Sang ‘Pendekar’ Garuda Indonesia

[ Indra Setiawan ]
 
0
323
Indra Setiawan
Indra Setiawan | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Setelah 25 tahun merintis karir di Garuda Indonesia, Indra Setiawan, satu dari “Sembilan Pendekar”, akhirnya terpilih memimpin maskapai penerbangan nasional terbesar di Indonesia itu, meskipun pada mulanya ia bukan yang paling dijagokan di antara para calon yang ada. Ini perpaduan prestasi dan garis tangan.

Indra yang sebelumnya menjabat Penasihat Keuangan di maskapai penerbangan itu, memang salah satu dari sekian orang manajer terbaik. Tapi selain soal prestasi, soal garis tangan ternyata juga sangat menentukan perjalanan karir seseorang.

Namun bila ditelusuri perjalanan karir Indra di Garuda, pengangkatannya jadi Direktur Utama Garuda Indonesia, bukan suatu kejutan dan sekedar karena garis tangan. Sebab sejak lama, ia bahkan sudah diperkirakan suatu saat akan memimpin Garuda.

Pria kelahiran Jakarta 11 November 1951, itu merintis karirnya di Garuda sejak tahun 1977, bertepatan hari “Valentine”. Ia boleh dikatakan sebagai salah seorang “anak emas” Dirut Garuda pada waktu itu, Wiweko Soepomo. Bersama delapan orang rekannya, kelompoknya itu dikenal sebagai “Sembilan Pendekar”.

Bapak dua orang putra ini, Gillairda Mhosarindo Riawan dan Giaminac Duratia Riawan, pada Senin 6 Mei 2002, dilantik menjadi Direktur Utama Garuda. Ia mematahkan spekulasi banyak orang saat dirinya yang tidak menjadi calon kuat Dirut Garuda, ternyata mampu menduduki posisi itu.

Kendati beberapa rekannya sudah memperkirakan suatu saat Indra akan memimpin Garuda, sebenarnya dalam benak Indra saat diterima Wiweko Soepono 25 tahun silam, tidak pernah terlintas ia bakal menjadi orang nomor satu Garuda Indonesia. Ketika itu, putra keempat dari tujuh bersaudara pasangan Banyumas (Jateng)-Pandeglang (Banten), Suratman Ngadiman-Eulis Rafia, yang baru menyandang sarjana teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, hanya bisa terkagum-kagum kepada Wiweko, sosok yang sukar dijangkau dan “angker” tetapi mau menerima dirinya bersama dua rekan lainnya.

Namun, dua puluh lima tahun kemudian, Senin, 6 Mei 2002, sewaktu mengenang detik-detik diterima Wiweko Soepono, Indra menemukan kenyataan bahwa apa yang tak pernah diimpikannya justru menjadi kenyataan – ternyata ia mampu menduduki posisi yang pernah ditempati Wiweko, sang idola.

Pada era Wiweko Soepono memegang kendali Garuda Indonesian Airways (1968-1984), Indra dikenal sebagai “anak emas” bersama delapan rekan lainnya: Wiradharma B Oka (Direktur Strategis dan Umum), Sunarko Kuntjoro (di lingkungan keuangan), Hadinoto (Direktur Eksekutif GMF), Rudy Sabur (Sales Manager Jeddah), Rudy Setyopurnomo (kini Dirut Indonesian Airlines), Erwin NB (staf teknik GMF), dan Abdurachman. Di sinilah muncul julukan “Sembilan Pendekar” Garuda itu.

Awalnya nama Indra Setiawan baru mencuat ke permukaan dua bulan sebelum pengangkatannya, saat disebut-sebut di SCTV, tetapi kemudian tenggelam di antara para kandidat Samudra Sukardi (Direktur Utama Abacus), serta anggota direksi Garuda, yaitu Emirsyah Satar (Direktur Keuangan), Rudy Hardono (Direktur Operasi), Bachrul Hakim (Direktur Niaga), Wiradharma B Oka (Direktur Strategis dan Umum), dan Richard (Direktur Teknik). Sehari sebelum dilantik, namanya kembali mendadak terdengar di TV7 sebagai underdog, orang yang dilupakan, tetapi mungkin akan terpilih menggantikan Abdulgani.

Dan, selesai sudah teka-teki “alot” selama hampir tiga bulan tentang siapa yang bakal duduk di kursi direktur utama flag carrier Indonesia dengan kekuatan 63 armada pesawat. Indra beruntung diwarisi duo Robby Djohan-Abdulgani dengan keadaan Garuda yang sudah ditata baik sehingga tahun 1999 mulai mendapatkan positif operating casflow sebesar 73,6 juta dollar AS dan meningkat lagi tahun 2000 menjadi 129 juta dollar AS. Dia tinggal meneruskan program yang telah disusun dalam buku biru Abdulgani, Strategi dan Pelaksanaan Restrukturisasi Perusahaan.

Indra sendiri berjanji melanjutkan program pendahulunya, Abdulgani. Termasuk di dalamnya langkah restrukturisasi utang Garuda yang dinilai telah berhasil. Selain itu, dia juga berjanji akan melakukan aliansi. Untuk tahap awal, Garuda akan beraliansi dengan perusahaan penerbangan domestik.

Dalam jangka pendek, Indra juga berjanji meningkatkan pelayanan kepada konsumen karena hal itu merupakan people based service industry — industri yang melandaskan kekuatannya pada karyawan). Dalam konteks ini pihaknya akan menawarkan bagaimana menerapkan etika bisnis yang baik, meningkatkan keahlian dengan memodifikasi karyawan.

Mengenai peningkatan pelayanan, Indra masih akan melihat dengan jeli jalur-jalur penerbangan yang menguntungkan. Kemudian, memerhatikan ketepatan waktu penerbangan. Dia juga akan meningkatkan pelayanan sebelum terbang dan dalam perjalanan atau pesawat. e-ti

Data Singkat
Indra Setiawan, Direktur Utama Garuda Indonesia, 2002 / Sang ‘Pendekar’ Garuda Indonesia | Direktori | ITB, BUMN, direktur, garuda, Merpati

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here