Menghidupkan Danau Limboto
Margaretha Solang
[WIKI-TOKOH] Margaretha Solang prihatin saat melihat banyak nelayan meninggalkan budidaya ikan nila di Danau Limboto, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, tahun 2005. Keprihatinan itu kemudian justru mampu menambah nilai jual ikan nila dengan cara yang tak lazim.
Rasa prihatin itu menggerakkannya untuk memulihkan budidaya ikan nila lewat teknik pemotongan sirip ekor yang ditemukannya pada 2003. Niat itu diutarakan Margaretha, dosen pada Jurusan Biologi Universitas Negeri Gorontalo, kepada Djunna Lamondo, ketua jurusannya.
Atas saran Djunna, ia lalu mengajukan proposal pengabdian masyarakat kepada Kementerian Pendidikan Nasional. Setelah proposal disetujui Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi, Margaretha menerapkan hasil inovasinya itu. Hasilnya, selain mempercepat pertumbuhan, juga menambah bobot ikan nila.
“Sirip ekor ikan merupakan titik tumpu pergerakan. Dengan memotong sirip tegak lurus, pergerakan ikan dibatasi. Ini membuat asupan makanan tidak terbakar menjadi energi, tetapi menjadi daging,” katanya tentang penerapan hasil inovasinya pada 2006.
Pertumbuhan dan penambahan berat daging yang pesat itu membuat nelayan bisa memanen ikan nila (yang telah dipotong sirip ekornya) setiap dua bulan sekali.
Teknik pemotongan sirip ekor mulanya dia terapkan di Desa Dembe yang berlokasi di sekitar Danau Limboto. Dana bantuan Ditjen Pendidikan Tinggi sebesar Rp 49 juta digunakannya membuat empat jaring apung percontohan, masing-masing berukuran 6 meter x 6 meter dan berisi 1.500 bibit ikan.
Setelah ikan nila berusia sebulan, Margaretha dan sejumlah mahasiswa jurusan biologi memotongi sirip ekor ikan nila. “Panjang sirip ekor yang dipotong tak lebih dari 2 sentimeter agar ikan tidak terluka dan infeksi akibat terkena bagian tulangnya,” ungkapnya.
Hasil pemotongan sirip ekor itu sudah tampak hasilnya 1-1,5 bulan kemudian. Inovasi ini sukses menambah nilai jual ikan nila. “Kalau biasanya 1 kilogram ikan nila berisi enam ekor, kini jumlahnya berkurang menjadi tiga ekor,” tuturnya.
Menarik nelayan
Tujuan Margaretha menarik kembali perhatian nelayan di sekitar Danau Limboto berhasil. Sejumlah nelayan mau mengikuti metode pembudidayaan ikan nila yang dia ajarkan. Pada periode 2007-2008, ia bisa mengajak 20 nelayan menerapkan metode pemotongan sirip ekor.
Menurut Harun (52), nelayan di Desa Dembe, teknik yang diajarkan Margaretha mengembalikan semangatnya berbudidaya ikan nila. Dari satu jaring apung ukuran 6 meter x 6 meter dengan 1.500 ikan nila yang dikelolanya, Harun bisa menghasilkan Rp 6.250.000 atau naik dua kali lipat dibandingkan sebelum menerapkan teknik pemotongan sirip ekor.
Keuntungan nelayan bertambah karena Margaretha juga menciptakan pakan ikan nila alternatif. Pakan alternatif dengan mencampur ampas tahu, udang Danau Limboto, dan konga (sejenis dedak) itu mengurangi biaya operasional nelayan. Pembuatan 50 kg pakan alternatif hanya membutuhkan Rp 250.000 atau lebih hemat Rp 100.000 dibandingkan harga 50 kg pelet yang biasanya digunakan nelayan.
Keberhasilannya “menghidupkan” kembali Danau Limboto mendapat apresiasi Pemerintah Provinsi Gorontalo. Pada 2007, Gubernur Gorontalo (saat itu) Fadel Muhammad memberinya penghargaan dalam Kongres Inovasi Gorontalo untuk Indonesia. Inovasi Margaretha yang sederhana, tetapi aplikatif ini, mengalahkan 52 karya inovatif lainnya.
Baginya, inovasi tak harus berbiaya mahal. Penemuan jauh lebih berharga apabila orisinal dan bisa diterapkan oleh masyarakat. “Saya hanya berupaya memanfaatkan potensi perikanan di Provinsi Gorontalo,” ujarnya.
Penghargaan itu kian memicu semangatnya untuk mengembangkan budidaya ikan nila di Danau Limboto. Tahun lalu, metode pemotongan sirip ekor ikan nila itu dikembangkannya di Desa Iluta, masih di kawasan danau. Ia rutin mengunjungi desa yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Gorontalo itu setiap bulan.
Ia suka menumpang becak motor, angkutan umum yang dominan di Kota Gorontalo. Sering kali biaya pergi dan pulang ke lokasi ditanggungnya sendiri, mengingat keterbatasan dana penelitian dari kampus atau pemerintah pusat.
“Kadang saya mengajak mahasiswa yang tertarik mendalami metode ini,” ujarnya.
Jaring apung
Kini, sekitar 150 nelayan dari kedua desa itu telah mengembangkan metode temuan Margaretha itu. Danau seluas sekitar 3.000 hektar tersebut kembali dipenuhi ribuan jaring apung berukuran 6 meter x 6 meter. Guna menyempurnakan metode ini, ia tengah mengkaji kemungkinan pembuatan alat untuk memotong sirip ekor.
Berbagai penelitian dilakukan Margaretha sejak 2001, setahun setelah ia meraih gelar magister fisiologi hewan di Universitas Gadjah Mada. Kala itu, ia melakukan dua penelitian sekaligus, yakni efek rambut buah jagung sebagai penurunan kadar glukosa dan efek akar lamtoro sebagai antifertilitas.
Namun, penelitian yang spesifik pada ikan nila baru dilakukan pada 2003. Setelah pemotongan sirip ekor, Margaretha sempat menganalisis pengaruh detergen terhadap mentalitas ikan mas dan ikan nila serta penerapan teknik kastrasi untuk meningkatkan produksi ikan nila.
“Penelitian itu bukan semata-mata tuntutan pekerjaan, tetapi saya tertantang untuk menemukan hal baru,” ungkap anak pasangan Jan Solang dan Supiah ini. Kecintaannya kepada ikan tak lepas dari hobi sang ayah memelihara ikan mas dan ikan nila di kampung halamannya di Manado, Sulawesi Utara.
Saat duduk di bangku SD, Margaretha sering mengikuti aktivitas sang ayah di kolam ikan. Ia kian menggemari mata pelajaran Biologi dan memutuskan mendalaminya saat kuliah di Universitas Sam Ratulangi, Gorontalo (kini Universitas Negeri Gorontalo), tahun 1987.
Meski metode pemotongan sirip ekor cukup berhasil, Margaretha berharap peran pemerintah lebih besar. Sebab, dukungan pemerintah terhadap penyediaan para penyuluh untuk menggenjot produksi perikanan masih minim.
“Peningkatan taraf hidup nelayan tidak bisa diembankan kepada akademisi semata. Pemerintah perlu meningkatkan peran pada bidang yang selama ini menjadi unggulan di Tanah Air,” tuturnya. e-ti
Sumber: Kompas, Rabu, 28 Juli 2010 | Aswin Rozal Harahap