‘Revolusi’ Musik Dol Bengkulu

[ Syukri Ramzan ]
 
0
218
Syukri Ramzan
Syukri Ramzan | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Sekitar 20 tahun lalu, dol yang merupakan alat musik perkusi khas Bengkulu itu hanya boleh ditabuh saat upacara Tabot. Kerja keras Syukri Ramzan memopulerkan dan menciptakan komposisi musik dol membuat musik dol diakui dunia sebagai salah satu kekayaan musik etnik Indonesia.

Dahulu, upacara Tabot dan musik dol digunakan sebagai sarana menyebarkan agama Islam. Lama-lama upacara Tabot menjadi tradisi masyarakat Bengkulu,” kata pria paruh baya yang merahasiakan umurnya itu.

Syukri menjelaskan kaitan musik dol dengan upacara Tabot. Upacara Tabot digelar di Bengkulu setiap tahun pada 1-10 Muharam untuk memperingati meninggalnya Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.

Menurut dia, hingga tahun 1970-an, musik dol masih dikeramatkan. Hanya orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan keluarga Tabot (keluarga yang menyelenggarakan upacara Tabot) yang boleh menabuh dol.

Syukri, yang saat itu masih anak-anak, termasuk beruntung. Dia diperbolehkan menabuh dol meski cuma sebentar. Pengalaman menabuh dol sangat membekas di ingatannya.

Setelah dewasa, pikiran Syukri tetap terusik soal musik dol. “Sayang sekali jika musik dol hanya dikenal di Bengkulu, padahal musik dol punya banyak keunikan,” katanya.

Satu-satunya di dunia

Keunikan dol adalah satu-satunya alat musik perkusi di dunia yang tidak berlubang di dasarnya. Karena itu, bunyi dol unik, apalagi jika ditabuh bersamaan dengan pukulan energik. Bunyi yang ditimbulkan seperti beduk walaupun ukuran dol jauh lebih kecil.

“Saya berpikir, jika musik dol yang punya karakter kuat dan unik tidak ditampilkan, lama-lama hilang. Kalau tak digarap menjadi seni pertunjukan, kapan musik dol akan dikenal luas,” ujar ayah dua anak itu.

Keinginan Syukri untuk memopulerkan musik dol ditempuh dengan nekat. Tanpa basa-basi, apalagi minta izin para tetua, pada 1985 Syukri mementaskan musik dol di luar upacara Tabot untuk mengiringi tari tradisional Bengkulu. Itulah pertama kalinya musik dol dimainkan di luar upacara Tabot.

Mulai dari mengiringi pentas tari itulah, musik dol terkenal sampai ke luar Bengkulu meski melalui proses bertahun-tahun. Hari ini, menampilkan musik dol di luar upacara Tabot adalah hal yang sangat lumrah.

“Kalau waktu itu saya minta izin, pasti tidak boleh karena musik dol dianggap keramat. Saya langsung saja mementaskan musik dol di luar upacara Tabot. Ternyata gagasan saya diterima,” ungkapnya.

Mulai dari penari

Minat Syukri pada musik berasal dari keluarga. Lahir dari keluarga pemusik, sejak kecil Syukri sudah akrab dengan seni tari, seni musik, dan seni teater. Sebelum mendalami musik dol secara serius, Syukri adalah penari dan koreografer. Dia juga belajar membuat komposisi musik untuk mengiringi tari dan teater.

Syukri mengaku belajar musik dol secara otodidak. Cara memainkan dol cukup mudah karena teknik dasarnya cuma terdiri dari tiga jenis pukulan yang disebut suwena, tamatam, dan suwari. Pukulan suwena adalah pukulan dengan tempo lambat, tamatam adalah pukulan lebih cepat dan konstan, sedangkan suwari adalah pukulan dengan tempo satu-satu.

Syukri pula yang “merevolusi” penampilan dol dengan memasang tali pada dol sehingga dol bisa digendong di depan penabuhnya. Sebelumnya, dol hanya diletakkan di bawah, tetapi sekarang dol selalu dimainkan dengan digendong. Karena berat dol bisa mencapai 25 kilogram, penabuh harus berlatih agar kuat menggendong dol.

“Dol lebih bagus digendong karena kesannya dinamis dan lebih atraktif. Kalau cuma diletakkan di bawah, kesannya statis,” kata Syukri.

Setelah musik dol dikenal luas, Syukri mulai bereksperimen mengolaborasikan musik dol dengan berbagai alat musik. Hasilnya, Syukri menghasilkan sekitar 30 komposisi musik dol yang telah dikolaborasi.

“Saya sudah membuat komposisi musik dol dengan jimbe, kameo (alat musik tiup dari kerang khas Pulau Enggano), gitar listrik, mandolin, gambus, keyboard, akordeon, biola, gitar bas, sampai gamelan Jawa,” ujarnya.

Pentas keliling

Kerja keras dahulu, pengakuan akan datang. Syukri sudah menjelajah kota-kota besar di Indonesia, bahkan sudah berkali-kali pentas di Malaysia dan Singapura. Setiap kali pentas, Syukri membawa rombongan pemusik dol sebanyak 10 orang.

Sejumlah penghargaan yang diperoleh Syukri dan kelompoknya, antara lain, The Best Performance Festival Musik Etnis Hitam Putih tahun 2007, The Best Performance Solo International Ethnic Music (SIEM) 2007, dan Penyaji Terbaik Festival Musik Nusantara 2006.

Pada 2006 sampai 2008, Syukri dan kelompok dolnya diundang ke Istana Negara mewakili Provinsi Bengkulu dalam acara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia. Kelompok ini juga pernah diundang pentas ke Inggris dan Finlandia, tetapi sayangnya batal karena kekurangan dana.

Syukri juga dipercaya menjadi koreografer dan penata musik dalam pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran tahun 2010 di Bengkulu yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Juli lalu, Syukri dan kawan-kawan tampil lagi dalam SIEM 2010 di Solo, Jawa Tengah.

November 2010, kelompok dol ini diundang tampil dalam Pameran Pergelaran Seni se-Sumatera di Lampung. Tahun depan Syukri mendapat undangan tampil di Australia dan Uni Emirat Arab.

Syukri bukan hanya melakukan “revolusi” atas musik dol, melainkan juga seorang pembuat dan pengoleksi dol. Dari 140 dol yang ada di seluruh Bengkulu sekarang, 70 di antaranya milik Syukri. “Kayu yang baik untuk dol adalah kayu kelapa karena ringan dan kuat. Kulitnya dari kulit sapi. Harga satu dol Rp 750.000 sampai Rp 900.000,” kata Syukri.

Melalui Sanggar Seni Mayangsari yang didirikan Syukri, sekarang di Bengkulu banyak pemain musik dol berusia muda, bahkan anak-anak. Mantan murid Syukri di Sanggar Mayangsari sudah ada yang mendirikan sendiri sanggar musik dol.

Menurut Syukri, semua yang telah dilakukannya hanya karena dia ingin melestarikan musik dol. Dia tak akan berhenti melakukan “revolusi” musik tradisional itu. e-ti

Sumber: Kompas, Sabtu, 6 November 2010 | Penulis: Wisnu Aji Dewabrata

Data Singkat
Syukri Ramzan, Seniman musik dol dan koreografer / ‘Revolusi’ Musik Dol Bengkulu | Wiki-tokoh | Seniman, musik, koreografer

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here