Pejuang Indo yang Cinta Indonesia

 
0
113
Danudirja Setiabudhi
Danudirja Setiabudhi | Tokoh.ID

[PAHLAWAN] Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudhi adalah tokoh pendiri Indische Partij (IP), partai politik pertama di Indonesia. Pembentuk Komite Bumiputera, serta pendiri perguruan Ksatria Institut, sekolah yang menanamkan rasa kebangsaan kepada anak didiknya.

Perlawanan atas kekejaman kolonial ternyata bukan hanya dilakukan kaum pribumi. Namun, juga oleh mereka yang memiliki darah campuran. Salah satunya adalah Ernest Eugene Francois Douwes Dekker atau yang kemudian dikenal dengan nama Dr. Danudirja Setiabudhi.

Douwes Dekker dikenal sebagai tokoh yang sangat menentang kolonialisme. Bukan hanya menentang penjajahan Belanda di Indonesia, tapi terhadap penjajahan di beberapa negara lainnya juga dia bersikap sama. Sikapnya itu misalnya pernah dia nyatakan dengan menyelundupkan senjata ke India untuk membantu pejuang-pejuang India melawan Inggris.

Karena sikapnya yang menentang penjajahan, khususnya sikapnya menentang setiap agresi bangsa Eropa (Barat) ke wilayah Asia dan Afrika, Douwes Dekker pernah dijuluki “penjahat internasional”.

Douwes Dekker merupakan pria Indo ini lahir di Pasuruan, Jawa Timur pada 28 Oktober 1879. Meskipun terlahir sebagai orang Indo, ia tak mau menyebut dirinya orang Indo. Bahkan, sewaktu kuliah di Universitas Zurich, Swiss ia mendaftarkan diri sebagai orang Indonesia bersuku Jawa.

Setelah tamat HBS, ia bekerja di perkebunan kopi di Malang. Rasa kemanusiaannya terusik kala menyaksikan seorang Belanda bertindak kasar pada seorang buruh. Tak lama berselang ia mengajukan pengunduran diri. Setelah resmi keluar dari perkebunan kopi tersebut ia kemudian bekerja sebagai guru kimia.

Profesi terakhir ini rupanya tidak membuatnya kerasan sehingga ia memutuskan untuk merantau ke luar negeri. Dalam petualangannya itu, ia pernah ikut dalam Perang Boer melawan Inggris di Afrika Selatan. Setelah itu ia sempat menjadi tahanan Inggris dan dipenjara di Sri Langka. Setelah bebas dari kurungan penjara, ia kembali ke tanah air, memimpin harian De Express yang banyak memuat karangan untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia.

Pada 1912, bersama dua orang koleganya, Suwardi Suryaningrat dan dr. Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan Indische Partij (IP) partai politik pertama di Indonesia. Partai itu berusaha mematahkan “garis warna kulit” (colour line) yang memecah belah bangsa Indonesia. Ia memiliki keyakinan bahwa penjajahan dapat ditumbangkan dengan aksi bersama antara semua golongan dalam masyarakat. Ia juga menganjurkan kepada golongan orang Indo untuk bersatu dengan rakyat Indonesia dan menganggap Indonesia sebagai tanah air mereka.

Belanda juga merasa terusik dengan pembentukan Komite Bumiputera yang dimaksudkan untuk menentang pemerintah Belanda merayakan peringatan seratus tahun bebasnya Belanda dari penjajahan Prancis. Tahun 1913, Douwes Dekker bersama Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangunkusumo dibuang ke Belanda karena keterlibatan mereka dalam komite tersebut. Pada 1918, ia kembali ke Indonesia dan meneruskan perjuangannya lewat jalur pendidikan dengan mendirikan perguruan Ksatria Institut yang menanamkan rasa kebangsaan selain pelajaran umum kepada anak didiknya.

Douwes Dekker sering dijebloskan ke penjara karena tindakannya yang dianggap mengancam keberadaan pemerintah Belanda. Ia pernah dipenjarakan di Jakarta pada tahun 1941. Sesudah Perang Dunia II berakhir, Douwes Dekker kembali ke Indonesia dan secara diam-diam turut membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Namun, ia kembali harus mendekam di penjara ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II. Dalam kabinet Syahrir II (2 Oktober 1946-3 Juli 1947), Douwes Dekker kemudian diangkat menjadi Menteri negara dan penasihat delegasi RI dalam perundingan-perundingan dengan Belanda.

Setelah proklamasi RI berkumandang, Douwes Dekker berganti nama menjadi Danudirja Setiabudhi. Nama tersebut merupakan hadiah dari bekas muridnya yang juga presiden pertama RI, Soekarno. “Danu” artinya banteng, “Dirjo” artinya kuat, tangguh, dan “Setiabudi” artinya berbudi setia. Bung Karno berharap agar singkatan nama D.D yang tenar dan harum pada masa perjuangan kemerdekaan sebagai inisial dari nama Douwes Dekker (D.D), dapat diabadikan sebagai singkatan nama Danu Dirjo. Setelah itu ia menetap di Bandung hingga tutup usia pada 28 Agustus 1950.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Dr. Danudirja Setiabudhi diberi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 590 Tahun 1961 tanggal 9 November 1961. e-ti

Data Singkat
Danudirja Setiabudhi, Pendiri Indische Partij / Pejuang Indo yang Cinta Indonesia | Pahlawan | Pahlawan, Guru, pendiri, penasehat, Pahlawan Kemerdekaan Nasional

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here