02 | Mengapa ke AAF?

Zaenal Soedjais
Zaenal Soedjais | Tokoh.ID

Dia dipercaya menjadi direktur PT. Pupuk Kaltim selama dua periode lebih, tepatnya 12,5 tahun antara tahun 1983-1995. Periode pertama dirutnya adalah Kotan Pasaman dan periode kedua Suratman. Sebetulnya, pada periode berikutnya banyak pihak mengharapkan agar Soedjais menjadi direktur utama dengan berbagai alasan.

Misalnya, Soedjais sudah sangat cukup senior sebagai direksi, kaya akan pengalaman, dekat dengan karyawan, mampu membangun kultur dan komunitas baru di lingkungan karyawan dan mempunyai visi serta pandangan yang jauh ke depan untuk memajukan perusahaan.

Tetapi, tahun 1995, ia justru dipercaya menjadi Direktur Utama PT Asean Aceh Fertilizer (AAF), sebuah perusahaan pupuk milik bersama negara-negara anggota Asean di Lhoksemawe, Aceh. Sebuah pabrik pupuk yang kapasitasnya jauh lebih kecil dari PKT.

Waktu itu berbagai kalangan tertanya-tanya. Ada apa gerangan terjadi. Salah apa dia hingga dikirim ke AAF bukannya dinaikkan karirnya di Pupuk Kaltim sebagai direktur utama. Ia sendiri juga tak menduga. Maka untuk menjawab pertanyaan itu, dia menghadap ke menteri teknisnya, Menteri Perindustrian Tunky Ariwibowo, ketika itu.

Dalam pembicaraan awal, ia menyampaikan rasa terimakasih telah diangkat dan dipromosikan menjadi direktur utama AAF. Namun karena biasa pegang “jumbo”, istilah yang dipakai untuk menggambarkan perusahaan berskala besar seperti Pukuk Kaltim, ia pun bertanya kesalahan apa kira-kira yang telah diperbuatnya, ataukah karena menteri menganggapnya tidak bisa memegang perusahaan kelas “jumbo” PKT?

Tunky menjawab, bahwa Zaenal Soedjais adalah seorang yang dapat mengubah AAF menjadi lebih baik (Dalam bahasa Inggris dia berkata, “You are the person who can turn the company round”). Waktu itu AAF memang terancam mau bangkrut. Pada tahun 1995 AAF punya utang besar sekali, 300 juta dolar AS lebih. Utang itu semula dalam yen. Sedangkan penjualan pupuk AAF ke pemerintah dalam rupiah dan selalu terkena depresiasi terus-menerus dan dibayar 10-12 bulan sekali oleh pemerintah dalam rupiah, menunggu dana APBN.

Mendapat penjelasan dan kepercayaan demikian, Soedjais lalu bersikap oke, menerima penunjukan tugas baru sambil membisikkan kata-kata, Insya Allah dalam 3 tahun dapat menjadikan AAF lebih baik.

Dalam pengalamannya kemudian, Tuhanlah yang ternyata telah memberikan jalan keluar. Dalam satu tahun pertama dia pegang AAF, sudah untung Rp 57 miliar. Padahal, kondisi sebelumnya AAF tidak pernah untung. Tahun kedua untungnya lebih luar biasa lagi, di atas Rp 200 milyar.

Keberhasilan itu bisa tercapai karena ia melihat barang-barang produksi AAF haruslah diekspor. Kalau dijual ke pemerintah pasti rugi terus-menerus karena AAF mengandalkan dana APBN. Produk AAF kalau dijual ke pemerintah rugi, karena belinya harus dalam harga internasional walaupun transaksinya dalam rupiah. Pemerintah pun membayarnya setiap 10-12 bulan sekali padahal rupiah sering terkena depresiasi. Sementara negara anggota Asean lain seperti Philipina, Malaysia, Thailand, bayarnya tepat waktu dalam US$.

Ihwal melihat banyaknya utang AAF, awalnya Soedjais berpikir apa yang salah dengan utang itu. Kemudian dia melihat bahwa ada pembangunan pelabuhan AAF dan fasilitas air bersih seharga kurang lebih 170 juta dolar AS, yang sangat memberatkan AAF. Padahal, di Kaltim berdasarkan pengalamannya, bisa membuktikan membangun pelabuhan cukup dengan dana 20 juta dolar AS saja.

Kemudian dia menanyakan kepada atasannya yang mengetahui yaitu Ir. Hartarto mengapa membangun pelabuhan begitu mahal. Atasan mengatakan pelabuhan itu merupakan titipan pemerintah. Pemerintah merasa perlu membuat pelabuhan untuk rakyat Aceh dan dititipkanlah ke AAF dengan catatan harga gas alam akan diberikan agak murah.

Titipan pelabuhan bagi AAF, menurutnya, sangat memberatkan perusahaan. Di negara lain membangun pelabuhan adalah tugas negara. Akhirnya, ia kembali menghadap menteri teknis dan Menkeu untuk membicarakan masalah pelabuhan itu.

Perusahaan sekecil AAF dibebani titipan yang begitu besar akibatnya adalah pembengkakan utang. Kapal-kapal yang masuk AAF paling hanya memanfaatkan 20 persen pelabuhan itu. Maka, ia mengusulkan kepada menteri bahwa AAF akan memasang beban tarif bagi setiap kapal yang menggunakan pelabuhan. Termasuk kapal AAF yang masuk ke pelabuhan miliknya sendiri akan tetap membayar. Sebelumnya, kapal-kapal perusahaan lain tidak membayar uang tambat dan sebagainya.

Tapi menteri tidak membolehkan. Namun, Soedjais tidak habis akal. Ia mengusulkan, pelabuhan itu diserahkan kepada pemerintah. Usul ini dikabulkan dan AAF dapat uang penggantian 156 juta dolar AS.

Dia pun tidak memakai uang penggantian itu untuk membangun proyek baru. Uang itu langsung dikompensasikan dengan utang-utang AAF. Dengan begitu perusahaan langsung sehat.

Setelah AAF dia pegang tiga tahun, kinerja perusahaan semakin meningkat. Sampai tahun kelima perusahaan sudah dapat memberikan dividen sebesar 50 juta dolar AS. Padahal sebelumnya, selama belasan tahun, pemegang saham perusahaan tidak pernah mendapat apa-apa malah terus merugi. “Saya pikir, kalau Tuhan menghendaki sesuatu maka tidak ada sesuatu kekuatan apa pun yang bisa menahannya,” kata Zaenal Soedjais yang mengakhiri pengabdiannya di AAF tahun 2001. (Bersambung) ms,crs (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 12)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here