Anggota DPR 2014-2019 Tertua

[ Popong Otje Djundjunan ]
 
0
178
Popong Otje
Popong Otje | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Dra. Popong Otje Djundjunan, politisi Golkar kelahiran Bandung 30 Desember 1938, adalah Anggota DPR-RI tertua (yang terpilih pada Pileg 2014 dan dilantik 1 Oktober 2014. Sesuai Tatib DPR, dia pun menjadi pimpinan DPR sementara bersama anggota termuda hingga terpilihnya pimpinan DPR tetap.

Sebagai pimpinan DPR sementara, dia diampingi anggota DPR termuda Ade Rezki Pratama. Ade kelahiran Bukittinggi, 8 November 1988 (hampir 26 tahun). Ade diusung Partai Gerindra dari Dapil Sumatera Barat II

Politisi perempuan yang sudah lima periode terpilih menjadi anggota DPR sejak 1987 itu, dikenal kreatif dalam menyampaikan pemikiran-pemikirannya. Sebelum menjadi anggota DPR, dia berprofesi sebagai guru bahasa Inggris. Maka, ketika menjadi anggota parlemen, dia sangat senang duduk di Komisi X yang membidangi pendidikan.

Popong terpilih menjadi anggota DPR lewat Pemilu 2009 dan 2014 mewakili Dapil Jawa Barat I. Sebagai anggota Komisi X, Popong pernah mengkritisi pelaksanaan UN (Ujian Nasional). Popong berpandangan, pemerintah sebaiknya tidak memaksakan UN menjadi satu-satunya standar kelulusan bagi siswa. “Di samping melanggar putusan MA, pemaksaan UN juga akan berakibat buruk bagi kualitas pendidikan nasional,” katanya.

Mantan guru bahasa Inggris tersebut juga menyoroti penggunaan istilah asing oleh para menteri dan pejabat. “Alangkah baiknya jika pejabat eselon satu menggunakan istilah bahasa negeri sendiri ketimbang bahasa Inggris,” katanya.

Ceu Popong, panggilan akrabnya, telah aktif di dunia organisasi sejak usia remaja (16 tahun). Dia aktif di sekitar 62 lembaga (organisasi) sosial, pendidikan, budaya dan politik. Maka tak heran bila dia sangat dikenal oleh masyarakat Bandung, Dapil Jawa Barat I, di mana dia selalu terpilih hingga lima periode.

Dia salah satu ikon politisi perempuan, di tengah masih rendahnya partisipasi politik perempuan Indonesia. Dia melihat gerakan emansipasi wanita masih kerap disalahartikan oleh kaum wanita sendiri. Menurutnya, emansipasi itu sudah selesai pada level konstitusi negara, namun dalam lingkup rumah tangga, laki-laki tetap menjadi imam atas perempuan. “Tidak benar, bila emansipasi dipahami seorang perempuan dapat memperlakukan seenaknya kepada lelaki,” tegasnya.

Dia salah satu ikon politisi perempuan, di tengah masih rendahnya partisipasi politik perempuan Indonesia. Dia melihat gerakan emansipasi wanita masih kerap disalahartikan oleh kaum wanita sendiri. Menurutnya, emansipasi itu sudah selesai pada level konstitusi negara, namun dalam lingkup rumah tangga, laki-laki tetap menjadi imam atas perempuan. “Tidak benar, bila emansipasi dipahami seorang perempuan dapat memperlakukan seenaknya kepada lelaki,” tegasnya.

Dia menjelaskan, kaum perempuan memiliki kodrat alamiah yang tidak bisa ditentang, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. “Ada tiga karakter ideal perempuan versi al-Quran. Yaitu mandiri secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan mandiri menentukan pilihan sendiri. Mandiri dalam bidang politik digambarkan dalam figur Ratu Balqis yang sukses membangun kerajaannya. Di bidang ekonomi, digambarkan seorang perempuan di zaman nabi Musa yang menggembala kambing karena keluarganya tidak mampu melakukan (sakit). Terakhir, adalah mandiri menentukan pilihan sendiri, digambarkannya pada tradisi di masyarakat (Sunda) yang terlebih dahulu menanyai sang putri saat sebelum menikah. Di situlah perempuan menentukan jalan sendiri hidupnya, ” jelasnya. Penulis: RBH | TokohIndonesia.com

 

Data Singkat
Popong Otje, Anggota DPR-RI 1987-1999 dan 2009-2019 / Anggota DPR 2014-2019 Tertua | Direktori |

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here