BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    31.4 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Beranda Literasi Etika Supranalar: Kasihilah Musuhmu

    Etika Supranalar: Kasihilah Musuhmu

    Supranalar: Karakteristik dalam Alkitab (2)

    0
    Ch. Robin Simanullang gagas diksi Supranalar
    Lama Membaca: 3 menit

    Perintah untuk “mengasihi musuh” dan “memberikan pipi kanan saat ditampar pipi kiri” adalah contoh paling radikal dari apa yang kita sebut sebagai etika supranalar (suprareason ethics) dalam ajaran Yesus.

    Secara hukum alam, sosiologis, maupun logika keadilan manusia (common-sense logic), respons natural terhadap ancaman atau serangan adalah fight or flight—membalas atau menghindar. Hukum Taurat lama pun membatasi pembalasan dengan standar keadilan rasional:“mata ganti mata, gigi ganti gigi” (agar pembalasan tidak berlebihan).

    Namun, Yesus mendobrak batas rasional itu dan membawa manusia masuk ke dimensi supranalar, di mana kejahatan tidak ditundukkan dengan kejahatan atau sekadar hukum formal, melainkan ditaklukkan dengan kasih yang melampaui logika.

    Berikut nats-nats sejenis yang memuat perintah supranalar, yang mayoritas berpusat pada Khotbah di Bukit (Matius 5) dan Khotbah di Tanah Lapang (Lukas 6):

    Pertama, Membalikkan Logika Pembalasan (Pipi Kiri & Pipi Kanan). Di sini, Yesus tidak sedang mengajarkan sikap pasrah atau pengecut, melainkan sebuah respons supranalar yang memutus mata rantai kebencian.

    • Matius 5:38-40: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.”
    • Lukas 6:29: “Barangsiapa menampar pipi yang satu, berikanlah juga kepadanya pipi yang lain, dan barangsiapa mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.”

    Kedua, Mengasihi Musuh (Mendobrak Batas Kasih Humani). Secara nalar manusia, kasih itu bersifat timbal-balik (resiprokal). Kita mengasihi orang yang mengasihi kita. Yesus menghancurkan batas itu dengan menuntut kasih yang bersifat unconditional (tanpa syarat), meniru kesempurnaan Allah.

    • Matius 5:43-44 & 46: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu… Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai pun berbuat demikian?”
    • Lukas 6:27-28: “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”.

    Ketiga, Berjalan Dua Mil (Melampaui Tuntutan Kewajiban). Pada zaman itu, tentara Romawi memiliki hak hukum untuk memaksa penduduk jajahan (termasuk orang Yahudi) memikul barang bawaan mereka sejauh satu mil. Secara nalar, orang akan melakukannya dengan dongkol dan berhenti tepat di garis satu mil. Yesus memberikan alternatif supranalar: jalani mil yang kedua dengan sukarela.

    • Matius 5:41: “Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil”.

    Keempat,  Memberi Tanpa Mengharap Kembali. Secara kalkulasi ekonomi dan logika akal sehat, meminjamkan modal harus memperhitungkan risiko dan keuntungan. Namun, Yesus membawa prinsip kerajaan Allah yang melampaui matematika manusia:

    • Lukas 6:35: “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.”

     

    Mengapa Perintah Ini Disebut Supranalar?

    •  1. Sumbernya Bukan dari Dorongan Jiwa Manusia: Mengasihi musuh tidak bisa diproduksi oleh emosi atau tekad manusiawi yang egosentris. Ini adalah produk dari Agape—kasih ilahi yang supranalar, yang disalurkan melalui Roh Kudus.
    •  2. Menolak Logika Transaksional: Dunia bergerak dengan logika “Do ut des” (saya memberi supaya kamu memberi). Perintah Yesus bergerak dengan logika “Diberikan cuma-cuma, maka berikanlah cuma-cuma.”
    • 3. Senjata Spiritual, Bukan Fisik: Mengalah secara fisik (memberi jubah, berjalan dua mil) sebenarnya adalah tindakan aktif untuk menelanjangi sistem yang korup dan menunjukkan martabat rohani yang lebih tinggi. Rasul Paulus kemudian merangkum etika supranalar Yesus ini dalam Roma 12:20-21: “Tetapi, jika musuhmu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menimbun bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

    Amen

    Advertisement

    Ch. Robin Simanullang

    Jurnalis, Penulis Buku Hita Batak: A Cultural Strategy

    Bersambung || Sebelumnya

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini