Tawarkan Jurnalisme Damai

[ Jakob Oetama ]
 
0
130
Jakob Oetama
Jakob Oetama | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas dan Chief Executive Kelompok Kompas-Gramedia, melampiaskan keharuannya pada saat Universitas Gadjah Mada, Kamis, 17 April 2003, secara resmi memberinya anugerah kehormatan berupa gelar Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi. Dia adalah salah satu raksasa jurnalis di negeri ini yang menawarkan jurnalisme damai dan berhasil membuka horizon pers yang benar-benar modern, bertanggung jawab, nonpartisan, dan memiliki perspektif jauh ke depan.

Bulir air mata perlahan menetes di pipi tuanya yang mengeriput. Suaranya yang semula berat dan membahana di seisi ruangan, kontan berubah serak dan parau. Laki-laki tua yang siang itu berdiri di podium terhormat, tak lagi kuasa menahan rasa haru yang luar biasa. Dia menangis.

Jakob Oetama, lak-laki tua itu, Pemimpin Umum Harian Kompas dan Chief Executive Kelompok Kompas-Gramedia, melampiaskan keharuannya. Pada saat Universitas Gadjah Mada, Kamis, 17 April 2003, secara resmi memberinya anugerah kehormatan berupa gelar Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi.

Dalam pidato promosi untuk memperoleh gelar doktor honoris causa (HC) itu, ia mengemukakan bahwa pencarian makna berita serta penyajian makna berita semakin merupakan pekerjaan rumah dan tantangan media massa saat ini dan di masa depan. Jurnalisme dengan pemaknaan itulah yang diperlukan bangsa sebagai penunjuk jalan bagi penyelesaian persoalan-persoalan genting bangsa ini.

Jakob Oetama adalah penerima doktor honoris causa ke- 18-yang dianugerahkan UGM-setelah pekan lalu gelar yang sama dianugerahkan UGM kepada Kepala Negara Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah.

Promotor Prof Dr Moeljarto Tjokrowinoto dalam penilaiannya menyatakan, jasa dan karya Jakob Oetama dalam bidang jurnalisme pada hakikatnya merefleksikan jasa dan karyanya yang luar biasa dalam bidang kemasyarakatan dan kebudayaan. Ia juga telah memberikan pengaruh tertentu kepada kehidupan pers di Indonesia.

Dalam pertimbangannya, UGM menilai Jakob Oetama sejak tahun 1965 berhasil mengembangkan wawasan dan karya jurnalisme bernuansa sejuk, yaitu “kultur jurnalisme yang khas”, wawasan jurnalistik yang berlandaskan filsafat politik tertentu. Kultur jurnalisme itu telah menjadi referensi bagi kehidupan jurnalisme di Indonesia.

“Promovendus juga dipandang telah berhasil menggunakan pers sebagai wahana mengamalkan pilar-pilar humanisme transedental melalui kebijakan pemberitaan yang memberikan perhatian sentral pada masalah, aspirasi, hasrat, keagungan dan kehinaan manusia dan kemanusiaan,” papar Rektor.

Salah satu “kultur jurnalisme yang khas” yang dikembangkan promovendus adalah “jurnalisme damai”. Jurnalisme damai merupakan proses penciptaan kultur jurnalisme baru, yang memungkinkan pers bertahan di tengah-tengah konfigurasi politik otoriter.

Di bawah kepemimpinan Jakob Oetama telah terjadi metamorfosis pers dari pers yang sektarian menjadi media massa yang merefleksikan inclusive democracy. Promovendus juga telah meletakkan nilai yang menempatkan manusia dan kemanusiaan pada posisi sentral pemberitaan. Nilai yang dimaksud menjadi acuan para insan pers dalam mengumpulkan fakta, menulis berita, menyunting, serta menyiarkan berita.

Berkaitan dengan itu, sejumlah tokoh nasional menilai Jakob pantas menerima gelar doktor honoris causa (kehormatan) di bidang jurnalisme dari UGM tersebut.

“Penganugerahan gelar doktor kehormatan kepada Jakob sangat tepat. Sebab, dia adalah salah satu raksasa jurnalis di negeri ini yang berhasil membuka horizon pers yang benar-benar modern, bertanggung jawab, nonpartisan, dan memiliki perspektif jauh ke depan,” ujar Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Amien Rais seusai mengikuti upacara penganugerahan doktor honoris causa di Balairung UGM.

Sastrawan Taufik Ismail yang juga hadir menyatakan, “Ini sebuah penghargaan bagi seorang tokoh pers atas jasanya selama 4-5 dasawarsa mengembangkan jurnalisme yang damai namun berkarakter,” katanya.

Pengamat pers Ashadi Siregar mengatakan, penganugerahan gelar doktor honoris causa kepada Jakob sudah sepantasnya diberikan. Ia dinilai berhasil mempertahankan sekaligus mengembangkan eksistensi pers di tengah lingkungan politik Orde Baru yang menekan. “Itu sebuah prestasi. Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan promotor Prof Dr Moeljarto Tjokrowinoto,” tutur Siregar.

Mantan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia Sofyan Lubis menyatakan senang karena Jakob memperoleh penghargaan dari perguruan tinggi ternama. Lubis juga sependapat bahwa itu pantas diberikan kepada Jakob, mengingat perjuangannya selama ini. “Banyak pembaruan yang bermanfaat yang dikerjakan Pak Jakob bagi kegiatan wartawan dalam mengembangkan peranan pers nasional, dengan tetap mengembangkan semangat kebangsaan saat itu. Dia itu saya lihat konsisten dan dia jadi contoh bagi yang lain,” kata Lubis menambahkan.

Jakob sendiri menyatakan, penganugerahan doktor honoris causa merupakan kehormatan yang ia terima dengan sikap tahu diri. Ia menilai banyak tokoh pers yang lebih pantas untuk mendapat kehormatan seperti itu.

Di akhir pidatonya setebal 21 halaman, dengan tulus dan penuh keharuan, pendiri dan pimpinan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) ini, mempersembahkan gelar terhormat itu kepada rekan-rekannya di dunia pers. “Kehormatan besar yang dianugerahkan oleh Universitas Gadjah Mada kepada saya, untuk merekalah kehormatan itu saya persembahkan,” kata Jakob yang begitu terharu ketika menyebutkan rekan-rekan tokoh pers, seperti Rosihan Anwar, PK Ojong, Herawati Diah, Tuty Aziz, Wonohito, Hetami, Sakti Alamsyah, Rorimpandey, Manuhua, dan Mochtar Lubis.

“Kepada rekan dan sahabat saya Manuhua yang sedang sakit di Makassar, tokoh kebebasan pers Indonesia Bung Mochtar Lubis, saya sampaikan hormat dan rasa syukur saya. Kehormatan besar yang dianugerahkan oleh Universitas Gadjah Mada kepada saya, untuk merekalah kehormatan itu saya persembahkan,” tuturnya.

Jakob Oetama, pantas untuk terharu sekaligus bangga. Gelar kehormatan yang diraihnya tersebut, sekaligus juga merupakan penghargaan bagi kegigihan dan keuletan para insan pers di negeri ini dalam memperjuangkan demokrasi, seperti juga yang telah dan masih dilakukannya.

Melalui jurnalisme khas tersebut, Jakob secara konsisten dinilai telah menunjukkan bahwa misi jurnalisme bukan hanya sekadar menyampaikan informasi kepada pembaca, tetapi lebih dari itu misi pokoknya adalah untuk mendidik dan mencerahkan hati nurani anak bangsa. Jakob bahkan menabalkan gaya jurnalismenya yang khas itu dengan nama ”jurnalisme makna.”

Dengan gaya jurnalisme makna tersebut, Jakob dengan Harian Kompas-nya dinilai secara konsisten telah berupaya menyadarkan hati nurani para pembaca tentang perlunya bangsa ini menghapuskan nilai-nilai primordial dalam hubungan antarmanusia dan antarkelompok, menanamkan etika dan moral demokrasi serta keadilan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Prakarsa
Prof Dr Moeljarto Tjokrowinoto, yang bertindak selaku promotor penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa itu, menyatakan, pemberian gelar kehormatan itu merupakan prakarsa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisipol UGM, yang akhirnya disetujui oleh Majelis Guru Besar UGM dalam rapatnya 23 Januari 2003.

Tim Seleksi Penerima Gelar Doktor Kehormatan, kata Prof Moeljarto, telah melakukan kajian secara saksama atas karya-karya Jakob Oetama selama ini sebagaimana yang terhimpun dalam beberapa buku seperti Suara Nurani, Berpikir Ulang tentang Keindonesiaan, Pers Indonesia, Dunia Usaha dan Etika Bisnis, Persepektif Pers Indonesia, dan berbagai kearifan yang telah ditunjukkannya dalam kehidupan profesional di bidang pers.

Tim yang diketuai Prof Moeljarto, beranggotakan Prof Dr Sofian Effendi, Prof Dr Bambang Sudibyo MBA, Prof Dr Kunto Wibisono, Prof Dr Sunyoto Usman, dan Prof Dr Siti Chamamah Soeratno.

Jakob Oetama lahir di Borobudur, 27 September 1931. Setelah lulus Guru Sejarah B-1 (1956), lalu melanjutkan studi di Jurusan Jurnalisme Akademi Jurnalistik Jakarta dan lulus tahun 1959. Pendidikan terakhir mantan guru sejarah SLTP dan SMU di Jakarta itu di Jurusan Publisistik Fisipol UGM.

Pengalaman kerja di bidang jurnalisme dimulai dari editor majalah Penabur, Ketua Editor majalah bulanan Intisari, Ketua Editor harian Kompas, Pemimpin Umum/Redaksi Kompas, dan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia.

Sejumlah karya tulis Jakob Oetama, antara lain, Kedudukan dan Fungsi Pers dalam Sistem Demokrasi Terpimpin, yang merupakan skripsi di Fisipol UGM tahun 1962, Dunia Usaha dan Etika Bisnis (Penerbit Buku Kompas, 2001), serta Berpkir Ulang tentang Keindonesiaan (Penerbit Buku Kompas, 2002).

Jakob juga berkiprah dalam berbagai organisasi dalam maupun luar negeri. Beberapa diantaranya pernah menjadi Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Anggota DPR Utusan Golongan Pers, Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia, Anggota Dewan Penasihat PWI, Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journaux (FIEJ), Anggota Asosiasi International Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai, Amerika Serikat, dan Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Serikat Penerbit Surat Kabar. (SIG)

PDAT: Oplah koran 150 ribu, 200 ribu, atau 300 ribu, menurut Jacob Oetama, menjadi salah satu ukuran kepercayaan masyarakat. ”Sekali lagi, salah satu ukuran,” kata pemimpin umum dan pemimpin redaksi harian Kompas itu. Apalagi, jika jenis dan warna surat kabar tersebut serius, kepercayaan masyarakat menjadi penting, bahkan fundamental.

Harian Kompas, yang dirintisnya bersama P.K. Ojong pada 1965, tercatat beroplah sekitar 460 ribu pada ulang tahunnya ke-30. Tertinggi di Indonesia. Ada kekhawatiran sementara pihak, jumlah oplah yang tinggi akan menimbulkan monopoli terhadap opini masyarakat oleh beberapa penerbitan tertentu. Ini segera dibantah Jakob. ”Monopoli itu tidak benar, karena koran itu tidak hanya Kompas, Sinar Harapan, dan Tempo,” katanya.

Pendapatan Kompas dari iklan juga menempati tempat teratas. Pada awal 1985, surat kabar terbesar di Indonesia itu meraih jumlah Rp 1,5 milyar per bulan dari iklan. ”Kalau saja tidak ada pembatasan jumlah halaman (12 halaman) dan persentase halaman iklan (30%-35%), bukan tidak mustahil Kompas meraih lebih banyak pendapatan dari iklan.

Jakob adalah putra seorang pensiunan guru di Sleman, Yogyakarta. Ia seperti diarahkan menjadi rohaniwan dan guru. Merampungkan SMA (Seminari) di Yogyakarta, pada awal 1950-an ia pernah mengajar di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, dan SMP Van Lith, Jakarta. Setahun sebelum meraih BI Ilmu Sejarah, ia menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta, 1955. Jakob kemudian masuk Perguruan Tinggi Publisistik di Jakarta, dan Fakultas Sosial Politik UGM di Yogyakarta. Keduanya selesai dengan baik, masing-masing pada 1959 dan 1961.”Saya mempunyai latar belakang teori yang cukup kuat untuk mengasuh surat kabar,” kata Jakob. Namun, tidak dengan segera. Ia, bersama P.K. Ojong, lebih dahulu mengelola majalah Intisari (1963), yang mungkin diilhami majalah Reader’s Digest dari Amerika. Dan ternyata sukses.

Baru dua tahun kemudian, 1965, juga bersama Ojong, Jacob mendirikan harian Kompas. Ketika itu, pers Indonesia sedang dikuasai koran-koran bersuara garang. Tidak terikut arus, surat kabar yang bermotto ”Amanat Hati Nurani Rakyat” itu tampil dalam gaya yang kalem. Bahkan di dalamnya ada sikap seorang guru. Beroplah kecil, dan selalu terbit terlambat akibat antre di percetakan, Kompas pernah diejek sebagai Komt Pas Morgen — ”baru datang esok harinya”.

Bersama Ojong, Jacob menerapkan kepemimpinan yang memberikan teladan. Ia suka bekerja keras, menepati janji, dan tepat waktu. Tidak banyak bicara, tetapi banyak membaca, dengan tetap menjaga jarak dengan bawahan yang diasuhnya. Dengan perlahan, tetapi mantap, Kompas merebut pembaca. Iklim politik dan usaha yang lebih longgar di zaman Orde Baru turut menopang keberhasilan surat kabar tersebut.

Agar pers tetap bebas, menurut Jakob, yang juga Direktur Utama PT Gramedia, untuk usaha penerbitan dan toko buku, diperlukan harga diri yang tinggi. ”Miliki dulu harga diri, tanpa itu kita akan menjadi robot,” katanya ketika berceramah di depan wartawan Seksi Film PWI di Cisarua, Bogor, Februari 1984.

Ruang kerjanya di kantor Kompas di Palmerah, Jakarta, tampak terlalu bersih untuk seorang pemimpin redaksi. Tidak terlihat kertas dan buku menumpuk di atas mejanya. Pria bertubuh sedang, berkaca mata, tidak merokok dan berbusana sederhana ini juga tidak suka memakai mobil mewah. Kabarnya, ia sangat memperhatikan bawahannya. Jacob berusaha menjenguk anak buahnya yang sakit, sekalipun di sela waktu yang sempit.

Ayah lima anak ini adalah Ketua Pembina Pengurus Pusat PWI, dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN. e-ti

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here