Kisah Islam Masuk Tanah Batak

[ Sisingamangaraja XII ]
 
0
245

Kisah Islam Masuk Tanah Batak (3)

Teori Perbatasan Aceh

Teori Perbatasan Aceh ini menggambarkan bagaimana proses masuknya agama Islam ke Tanah Batak (Tanah Pakpak Dairi dan dataran tinggi Tanah Karo) yang berbatasan dengan Aceh, serta pesisir pantai Barat, Singkel, Barus dan Sibolga.

Sejak Sultan Iskandar Muda (1607-1636) telah melebarkan kekuasaannya sekaligus mengusung dakwah Islam ke Tanah Batak. C.M. Pleyte Wzn menyebut sangat mungkin pada puncak kekuasaannya, kesultanan Aceh melebarkan kedaulatannya ke tanah Batak, dan mengirim para imam Muslim untuk mengislamkan orang Batak, jauh sebelum Padri. Faktanya bisa terlihat dalam pustaha, buku-buku magis orang Batak, ditemukan bahasa Arab yang kacau. Seperti awal tabas berikut: Poda ni tabas ni pagar adji malim ma inon. Ale datu, bitsumirla di rahoman di rahomin, dari ucapan salam bismi-llahi arrahman arrahim yang terkenal.  Namun, tulis C.M. Pleyte, setelah bertahun-tahun dari dunia Islam mereka kembali ke Paganisme, dan begitu banyak yang berhubungan dengan Islam telah dihapus dari ingatan mereka.

Dalam mendukung dalil ini, C.M. Pleyte mengemukakan bahwa orang Batak Singkil (vulgo Singkel) di pantai barat dan penduduk Tanah Alas di pantai timur semuanya mengaku Islam dan menerima agama ini melalui orang-orang Aceh. Dan hal ini memiliki pengaruh sedemikian rupa sehingga bahasa yang digunakan di daerah-daerah tersebut, aslinya Dairi dan bentuk dialek yang lebih tua, serta Karo, menyerap banyak kata-kata Aceh.

Kesultanan Aceh, antara lain juga mengirim suatu utusan yang dipimpin oleh Tuan Kita ke Tanah Karo. Namun Sultan Iskandar Muda belum berhasil ‘menjangkau’ Tanah Karo dan Pakpak Dairi. Sejak awal kedatangan Tuan Kita ke Tanah Karo telah dicurigai bahkan dimusuhi. Namun Tuan Kita berusaha menunjukkan dan membuktikan itikad baiknya untuk membantu masyarakat Karo, untuk menciptakan ketenangan dan ketentraman serta mengajarkan ilmu-ilmu yang berguna, sehingga perlahan-lahan masyarakat Karo dapat menerimanya dengan baik. Namun penerimaan tentang apa yang diajarkan Tuan Kita, terbatas sepanjang bermanfaat bagi orang Karo. Sementara mengenai agama Islam mereka tidak begitu saja mau berpindah keyakinan atau agama.

Kemudian, penyebaran agama Islam di dataran tinggi Tanah Karo dan Pakpak Dairi terus diupayakan oleh para pendakwah dari Aceh, dengan cara peperangan, di antara­nya pada abad 18 oleh Tengku Mohammad Amin dari Lingga Gayo yang di Tanah Karo dikenal dengan sebutan Tengku Sjech Lau Bahun, akan tetapi usaha tersebut tak berhasil, ditentang bahkan dia dibunuh.

Penyebaran agama Islam di dataran tinggi Karo diperkirakan mulai membuahkan hasil walau dalam jumlah relatif kecil pada abad 19, antara lain oleh Tengku Muda dari Aceh melalui pendekatan kepada sebuah kaum keluarga Djuhar di Tiga Beringin, Tiga Binanga, hal ini terjadi setelah jalan ke Kutacane dibuka. Saat itu, orang-orang Batak Karo yang ingin memperdalam  ilmu kesaktian kepada Tengku Muda, disyaratkan harus lebih dulu memeluk agama Islam. Karena jika tidak ilmu kesaktian orang Atjeh tersebut tidak akan dapat dimiliki.

Penyebaran agama Islam di perbatasan Aceh tersebut juga dikemukakan dalam Het Bataksch Instituut 2/1909. Mengutip Westenberg, disebut di dataran tinggi Karo, orang memiliki pengetahuan tentang Islam, kemungkinan besar melalui kontak dengan Aceh dan Gayo, meskipun tidak diketahui dengan pasti bagaimana dan kapan hal itu terjadi. Namun diyakini komunikasi itu terjadi, antara lain terlihat dari Bahasa Karo juga menunjukkan jejak pengaruh Muslim. Kata-kata seperti: napbi, nabi; medjin (dari jin); ukoem, hukum dan banyak lagi lainnya.  Hal ini juga terlihat dari do’a jampi-jampi Karo (dan Batak lainnya) dengan awal kalimat bismillahirrahmanirrahim, yang dalam logat Karo berbunyi, bismillah hirahman dirohim.

Penyebaran agama Islam di Pakpak Dairi juga dipengaruhi faktor perbatasan dengan Gayo dan Alas, Aceh. Salah satu yang menonjol adalah melalui peran Raja Koser Maha Gelar Pamahur, setelah mendapatkan pengajaran keagamaan Islam dari Tuanku H. Ibrahim dari Aceh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here