Proses Pencarian Seorang Penulis

[ Wawan Susetya ]
 
0
126
Wawan Susetya
Wawan Susetya | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Meski kerap terpinggirkan dalam ingar-bingar selebrasi penulis yang eksis di kota besar, produktivitas penulis daerah terus melaju.

Menulislah maka kau ada. Seuntai ungkapan filsafat kaum eksistensialis itu adalah penjelas bahwa keberadaan seseorang dapat diunduh dari sejauh mana ia mampu melahirkan karya-karya kemanusiaan dalam bentuk buku. Dari sebuah karya, pengarangnya sering disebut dan selalu dikenang waktu dan zaman.

Dalam ruang itulah, Wawan Susetya, penulis produktif dari kota kecil Tulungagung, Jawa Timur, berjibaku. Tapi, Wawan mengaku tertarik menulis bukan karena tergoda agar dikenang sepanjang waktu. “Mungkin ini semacam panggilan jiwa, buat melerai kegelisahan,” gumamnya, agak filosofis, saat ditemui Media Indonesia di rumahnya yang asri di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung.

Nama Wawan Susetya mungkin belum terlalu akrab di telinga para penikmat buku terutama di kota besar seperti Jakarta. Namun, jika bicara karya dan bagaimana proses pencarian sebuah karya itu didalami, nama Wawan patut disodorkan sebagai sosok yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Dari sisi karya, lelaki kelahiran 41 tahun lalu itu dapat dimasukkan sebagai penulis yang sangat produktif. Dalam rentang kurang dari lima tahun tidak kurang 55 judul buku telah dihasilkannya. Sebanyak 15 judul buku lagi kini antre siap cetak.

Apa yang digeluti Wawan inijuga membawa pesan. Penulis daerah, atau sering secara serampangan disebut penulis pinggiran, kini telah bangkit menggeliat, bersuara, dan layak diperhitungkan di kancah ide dan perbukuan Tanah Air.

Ada tiga genre yang menjadi bentangan tematik dari buku-bukunya, yakni novel berbasis sejarah, budaya, dan buku bertema religi. Kisaran genre humaniora itu sepertinya sudah menjadi pilihan ayah dua anak kembar ini. “Entahlah, sepertinya bidang saya dan panggilan jiwa saya ada di situ,” ujar pria berambut ikal tersebut.

Proses pencarian

Wawan bukan orang baru dalam dunia tulis-menulis. Ia mengawali karier sebagai penulis setelah pensiun sebagai wartawan di sebuah harian terbitan Surabaya pada1998. Setahun kemudian dia banting setir, yakni menjadi dosen di almamaternya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Karena merasa tidak betah, setelah beberapa bulan mengajar dia pun memilih menjadi pengelana di belantara Jakarta. “Saya pusing harus bikin modul pengajaran dan harus masuk tepat waktu.”

Di Ibu Kota, Wawan sempat berjibaku dengan komunitas Kyai Kanjeng besutan Emha Ainun Nadjib. Dari situ dia mengaku proses pencariannya mulai mendapatkan bentuk. Wawan mulai mencoba menulis buku. Debutnya Kitab Ketentramnan Hati Emha Ainun Nadjib, terbit 2001.

Buku yang ditulis Wawan bersama temannya semasa di UMM, M Alfan Alfian M, diterbitkan penerbit cukup dikenal. Republika.

Buku tebal tersebut bercerita tentang kearifan yang berhasil ditangkap dalam sosok dan pemikiran Cak Nun, panggilan akrab Emha Ainun Najib. Tapi, buku pertama yang seharusnya memantik dirinya untuk mulai serius menulis malah menjadi antiklimaks. Seperti bait syair Chairil Anwar, sekali berarti sudah itu mati. Setelah 2001 Wawan mengaku tenggelam begitu saja. “Empat tahun saya mengalami proses pergolakan spiritual pribadi yang membosankan sekaligus melelahkan,” ujar dia mengenang.

Baru pada 2005 dia mulai menulis lagi dengan semangat baru. “Seperti ada bisikan yang mendorong saya untuk menulis dan menulis, sulit terjelaskan dengan kata-kata,” ungkap dia, kali ini dengan mimik serius.

Sejak 2005 satu per satu buku terlahir dari tangan dingin Wawan. Setahun itu saja ada empat buku yang dia tulis. Di antaranya Perdebatan Langit dan Bumi (Republika) dan Syibli Mencari Tuhan (Tiga Serangkai). Pada 2006 terbit tiga buku, satu di antaranya Cermin Hati (Tiga Serangkai Solo) yang dianggapnya sebagai salah satu mahakarya.

Puncaknya pada 2007 pria yang menikahi Muashofahitu berhasil merampungkan 28 buku. Sebuah kerja intektual dan kerja teknis yang mencengangkan. “Saya tidak tahu. Yang jelas saya sangat bersemangat untuk menulis dan terus menulis.” Beberapa buku yang terbit pada 2007 adalah Kontroversi Ajaran Kebatinan, Kepemimpinan Jawa (Narasi Jokjakarta), Tadarus Cinta (Diva Pres Yogyakarta) dan jika Surga dan Neraka (tak Pernah) Ada (Pustaka Abdi Bangsa, Jakarta).

Kini, buku dengan narasi kontemplatif tentang surga dan neraka setebal 285 halaman itu menembus pasar pembaca di Malaysia. Sebuah penerbitan bernama Millenia yang berbasis di Selangor, Malaysia, membeli hak penerbitan buku karangan Wawan itu. “Ini semua di luar dugaan saya.”

Selanjutnya, sejumlah buku bergenre novel sejarah dengan ketebalan rata-rata minimal 300 halaman berhasil dirampungkan pada 2008 dan 2009. di antaranya Asmara Dana Darah Bharata (Kreasi wacana Yogyakarta), Ramayana (Narasi, Yogyakarta), Ken Arok, Ken Dedes (Ircisod, Yogyakarta) dan Senyum Manis Wali Sanga (Diva, Yogyakarta).

Produktivitas yang tidak biasa itu diakui Wawan telah mendikte dirinya untuk menentukan pilihan hidup untuk menulis. Dia mengaku mulai gelisah lagi. Ia menyebut fase ini sebagai dehidrasi ide. Wawan mulai merasa kehilangan kemerdekaan karena didikte tuntutan produktivitas dan tenggat dari penerbit.

“Saya mulai takut dengan produktivitas. Dia seperti momok yang sedikit demi sedikit menggerus kedalaman dan ketulusan gagasan kita,” ungkapnya dengan mimik serius.

Bapak rumah tangga

Sejak pulang dari Jakarta, Wawan mengaku mantap menjadi pertapa di kampung halamannya. Itu sebabnya dia kini total menghabiskan hari-harinya di depan komputer di rumah kunonya di sebuah pelosok desa yang asri di Tulungagung. “Di sela-sela menulis, saya momong dua putri kembar saya yang masih tiga tahun,” ujarnya tersenyum.

Wawan menyebut dirinya berprofesi sebagai bapak rumah tangga. Istrinya bekerja sebagai pegawai negeri sipil di sebuah instansi di Pemerintah Kabupaten Tulungagung.

Lalu bagaimana Wawan mengeksplorasi ide yang kemudian dituangkan menjadi tulisan? Dia menyebutkan faktor kebiasaan membuatnya begitu mudah menemukan ide tulisan. “Ketika menuangkan gagasan di layar komputer, itu mengalir saja,” ungkap Wawan.

Meski begitu, dia mengaku standar ilmiah dari sebuah buku tetap diperhatikan. Seperti sumber referensi dan alur logika.

Untuk buku-buku bertema religi dia mengaku sangat terbantu oleh istrinya yang sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga di Yogyakarta. “Istri saya sangat membantu. Dia juga manajer pemasaran ulung,” puji Wawan.

Tingginya intensitas penerbitan buku otomatis menghasilkan pundi-pundi rezeki. Apalagi kini sejumlah penerbit sampai mengantre buku karangan Wawan, terutama buku bertema agama yang masih menjadi tren.

“Menulis itu indah. Bagi siapa saja yang hendak mulai menulis, jangan terlalu terkekang konsep ini dan itu. Menulis saja terus dan rajin membaca,” imbuhnya membagi kiat.

Apa yang disebut Wawan dengan membaca bukan saja deretan teks buku. Namun, memandang alam dan realitas lalu merenunginya. Secara personal dia mengaku mendapatkan banyak ilham tentang ide-ide kepenulisan setelah melakoni prinsip kebersahajaan dalam hidupnya.

“Kurangi tidur, kurangi bicara tak perlu, menjauh dari keramaian, dan kuat menahan lapar,” urai penggemar Andrea Hirata itu membeberkan sekelumit nasihat. (M-4) e-ti

Sumber: Media Indonesai, Rabu, 1 Desember 2010, di bawah judul:Dari Tulungagung Menuju Selangor | Penulis: Edy Saputra

Data Singkat
Wawan Susetya, Penulis / Proses Pencarian Seorang Penulis | Wiki-tokoh | Wartawan, Dosen, penulis

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here