Ide The Little Singapura

[ Ismeth Abdullah ]
 
0
21
Ismeth Abdullah
Ismeth Abdullah | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Ismet Abdullah merupakan tokoh sentral kemajuan yang berhasil dicapai Batam dewasa ini. Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua Badan Otorita Batam, Ismet tidak saja berhasil melewati masa-masa sulit di tengah gejolak krisis ekonomi yang menimpa Indonesia sejak pertengah 1997, tetapi juga semakin memantapkan arah pejalanan Kota Batam menuju kota Industri, sebagaimana ide dasar pengembangan kota itu.

Ismet Abdullah mulai memimpin Otorita Batam pada akhir Juli 1998. Artinya, kepemimpinannya dimulai ditengah-tengah puncak krisis ekonomi dan krisis perpolitikan nasional yang tengah memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia.

Dalam kondisi sedemikian, tidaklah berlebihan bila jabatan Otorita Batam seperti kursi panas bagi Ismet Abdullah. Ditengah-tengah berlangsungnya krisis ekonomi dan politik, seperti yang berlangsung di Indonesia sejak pertengahan 1997 hingga akhir 1999, jabatan yang paling tidak mengenakkan adalah jabatan yang berhubungan dengan investasi.

Namun bagi Ismet Abdullah, tidak ada jalan lain kecuali bekerja keras menunaikan tugasnya, yakni menarik investasi sebesar-besarnya ke Batam, sekaligus mempersiapkan Batam sebagai zona perdagangan bebas – Free Trade Zone (FTZ).

Wajar kiranya jika pada awalnya Ismet Abdullah merasa tidak percaya diri memimpin Otorita Batam. Bagaimana tidak, ia harus menggiring aliran investasi memasuki Batam ditengah-tengah pusaran hiruk pikuk sosial, politik, dan perekonomian di Indonesia.

Bayangan masyarakat internasional dan investor terhadap Indonesia pada saat itu, hanyalah ketidakpastian, ketidakamanan, dan ancaman stabilitas. Jangankan untuk berinvestasi, untuk sekadar mengunjungi Indonesia saja, banyak negara yang mengeluarkan travel warning (larangan berkunjung) ke Indonesia bagi warga negaranya.

Bahkan setelah digulirkannya kebijakan pemulihan ekonomi (economic recovery), berikut ditandatanganinya Letter of Intent (LoI) antara pemerintah Indonesia dengan International Monetary Found (IMF) awal tahun 1998, tidak serta merta menyejukkan iklim investasi Indonesia. Campur tangan IMF dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia tidak secara langsung memulihkan kepercayaan investor.

Kali ini, faktor pemicu keengganan investor beralih dari pertimbangan ekonomi menjadi pertimbangan non ekonomi. Sebagaimana diketahui, mengawali tahun 1998, kondisi stabilitas ekonomi di Indonesia sudah relative membaik, ditandai dengan stabilnya pergerakan kurs rupiah terhadap dollar AS dan mulai bergulirnya dana pinjaman asing ke Indonesia melalaui IMF. Namun kinerja keuangan yang memabaik itu, tidak berhasil memacu kepercayaan investor ditengah-tengah memburuknya kinerja perpolitikan di Indonesia.

Demontrasi-demontrasi, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat umum, hampir setiap hari mewarnai pemberitaan tentang Indonesia di televisi internasional. Tak ayal lagi, kepercayaan masyarakat internasional yang sudah mulai membaik setelah disepakatinya kerjasama pemulihan ekonomi dengan IMF, kembali terpuruk. Bahkan para investor semakin apatis melihat keadaan Indonesia ditengah-tengah memuncaknya eforia reformasi yang memicu anarkisme dan kekerasan di berbagai daerah di Indonesia.

Realitas sosial politik dan ekonomi yang buruk seperti inilah yang menyambut Ismet Abdullah dalam memimpin Otorita Batam. Dalam keadaan seperti itu, Ismet Abdullah ibarat melawan rumusan baku investasi, dimana tidak ada keamanan disitu tidak ada investasi. Akan tetapi, ia harus mengalahkan rumus itu dan harus bekerja keras menarik investasi diantara ketakutan investor terhadap keadaan yang tidak menentu di Indonesia. Hanya keajaibanlah yang dapat menolongnya untuk berhasil menggiring investor memasuki Batam di tengah-tengah jebakan eforia reformasi.

Ternyata, keajaiban itu berpihak pada Ismet Abdullah. Dapat dibayangkan, orang yang sebelumnya tidak pernahmenginjakkan kaki di Batam, harus memimpin daerah itu ditengah-tengah keadaan yang tidak menentu. Akan tetapi, dengan bermodalkan pengalamannya memimpin berbagai perusahaan dan ketekunannya, Ismet Abdullah berhasil membawa kemajuan yang signifikan di Batam.

Menurut jebolan Fakultas Ekonomi UI 1974 ini, kuncinya adalah belajar. .”Saya terus belajar dan nyaris tidak menemukan kendala yang berarti,” katanya pada satu media baru-baru ini.

Perkembangan signifikan Batam dibawah kepemimpinan Ismet Abdullah terlihat dari tahun ke tahun. Indikator keberhasilan alumnus Economic Development Institute of The World Bank, Washington DC USA ini terlihat dengan jelas melalui indikator aliran investasi yang memasuki Batam sejak kepemimpinannya.

Pada akhir tahun 1998, nilai keseluruhan investasi di Batam sebesar US$ 6,75 miliar, yang ditandai dengan dominasi investasi swasta domestik. Dari sisi investornya, kepemimpinan investasi swasta domestik masih dominan, yakni sebesar asing US$ 2,29 miliar, yang kemudian diikuti investasi swasta asing sebesar US$ 2,25 miliar, dan investasi pemerintah yang berada pada urutan ketiga sebesar US$ 1,58 miliar.

Keberhasilan kepemimpinan Ismet Abdullah terlihat pada tahun keempat. Keberhasilan ini tidak hanya ditandai dengan meningkatnya aliran investasi yang masuk ke Batam, tetapi juga keberhasilan mengubah struktur aliran investasi yang sebelumnya didominasi swasta dalam negeri menjadi didominasi swasta asing.

Pada tahun 2001, total investasi yang masuk ke Batam tercatat sebesar US$ 8,8 miliar atau naik US$ 2,5 miliar. Peringkat pertama aliran investasi itu itu sudah dipimpin investasi asing dengan nilai US$ 3,4 miliar, sementara di tempat kedua diduduki investasi swasta dalam negeri sebesar US$ 3,3 miliar, dan tempat ketiga diduduki investasi pemerintah sebesar US$ 2,1 miliar.

Dari aliran investasi ini, jelas memperlihatkan keberhasilan Ismet Abdullah memberi kepercayaan pada investor asing. Dan yang terpenting tentunya, investor asing mempercayai kepemimpinan Ismet di Otorita Batam akan memberi keuntungan pada mereka. Tahun 2005 total, aliran investasi yang masuk ke Batam diperkirakan akan mencatat perkembangan yang lebih signifikan lagi dengan total investasi sebesar US$ 13,17 miliar.

Prestasi Ismet juga dapat dilihat dari parameter jumlah perusahaan yang beroperasi di Batam. Pada awal kepemimpinannya di Otorita Batam pada tahun 1998, jumlah perusahaan asing yang beroperasi di Batam hanya 338 buah. Namun pada akhir 2001 jumlah perusahaan itu sudah mencapai 531. ini membuktikan bahwa kepemimpinan Ismet Abdullah benar-benar dipercaya investor asing.

Saat ini, sejumlah investasi ditanamkan perusahaan-perusahaan raksasa dunia di Batam. Sebut saja Ciba Vision, Mc Dermott, Sanyo, Panasonic, Hyundai, dan sejumlah perusahaan multinasional yang sudan dikenal dunia.

Kemajuan investasi di Batam, tidak hanya meningkatkan lapangan kerja pada sektor informal, melalui permintaan tenaga kerja oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Batam, tetapi juga merangsang pertumbuhan lapangan kerja di sektor informal. Pada tahun 1998, sektor informal tercatat menyerap angkatan kerja 141.000 orang, namun pada tahun 2001 sektor informal ini berhasil menyerap angkat kerja menjadi 165.000 orang.

Hal lain yang tidak kalah menggembirakan adalah dampak ekonomi yang dihasilkan batam, tidak hanya dinikmati pekerja dan masyarakat Batam saja, tetapi juga masyarakat luar daerah Batam, khususnya daerah asal para pekerja. Aliran uang keluar dari Batam ke daerah-daerah lain di Indonesia melalui wesel pos, yang dikirimkan pada pekerja kepada keluarganya di daerah lain, tidak kurang dari Rp 125 miliar per tahun.

Disamping itu, keberadaan Batam semakin penting diantara kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Dalam hal ini peranan Batam terhadap perekonomian nasional adalah sumbangannya terhadap penerimaan negara dari pajak. Keberadaan Batam ditengah-tengah perekonomian nasional, tidak hanya jumlah pajak yang dihasilkannya, tetapi juga keberhasilannya mencapai rasio pajak (tax ratio) yang jauh diatas rasio pajak nasional.

Sebagai kota industri, setiap tahunnya Batam mencapai tingkat rasio pajak rata-rata 20% pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Angka ini jauh lebih tinggi dari rasio pajak nasionasl yang hanya 11-14 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada tahun 2001, penghasilan negara (pemerintah Pusat) dari pajak, mencapai Rp 946 miliar. Angka ini meningkat tajam dari penghasilan pajak tahun 1998, yang masih berkisar Rp 769 miliar. Sementara, untuk pemerintah kota Batam sendiri, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dihasilkan Kota Batam cukup besar, yakni mencapai Rp 90 miliar pada tahun 2001.

Kontribusi lain dari Batam terhadap perekonomian nasional, juga dapat dilihat dari volume dan nilai ekspor non migasnya. Pada tahun 2001, Batam mencatat nilai ekspor non migas sebesar US$ 5,7 miliar. Angka ini merupakan 13 % persen dari total ekspor nasional. Persentase ekspor non migas Batam terhadap ekspor nasional, tidak terlepas dari laju pertumbuhan ekonomi non migas di Batam, yang pada tahun 2001 mencapai 7,90 persen pada PDRB. Jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekspor non migas nasional yang hanya 3,5 persen pada tahun 2001, maka sangat jelas memperlihatkan peran strategis batam dalam perekonomian nasional.

Demikian juga dengan Produk Domestic Regional Bruto (PDRB) Batam yang terus menerus meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai angka Rp 8,09 triliun pada tahun 2001 lalu, merupakan dampak langsung dari aliran investasi yang memasuki Batam.

Dari sejumlah parameter ekonomi di atas, kiranya tidaklah berlebihan jika Ismet Abdulla membangun Visi “Little Singapura” bagi Batam. Keberadaan Batam tidak hanya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang menciptakan multiplier effect kepada daerah kabupaten di seluruh Kepulauan Riau, tetapi juga menjadi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di pulau Sumatera, khususnya kawasan Pantai Timur Sumatera.

Yang menjadi pertanyaan, apa kiat sukses Ismet Abdullah menari investor ke Kota Batam? Ternyata sangat mudah, kerja keras menggiring investasi di Batam tak sekadar parameter kesiapan mengurus izin saja, karena itu hanya 15 persen dari upaya yang harus dilakukan. Yang terpenting adalah 85 % lainnya, yakni bagaimana meyakinkan investor. hmp

Data Singkat
Ismeth Abdullah, Gubernur Kepulauan Riau Pertama (2006-2010) / Ide The Little Singapura | Direktori | Gubernur, UI, otorita

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here