Empu Pianis Indonesia

[ Iravati M Sudiarso ]
 
0
210
Iravati M Sudiarso
Iravati M Sudiarso | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Lebih dari setengah abad, ia mendedikasikan hidupnya di dunia musik. Dalam kurun waktu tersebut, pianis Asia pertama yang tampil bersama New York Philharmonic Orchestra ini menyabet banyak penghargaan dari dalam maupun luar negeri. MURI (Museum Rekor Indonesia) bahkan menggelari Direktur Utama Yayasan Pendidikan Musik ini sebagai Empu Pianis Indonesia

Iravati merupakan anak kedua dari lima bersaudara pasangan Ir. Darmawan Mangunkusumo dan Hestia. Ira yang lahir di Surabaya, 28 September 1937 ini tumbuh di lingkungan keluarga terpandang, ayahnya pernah menjabat sebagai Menteri Kemakmuran Kabinet Sjahrir selama dua periode (1945 dan 1946) dan merupakan adik dari dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, salah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Di usia lima tahun, Iravati mengenal seni musik dari ibu kandungnya, Ny. Hestia yang juga merupakan guru piano pertamanya. Iravati kemudian melanjutkan studi pianonya ke Madlener dan Henk de Strake.

Pada tahun 1949, Iravati diboyong orangtuanya untuk tinggal di Belanda mengikuti tugas sang ayah. Di Negeri Kincir Angin itu, Iravati kian giat mengasah bakat bermusiknya dengan berguru pada Ny. Richard Mayer, seorang guru musik profesional dan Leon Orthel, seorang pianis komponis. Setelah menamatkan pendidikan setingkat SMA di Lyceum, Den Haag, Iravati mengambil diploma piano di Koninklijke Muziek Conservatorium di kota yang sama. Pada 1958, Iravati menyelesaikan kuliahnya dengan penghargaan khas untuk kreativitas.

Setahun kemudian, ia sempat kembali ke Jakarta dan mendirikan Sekolah Musik Panti Wanita Trisula. Pada tahun 1962, Iravati mendapat beasiswa Fullbright untuk melanjutkan kuliah di Peabody Conservatory of Music, Baltimore, Maryland dari Pemerintah Amerika Serikat. Di sekolah itu, Iravati menimba ilmu pada Walter Hautzig dan Mieczyslaw Munz. Setahun kemudian, Iravati lulus dan menyandang gelar Bachelor of Music dengan penghargaan The Florence Salomon Memorial Award yang merupakan penghargaan tertinggi untuk prestasi dalam permainan piano.

Pengalamannya sebagai pianis senior dengan segudang prestasi membuat Iravati sering diminta menjadi juri dalam berbagai festival, seperti festival lagu pop tingkat nasional, festival gitar Asia Tenggara dan Festival Film Indonesia. Beragam penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri pun berhasil diraihnya, diantaranya Cultural Award dari pemerintah Australia, Cultural Award dari Kementerian Luar Negeri Jepang dan Japan Foundation, serta diangkat sebagai Anggota Kehormatan pada International Cultural Society of Korea.

Masih di tahun 1963, Ira kembali menorehkan prestasi yang tak kalah membanggakan. Ia menjadi wanita Indonesia pertama yang terpilih untuk tampil sebagai pianis solis (pemain tunggal) bersama New York Philharmonic Orchestra dalam acara peresmian Lincoln Center for the Performing Arts di New York, AS selama 5 minggu berturut-turut.

Setelah itu, karirnya sebagai pianis kian melesat. Ia kebanjiran tawaran untuk mengisi acara musik, seperti di TV-WBAL di Baltimore, AS. Selain Amerika Serikat, Iravati juga menjelajahi negara lain untuk memamerkan kebolehannya bermain piano antara lain ke Australia, Jepang, Taiwan, dan tentunya Indonesia.

Setelah sekian lama berkiprah di negeri orang, Iravati memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Begitu kembali dari perantauan, Iravati kemudian aktif sebagai pemain piano tunggal maupun ansambel. Pada tahun 1968, Iravati terpilih menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta. Lima tahun kemudian, ia dipercaya untuk memimpin lembaga tersebut. Ia juga mengabdikan dirinya sebagai pengajar piano di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik sejak tahun 1959, kemudian Akademi Musik pada 1975 dan Akademi Cinematografi LPKJ pada 1977. Aning Katamsi, penyanyi seriosa ternama Tanah Air merupakan salah satu anak didik Iravati.

Iravati juga sudah sangat berpengalaman tampil dengan berbagai orkestra dari bermacam-macam negara. Ia pernah tampil dengan Koninklijk Conservatorium Den Haag Symphony Orchestra pimpinan baton Louis Stotijn, Tasmanian Symphony Orchestra pimpinan baton Dobbs Franck, The Australian Chamber Orchestra pimpinan baton Richard Tognetti. Sementara untuk grup orkestra dalam negeri, Iravati pernah berkolaborasi dengan Ensambel Jakarta dengan Suka Hardjana sebagai dirigen, Orkes Simfoni Jakarta dengan Adidharma dan F.X. Sutopo sebagai dirigen, Orkes Radio Republik Indonesia dengan Lim Kek Tjiang dan Lim Kek Tin sebagai dirigen, Twilite Orchestra dengan Addie MS sebagai dirigen, dan Nusantara Chamber Orchestra dengan DR. Yazeed Djamin sebagai dirigen.

Pengalamannya sebagai pianis senior dengan segudang prestasi membuat Iravati sering diminta menjadi juri dalam berbagai festival, seperti festival lagu pop tingkat nasional, festival gitar Asia Tenggara dan Festival Film Indonesia. Beragam penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri pun berhasil diraihnya, diantaranya Cultural Award dari pemerintah Australia, Cultural Award dari Kementerian Luar Negeri Jepang dan Japan Foundation, serta diangkat sebagai Anggota Kehormatan pada International Cultural Society of Korea.

Pemerintah Hongaria dan Franz Liszt Society pada tahun 1986 menganugerahkannya Medali Franz Liszt. Setahun berikutnya, Iravati mendapat undangan dari pemerintah Rusia untuk berpartisipasi dalam The Third International Music Festival di Leningrad, Rusia. Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia juga pernah mengutus Ira untuk memimpin ASEAN Youth Music Workshop di Indonesia pada 1983 dan 1990, Filipina (1984), Singapura (1985), Thailand (1986), dan Malaysia (1988).

Pada tahun 1990, Iravati mendapat undangan untuk tampil dalam ajang International Chopin Piano Competition XII di Warsawa, Polandia. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, Dr. Meutia Hatta pada tahun 2008 menobatkan Iravati M Sudiarso sebagai “Perempuan Pianis Berprestasi dan Pendidik di Bidang Seni Musik”. Di tahun yang sama, MURI (Museum Rekor Indonesia) tak mau ketinggalan mengapresiasi dedikasi Iravati selama puluhan tahun di dunia musik. “Empu Pianis Indonesia”, demikian penghargaan yang dipersembahkan MURI untuk Iravati. Tahun berikutnya, tepatnya 2009, Iravati kembali menerima penghargaan dari Pemerintah Indonesia kali ini melalui Departemen Pendidikan Nasional.

Pianis yang hobi membaca buku tentang senirupa dan teater ini amat mensyukuri pencapaiannya yang luar biasa itu. Ia juga merasa beruntung karena karirnya mendapat dukungan keluarga. Misalnya saat ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat, Iravati awalnya enggan menerima tawaran tersebut lantaran ketika itu dua putrinya, Anandita dan Aisha masih kecil-kecil. Namun setelah mendapat dorongan dari sang suami, Sudiarso, seorang sarjana ekonomi yang dikenalnya di Belanda, Iravati akhirnya berangkat untuk mengejar cita-citanya menjadi pianis handal.

Setelah gelar master berhasil diraihnya, Iravati pun kembali ke Tanah Air. Namun ternyata pilihannya itu bukan tanpa konsekuensi. Sebagai ibu ia merasa sangat sedih karena begitu ia kembali, kedua putrinya tidak mengenalinya lagi. Sambil terus menggali potensinya sebagai pianis, Iravati terus berusaha mendekatkan dirinya kembali dengan dua buah hatinya. Menurutnya, setidaknya diperlukan waktu selama 10 tahun untuk kembali akrab dengan anak-anaknya. Usaha Iravati pun tak sia-sia dan yang lebih menggembirakan lagi, kedua putrinya belakangan mulai mengikuti jejak ibunya di bidang musik.

Bahkan pada 1993 bersama si bungsu, yang bernama lengkap Aisha Ariadna Pletscher, Iravati mendirikan grup bernama Sudiarso Duo. Tak hanya tampil di Indonesia, pasangan ibu dan anak ini juga pernah tampil di Amerika Serikat. Sudiarso Duo pun terus mengembangkan diri dan telah melahirkan sejumlah pementasan diantaranya Pertiwi Menangis, Pagelaran Dua Zaman Jakarta International Performance Art, Schouwburg Festival di Gedung Kesenian Jakarta, juga sebagai solis bersama The Jakarta Symphony Orchestra.

Sudiarso Duo juga tercatat beberapa kali bekerja sama dengan sejumlah institusi seni. Misalnya Balet Sumber Cipta pada pementasan Peter and the Wolf karya Sergei Prokofiev dengan Farida Oetoyo sebagai koreografer, serta didukung pula oleh Jajang C. Noer dan Ratna Riantiarno yang kemudian juga tampil bersama Sudiarso Duo pada pementasan The Carnaval of the Animals karya Camille Saint-Saëns ; Namarina Youth Dance Company dalam pementasan Pointe of No Return dengan Maya Tamara sebagai Direktur Artistik. Tahun 2008, Sudiarso Duo menjadi duta dalam misi kebudayaan Indonesia di Eropa Timur, dimana mereka tampil di Praha, Republik Ceko, Gödöll?, Hongaria, dan Bratislava, Slowakia.

Di usianya yang sudah memasuki kepala tujuh, Direktur Utama Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik ini masih terus berkarya. Pada 22 Januari 2011 misalnya, Iravati menyelenggarakan resital piano di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) dengan mempersembahkan sejumlah karya musik klasik. Dalam penampilannya kali itu, Iravati memainkan sejumlah karya antara lain Variationen in F – minor (Joseph Haydn), Sonata no.3 op.46 (Dmitri Kabalevsky), Indyhiang dan Sriwijaya – thema & variations (Amir Pasaribu), Grande Valse Brillante op.34 no.2, Nocturne op.27 no.1 dan Ballade no.4 op. 52 (Frederic Chopin). muli, red

Data Singkat
Iravati M Sudiarso, Pianis / Empu Pianis Indonesia | Ensiklopedi | Guru, direktur, musik, pianis, orkestra, Yayasan Pendidikan Musik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here