Kualitas Toleransi Al-Zaytun

Mengagetkan Kelompok Garis Keras

AS Panji Gumilang Al-Zaytun untuk Indonesia dan Dunia Al-Zaytun Incompatible NII Peluncuran Majalah Horas Indonesia
 
0
90
Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang Pejuang Toleransi Berkualitas sesuai Ideologi Pancasila

Sudah banyak tokoh, pemikir dan pemimpin yang mencetuskan dan mewacanakan pemikiran, pemaham­an dan pemaknaan toleransi beragama dengan cerdas dan cemerlang. Namun tidak semua mereka mampu menginspi­rasi, mengaplikasi dan mentransformasikannya dalam suatu sistem pendidikan modern dan interaksi sosial secara faktual.

Syaykh Al-Zaytun Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang salah seorang tokoh yang tidak hanya cerdas mewacanakan pemahaman toleransi beragama, tetapi sekaligus mengaplikasikan dan mentransformasikannya secara nyata, baik dalam suatu sistem pendidikan terpadu maupun dalam interaksi sosial keseharian dalam tingkat peradaban berkualitas tinggi.

@tokoh.id

Perjalanan Indonesia Menuju Kemerdekaan #panjigumilangalzaytun #ponpesalzaytun #pidatokebangsaan #sejarahkemerdekaanindonesia

♬ original sound – Tokoh Indonesia – Tokoh Indonesia

Nama Syaykh Panji Gumilang baru mencuat ke puncak tataran publik setelah dia mewujudkan impian mendirikan kampus terpadu Al-Zaytun (pesantren spirit but modern system), yang awal pembelajarannya dimulai 1 Juli 1969. Sebuah pondok pesantren modern (kampus) yang bermotto: Pusat Pendidikan Pengembang­an Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masya­rakat Sehat, Cerdas dan Manusiawi.

Syaykh AS Panji Gumilang dan Ibu diulosi Pendeta dan Jemaat HKBP Tebet, Jakarta ketika berkunjung ke Al-Zaytun

Syaykh Panji Gumilang mewujudkan impian mendirikan sebuah lembaga pendidikan terpadu sistem satu pipa di atas lahan ribuan hektar dan jauh dari keramaian kota, yang semula diangap banyak orang hanya sebuah mimpi yang tidak mungkin diwujudkan. Tapi kendati kehadir­annya juga diterpa berbagai isu kontroversial, karya nyata Al-Zaytun telah menjadi jawaban nyata.Ternyata mimpinya menjadi kenyataan sebagai sebuah masterpeace (karya agung, mahakarya) yang mengundang decak kagum banyak orang.

Bersama para koleganya yang bergabung (bersatu) dalam Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), Syaykh Panji Gumilang mengelola Al-Zaytun dengan manajemen (pesantren spirit but modern system) yang mengagumkan. Sebagaimana kelaziman dalam semangat kepesantrenan, Panji Gumilang sebagai pendiri, pemimpin, imam dan maha guru (syaykh) adalah personifikasi Al-Zaytun. Al-Zaytun adalah wujud dari mimpi dan pemikiran Syaykh Panji Gumilang pribadi.

Kehadiran Al-Zaytun yang dires­mikan Presiden RI BJ Habibie, 27 Agustus 1999, itu tampaknya sangat mengejutkan beberapa kalangan. Kampus terpadu (modern) bersema­ngat pondok pesan­tren ini benar-benar mengubah para­digma berpikir khala­yak ramai dari anggapan bahwa pondok pesantren itu kumuh menjadi pesantran itu bersih, megah, gagah dan modern.

Kampus ini tidak hanya megah dan modern secara fisik (sarana dan prasarana) tetapi juga gagah, cerdas dan modern bahkan pionir dalam konsep dan aplikasinya. Bukan hanya sekadar link and match, tetapi juga inovatif dan fenome­nal. Inilah lembaga pendidikan terpadu pertama yang menganut sistem pendidikan satu pipa (one pipe education system), mulai dari tingkat sekolah dasar sampai Strata-3.

Kehadiran Al-Zaytun yang sudah diimpikan pendirinya sejak berpuluh tahun, terasa seperti muncul tiba-tiba saat negeri ini mengalami krisis moneter yang berlanjut pada krisis multidimensional. Ia muncul laksana pohon raksasa berdaun rimbun lebat di tengah hutan ilalang yang dilanda kemarau berkepanjangan. Tiupan angin dan topan badai pun mengempas dari berba­gai penjuru. Bagi sementara pihak, tampaknya ia seperti barang asing dan aneh, baik secara fisik maupun gagasan dan sistem.

Kehadirannya diperdebatkan, terutama saat-saat menjelang pene­rimaan santri (siswa-mahasiswa). Ada yang bertanya, dari mana dananya? Ada juga yang berprasangka bahkan memframing: Ajarannya sesat dan beraliran keras? Ada juga yang mengklaim (menghendaki) bahwa itu milik NII (Negara Islam Indonesia). Bahkan ada majalah mengisukan bahwa Osama bin La­den pernah berada di sana.

Advertisement

Namun berbagai topan badai perdebatan, prasangka, klaim, framing dan isu itu, tidak menyurutkan perkembangannya. Bahkan lembaga pendidikan Islam modern ini makin berkembang pesat dan semakin teguh mengaplikasi dan mentransformasi visi Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian yang diusung­nya yang kemudian dikembangkan Menuju Masya­rakat Sehat, Cerdas dan Manusiawi.

Visi ini tampaknya tidak dikehendaki beberapa ulama penyerangnya, bahkan menganggapnya sesat. Hal ini terlihat dari reaksi mereka setiap kali Al-Zaytun berinteraksi dengan penganut agama lain (nonmuslim). Contohnya, di Al-Zaytun, sapaan Syalom Kaverim dan seruan Haleluya serta menyanyikan Havenu Shalom Alaechim juga mengucapkan Selamat Natal bila bertemu dengan sahabat Nasrani adalah hal lumrah bahkan diajarkan. Syaykh Al-Zaytun sendiri setiap tahun selalu mengirim Kartu Ucapan Selamat Natal kepada para sahabat kristianinya. Al-Zaytun juga selalu memandang umat beragama lain sebagai umat beriman, bukan kafir dan bukan nonmuslim. Dia sangat menyesalkan sikap kelompok beragama tertentu yang menghakimi iman orang atau kelompok lain (mengka­firkan iman orang lain).

Sehingga ada pihak yang berpikiran sempit dan kontroversial mengkuatirkan terjadinya proses kristenisasi di Al-Zaytun. Pikiran sempit dan kontroversial seperti ini pastilah tidak memahami jalan pikiran Syaykh Al-Zaytun yang menginspirasi, mengaktualisasi dan mentransformasi toleransi sebagai aqidah beragama.

Menariknya, Al-Zaytun sendiri nyaris tidak pernah reaktif menanggapi (apalagi melawan) berbagai terpaan topan badai yang menista dan menjelek-jelekkannya. Para penyerangnya pun makin men­jadi-jadi yang berpuncak pada tahun 2011 yang oleh Syaykh Panji Gumilang sendiri mengibaratkannya laksana terpaan tsunami, dan terulang lagi saat ini (2023).

Itulah fenomena Al-Zaytun yang amat menginspirasi! Kehadirannya saja sudah merupakan fenomena yang menarik. Apalagi dengan aktualisasi visi toleransi dan perdamaiannya. Maka setelah beberapa kali berkunjung dan berdialog di sana, sehingga dapat mengenalnya lebih dekat dan lebih dalam, tidak hanya secara penampilan fisik, tetapi juga pemikiran, visi dan misi serta aplikasinya, fenomena Al-Zaytun bertambah menarik dan bermakna: Al-Zaytun Sumber Inspirasi!

Diawali perkenalan pertama kami dengan menyatakan berbeda aliran agama, dan direspon dengan pernyataan fenomenal (kami ulang lagi): “Terimakasih Anda sudi datang ke mari, tapi saya minta jangan mengatakan beda aliran. Tuhan kita sama. Anda beriman, kita beriman, itu kesamaannya. Nggak usah dikatakan benar tidak benar. Yang tahu benar itu cuma yang di atas sana (Tuhan). Yang penting kita praktekkan kebenaran, kita berjalan pada nilai-nilai kebenaran, nanti yang di atas sana yang menilainya. Indonesia kalau sudah begitu, udah beres. Karena kita majemuk!”

Pernyataan spontan ini cukup bermakna bagi kami untuk ingin lebih jauh mengenal dan mendalami pemikiran, visi dan misi Al-Zaytun. Kemudian, menulis apa yang kami lihat, dengar dan rasakan setiap kali berkunjung dan berdialog mengenai berba­gai hal, terutama dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kata-kata Syaykh ini memancarkan sinar yang mengilhami (menginspirasi) kami bahwa pendiri dan pimpinan Ma’had al-Zaytun ini seorang pe­nga­nut aga­ma (ulama) yang memiliki kecer­dasan spri­tual yang luas dan dalam. Seorang ula­ma yang men­cer­daskan dengan penge­nalan dan ketaq­waannya kepada Allah sedemikian luas dan dalam. Inilah perta­ma kali kami men­de­ngar pernyataan lang­sung dari seorang syaykh (ulama, guru besar): “Tu­han kita sama! An­da ber­iman, kita beri­man, itu kesamaan­nya.” Sangat kontras dengan pernyata­an ulama lain­nya yang sering menye­but Yahudi dan Kristen atau penganut agama lainnya itu kafir, bukan orang beriman.

Sampai kami tiba da­lam suatu pengenalan bahwa dia (Syaykh Al-Zaytun) seorang pelopor pendidikan terpadu (kampus peradaban), yang mampu mentransformasi dan mengaplikasikan toleransi dan perdamaian dalam proses belajar sejak dini di lingkungan kampus maupun dalam interaksi sosial di luar kampus (masyarakat). Dia seorang pembawa damai! Bukan untuk tujuan politik praktis kepentingan jangka pendek (the next position), tetapi tujuan damai berjangka panjang (the next generation). Dia sungguh mengaplikasikan ajaran agama Islam yang rahmatan lil a’lamiin.

Alumni Ponpes Gontor dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), sekarang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta, itu seorang imam dan pemangku pendidikan yang memiliki wawasan jauh ke depan (visioner) menembus abad dan milenium, menembus sekat, golongan, suku, agama, bangsa dan negara. Dia imam (Islam) yang berakar dan membumi dalam tradisi Indonesia yang cakrawala pemikirannya me­nembus batas agama, suku, golongan, ras, bangsa dan negara. Se­hingga dapat dipahami jika sikap dan pemikirannya tidak mudah dipahami oleh orang-orang yang cakrawala pemikirannya terbatas (sempit).

Berpengetahuan luas, berwibawa, tegas, kebapakan, cerdas, serta memiliki sifat dan sikap lainnya yang layak dimiliki oleh seorang imam, pemimpin dan pemangku pendidikan (guru besar atau syaykh) biasa. Maka, patutlah dia dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa bidang Management, Education and Human Resources oleh IMCA (International Management Centres Association)-Revans University, sebuah universitas action learning yang berbasis di Buckingham, Inggris dan Amerika Serikat.

Dr Antony Hii selaku Regional Director and Associate Professor IMCA menyebut beberapa pertimbangan penganugerahan gelar tersebut, anta­ra lain, karena Syaykh AS Panji Gumilang dianggap berjasa melaku­kan perubahan besar dalam transfor­masi kependidikan di Indonesia. Dia dinilai telah sukses mewujudkan ide baru dalam sebuah paradigma baru pendidikan Islam melalui Al-Zaytun.

Menurut Antony Hii, Syaykh Panji Gumilang adalah seorang yang senan­tiasa sungguh-sungguh belajar sambil mengambil aksi agung dalam rancangannya. “Tak ada kata tak bisa. He is a man with great of action learning,” puji Dr. Antony Hii, lalu menyebut serangkaian partisipasi Syaykh Al-Zaytun di bidang pendidikan dan manajemen sumber daya manusia, seperti sebagai ang­gota Komisaris Akademi Arab di Kairo, sebagai anggota Organisasi Asosiasi Perdamaian Taiwan, Ketua Ikatan Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Ketua Masyarakat Ekonomi Pesantren Indonesia. Lalu, dengan penganugerahan gelar doktor itu, Syaykh Al-Zaytun pun menjadi anggota Dewan Kehormatan IMCA bersama para peraih penghargaan sebelumnya seperti duet inovator di bidang kependidikan Charles Handy dan John Kotter, pengusaha multinasional seperti Richard Branson dan John Harvey-Jones.

Penulis Ch. Robin Simanullang, Rubrik Toleransi, Majalah Horas Indonesia Edisi 09

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini