AHY, Pemimpin Masa Depan

[ Agus Harimurti Yudhoyono ] [ AS Panji Gumilang ]
 
0
541

Apakah Anda sudah mengenal Agus Harimurti Yudhoyono yang akrab disapa AHY? Mungkin dari nama belakang­nya, Anda sudah dapat menebak dan mengenalnya sebagai putra (sulung) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden Ke-6 RI. Sehingga sebagai putra SBY mendapat kemudahan menjadi terkenal dan mendapat kesempatan istimewa menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub 2016 lalu. Anda mungkin menganggapnya sebagai calon pemimpin karbitan bernuansa nepotisme. Apalagi kemudian sempat digadang-gadang Partai Demokrat, partai yang didirikan dan dipimpin oleh ayahnya sendiri, menjadi bakal Calon Presiden pada Pilpres 2019, walaupun kemudian gagal karena tidak cukupnya dukungan dari partai lain (presidential thres­hold 20%). Lalu masih didaulat juga menjabat Komandan Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat untuk pemenangan Pemilu 2019.

Tidak sedikit orang menilainya sebagai seorang calon pemimpin karbitan bernuansa nepotisme. Penilaian ini tidak mutlak salah. Apalagi pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 10 Agustus 1978 tersebut hanyalah seorang Mayor TNI AD, yang tiba-tiba mengundurkan diri untuk ikut berkompetisi dalam Pilgub DKI Jakarta. Kala itu, banyak orang yang bersimpati padanya sangat menyesalkannya, sebab dalam karier militer, dia sangat berpeluang mencapai pangkat jenderal.

Tetapi ayahnya, SBY, seorang jende­ral, tampaknya mempunyai penilaian dan pertimbangan lain. SBY yang sa­ngat me­ngenal putranya tampaknya berkeya­kinan bahwa AHY akan lebih bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara dalam karier politik lebih dini. SBY sangat tahu siapa AHY: Kecerdasan,  integritas, kapasitas, pemahaman dan kepeduliannya tentang kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Sangat mungkin SBY memandang putra sulungnya itu bahkan jauh melampaui dirinya sendiri.

SBY itu seorang jenderal yang cerdas. Selalu mempunyai pertimbangan mendalam, terukur dalam mengambil keputusan. Apalagi tentang masa depan putra kesayangannya sendiri.

 Sejak kanak-kanak dan di bangku sekolah AHY selalu meraih prestasi terbaik. Ia lulus SMA Taruna Nusantara Magelang (1997) dengan predikat terbaik dan meraih medali Garuda Trisakti Tarunatama Emas. Kemudian ia masuk Akademi Militer Magelang, meraih penghargaan Tri Sakti Wiratama pada tingkat I dan II, sehingga terpilih menjadi Komandan Resimen Korps Taruna Akademi Militer (1999). Ia lulus AKMIL dengan predikat terbaik dan meraih penghargaan pedang Tri Sakti Wiratama dan Adhi Makayasa (2000). Lalu, dia mengikuti Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri dan lulus terbaik Kursus Combat Intel (2001). Ia pun bergabung dengan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Pada 2002, dia menjadi Komandan Peleton di Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Tengkorak, jajaran Brigif Linud 17 Kostrad yang berpartisipasi dalam Operasi Pemulihan Keamanan di Aceh.

Di tengah kesibukannya dalam karier militer, ia tekun menimba ilmu hingga meraih gelar Master of Science in Strategic Studies dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University. Selain itu, dia juga aktif mengikuti kegiatan International Summer Course (2008 dan 2009) dan menjadi peneliti pada kegiatan The Pacific Armies Management Seminar. Pada 2008, ia ikut bergabung dalam tim kecil guna merealisasikan pendirian Universitas Pertahanan Indonesia (Kemenhan). Dia pun diangkat sebagai Kepala Seksi Amerika di Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan, Kemenhan. Selain itu, ia juga aktif sebagai mahasiswa program Kennedy School, yaitu Edward S. Mason Fellowship, dengan Program studi Master in Public Administration/Mid Career (MPA/MC) dan lulus 2010.

Pendek kata, bagi yang sudah me­ngenalnya, AHY adalah orang hebat, calon pemimpin masa depan. Maka sangat pantas Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang pun mengapresiasi­nya patut menjadi Calon Presiden 2024, setelah mengenalnya melalui paparan orasi kebangsaannya di Al-Zaytun, 3 April 2019 lalu. Maka Syaykh Al-Zaytun pun menyebut ‘perkenalan’ diri AHY kepada keluarga besar Al-Zaytun sebagai deposito yang pada waktunya akan dipetik hasilnya asal dirawat dengan baik.

Selama dua tahun AHY telah menyebar deposito kepemimpinannya ke seluruh penjuru negeri. Melalui pengalamannya sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta dan Kogasma Pemenangan Pemilu Partai Demokrat. lima tahun lagi dia tidak akan disebut lagi sebagai calon pemimpin karbitan.

Syaykh Al-Zaytun pun menyarankan, di tengah kesi­bukan politiknya, kiranya AHY meluangkan waktu untuk memperdalam ilmu pengetahuan hingga meraih gelar doktor dan profesor sebelum 2024. Suatu hal yang tidak sulit bagi AHY, yang akan menambah nilai ‘deposito’ kepemim­pinannya semakin banyak dan berkualitas. Sehingga AHY memiliki modal yang mumpuni untuk memenangkan Pilpres 2024 nanti.

ch. robin Simanullang | Visi Berita Majalah Berita Indonesia Edisi 99

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here