacara ritual, tepai juga menjadi garam dalam dunia kemanusiaan dan masalah sosial.

Sebagai penyair, Fridolin termasuk penyair Angkatan ’66. Syair-syairnya banyak diterbitkan di berbagai media massa. Terakhir, juga diterbitkan dalam satu buku berjudul Wajah Cinta (BPK Gunung Mulia, 2003). Puisi-puisi yang ada dalam buku ini merupakan hasil perenungan dan kisah perjalanan hidup yang dikumpulkan sekian lama.

Kata demi kata dijalin. Kalimat demi kalimat diuntai menjadi satu nada, satu irama, berjiwa dan bermakna. Ungkapan hati, jiwa dan perasaaan dituturkan secara apik dan menyentuh hati. Rasa syukur, cinta, keagungan Tuhan, kepasrahan diri, kasih Tuhan, dan kasih kepada sesama tertuang melalui kata-kata yang sederhana, namun sarat makna yang memberi kesejukan di hati pembacanya.

Ia menamatkan sekolah dari SD sampai SMA di Banjarmasin (1942 sampai 1948). Semasa remaja, ia juga sempat ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan sebagai tentara (1946-1950). Namun, ‘jiwa pendeta’ yang sudah terasuh dalam diri anak seorang penilik sekolah ini tampaknya lebih membara. Sejak kecil ia dan saudara-saudaranya telah menerima pendidikan agama dari orangtuanya. Ditambah lagi dengan pertemuannya dengan pendeta Ethel Bert Saloh, seorang pendeta pribumi suku Dayak, yang menjadi inspirasi dan memperdalam pengetahuan agama Fridolin.

Kemudian, berkat dukungan orang tua, ia pun masuk kuliah Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STT Jakarta). Dua tahun pertama, orang tuanya terus mengirim uang untuk membiayai kuliahnya. Tetapi setelah pihak STT Jakarta melihat motivasi dan kesungguhannya menjadi pendeta, ia diberi beasiswa. Ia menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana theologia (STh) tahun 1956.

Kemudian ia meraih gelar Doktor Theologia dari STT Jakarta, dengan disertasi Tantang Jawab Suku Dayak, 1971. Berupa hasil penelitian antropologi budaya yang kemudian diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, 1971 dalam bentuk buku dengan judul Tantang Jawab Suku Dayak.

Fridolin juga pernah memimpin majalah Fiducia yang diterbitkan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Ia juga kolumnis di beberapa surat kabar nasional. Tulisan-tulisannya sangat menarik dan bermakna. Namanya juga mulai mencuat di dunia internasional sebagai penulis setelah tahun 1980, ia menjadi editor tamu International Review of Mission, yang diterbitkan Dewan Gereja Sedunia, dalam Sidang Raya di Melbourne. Saat itu, ia sempat keliling Australia.

Fridolin juga menulis beberapa buku. Satu di antaranya, berjudul: Tuaiannya Sungguh Banyak, diterbitkan BPK Gunung Mulia, 2002. Buku ini memaparkan keberadaan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE), yang sebelumnya bernama Gereja Dayak Evangelis (GDE). Gereja ini mulai dirintis dengan kedatangan para penginjil Barat, mula-mula dari Zending Basel, kemudian dilanjutkan oleh Zending Barmen.

Fridolin Ukur, sebagai seorang putra Kalimantan, berupaya mengungkapkan pergumulan para penginjil Barat itu, yang kemudian dilanjutkan para pelayan gerejawi pribumi. Buku ini menguraikan betapa karya Tuhan yang amat besar di Indonesia sehingga kita pun dapat berseru, “Tuaiannya sungguh banyak!”

Fridolin meninggal di Jakarta, 26 Juni 2003 dan dimakamkan daerah kelahirannya, Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. crs

Data Singkat
Fridolin Ukur, Pendeta Emiritus Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) / Pendeta Penyair Wajah Cinta | Ensiklopedi | penyair, TNI, Dosen, Rektor, Pendeta, kolumnis

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here