Jurnalisme Makna

 
0
53
Jurnalisme Makna
Soeharti – Panji Gumilang | Majalah Tokoh Indonesia 18

[OPINI] – Kali ini, penyajian majalah ini tampak khas mengusung topik; Indonesia Harus Kuat. Disebut khas, lantaran lebih mengedepankan sebuah berita dan pandangan seorang tokoh tentang perjuangan menuju bangsa mandiri.

Tidak ada yang berubah dalam kebijakan redaksional media ini, baik Website Tokoh Indonesia maupun Majalah Tokoh Indonesia. Melainkan tetap kukuh sebagai media (website dan majalah) pertama dan satu-satunya di Indonesia yang secara khusus menampilkan kisah hidup (biografi) para tokoh. Hanya saja, kami seperti terusik dan terenyuh, setelah menyaksikan sebuah acara bermakna spektakuler, tetapi nyaris luput dari liputan media massa nasional.

Acara itu adalah perayaan tahun baru Islam 1 Muharram 1426 Hijriah di Ma’had Al-Zaytun. Berlangsung di sebuah lembaga pendidikan yang berada di sebuah desa, jauh dari keramaian kota, MAJALAH TOKOH INDONESIA 18 ? DEPTHNEWS: Indonesia Harus Kuat = OPINI TOKOH: Syaykh AS Panji Gumilang, Perjuangan untuk Menjadi Bangsa MandirI = TOKOH UTAMA: Harmoko, Kebangkitan Dunia Keempat = TOKOH UTAMA: HM Soeharto, Dikhianati Pembantu Dekatnya = TOKOH PILIHAN: Sutrisno Iwantono, Ketika Dunia Mengglobal – Imam Supriyanto Sulaiman AB, Preskom CenturyBank = TOKOH DUNIA Dato’ Paduka Sri Mir Khan, CEO Dinar & Dirham International = COMPANY: CenturyBank: Parca Merger, Sehat dan Fokus = KAPUR SIRIH: Jurnalisme Makna. tetapi dihadiri oleh hampir limapuluh ribuan umat yang datang dari berbagai penjuru negeri.
Menurut pengamatan kami, belum pernah ada acara tahun baru Islam sebesar dan sebermakna itu di negeri ini. Acara itu menyuarakan sekaligus mengimplementasikan budaya kemandirian.

Membangkitkan semangat dan budaya kemandirian suatu bangsa dalam setting wawasan dan pergaulan global. Kemandirian dalam kebersamaan, tidak hanya dengan sesama umat seagama atau warga sebangsa, melainkan juga dengan sesama warga bangsa lain.

Acara ini selain menyuarakan makna ritual keagamaan juga mengangkat makna kemandirian yang dalam puluhan tahun terakhir ini nyaris kurang dimiliki bangsa ini.

Dalam konteks ini, jika mau jujur, jurnalisme modern harus mampu melihat makna terdalam dari sebuah fakta dan peristiwa. Sebuah jurnalisme makna yang secara jujur harus mampu melihat dan mengedepankan makna terbaik dari suatu fakta dan peristiwa sebagai ukuran nilai sebuah berita.

Dengan demikian, wartawan atau media massa, tidak akan terjebak dalam prasangka dan kehebatan sebuah isu atau fakta semata tanpa melihat makna yang ada di dalamnya.
Kami tidak berniat menggurui apalagi menyalahkan pihak lain. Hanya saja, kami merasa perlu mengemukakan hal ini, setidaknya, sebagai sebuah sapaan pembuka mengenai sajian majalah ini.
Guna lebih menegaskan makna upacara tahun baru Islam yang kami sajikan dalam edisi ini, kami mengutip pidato Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, dalam rubrik Opini Tokoh. “Mewujudkan bangsa yang lebih mandiri adalah sebuah perjuangan dan merupakan kerja keras yang tidak pernah berakhir,” kata pemangku pendidikan pembawa damai dan toleransi itu.

Kemandirian bagi bangsa Indonesia, katanya, bukan lagi diukur dari statement/proklamasi kemerdekaan, namun ukurannya lebih kepada upaya mengisi kemerdekaan, dengan sikap mandiri, berbuat mandiri, dan membangun secara mandiri.Jakarta, Januari 2005 * Redaksi ?Kapur Sirih, Majalah Tokoh Indonesia 18

Tokoh Terkait: AS Panji Gumilang, | Kategori: Opini | Tags: Kapur Sirih, Majalah Tokoh Indonesia, Jurnalisme

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here