04 | Kiat Kendalikan “Si Jumbo” Pusri

Zaenal Soedjais
Zaenal Soedjais | Tokoh.ID

Zaenal Soedjais melakukan banyak perubahan besar di lingkungan PT Pusri Palembang (holding). Hasilnya cukup menggembirakan. Perusahaan efisien dan efektif mencapai sasaran. Tujuh etos kerja sebagai agenda manajemen korporasi dijalankan betul. Pusri memasuki berbagai era baru. PT Pusri memproduksi pupuk organik, memasuki arena perdagangan komoditas pertanian, serta berbagai obsesi perusahaan lainnya.

Ketika pada 23 Mei 2001 untuk pertama kali ia memasuki dimensi ruang dan waktu yang terdalam di PT Pupuk Sriwijaya (holding company) sebagai direktur utama, dengan mudah dia menyimpulkan perusahaan besar itu bergerak sangat lamban. Sebagai sarjana ekonomi akuntansi dan ekonomi perusahaan yang sudah kenyang puluhan tahun makan asam garam dan pengalaman manajemen bisnis di berbagai perusahaan petrokimia terkemuka sebagai direksi, ia dengan cepat dan jeli dapat melihat apa yang harus dilakukan untuk mengefektifkan perusahaan itu.

Maka, yang pertamakali dia sadarkan di perusahaan kelas jumbo yang baru dikendalikannya itu adalah perubahan. Hidup adalah perubahan dan perubahan adalah hidup. Maka agar tidak mati harus melakukan perubahan. PT Pusri (Persero) Holding, yang pada akhir 2003 mempunyai aset sebesar Rp 16 triliun, dengan omzet/turn over tahun 2003 sebesar Rp 11 triliun, keuntungan sebelum pajak sebesar Rp 1,2 triliun serta kontribusi berupa Pajak dan Deviden sebesar Rp 1,2 triliun, mau tidak mau harus mampu lebih kompetitif dengan melakukan berbagai perubahan.

Dia segera mengubah suasana lingkungan internal perusahaan. Diawali dengan karyawan PT Pusri unit Palembang yang tadinya 5.000 orang, oleh konsultan perusahaan disebutkan jumlah itu terlampau banyak. Cukup 2.500 orang saja. Di tahun pertama ia langsung mengurangi 1.729 karyawan. Suatau kebijakan rasional kendati tidak populis. Tetapi seorang pemimpin harus berani melakukan perubahan menuju kinerja yang lebih baik. Apalagi, pengurangan karyawan itu terjadi justru di saat orang sedang sangat bebas berpikir dan berbicara tentang demokrasi dan transparansi. Di mana setiap orang merasa berhak tentang ini dan itu.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah sangat tidak populer. Karenanya ia mengemasnya sedemikian rupa sehingga proses PHK menjadi kemauan karyawan. Ia mengajukan tawaran menarik kepada para karyawan. Ia memperbandingkan besaran angka penghasilan jika bersedia mengundurkan diri atau tetap sebagai karyawan. Tawaran menarik itu direspon sejumlah 1.729 karyawan untuk menerima pesangon total sebesar Rp 370 miliar.

Jumlah itu absolutely terasa besar. Namun menjadi tidak tatkala di kemudian hari PT Pusri berhasil melakukan efisiensi, memperoleh suasana dan semangat kerja yang sangat produktif. Dan, pasti membawa berbagai keberhasilan baru pada perusahaan. Soedjais juga segera menghentikan kontrak terhadap 750 karyawan tidak tetap. Pusri menjadi ramping, efisien dan efektif, hanya diawaki 3.200 orang karyawan. (Bersambung) ms,crs (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 12)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here