Masya Ponpes NII Diresmikan Presiden RI

Al-Zaytun dan Pusaran Kontroversi (6)

AS Panji Gumilang Al-Zaytun dan Pancasila Al-Zaytun Patut Dicontoh Al-Zaytun yang Terbaik Indonesia Karunia Ilahi Isu NII dan Implementasi Pancasila
 
0
221
Presiden BJ Habibie meresmikan Ma'had Al-Zaytun 27 Agustus 1999

Catatan Kilas Ch. Robin Simanullang

Dalam kaitan ini, tentu saya tidak mau begitu saja percaya kepada isu-isu. Apalagi pondok pesantren ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Prof. BJ Habibie. Masya Ponpes NII diresmikan Presiden RI yang berideologi Pancasila? Walaupun saya sempat mengira Al-Zaytun punya kaitan organisasi dan/atau ideologis dengan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dipimpin dan dibesarkan oleh BJ Habibie sendiri bersama para cendekiawan muslim lainnya,[1] tapi sulit bagi saya untuk berprasangka bahwa Presiden BJ Habibie akan sepaham dan merestui gerakan NII; walaupun ada ulama dan cendekiawan Muslim yang beranggapan ICMI itu mendukung sektarian dan ekslusivistik.[2]

Selain itu, sebenarnya dalam hati, setelah membaca kalimat yang terpampang di pintu gerbang pesantren tersebut (pusat pengembangan budaya toleransi dan perdamaian), segera muncul sebuah keyakinan bahwa pondok pesantren ini bertujuan sangat mulia, pembawa damai. Saya berpikir bahwa tidak mudah membuat motto sehebat dan semulia itu (toleransi dan perdamaian) kalau hanya untuk sekadar tameng atau kamuflase, menutupi wajah lain yang tidak toleran dan tidak damai. Bahkan, sesuai keyakinan agama yang saya anut, saat itu saya langsung teringat satu ayat dalam Injil Matius 5:9 berbunyi: ‘Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.’

@tokoh.id

Ma’had Al-Zaytun: Menyanyi Indonesia Raya 3 Stanza #mahadalzaytun #indonesiaraya #indonesiaraya3stanza #indonesiaraya🇲🇨 #pesantrenalzaytun #alzaytunviral #azzaytun

♬ original sound – Tokoh Indonesia – Tokoh Indonesia

Dalam pemahaman saya, naats ini mengandung makna bahwa siapapun orang yang membawa damai, mereka akan layak disebut anak-anak Allah (hamba Allah). Saya memahami ayat tersebut bahwa orang yang membawa damai (berdamai) dengan sesama manusia, bermakna bahwa orang itu telah berdamai (diperdamaikan) dengan Allah. Kemudian, orang yang membawa damai itu adalah orang yang selalu berusaha menuntun orang lain, termasuk orang yang memusuhinya, agar berdamai dengan siapa saja sesuai kehendak dan damai sejahtera Allah (berdamai dengan Allah). Bagi saya, tidak ada pembatasan agama, suku, ras, golongan dan bangsa dalam memahami cakupan ayat tersebut. Sama halnya dengan pemahaman berdamai (mengasihi) sesama manusia (siapakah sesamamu manusia?) adalah sesama manusia tanpa batas agama, suku, ras, golongan dan bangsa[3].

Maka, dalam pandangan saya, tidak mudah bagi seseorang, atau sekelompok orang, yang intoleran dan hanya mementingkan kebenaran diri sendiri, antidamai dan antikemanusiaan, serta radikalis dan teroris, bisa tampil melenggang bertopengkan budaya toleransi dan perdamaian. Seandainya pun ada, bak kata pepatah: Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga; Sepandai-pandai membungkus yang busuk berbau jua. Sepandai-pandai mereka mengolah kata dan penampilan menutupi sesuatu, akan terbuka juga keasliannya (kedok busuknya); Tidak hanya melalui kata dan perbuatan, tetapi juga dengan mimik dan bahasa tubuhnya.

Pada saat dua orang teman saya melapor kepada petugas di loket ketibaan (kedatangan) sebagai tamu untuk registrasi di pintu masuk kompleks Al-Zaytun tersebut, saya menyempatkan diri membolak-balik Majalah Al-Zaytun yang dipajang untuk dijual di tempat itu. Saya merasa beruntung, sebab kebetulan masih ada satu eksemplar edisi perdana majalah tersebut yang dipajang di counter itu, terbitan Januari 2000. Saya pun membeli setiap edisi yang terpajang di counter itu, tentu terutama edisi perdana dan edisi terbaru. Sambil menunggu proses registrasi tamu, saya membaca catatan pengantar redaksi majalah edisi perdana itu.

(Bersambung: Tergambar, Majalah Al-Zaytun adalah ‘miniatur’ Ma’had Al-Zaytun untuk Indonesia dan Dunia)

Footnote:

[1] Walaupun ada sebagian ulama dan cendekiawan Muslim yang sejak awal tidak sepaham dengan berdirinya ICMI. Di antaranya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menjabat Ketua Umum Nahdlatul Ulama saat itu secara terbuka menyatakan organisasi ICMI menumbuhkan sektarianisme, walaupun secara pribadi dia didekati (diundang) oleh BJ.Habibie, yang mengunjunginya ketika dirawat di rumah sakit pada Februari 1991. Gus Dur menolak bergabung dengan menyatakan bahwa pusat perhatian ICMI ekslusivistik dan elitis bukan Indonesia. Begitu pula Dr. AS Hikam, Djohan Effendi dan Ridwan Saidi, ketua HMI 1974-1977 mengkritik ICMI sebagai organisasi yang hanya mencerminkan visi khusus birokrasi terhadap Islam. Begitu pula Deliar Noer dan Taufik Abdullah melihat ICMI terlalu dikuasai birokrasi. Sebagian yang menolak berdirinya ICMI bergabung dengan Forum Demokrasi (Fordem) yang didirikan Gus Dur sebagai organisasi penyeimbang meredam arus ‘santrinisasi’ politik Orde Baru dengan ICMI-nya.

Advertisement

[2] Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk dan diketuai oleh BJ Habibie. Ketita itu beberapa tokoh mengajak Gus Dur bergabung. Tetapi ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Gus Dur, karena Gus Dur beranggapan bahwa ICMI mendukug sektarianisme. Gus Dur juga tidak setuju atas klaim ICMI yang menganggap sebagai satu-satunya wadah untuk berjuang demi kepentingan umat Islam. Bahkan, tidak hanya tidak setuju, Gus Dur juga melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi (Fordem) bersama 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial. Fordem, selain sebagai organisasi tandingan (nonsektarian) sekaligus membuka ruang untuk menumbuhkembangkan pluralisme dan demokrasi di Indonesia. (M. Shaleh Isre, Tabayun Gus Dur, LKIs 2001, hlm.14)

[3] Orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37). Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini