BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    33.1 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Beranda Berita Horas Indonesia Pemurnian Bejana Iman di GBK: Ketika Gereja Menemukan Otentisitasnya

    Pemurnian Bejana Iman di GBK: Ketika Gereja Menemukan Otentisitasnya

    0
    Gereja yang matobang tidak mengejar stempel penguasa, melainkan merayakan kedaulatan Tuhan.
    Lama Membaca: 3 menit

    Kuat bukan karena bersandar pada kekuasaan, melainkan karena akarnya menghunjam pada iman jemaatnya.

    Di balik gemuruh 65 ribu suara yang memadati Senayan, di berbagai platform media sosial muncul setidaknya dua cara membaca tanda zaman: lewat kalkulasi relasi kuasa yang riuh, atau lewat kejernihan iman yang marbisuk. Ketika panggung politik yang dinanti tak kunjung hadir, di situlah gereja justru dipanggil menemukan otentisitasnya—membebaskan ibadah dari bias kepentingan, dan mengembalikan seluruh kemuliaan hanya bagi Tuhan.

    Secara historis dan filosofis, kehormatan sejati sebuah huria tidak pernah diukur dari seberapa panjang karpet merah yang digelar untuk penguasa. Ketidakhadiran figur politik di GBK bukanlah tanda pengakuan yang amblas runtuh, melainkan momen “penjunan” spiritual: sebuah teguran halus namun anggun agar HKBP tidak menyandarkan eksistensinya pada pagar kekuasaan, melainkan pada akar imannya sendiri.

    Menimbang peristiwa sakral dengan timbangan pragmatisme dunia kerap membuat kita lupa pada hakikat ibadah. Di Senayan, ketika sorot lampu kekuasaan duniawi meredup, panggung GBK berubah (bermetamorfosis) menjadi arena pemurnian. Supaya HKBP (dan Gereja lainnya) membuktikan kedewasaannya: berdiri anggun, independen, dan merdeka di bawah kedaulatan Allah semata.

    Sekali lagi: Di balik gemuruh ribuan suara yang memadati Senayan, pada Perayaan 165 Tahun HKBP, Minggu 18 Oktober 2026 yang dimahkotai Ibadah Raya dan Perjamuan Kudus, pada garis besarnya beredar dua cara bagi manusia untuk membacanya: 1) melalui mata telanjang politik yang riuh, atau 2) lewat kedalaman mata iman yang tenang dan marbisuk.

    Pandangan yang menyebut ketidakhadiran Presiden sebagai bentuk “pengakuan yang amblas/runtuh” sesungguhnya sedang berbicara dari bilik pragmatisme dunia—sebuah sudut pandang yang wajar (rasional) dalam kalkulasi relasi kuasa. Di sana, harga diri kerap diukur dari seberapa panjang karpet merah yang digelar, seberapa tinggi panggung VIP yang disiapkan, dan seberapa segan penguasa menatap sebuah institusi.

    Namun, ketika ukuran nalar dunia itu dipakai untuk menimbang peristiwa iman (supranalar), gereja tanpa sadar sedang menggadaikan mahkotanya sendiri demi mendapatkan “secarik kertas” pengakuan dari telapak tangan manusia.

    Di sinilah letak kedalaman dari kesederhanaan pandangan yang tampak simpel, namun bersahaja dan menembus langsung ke jantung Theologia Crucis—teologi salib yang menjadi urat nadi sejarah Protestanism.

    Secara teologis, kedaulatan Allah (Providentia Dei) tidak pernah bekerja untuk memuaskan syahwat kehormatan manusia. Ketidakhadiran sang pemimpin negara bukanlah tanda HKBP disepelekan, melainkan cara Tuhan yang begitu anggun untuk “menjun”—memurnikan bejana ibadah itu sendiri. Dari sudut pandang yang melampaui nalar (supranalar) Tuhan sedang membersihkan GBK dari godaan Theologia Gloriae, teologi kemuliaan yang dahaga akan panggung dan legitimasi politik.

    Ketika sorot lampu kekuasaan duniawi meredup dan tidak pernah hadir, yang tersisa di atas panggung Senayan malam itu, adalah Sang Penjun sedang membentuk panggung GBK itu murni hanya untuk Kemuliaan Kristus dan Sukacita Damai bagi umat-Nya. Supaya Ibadah itu pun genap menjadi milik Tuhan, terbebas dari stigma transaksi kepentingan (vested interest) maupun riak polusi politik praktis. Saya memandang peristiwa anugerah Supranalar ini sebagai rangkaian proses “Menuju Pertobatan Sejarah” Gereja Batak.

    Secara filsafat dan historis, keberadaan HKBP yang otentik—yang matobang atau dewasa—semestinya tidak pernah ditentukan oleh hadir atau absennya seorang pejabat. Sejak era para penganjur Injil terdahulu, sesungguhnya kekuatan utama pergerakan HKBP (Gereja Batak umumnya) lahir dari kemandirian jemaatnya (para sintua, guru jemaat, raja-raja huta, dan kaum ibu yang setia, serta para tetua adat) yang berakar kuat pada kearifan Dalihan Na Tolu yang religius. Gereja ini berdiri anggun bukan karena disokong oleh tongkat kekuasaan, atau kepiawian misionaris, melainkan karena akarnya yang menghunjam mendalam ke dalam tanah iman halak hita Batak yang secara kultural religius (Amsal klasik leluhur Batak: “Saluhut panggulmit ni ngolu, saguru tu lomo ni Debata do”. Ini fakta sejarah yang sering tidak terjangkau perspektif misionaris Barat dan pihak asing lainnya.

    Maka, seperti perumpamaan tanaman labu (jelok) yang disampaikan Ephorus, sulur dan buah HKBP boleh menjangkau hingga ke ujung-ujung bumi, namun kekuatan hidupnya tetap bersumber dari kesetiaan pada akar budaya religius sang Penanam di Bonapasogit, bukan pada pagar tempatnya merambat.

    Advertisement

    Menghayati ketidakhadiran Presiden dan Petinggi Negara itu sebagai momen pemurnian bukanlah bentuk ketakutan atau penyangkalan realitas sosial, melainkan sebuah kejernihan spiritual. Bahwa pada akhirnya, gereja tidak sedang bertaruh untuk “diperhitungkan” oleh dunia melalui kemewahan dan pengaruh politik, melainkan sedang dipanggil untuk setia. Sebab kehormatan sejati sebuah huria tidak terletak pada seberapa segan dunia memperhitungkannya, tetapi pada seberapa tulus ia menyembah dan melayani tanpa syarat.

    Amen! (Bukan kata akhir tapi, adalah tombol untuk melangkah)

    Penulis: Ch. Robin Simanullang.

    Jurnalis penulis buku “Hita Batak: A Cultural Strategy”, dan buku “Supranalar: Karakteristik dalam Alkitab”. Penulis yang menempatkan dirinya sebagai “Murid Pengalaman” dan “Belajar dengan Menulis” di Kelas Anugerah. Christ, Suprarational Master! 

     

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini