Memaknai Musik Lewat Gitar

[ Balawan ]
 
0
94
Balawan
Balawan | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Gitaris yang terkenal dengan gitar elektrik double neck dan teknik bermain tapping 8 jari ini banyak berkiprah di event-event bergengsi di luar negeri. Lewat grup musik Batuan Ethnic Fusion, ia mengeksplorasi dan memadukan musik jazz, rock, dan pop dengan musik tradisional Bali. Sebagai salah satu gitaris jazz favorit di Indonesia, ia kerap diundang mengisi acara di berbagai stasiun televisi dan menjadi guru gitar di beberapa sekolah musik di Indonesia.

I Wayan Balawan, demikian nama lengkap pria kelahiran Gianyar, Bali, 9 September 1973 ini. Sebagai orang asli Bali, sejak kecil Balawan sudah akrab dengan dunia seni khususnya gamelan Bali. Putra pasangan I Wayan Regug dan Ni Wayan Sunti ini mulai bermain gitar sejak usia 8 tahun. Ketertarikannya pada gitar terjadi saat melihat kakak perempuannya asyik bergitar bersama kawan-kawannya. Bersama mereka, Balawan mulai ikut belajar. Bahkan saat masih duduk di bangku SD, ia pernah membuat band rock yang kerap membawakan lagu-lagu hits milik The Beatles, Rolling Stones, dan Deep Purple. Di usia 12 tahun, Balawan mulai serius mempelajari teknik bermain gitar.

Setamat SMA pada 1993, talenta bermusiknya yang demikian besar pada akhirnya membawa anak kelima dari tujuh bersaudara ini meraih beasiswa untuk belajar di Australian Institute of Music di Sydney selama 3 tahun. Setelah menyandang gelar Diploma of Music, ia tak langsung kembali ke Indonesia melainkan sempat menghabiskan waktunya selama dua tahun untuk mengajar di almamaternya. Di Negeri Kanguru itu, ia sempat membuat band bernama Garis yang kerap tampil di kafe membawakan lagu-lagu Tanah Air yang diarasemen ulang dengan irama jazz.

Barulah di tahun 1996 ia kembali ke Tanah Air. Sayangnya ketika itu, Balawan menganggap tren lagu Indonesia tidak sesuai dengan musik yang diusungnya. Lantaran aliran musiknya dinilai aneh maka ia pun lebih sering tampil di luar negeri. Sebagai gitaris Indonesia yang banyak berkiprah di dunia international, Balawan kerap dilibatkan dalam sejumlah event-event bergengsi, seperti menjadi wakil Asia bersama gitaris Jepang Isato Nakagawa dalam East Meet West Guitar Festival di Jerman, menjadi wakil Asia di Hell Blues Festival di Norwegia, tampil di Other Minds Music Festival 2011, San Fransisco, dan masih banyak lagi.

Balawan banyak mendapat pengalaman ketika melihat gaya gitaris dari negara lain dalam festival-festival yang diikutinya. Padahal banyak dari mereka yang hanya memainkan gitar akustik tapi terdengar sangat bagus. Menurutnya, dari segi profesionalisme, permainan, dan teknik, Indonesia masih kalah jauh dari negara lain. Ia menyayangkan kenapa di Indonesia tidak ada ajang untuk mengasah kemampuan generasi muda seperti yang sering diikutinya.

Selain itu, Balawan juga menyayangkan sikap penonton dalam mengapresiasi musiknya. Balawan menilai, orang Indonesia, terutama orang Jakarta, terkadang cuma senang kemeriahannya saja. Dari 100 persen yang datang ke konser, barangkali hanya 20 persen saja yang benar-benar menikmati musiknya. “Saya sering banget main di Jakarta yang penontonnya malah sibuk ngobrol, kalau yang lain tepuk tangan, ikut tepuk tangan, lalu ngobrol lagi. Saya jadi malas mainnya,” keluh Balawan.

Pada tahun 1998, penggemar John McLaughlin, musisi jazz tahun 1970-an ini kembali ke kampung halamannya dan membentuk band bernama Batuan Ethnic Fusion (BEF) yang memadukan musik etnis Bali dengan jazz. Kelompok ini beranggotakan Balawan, Wayan Suastika, Wayan Sudarsana, Nyoman Marcono, Nyoman Suwidha, Gusti Agung Bagus Mantra, Gusti Agung Ayu Risna Dewi dan Ito Kurdhi. BEF memainkan instrumen tradisional seperti reong, suling, rindik, genggong, kendang and cengceng. Proses memperluas musik dan menggabungkannya dengan musik etnik tidaklah mudah. Hal ini memerlukan kreativitas tinggi untuk menciptakan musik agar jazz dan gamelan Bali tetap hidup. Setahun setelah resmi dibentuk, grup musik tersebut mengeluarkan album perdana berjudul Globalism.

Untuk menambah keahliannya, Balawan mulai mendalami teknik bermain gitar yang dikenal sebagai touch technique (tapping technique), teknik ini diperkenalkan gitaris Eddy van Halen tahun 70an. Dimana tangan sebelah kiri berfungsi memainkan kord dan bass sedang tangan kanan memainkan melodi secara terpisah dan independen sehingga terdengar seperti dua orang bermain gitar. Setiap kali tampil, ia selalu memakai gitar double neck 6 string di bagian atas dan 7 string di bawahnya.

Selanjutnya pada 2001, ia merilis album solo berjudul Balawan (Acoustic Music Records Germany). Empat tahun berselang, ia melakukan tur ke 4 kota di Australia bersama Batuan Ethnic Fusion. Di tahun yang sama, ia meluncurkan karya terbarunya, sebuah album berjudul Magic Fingers yang melibatkan banyak musisi mancanegara, diantaranya Australia dan Jepang. Album yang dirilis di bawah label SONY BMG Music Entertainment Indonesia ini menyajikan 11 komposisi hasil pergulatan Balawan di berbagai studio mulai dari Sanur, Denpasar, hingga Tokyo.

Album yang setengah idealis dan setengah komersil ini tidak hanya menampilkan permainan instrumental gitar saja, namun juga menyajikan kemampuan olah vokal Balawan. Selain komposisi karyanya sendiri, ia juga menggarap lagu daur ulang, antara lain Arti Kehidupan-nya Mus Mujiono yang dipilih sebagai hit single pertama. Juga lagu Sesaat Kau Hadir yang pernah dipopulerkan Utha Likumahua.

“Bagaimanapun baiknya saya bermain jazz, saya tak akan pernah cukup ‘hitam’ untuk memainkannya. Jadi, daripada bersusah payah memainkan otentisitas jazz yang tak akan pernah saya capai, saya memutuskan memainkan musik dimana saya feel at home,” ujar Balawan pada saat merilis Magic Finger.

Pada tahun 2006, ia tampil dalam konser ‘5 Gitar Master’ di Yogyakarta yang menampilkan Eet Sjahranie, Ian Antono, Eross Chandra, dan Ridho Slank.

Untuk menambah keahliannya, Balawan mulai mendalami teknik bermain gitar yang dikenal sebagai touch technique (tapping technique), teknik ini diperkenalkan gitaris Eddy van Halen tahun 70an. Dimana tangan sebelah kiri berfungsi memainkan kord dan bass sedang tangan kanan memainkan melodi secara terpisah dan independen sehingga terdengar seperti dua orang bermain gitar. Setiap kali tampil, ia selalu memakai gitar double neck 6 string di bagian atas dan 7 string di bawahnya. Sekilas permainan ini kelihatan seperti permainan piano, bass, chord dan melody, semuanya dimainkan dengan jari kiri dan jari kanan, nyaris tanpa dipetik. Permainan Balawan terkesan sangat halus dan licin.

Gaya permainan yang terbilang unik itu menurutnya berawal dari keinginannya menciptakan sesuatu yang beda. Karena sudah bermain gitar sejak kecil, untuk menghindari rasa jenuh, Balawan ingin yang sesuatu yang baru. Balawan mulanya terinspirasi dari pemain bas yang bermain seperti itu, kemudian ia bereksperimen sendiri dan dikembangkan lagi.

Balawan tergolong tidak pelit menularkan ilmunya. Lewat album kelimanya, See You Soon yang dikemas dalam bentuk CD dan DVD, ia ingin berbagi teknik permainan gitarnya ke masyarakat. Dengan media seperti itu, pasti banyak musisi yang takut jika karyanya dibajak, akan tetapi tak demikian halnya dengan Balawan.

Ia mengaku cuek saja bahkan ia sendiri yang memotong-motong videonya dan memasukkannya ke internet. Diantara semua albumnya, Balawan mengatakan album inilah yang paling lengkap. Masih dalam koridor Jazz namun juga ditambah dengan musik tradisional dan ada satu lagu ciptaan Dewiq. Dalam penggarapannya, album ini lebih berwarna karena melibatkan 27 musisi. Selain menularkan ilmu lewat album, ia juga mendirikan Bali Guitar Club, sebuah wadah tempat berkumpul dan berkreasi bagi ratusan gitaris.

Di samping itu, ia juga ingin membantu banyak musisi lain yang sedang menggarap materi lagu. Balawan tak membatasi bantuannya hanya untuk musisi jazz tapi juga genre musik lain. Ia pernah menjadi produser untuk album Andrini, seorang pendatang baru di dunia musik Indonesia. Ia juga pernah mengisi gitar untuk album Bella Saphira.

Meski awalnya ia sempat dipandang sebagai gitaris yang aneh, perlahan-lahan musiknya mulai dapat diterima di Tanah Air. Kini di negerinya sendiri, ia telah diakui sebagai salah satu gitaris terbaik di Indonesia. Ia kerap diundang mengisi acara di berbagai stasiun televisi di Indonesia serta tampil di Jazz cafe, Ubud (Bali) bersama bandnya Batuan Ethnic Fusion. Balawan juga merupakan seorang guru gitar yang sering tampil di beberapa sekolah musik di Indonesia.

Belakangan, julukan sebagai Indonesian Guitar Hero juga melekat padanya. Meski begitu, ia berusaha untuk tetap rendah hati. Julukan itu dipandang sebagai sesuatu yang relatif karena sebenarnya banyak gitaris berbakat di Indonesia tapi hanya sedikit yang berkarya. Yang terpenting baginya adalah ia hanya ingin terus berkarya. eti | muli, red

Data Singkat
Balawan, Gitaris / Memaknai Musik Lewat Gitar | Selebriti | musisi, jazz, gitaris

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here