07 | Berdagang Produk Pertanian

Zaenal Soedjais
Zaenal Soedjais | Tokoh.ID

PT Pusri juga mulai memasuki era baru perdagangan hasil-hasil pertanian seperti beras, jagung, dan sebagainya. Institusi PT Pusri melihat cara yang paling tepat untuk ikut meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia adalah meningkatkan kesejahteraan petani.

Jumlah petani mencakup lebih dari separoh penduduk Indonesia. Dua puluh juta lebih keluarga petani kalau tiap keluarga terdiri lima orang berarti terdiri seratus juta penduduk Indonesia. Cara terbaik meningkatkan kesejahteraan petani adalah membenahi pasca panen dengan memasuki trading produk-produk mereka.

Selama ini masalah pasca panen masih kurang menguntungkan petani. Sering kali, sekalipun bukan panen raya, harga-harga produk pertanian tetap anjlok di bawah harga dasar. Harga gabah kering panen yang ditetapkan pemerintah Rp 1.230/ kg, di pasar hanya Rp 900/kg. Harga gabah kering giling yang ditetapkan pemerintah Rp 1.750/kg, di pasar hanya Rp 1.300/kg. Petani, dalam kesimpulan Soedjais, nyaris tidak pernah merasakan harga yang ditetapkan pemerintah.

Ia melihat ada banyak hal luar biasa di arena perdagangan komoditas pertanian. Misalnya, proses susut dari gabah kering panen ke gabah kering giling hanya 10 persen. Namun dalam harga perbedaannya menjadi Rp 500. Padahal, jika mengadakan fasilitas drying yang hanya menelan biayanya Rp 100 per kg atau 200 per kg, maka terdapat selisih Rp 300 per kg.

Belum lagi keluarbiasaan pada processing rice milling yang masih tradisional satu slap semua. Kalau sistem satu slap dipaksakan tingkat kehancuran (broken) bisa mencapai 20 hingga 25 persen. Yang broken harganya hanya 60 persen. Menurut Soedjais, dengan mempergunakan proses giling empat slap atau empat speed dengan mempermoden peralatan, akan dihasilkan broken yang lima persen saja. Perbedaan broken antara 5 dengan 25 persen besar sekali.

Karena itu, setiap ada kesempatan berbicara dengan bupati atau gubernur, Soedjais selalu menekankan agar menyisihkan dana untuk membangun mesin giling padi modern. Anggap mesin itu sebagai infrastruktur pembangunan. Bukan investasi yang harus segera memberi keuntungan. Atau tempuh cara lain. Misalnya, atas usul dan inisiatif pemerintah undang swasta untuk membangun dan menjalankan infrastruktur penggilingan padi agar tidak ada yang merasa dirugikan. Rakyat atau petani yang memperoleh harga bagus akan terpacu memproduksi lebih banyak lagi. Daerah-daerah menjadi sumber penghasil bahkan lumbung pangan.

Soedjais menyebutkan PT Pusri memasuki arena perdagangan hasil pertanian masih dalam skala kecil. “Kita takut, kalau langsung besar orang-orang kita belum siap. Nanti, bisa banyak manipulasi di situ.”

Memasuki dunia trading pertanian diakuinya terasa berat. Tengkulak banyak memainkan titik potong harga secara tidak bertanggungjawab. Akibat yang dirasakan petani setiap panen raya harga produk pertanian drop. Dia menyebutkan Bulog sudah lama memulai langkah menaikkan titik potong namun kapasitasnya hanya tujuh persen sehingga belum mampu melakukan stabilisasi harga.

Kalau saja Bulog menguasai 15 persen ditambah Pusri 10 persen, harga akan bisa stabil. Petani bisa mendapatkan tambahan harga jual untuk gabah kering giling Rp 300 per kg. Seorang petani yang mempunyai lahan satu hektar dengan hasil panen tujuh ton X Rp 300 terdapat Rp 2,1 juta tambahan income petani.

Kalau saja PT Pusri bisa menguasai 10 persen produk bruto pertanian yang berarti 5 juta ton gabah, dengan pencapaian keuntungan Rp 50/kg. Maka akan diperoleh pendapatan Rp 250 miliar tanpa fasilitas. Melainkan hanya modal kerja yang terus bergulir. Karena itu, ia sangat berobsesi memasarkan 5 juta ton gabah per tahun yang harganya setara dengan 5 juta ton pupuk per tahun. Kalau Pusri membangun pabrik pupuk berkapasitas 5 juta ton per tahun itu sama dengan membangun dua kali pabrik Pusri Palembang atau 10 unit pabrik. Lalu, 10 X 300 juta dolar AS= 3 miliar dolar AS dibutuhkan investasi. Sedangkan untuk mencapai hasil sama dari penjualan produk pertanian yang dibutuhkan hanyalah modal kerja bergulir.

Realisasi awal dari obsesi besar PT Pusri mulai terlaksana sejak bulan Mei 2003. Ketika itu di hadapan Presiden Megawati Soekarnoputri, PT Pusri dan Bulog sepakat bekerja sama. Kemudian, sejak Maret 2004 di Propinsi Banten PT Pusri terlibat sebagai satu dari 15 pemasok pengadaan jagung di sebuah fasilitas proses jagung yang membutuhkan bahan baku 1.000 ton jagung per hari. Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Rini MS Suwandi kepada pemilik perusahaan berpesan, setelah PT Pusri terlibat membantu pengadaan jangan lagi mengimpor jagung. Tetapi usahakanlah dari dalam negeri.

Rencana ke depan
PT Pupuk Sriwijaya kini berada pada konsisi harga pupuk yang sudah tidak pernah naik sejak tahun 1998. Malah, pada Januari 2003 harga pupuk diturunkan Rp 100/kg. Karena itu adalah beruntung sekali PT Pusri masih bisa tetap survive bahkan mencatat kenaikan pendapatan walau tidak terlalu drastis. Susah mencari perusahaan tandingan PT Pusri yang tidak mempunyai utang jangka panjang satu rupiah pun. Hal itu sesungguhnya menggambarkan perusahaan melangkah kurang agresif.

Sebuah perusahaan semestinya berutang untuk mengembangkan perusahaan dengan tidak dari dompet sendiri. Melainkan memperoleh pinjaman dari perbankan. Prinsipnya menambah kocek baru tanpa kapital baru. Karena itulah ia berencana melakukan ekspansi. Antara lain memasuki arena perdagangan komoditas pertanian, membangun pabrik baru di Palembang sebagai renovasi pabrik yang dibeli dari Korea, merenovasi pabrik pupuk Pusri nomor tiga dan nomor empat yang sudah berusia 30 tahun lebih, serta akan membangun pabrik petrokimia di Senoro, Sulawesi Tengah. Melihat track record Soedjais selama ini agaknya rencana-rencana besar itu akan tercapai. ms,crs (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 12)

Data Singkat
Zaenal Soedjais, Predir Pusri Holding (2001-2004), Ketua Umum DPI dan Maporina / Bangun Komunitas Masyarakat Baru | Ensiklopedi | CEO, UGM, BUMN, Pusri, Akuntan, direktur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here