Meniti Karier dengan Ikhlas

[ Budi Harsono ]
 
0
534
Budi Harsono
Budi Harsono | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Menunaikan tugas yang diamanatkan kepadanya dengan ikhlas, dan meyakini adanya tangan Tuhan di balik setiap tanggung jawab yang diserahkan kepadanya, adalah etos Letjen TNI (Purn) Budi Harsono dalam mengabdikan diri baik di dunia ketentaraan selama 34 tahun maupun dalam dunia politik (Sekjen DPP Partai Golkar). 

Letnan Jenderal (Purn) TNI Budi Harsono adalah lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1967. Dia termasuk yang bernasib baik di antara sebanyak 231 orang rekan seangkatannya, perwira lulusan AMN 1967.

Dikatakan demikian, karena hanya ada empat orang yang sukses menapaki jenjang kepangkatan sampai bintang tiga, dan seorang di antaranya adalah Budi Harsono.

Selain Budi Harsono (jabatan terakhir sebagai Ketua Fraksi TNI/Polri di DPR-RI) sendiri, tiga orang rekan seangkatannya yang juga menyandang bintang tiga adalah A.M. Hendropriyono (jabatan terakhir Kepala Badan Intelijen Nasional/BIN), Hari Sabarno (jabatan terakhir Wakil Ketua MPR-RI), dan Farid Zainuddin (jabatan terakhir Wakil Kepala BIN).

A.M. Hendropriyono dan Hari Sabarno, belakangan, memperoleh kenaikan pangkat kehormatan dari negara menjadi bintang empat (Jenderal TNI), setelah keduanya resmi pensiun dari dunia ketentaraan.

Selama 34 tahun berkarir di dunia militer, berbekalkan semangat Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, mantan Assospol Mabes TNI (1997) ini berusaha semaksimal mungkin mengabdikan diri sebagai perwira pejuang dan pembela kepentingan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia.

Jenjang kepangkatan dan kariernya di dunia ketentaraan, mulai dari tugas pertama sebagai Komandan Peleton (Danton) Batalyon Infanteri (Yonif) 406, Gombong, Jawa Tengah (1968-berpangkat Letnan Dua) hingga tugas terakhir sebagai Ketua Fraksi TNI/Polri di DPR-RI (2002-berpangkat Letnan Jenderal TNI), diraih Budi Harsono secara alamiah.

Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi Budi, dia berhasil meniti karir militer sampai memperoleh pangkat maksimal tanpa sama sekali lewat pendekatan jalur lobi sana dan lobi sini. Karir militernya berjalan mulus bukan lantaran dia kenal dengan atasan, atau apalagi memakai jalur relasi.

Baginya, bekerja (tugas) adalah amanah dan, diyakininya, tangan Tuhan berperan utama. Karenanya, sejak dulu Budi mengemban setiap tugas yang diberikan Negara kepadanya dengan penuh pengabdian, seraya bersandar pada sebuah prinsip dan filosofi hidup yang sampai kini dia pegang: “BEKERJALAH DENGAN IKHLAS, TUHAN AKAN MENJAGA REZEKI KITA”.

Selama 34 tahun sebagai prajurit TNI, dia sering berpindah-pindah tempat tugas. Antara lain, delapan tahun di Jawa Tengah (1968-1976), tujuh tahun di Sumatera Utara (1976-1983), sembilan tahun di Jawa Barat (1984-1989 dan 1992-1994).

Jabatan Danton, Wadanki, Danki, Kasi Ops selama delapan tahun dari tahun 1968-1975 di Yonif 406, Gombong, yang menjadi bagian dari Kodam IV Diponegoro, Jawa Tengah.

Pada 1975, dia sempat mengikuti pendidikan Suslapa selama enam bulan di Pusat Persenjataan Infanteri (Pussenif), Bandung. Setelah delapan tahun bertugas di Kodam IV Diponegoro, sekitar akhir 1976, masih berpangkat Kapten, dia dipindahtugaskan ke Kodam II Bukit Barisan, Medan, Sumatera Utara, dengan memegang jabatan Perwira Paban Madya/Karo Operasi Kodam II Bukit Barisan. Empat tahun jabatan perwira staf Kodam itu diembannya dan pangkatnya naik menjadi Mayor.

Lepas dari sana, pada 1981, dia ditugaskan di pasukan sebagai Wakil Komandan Batalyon Infanteri (Wadanyonif) 122 Tebing Tinggi, Sumut. Tugas di Yonif 122 relatif sebentar karena sekembalinya dari Tugas Operasi ke Timor Timur pada 1981, masih berpangkat Mayor, dia dimutasi lagi sebagai Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0206 di Rantau Prapat, Labuan Batu, Sumut.

Setahun bertugas Kodim 0206 Rantau Prapat, pada 1982, dia dipindahtugaskan ke kota Medan dan menjabat Kasdim 0201 Kota Besar Medan. Dalam kurun waktu setahun (1982-1983) bertugas di Kasdim 0201 Tabes Medan, dia mendapat promosi kenaikan pangkat dari Mayor menjadi Letnan Kolonel (Letkol).

Setelah bertugas selama tujuh tahun di Kodam II Bukit Barisan, sekitar pertengahan 1983, dia kembali harus meninggalkan tugas sebagai perwira lapangan karena mendapat tugas lain yang sangat menunjang perkembangan karirnya, yakni mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung selama satu tahun. Selesai Seskoad (1984), dia mendapat tugas baru sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 312 Kala Hitam di di Subang, Jawa Barat, yang berada dalam wilayah komando Kodam III Siliwangi, Jawa Barat.

Kemudian, pada 1986, dia mendapat kepercayaan untuk menjabat Komandan Kodim (Dandim) 0617 Majalengka, Jabar. Tugas sebagai Dandim 0617 Majalengka diembannya selama dua tahun.

Masih di wilayah komando Kodam III Siliwangi, dia bertugas selama satu tahun (1988-1989) sebagai Kepala Staf Komando Resort Militer (Kasrem) 061 Bogor, Jabar.

Setelah lima tahun mengabdikan diri di Kodam III Siliwangi, pada 1989, Budi Harsono mendapat tanggung jawab baru sebagai Asisten Teritorial (Aster) Divisi I Kostrad yang berpusat di Cilodong, Bogor, Jabar. Selaras dengan tanggung jawab dan konsekuensi tugas barunya itu, dia mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat dari Letkol menjadi Kolonel. Jabatan itu diembannya sampai tahun 1992.

Pada 1992-1993, dia bertugas sebagai Aster Kodam III Siliwangi, Bandung, Jabar. Pada 1993-1994, dia bertugas sebagai Komandan Korem (Danrem) 063 Cirebon, Jabar. Pada akhir 1994, Kolonel Budi Harsono kembali mengikuti pendidikan lanjutan di Lemhannas Reguler KRA XXI selama satu tahun.

Seusai mengikuti Lemhannas, pada 1995-1996, dia ditugaskan sebagai Paban (Perwira Bantuan) Sospol Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta. Pada pertengahan 1996, dia mendapatkan kepercayaan dari Mabes TNI sebagai Wakil Asisten Sospol (Waassospol) Mabes TNI.

Sejalan dengan tanggung jawab tugas yang diembannya itu, dia mendapat kenaikan pangkat satu tingkat dari Kolonel menjadi Brigadir Jenderal TNI. Kini, dia telah menyandang bintang satu di pundaknya.

Baru enam bulan menjabat Waassospol Mabes TNI (pada 1997), dia dipercaya untuk memangku jabatan Assospol Mabes TNI dan mendapat promosi kenaikan pangkat Mayor Jenderal TNI (bintang dua).

Perjalanan karir dan pangkat Budi Harsono berjalan lancar. Hanya dalam kurun waktu dua tahun (1995-1997), Mabes TNI memberikannya dua kali kenaikan pangkat: 1995-1996 (Kolonel-Brigadir Jenderal) dan 1996-1997 (Brigadir Jenderal-Mayor Jenderal).

Pasca-Pemilu 1997, dia mendapat kepercayaan dari Mabes TNI untuk menjalankan tugas di bidang sosial politik TNI dan bergabung dengan Fraksi TNI/Polri di DPR. Jabatan Assospol TNI yang ditinggalkannya digantikan oleh Mayjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono, yang kini menjadi Presiden RI.

Seperti diketahui, saat itu, TNI memiliki dwifungsi yakni fungsi pertahanan-keamanan (Hankam) dan fungsi sosial-politik (Sospol). Anggota TNI yang bergabung dalam F-TNI/Polri mengemban tugas untuk fungsi Sospol TNI.

Di Senayan, dia langsung diserahi jabatan dan dipercaya menduduki posisi Ketua Komisi II DPR yang mengurusi bidang Pemerintahan.

Pasca Pemilu 1999, dia kembali ditugaskan Mabes TNI di DPR untuk masa bakti 1999-2004 dan menjabat sebagai Wakil Ketua F-TNI/Polri. Pada tahun 2001, dia ditugaskan Mabes TNI sebagai Ketua F-TNI/Polri di DPR, menggantikan Letjen TNI Ahmad Rustandi, yang memasuki masa pensiun.

Berdasarkan ketentuan yang berlaku, posisi Ketua F-TNI/Polri harus dipegang oleh seorang perwira bintang tiga. Budi Harsono pun mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat dari bintang dua (Mayor Jenderal TNI) menjadi bintang tiga (Letnan Jenderal TNI). Dengan demikian, secara jenjang kepangkatan di militer, dia telah mencapai titik puncaknya.

Jabatan Ketua F-TNI/Polri dipegangnya sampai pertengahan tahun 2002. Bersamaan dengan itu, penerima lima Bintang tanda penghargaan, di antaranya Bintang Kartika Eka Paksi, Bintang Yudha Dharma, dan Bintang Dharma, ini pensiun dari dunia ketentaraan setelah selama 34 tahun mengabdikan hidupnya sebagai seorang Sapta Margais sejati. e-ti/af

02 | Tugas Dekatkan Diri kepada Tuhan

Dari berbagai pengalaman hidupnya selama 35 tahun bertugas di dunia ketentaraan, ada banyak hikmah yang dia petik. Seringnya menghadapi masa-masa kritis selama menjalankan tugas, kemudian sering berpindah-pindah tempat tugas, membuat dirinya dekat dengan Tuhan, Sang Maha Kuasa. Keyakinan spiritual bahwa hidup-mati anak manusia berada di tangan Sang Maha Pencipta senantiasa melekat pada dirinya.

Terlebih, misalnya, saat menghadapi masa-masa kritis dalam mengemban tugas operasi bersama pasukannya ke beberapa wilayah konflik, dia merasa sangat perlu mendekatkan diri kepada Tuhan, dan memohon petunjuk-Nya agar tidak salah dalam melangkah.

Setidaknya, Budi Harsono pernah menjalani tiga kali tugas operasi. Pertama, tugas operasi ke perbatasan Kalimantan Barat dengan Sarawak, Malaysia, pada tahun 1971. Saat itu, dia menjadi Danki Yonif 406 Gombong, Jawa Tengah, berpangkat Kapten. Tugas operasi ini berlansung selama satu tahun.

Kedua, tugas operasi ke Timor Timur (Timtim) pada tahun 1981. Saat itu, dia menjabat Wakil Komandan Yonif 122 Tebing Tinggi, Sumatera Utara, berpangkat Mayor.

Ketiga, tugas operasi (kembali) ke Timtim pada tahun 1985. Ketika itu, dia menjabat Komandan Yonif 312 Kala Hitam Subang, Jawa Barat, berpangkat Letnan Kolonel.

Menurutnya, kepada Tuhan, bukan hanya memohon perlindungan untuk diri sendiri, tapi juga untuk seluruh prajurit yang dipimpinnya. Dia menunjuk contoh, ketika membawa satu batalyon melaksanakan tugas operasi, selain bertanggung jawab atas nasib 700 orang anggota pasukan yang dipimpinnya, secara tak langsung dia juga memikul beban pada nasib anak dan istri mereka.

Baik isteri prajurit yang sudah berkeluarga maupun orang tua para prajurit yang masih bujangan menitipkan kepadanya selaku komandan. Rasa tanggung jawab itu dan agar tugas lancar mendorongnya untuk selalu berdoa dan mendekatkan iri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tugas operasi seperti itu semakin menempa kadar keimanan dan ketakwaannya kepada Sang Penentu hidup dan matinya manusia.

Bila orang akan mati sudah ada takdirnya masing-masing. Jadi tidak boleh takut akan kematian karena sudah ada takdirnya. Tapi kita juga harus tetap berusaha agar kita dapat melaksanakan tugas dengan baik.

Dia selalu membekali diri dengan ketakwaan kepada Tuhan dalam menjalankan setiap tugas. Semua keputusan atau langkah yang ditempuhnya, dia sangat percaya, tak lepas dari petunjuk-Nya. Kepada setiap prajurit dia juga ingatkan agar selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tugas operasi berperang melawan gerilya, ungkapnya, mengharuskan setiap prajurit berani, aktif bergerak, dan banyak inisiatif agar nyali musuh melemah. Selain itu, dalam perang melawan taktik gerilya, pasukan harus berani bergerak dalam regu-regu kecil. Dia sendiri memberikan contoh konkret di lapangan kepada prajurit-prajurit yang dikomandoinya.

“Walaupun memimpin 700 orang, saya perintahkan pecah menjadi kelompok-kelompok kecil untuk melawan taktik perang gerilya. Misalnya, saya perintahkan bergerak persepuluh orang. Saya sendiri ikut serta di dalamnya dengan memimpin sembilan orang,” tuturnya.

Dengan demikian, lanjutnya, pimpinan dengan bawahan menghadapi risiko yang sama. Hal itu juga berguna dalam upaya menciptakan rasa kesatuan, kebersamaan, dan persaudaraan. Apalagi, dalam menjalankan satu tugas di daerah operasi kesetiakawanan adalah sebuah keharusan. e-ti/af

03 | Bekerja Ikhlas, Tuhan Menjaga Rezeki

Hidup ini mengalir saja seperti sifat air. Apa adanya. Keikhlasan dalam bekerja, berbuat dan menjalankan setiap amanah yang diberikan. Bekerja adalah ibadah.

Bila kita ikhlas dalam melaksanakan pekerjaan, maka Tuhan akan menjaga rezeki kita. Ikhlas akan memberikan kekuatan yang sangat besar.

“Saya sangat yakin bahwa jika kita ikhlas, Tuhan akan menjaga rezeki kita. Semakin kita ikhlas, semakin besar kekuatan yang datang pada kita. Kalau kita meyakini agama kita dan kita laksanakan, Insya Allah, hidup kita akan dijaga-Nya,” tutur Budi.

Hanya saja, keikhlasan itu bisa dicapai bila kita tidak mempunyai pamrih. Sekali melaksanakan tugas dengan motivasi pamrih maka itu artinya tidak ikhlas menerima amanah yang diberikan. Sebab, mengedepankan pamrih sama artinya menghitung untung-rugi.

Dari dulu sampai sekarang, di mana pun dan kapanpun dia bertugas dan ditugaskan oleh negara, dia selalu memegang teguh sebuah filosofi hidup: “Bila kita bekerja dengan ikhlas, percaya kepada-Nya, Tuhan akan menjaga rezeki kita”.

Filosofi hidup itu yang dia pegang sampai sekarang. Baginya, bekerja merupakan ibadah. Karena itu dia selalu menunaikan pekerjaan dengan penuh ikhlas. Soal rezeki, Tuhan pasti akan mengaturnya. Keikhlasan dalam bekerja pada akhirnya akan berbuah kebaikan. Buktinya?

“Dari mulai berpangkat Letnan Dua sampai Letnan Jenderal, saya tidak pernah lobi sana atau lobi sini untuk memperoleh jabatan, apalagi meminta-minta posisi. Saya juga tidak pernah, misalnya, mendekati Asisten Personil TNI untuk mendapatkan promosi pangkat,” ucapnya.

Dia sangat yakin bahwa jika kita ikhlas menjalankan tugas, Tuhan pasti membimbing kita. Selama bertugas di militer, dia merasakan begitu banyak karunia yang diberikan oleh-Nya. Tangan Tuhan benar-benar mengatur dan menentukan nasibnya.

Sewaktu menjabat Paban Sospol Mabes ABRI, sekadar contoh, dia mengaku sangat ikhlas dan enjoy menjalankan tugas meski dia harus bekerja sampai larut malam, membuat konsep pidato, amanat atau makalah seminar untuk Panglima ABRI. Bahkan, tuntutan tugas itu kadang kala mengharuskannya untuk jarang pulang ke rumah dan bertemu keluarga. Dia mesti begadang sampai larut malam atau bahkan hingga dini hari guna menyiapkan bahan-bahan tersebut.

Seusai mengerjakan tugas, dia pulang sendiri ke rumah pada tengah malam atau dini hari. Tidak bertemu orang lain. Hanya ditemani sopir. Dia tidak merasa harus menonjolkan prestasi kerjanya kepada atasan, misalnya, agar mendapatkan pujian sebab dia memang ikhlas menjalani rutinitas tugas tersebut.

“Motivasi kerja saya tetap terjaga karena saya memang ikhlas menjalankan tugas-tugas yang diemban, meski tidak ada yang melihat. Sifat saya tidak pernah berubah, dari dulu tidak suka menonjolkan hasil kerja,” cetusnya.

Kembali pada prinsip hidupnya, dia meyakini Tuhan mengetahui kadar keihlasannya bekerja, walaupun orang lain tidak tahu. Tuhan jua yang menjaga rezeki apa yang pantas untuk dirinya.

“Alhamdulillah, saya mampu meraih pangkat maksimal Bintang Tiga di militer. Semua saya serahkan secara total kepada Tuhan. Soal rezeki, Tuhan yang menjaganya. Dan itu terbukti,” tegasnya lagi.

Satu hal yang ada di benaknya setiap waktu mengerjakan tugas yang diamanatkan kepadanya: Dia hanya ingin menyelesaikan pekerjaan dengan ikhlas dan sebaik-baiknya. Filosofi hidup itu dia pegang dan yakini terus sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang meski tidak aktif lagi di dunia militer.

Dia sangat menyadari, komunikasi memang perlu misalnya agar bisa dikenal dan diperhatikan orang serta unjuk kemampuan diri. Disadari olehnya, mungkin apa yang dia lakoni selama ini kurang bagus dari aspek komunikasi sebab dia dianggap tidak mampu menjual dan memamerkan prestasi dan kualifikasi dirinya kepada atasan. Tidak bisa memanfaatkan ide. Tidak bisa memposisikan diri populer di mata atasan.

Tak pernah terbersit sedikitpun di pikiran Budi untuk meminta-minta jabatan. Alasannya sederhana saja. Baginya, jabatan adalah sebuah amanah. Sedangkan amanah itu sendiri merupakan sebuah karunia Tuhan yang sudah ditakar oleh-Nya.

Dia meyakini secara spiritual, setiap jabatan yang diamanahkan atau tugas yang dipercayakan kepada dirinya sudah pasti telah Tuhan takarkan dan sesuaikan dengan kemampuan yang dia miliki.

“Seandainya kita meminta-minta jabatan, lantas kemudian diberi jabatan tertentu, bagaimana kalau ternyata kita tidak sanggup menjalankannya?” tanya Budi dengan nada retoris.

Dia meyakini sekali, setiap tugas yang diamanatkan kepadanya memang yang terbaik untuk dirinya. Karena itu, apapun tugas yang diamanatkan kepadanya dan di manapun dia ditempatkan, dia berusaha semaksimal mungkin mengerjakannya dengan sebaik-baiknya dan penuh keikhlasan.

Dan, Alhamdulillah, Budi Harsono ternyata mampu menunaikan setiap tugas yang diamanatkan kepada dirinya karena Tuhan memang sudah mengukur batas kemampuan (kelebihan dan kekurangan) yang dia miliki. e-ti/af

04 | Masa Kecil, Remaja dan Dewasa

Berasal dari keluarga berekonomi pas-pasan, dan sebagai anak tertua dari sembilan bersaudara, Budi Harsono meraih kesuksesan hidup dengan kebersahajaan.

Tokoh yang satu ini lahir di Yogyakarta, 13 September 1946. Dia adalah anak tertua dari sembilan bersaudara, buah kasih pernikahan pasangan berbahagia Aris Moenandar dan Salamah.

Aris Moenandar, Sang Ayah, adalah seorang abdi negara yang bekerja di Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI). Sang Ibu, Salamah, hanya lah seorang ibu rumah tangga biasa.

Kedua orang tuanya memberikan perhatian dan kasih sayang penuh kepada anak-anaknya. Budi dan adik-adiknya juga diasuh, diajarkan, dididik, dan dibekali nilai-nilai budi pekerti, etika, moralitas, dan ajaran agama.

Peranan ayahnya besar sekali terutama dalam hal menanamkan tanggung jawab dan keteladanan kepada keluarga. Karena Sang Ayah sering berpindah-pindah tugas ke luar daerah, praktis Sang Ibu yang sering menemani keseharian Budi dan adiknya-adiknya.

Tapi, mengingat intensitas pertemuan lebih banyak dengan ibu dibandingkan dengan ayah yang sering bertugas di luar daerah, praktis sehari-hari figur ibu lah yang paling dominan mewarnai pertumbuhan dan perkembangan Budi beserta adik-adiknya. Sang Ibu lah yang sehari-hari mengasuh, mendidik, dan mengawasi secara intensif anak-anaknya.

Lepas dari kondisi itu, ada karakter khas Sang Ayah yang agaknya menurun pada diri Budi Harsono, yakni sikap tidak pemarah dan tidak banyak bicara.

“Ayah saya memang tipe orang yang tidak pernah marah. Beliau seorang yang pendiam. Tidak banyak omong. Kalau tidak merasa perlu dan penting sekali, ayah tidak ngomong,” ucap Budi.

Aris Moenandar dan Salamah sangat mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya sebagai bekal kesuksesan hidup mereka di kemudian hari. Dia dan adik-adiknya lebih diarahkan untuk berkonsentrasi pada pelajaran sekolah.

Jenjang pendidikan dasar (SR) dan pendidikan lanjutan (SMP) selama sembilan tahun (1952-1961) diselesaikan Budi di kota kelahirannya, Yogyakarta. Sedangkan, bangku pendidikan SMA dihabiskannya di kota Menado, Sulawesi Utara.

Si Anak Bandel
Semasa tinggal di Yogyakarta, Budi berada di lingkungan yang terhitung kurang baik. Karena itu, kedua orang tuanya –terlebih sang ibunda– sangat selektif dan cenderung protektif pada pergaulan Budi dan adik-adiknya.

Batasan yang diberlakukan orang tuanya dalam hal pergaulan dengan lingkungan, bagi Budi, memang ada untung-ruginya. Tapi, apa kelebihannya dan apa kekurangannya baru bisa ditakar dan dipahami di belakang hari.

Namun, pergaulan yang salah dengan lingkungan di luar rumah, termasuk di sekolah, agaknya cukup mempengaruhi pola perilaku Budi. Menurut pengakuannya, sewaktu duduk di bangku SMP di Yogyakarta, dia termasuk anak bandel. Perilaku teman-temannya dulu yang nakal, tanpa disadarinya, telah mempengaruhi perilakunya.

Akibatnya, dia tidak bisa lagi konsentrasi dan tak mempedulikan lagi pelajaran di sekolah. Bersama beberapa teman satu kelas yang menjadi gengnya, dia selalu membuat ulah.

Kendati demikian, kenakalan dia bersama teman-temannya dulu tidak seperti kenakalan remaja sekarang. Bukan kenakalan yang merugikan orang lain. Paling-paling, yang kerap dilakoni dia dan teman-temannya adalah membolos, minggat dari sekolah, keluyuran di luar sekolah, atau berkelahi.

Mengendap-endap keluar kelas dengan menerobos jendela, di saat guru sedang serius memberikan pelajaran di kelas, adalah salah satu kebiasaan buruk dan ‘keahlian’ Budi saat itu.

Peringatan keras dan teguran dari guru dan sekolah seakan tak mempan untuk menyadarkan Budi. Sehingga, akibatnya, sejak Kelas 1 SMP dan terutama pada Caturwulan I Kelas 2 SMP, nilai rapornya praktis dipenuhi warna merah.

Nasehat Sang Ayah
Kebengalan seorang Budi Harsono mulai berubah drastis tatkala dia mendapat nasehat dari sang ayahanda, Aris Moenandar, yang kebetulan baru pulang dari tugas di daerah.

Dikisahkan oleh Budi, begitu mengetahui nilai rapor anaknya yang nyaris tidak ada wana hitam atau birunya sama sekali, ayahnya lantas memanggil dirinya.

Budi yang saat itu sudah siap dimarahi habis-habisan justru dibuat heran oleh sikap sang ayahanda. Sebab, dengan sikap kebapakan dan gaya bicara yang lemah lembut, tanpa sedikitpun dipenuhi bernada penuh amarah, Aris Moenandar justeru memberikan nasehat kepada Budi.

Lewat pesan-pesan nasehat tersebut, Aris memantik kesadaran hakiki Budi bahwa, selaku anak tertua, tanggung jawabnya sangat diandalkan oleh kedua orang tuanya guna membimbing adik-adiknya.

Pendekatan yang dipakai Aris Moenandar untuk mengubah pribadi Budi rupanya membuahkan hasil. Teguran halus dari sang ayahanda tercinta ternyata memecut kesadaran dan membuka pikiran positif Budi untuk mengubah diri.

Akhirnya, dia menyadari –setelah menerima wejangan dari sang ayah– betapa salah dan merugi dirinya karena telah mengabaikan perjuangan kedua orang tuanya untuk menyekolahkannya agar kelak bisa berguna bagi keluarga dan bangsa. “Mengapa saya malah mengecewakan mereka?” ucapnya kala itu dalam hati dengan nada bertanya kepada diri sendiri.

Dia benar-benar membatasi pergaulannya dengan teman-teman gengnya. Dia memutuskan untuk menjaga jarak dengan mereka, dan tidak akan pernah bergabung atau ikut-ikutan lagi dengan pola pergaulan mereka. Kalaupun bertemu dengan mereka, dia sekadar menyapa alakadarnya.

Sejak saat itu, sikap dan perilaku Budi Harsono yang dikenal dan telah dicap anak paling bengal di sekolah oleh para gurunya berubah 180 derajat. Dia tak pernah lagi datang terlambat masuk kelas, apalagi membolos sekolah dan minggat dari sekolah.

Jika biasanya memilih posisi duduk di bangku paling belakang, sejak saat itu, dia pindah duduk ke barisan paling depan agar mudah menyimak pelajaran dari guru. Menyaksikan perubahan perilaku Budi, guru-guru pun dibuat bingung dan kaget bercampur perasaan heran. Mereka kaget, kok anak yang begitu nakal dan membuat kewalahan para guru telah berubah perangainya.

Betapa tidak, selama ini, saking putus asa dan kewalahannya menghadapi perangai Budi, para guru pernah sempat memperingatkannya tidak bakalan dinaikkan ke kelas tiga bila dia tidak mau mengubah sikapnya. Waktu itu, Budi sama sekali tidak peduli dengan ucapan para guru yang bernada ancaman itu.

Budi membuktikan kepada kedua orang tua dan para gurunya di sekolah bahwa dirinya telah berubah.

Perubahan sikap itu berbuah manis. nilai rapornya pada Caturwulan II Kelas 2 SMP hitam semua, tak ada satupun mata pelajaran yang berponten merah. Tak pelak, perubahan tingkah lakunya ditambah lagi hasil rapor si anak nakal yang bagus semakin membuat para guru di sekolah terheran-heran.

Waktu pun berlalu, Budi akhirnya naik ke Kelas 3, jurusan Ilmu Pasti. Dulu, pembagian jurusan sudah dilakukan sejak Kelas 3 SMP. Ada dua jurusan pilihan pada waktu itu: A untuk jurusan Ilmu Sosial dan B untuk jurusan Ilmu Pasti.

Pada tahun 1961, dia dan adik-adiknya ikut diboyong kedua orang tua ke Manado, Sulawesi Utara, menyusul perpindahan tugas Sang Ayahanda ke kota itu. Di kota itulah dia menjalani jenjang pendidikan SMA-nya sampai selesai.

Di Manado ketika itu orang Jawa memang terbilang sangat sedikit. Meski karakter dan budaya Jawa sangat melekat pada diri dan pribadinya, Budi relatif mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan Manado.

Kebetulan, ada banyak guru yang mengajar di sekolahnya saat itu berasal dari tanah Jawa. Mereka sebenarnya adalah mahasiswa tingkat III/tingkat IV dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan Institut Teknologi Bandung (ITB), yang ditugaskan kampusnya masing-masing sebagai guru bantu di sekolah tersebut.

Saat itu, pemerintah membuat kebijakan mengerahkan para mahasiswa perguruan tinggi untuk mengabdikan diri sebagai guru di sekolah-sekolah di daerah-daerah luar Jawa, yang masih kekurangan tenaga pengajar.

Setelah rata-rata 2-3 tahun mengabdikan diri sebagai guru, mereka selanjutnya kembali ke kampusnya masing-masing.

Karena berasal dari Pulau Jawa, dan mungkin dianggap punya kelebihan, Budi Harsono sering dijadikan contoh bagi teman-teman sekelas oleh guru-guru tersebut. Misalnya, bila ada soal-soal di papan tulis, dia yang selalu diminta menyelesaikannya. Secara tidak langsung, dia menjadi terpacu juga untuk tekun dan serius belajar.

Begitu menamatkan jenjang SMA pada 1964, dia sempat mengalami kebimbangan. Di satu sisi, dia ingin melanjutkan kuliah. Namun, di lain sisi, dia teringat dan menyadari kemampuan keuangan orang tuanya yang terbatas, apalagi masih ada delapan adiknya yang sangat membutuhkan biaya sekolah.

Dari hati kecil, dia sejatinya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, mengingat adik-adiknya masih membutuhkan biaya, niatnya untuk kuliah di perguruan tinggi harus dia kubur dalam-dalam.

Akhirnya, dia menemukan obat bagi kegundahan hatinya, sekaligus jalan keluar atas kondisi dilematis yang dihadapinya, yakni dia harus melanjutkan pendidikan tapi tidak membebani orang tuanya secara ekonomi. Dia sudah bertekad bulat dan memancangkan niat, andaipun dia kuliah, orang tuanya tidak akan terbebani.

Pikirannya tertuju pada pendidikan di sejumlah akademi milik instansi pemerintah, yang umumnya memberikan fasilitas ikatan dinas kepada para mahasiwanya, seperti akademi bank, akademi PU, akademi kereta api, dsb.

Dalam proses perenungan itulah, dan dalam suasana hati dan pikiran yang galau, ingatannya tertumbuk pada Akademi Militer Nasional (AMN). Dia teringat bahwa sekolahnya pernah dikunjungi oleh taruna-taruna AMN. Para taruna AMN memang ditugaskan mengadakan anjangsana ke SMA-SMA yang ada di Manado dalam rangka mensosialisasikan keberadaan AMN kepada siswa-siswa Kelas 3 SMA.

Apalagi, kesan pertamanya ketika itu terhadap penampilan para Taruna AMN nan gagah dan berwibawa dengan baju seragamnya yang khas mendorong Budi untuk mencoba peruntungan. Dia pun kemudian memberanikan diri untuk mendaftar sebagai taruna AMN di kota itu.

Tes AMN dan Tinggi Badan
Ada peristiwa menggelikan yang dialami Budi saat dia menjalani tahapan tes masuk AMN di kota Manado. Pangkal persoalannya adalah perawakan Budi Harsono yang mungil dan kurus kerempeng. Berat badannya bahkan tidak sampai 50 kg.

Memang semasa sekolah di SMA, kondisi fisiknya tak urung membuatnya didera perasaan minder. Dia merasa keberadaannya dipandang hanya sebelah mata oleh lingkungan.

Diakui olehnya, di satu sisi, perasaan minder dan kurang percaya diri sempat merasuki jiwanya ketika mengikuti tes AMN di Manado. Namun, pada sisi lain, dia justru semakin termotivasi untuk lulus tes AMN.

“Motivasi saya menjadi tentara begitu besar sebab dengan jadi tentara saya bisa menunjukkan keberadaan dan jati diri kepada lingkungan. Dengan menjadi seorang tentara, saya berharap akan ada penghargaan dari lingkungan karena itu berarti saya juga punya kelebihan,” tukasnya.

Terkenang kembali saat-saat menjalani proses tes masuk AMN di Manado dulu, Budi mengisahkan bagaimana dia harus bersaing dengan ratusan peserta lain yang memiliki fisik dan postur tubuh lebih ideal dibandingkan dirinya.

Sebagian besar di antara mereka berbadan tinggi-besar dan berperawakan gagah. Kenyataan itu sempat membuat ciut nyali dan semangat Budi Harsono.

Ternyata benar, mungkin saking mungilnya perawakan Budi Harsono, sewaktu menjalani tahap demi tahap tes, tinggi badan dan berat badannya harus diukur kembali.

Agaknya, para penguji yang nota bene para perwira TNI masih meragukan bahwa peserta yang satu ini telah memenuhi syarat secara fisik. Bahkan, sewaktu mengikuti tes tahap akhir di hadapan Pantuhir (Panitia Penentu Terakhir) yang terdiri atas sejumlah perwira menengah, postur tubuhnya masih saja diragukan. Sehingga, untuk meyakinkan diri, Pantuhir meminta agar tinggi dan berat badannya diukur kembali.

Padahal, secara formal, pada tahap Pantuhir tersebut syarat tinggi badan peserta tes tidak lagi diutak-atik atau dipertanyakan. Tapi, mungkin karena sangat meragukan validitas data tinggi badan Budi, salah seorang penguji pada Pantuhir masih meminta ada proses cek ulang. “Coba tinggi badan dan berat badan Anda dicek lagi,” ucap sang penguji tersebut yang ternyata seorang jenderal bintang satu itu, seraya menunjuk Budi.

Apakah tinggi badan Budi memang tidak memenuhi syarat yang ditetapkan panitia? Menurut Budi, tinggi badannya yang 160 cm memenuhi syarat yang ditentukan panitia waktu itu yakni 155 cm. Mungkin, karena berat badannya yang hanya 49 kg, muncul dugaan kesan seolah-olah tinggi badannya tidak memenuhi syarat.

Dewi Fortuna ternyata berpihak pada tekad yang membaja Budi Harsono untuk menjadi tentara. Dia akhirnya dinyatakan lulus dan termasuk dalam 16 orang peserta tes AMN dari sekitar 600-an orang yang mengikuti tes di Manado.

Selanjutnya, 16 peserta tes asal Manado tersebut harus mengikuti proses tes tahap lanjutan selama satu bulan penuh di kota Bandung, Jawa Barat, persisnya di kawasan Lembang. Setelah tes di Lembang, 16 orang itu akan disaring lagi menjadi delapan orang. Kedelapan orang itulah, peserta asal Manado, yang selanjutnya akan dikirim ke Lembah Tidar di Magelang, guna menjalani pendidikan pembentukan militer selama tiga tahun.

Singkatnya, dari Manado ke Bandung, Budi bersama 15 peserta lain memakai angkutan kapal laut. Setibanya di Lembang, Budi menyaksikan telah berkumpul seluruh peserta tes yang lolos dari daerah asalnya masing-masing, yang akan menjalani tes lanjutan. Selama di Lembang, seluruh peserta kembali menjalani berbagai tes seperti psikotes, tes fisik, tes kesehatan, dll.

Keberuntungan benar-benar menyertai langkah Budi Harsono. Dia termasuk delapan peserta asal Manado yang dinyatakan lulus seleksi tahap lanjutan di Lembang dan akan menjalani proses pendidikan kemiliteran di AMN Magelang, Jawa Tengah.

Sepengetahuan Budi, penetapan jumlah peserta yang lulus dari daerah didasarkan atas rasio antara kebutuhan dan kepadatan penduduk daerah bersangkutan. Jika untuk Manado saat itu hanya ada jatah delapan orang, maka untuk kawasan Pulau Jawa rata-rata 50-an orang yang diterima.

Dituturkan oleh Budi, banyak orang termasuk teman-teman sekolah dan guru yang sama sekali terkejut dan tidak mengira sama sekali kalau dia bisa menjadi tentara, apalagi mampu menembus persaingan ketat memasuki AMN Magelang.

Tekad membaja seorang Budi Harsono untuk menjadi tentara akhirnya terwujud. Pada tahun 1967, bersama 231 rekan seangkatannya, Budi Harsono dilantik sebagai perwira pertama ABRI dan berhak menyandang pangkat Letnan Dua.

Perubahan Motivasi Hidup
Selain perasaan bangga yang menggelora di jiwa, selama menjalani hari-hari yang keras dan penuh disiplin di Lembah Tidar, Magelang, Budi mengaku pribadinya mengalami banyak sekali perubahan.

Hal yang paling dirasakannya dalam proses pendidikan pembentukan militer itu adalah motivasi hidupnya yang berubah 180 derajat. Mengubah motivasi dan paradigma berpikir orang, ungkap Budi, memang merupakan tujuan terpenting dari pendidikan AMN.

Konkretnya, setiap taruna AMN Magelang yang semula cenderung berpandangan hidup ekonomis-materialistis dididik dan dibina agar orientasi hidupnya kelak semata-mata membela negara dan mencintai tanah airnya.

Mentalitas para taruna AMN diubah dari yang berlatar belakang ekonomi atau sekadar prestise (kebanggaan) pribadi menjadi pengabdi kepentingan bangsa dan negara.

Selama di Magelang, motivasi awal para taruna AMN untuk menjadi tentara berubah drastis. Mereka disadarkan bahwa tentara mesti mengabdi pada negara dan berani berkorban membela negara. Budi merujuk pada pengalaman dirinya sendiri saat mengikuti pendidikan di AMN dulu.

“Seperti saya sendiri, awalnya ingin menjadi tentara karena alasan ketertarikan pada dunia militer yang terkesan gagah dan dihormati lingkungan, dan motivasi ekonomi-material karena kondisi keluarga yang pas-pasan. Setelah menjalani pendidikan beberapa lama di AMN, saya mengalami perubahan orientasi hidup. Saya menjadi sosok tentara yang betul-betul siap membela negara,” katanya.

Dia menekankan, tujuan pokok dari pendidikan pembentukan militer (menjadi perwira ABRI) adalah mengubah segenap motivasi yang terlalu individualistis seperti tampil gagah atau mapan secara ekonomi menjadi sosok pengabdi, pengawal, dan pembela negara.

Dalam pendidikan pembentukan militer, kepada taruna juga ditanamkan kesadaran bernegara dan kesediaan berkorban membela negara. Semua pendidikan militer di negara manapun memiliki tujuan semacam itu.

Karenanya, lanjut Budi, jika motif seseorang masuk tentara sekadar demi prestise atau mendapatkan kemapanan secara ekonomi, bakal rusak tentara Indonesia karena tidak berkualitas.

Kembali ke soal lembaga pendidikan pembentukan militer, Budi Harsono menggarisbawahi, saat ini hanya tinggal sistem pendidikan semacam itu yang mampu membentuk dan memberikan motivasi agar warga negara Indonesia rela berkorban untuk negaranya. Yang mau dan mampu membela negaranya dengan segenap pikiran, jiwa, dan raga.

Pada sistem pendidikan umum juga ada penanaman sikap mental nasionalisme seperti itu, tapi persentasenya tidak sebesar di sistem pendidikan pembentukan militer, yang sejak awal sudah menanamkan kesadaran bernegara, kesediaan berkorban membela kepentingan negara, dan semangat mempertahankan NKRI.

Dia meyakini bahwa nilai kejuangan dan nasionalisme terus menyala dan tertanam di benak dan jiwa para lulusan pendidikan militer meski telah bersosialisasi dengan lingkungan umum.

Menunjuk pengalaman pribadinya, begitu lulus dari AMN Magelang, dia langsung ditugaskan memimpin 30 orang anak buah sebagai Komandan Peleton (Danton) di Batalyon 406 Gombong, Jawa Tengah.

Dia mengaku, idealismenya sebagai orang yang baru selesai digodok dari –“kawah candradimuka”– Lembah Tidar masih sangat tinggi. Apa-apa yang diperolehnya selama masa pendidikan dia wujudkan secara riil di lapangan. Diberi tanggung jawab memimpin 30 orang membersitkan satu tekad besar pada diri Budi Harsono, bagaimana bisa memimpin mereka agar dapat menjalankan tugas dengan baik, mempunyai keterampilan teknis tempur dan perang yang memadai, serta memiliki motivasi tinggi untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

Di samping tanggung jawab begitu besar memimpin banyak orang, idealismenya semakin menguat manakala dia bersama pasukannya dihadapkan pada tugas-tugas operasi ke sejumlah daerah konflik, seperti ke Perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak, Malaysia (1971) dan dua kali ke Timor Timur (1981 dan 1985).

“Dengan kepercayaan mengemban tugas khusus yang diamanatkan negara, saya dituntut untuk menjadi orang yang bertanggung jawab kepada tugas dan kepada seluruh anggota pasukan yang saya pimpin. Singkatnya, idealisme dan nasionalisme saya yang terbentuk di pendidikan militer tetap tinggi,” ucapnya.

Intinya, kesadaran dan semangat bernegara dan bela negara yang diperoleh selama menjalani penggodokan secara mental, fisik, pikiran, dan kesadaran di Lembah Tidar, Magelang, dulu masih sangat membekas dan terus tertanam pada dirinya bukan hanya kala mengabdikan diri sebagai perwira TNI aktif, tapi juga setelah dia pensiun dari dunia ketentaraan (Purnawirawan TNI AD).

Dan, sejatinya kesadaran bernegara, kesediaan berkorban membela negara, dan mencintai negaranya sebetulnya tidak hanya dimiliki sosok seorang tentara tapi seharusnya juga dimiliki oleh seluruh warga negara Indonesia.

Mempersunting Gadis Gombong
Setelah lulus dari AMN di Magelang pada tahun 1968, Budi Harsono ditugaskan di Batalyon Infanteri (Yonif) 406, Gombong, Jawa Tengah, dengan jabatan Komandan Peleton (Danton).

Di tengah keseharian menjalankan tugasnya, hati pemuda Letnan Dua Budi Harsono tertambat kepada seorang gadis cantik, Mut Indayah. Dua sejoli ini dipertemukan Tuhan di lapangan olah raga di depan Mess Perwira Yonif 406.

Biasanya, setiap sore hari, para perwira muda dan prajurit Yonif 406 bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, terutama dengan kalangan anak mudanya, melalui kegiatan olah raga bersama seperti bola voli dan bulutangkis.

Mess Perwira yang ditempati Budi Harsono kebetulan persis berhadapan langsung dengan sekolah kejuruan (SMEA) tempat Mut Indayah menimba ilmu. Intensitas pertemuan mereka di lapangan olah raga tersebut ternyata menimbulkan benih-benih cinta di antara mereka berdua.

Hubungan kasih pun terjalin. Setelah satu tahun berpacaran, Budi mempersunting Mut Indayah sebagai isteri pada 31 Agustus 1972. Itu berarti, sampai saat ini, Budi Harsono dan Mut Indayah telah melewati –apa yang disebut sebagai– ‘Perkawinan Perak’ (25 tahun).

Ayah Mut Indayah –asli Tegal— adalah juga seorang militer, yang saat itu berdinas di Batang, Pekalongan, Jawa Tengah. Sementara, ibu Mut asli dari Gombong.

Seingatnya, selain dirinya ada lima perwira muda lainnya yang berpacaran dengan gadis Gombong. Tapi, dari enam perwira muda ini hanya Budi yang sukses mempersunting gadis Gombong.

Mut Indayah yang tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi setelah menikah dengan Budi Harsono, di masa remajanya, adalah seorang gadis yang sangat aktif di berbagai kegiatan. Seperti kegiatan kesenian (menari) dan khususnya olah raga (renang, bola voli, dan anggar).

Dari seabreg kegiatan tersebut, anggar jenis floret adalah olah raga yang paling ditekuni Mut Indayah. Gelar juara kerap kali dia peroleh dari pertandingan-pertandingan anggar yang digelar di Jawa Tengah.

Berkat prestasinya yang menonjol di bidang anggar, sewaktu masih kelas 3 SMEA, Mut Indayah terpilih sebagai atlet utusan Jawa Tengah untuk anggar jenis floret pada Pekan Olah Raga Nasional (PON) di Surabaya tahun 1969.

Anggar, kata Budi, bisa dikatakan sudah menjadi bagian hidup Sang Isteri tercinta. Bahkan, meski telah dikaruniai seorang anak, Mut masih aktif menggeluti dunia anggar.

Pada 1976, ‘kegilaan’ Mut Indayah pada olah raga anggar akhirnya berhenti dengan sendirinya karena, dia harus mendampingi Sang Suami Tercinta (sudah berpangkat Mayor) yang dipindahtugaskan sebagai Perwira Paban Madya di Kodam Bukit Barisan, Medan, setelah delapan tahun bertugas di Gombong.

Saat menyatakan kesediaannya dipinang Budi Harsono, Mut Indayah sangat memahami berbagai konsekuensi yang mesti dia lakoni sebagai seorang isteri tentara, termasuk mengikuti ke manapun dan di manapun Sang Suami ditugaskan oleh negara. Walau demikian, di tempat yang baru, Mut masih aktif bermain bola voli dan bola basket bersama ibu-ibu Persit. e-ti/af

05 | Teladan bagi Keluarga

Keteladanan sikap dan harmoni dalam keluarga adalah dua hal yang ditonjolkan oleh Budi Harsono selaku kepala rumah tangga.

Ada dua nilai kehidupan yang Budi Harsono petik dari pengalamannya semasa mendapat bimbingan dan asuhan kedua orang tuanya. Nilai-nilai itu adalah keteladanan dan kerukunan orang tua.

Dan dua nilai kebaikan itu kemudian dia terapkan juga kepada anak-anaknya, tentu dengan menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi saat ini. Bagi Budi, dua nilai itu sangat diperlukan agar anak-anak dapat bertumbuh dan berkembang dalam suasana yang nyaman.

Secara konkret, sebagai pemimpin rumah tangganya, Budi Harsono senantiasa menanamkan kepada seluruh anggota keluarganya pendidikan moral, seperti nilai agama dan budi pekerti.

Nilai-nilai itu ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin sebab bila diberikan setelah anak-anak besar relatif agak sulit mengubah perangai mereka.

Baginya, pendidikan moral sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak-anaknya ke depan. Pendidikan moral sekaligus juga akan membentengi anak-anaknya dari berbagai pengaruh negatif lingkungan sekitar.

Sebisa mungkin, dia selalu mengajak isteri dan empat anaknya untuk shalat berjamaah di rumah, terutama shalat Subuh dan shalat Maghrib. Gambaran shalat berjamaah (ayah sebagai imam sementara ibu dan anak-anak sebagai makmum) secara tidak langsung membentuk kesadaran dan pemahaman pada keempat anaknya tentang peranan masing-masing.

Sang ayah yang bertindak selaku imam shalat mencerminkan dia adalah sang pemimpin yang mesti dipatuhi dan ditaati, sedangkan ibu dan keempat anaknya yang menjadi makmum shalat merupakan yang dipimpin. Dari shalat berjamaah, kata Budi, seorang ayah bisa menunjukkan keteladanannya kepada anak-anaknya.

Sehabis melaksanakan shalat, anak-anak mencium tangan ayah dan ibunya. Itu adalah simbol penghormatan anak kepada kedua orang tuanya. Jadi, hemat Budi, shalat berjamah bersama keluarga adalah satu media pendidikan moral kepada anak-anak.

Tak berhenti sampai di situ makna dari shalat berjamaah. Dari aktivitas spiritual tersebut akan muncul kesadaran beragama pada anak-anaknya, yang juga akan menjadi fondasi dan bekal hidup mereka dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, seperti lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah.

Keluarga yang rukun dan harmonis pasti memberikan rasa nyaman kepada anak-anak. Sebaliknya, keluarga yang tidak harmonis dan tidak memberikan kenyamanan berdampak sangat buruk pada perilaku anak-anak. Karenanya, keutuhan dan kekompakan orang tua sangat menentukan perkembangan jiwa dan mental anak-anak.

Pada awalnya, setiap mendapat tugas dari negara ke daerah yang baru (tour of duty), dia memboyong keluarganya ke daerah baru tersebut. Namun karena selama satu tahun kadang sampai dua kali berpindah tugas, sementara anak-anaknya sudah mengikuti pendidikan lanjutan, akhirnya dia tidak mengikutsertakan keluarganya ke daerah tugas baru.

Sehingga, sehari-hari sang isteri, Mut Indayah, lah yang memainkan peran sangat besar dalam menanamkan pola pendidikan yang baik dan wawasan yang benar kepada anak-anak, mulai saat mereka kecil sampai akil balikh.

Dia sendiri, karena tuntutan tugas bahkan sering tugas ke luar kota, relatif jarang bertemu dengan anak-anaknya. Paling cepat satu minggu sekali dia baru bisa bertemu dengan keluarga.

Dalam mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti kepada anak-anaknya, Mut Indayah menggunakan kisah pewayangan sebagai medianya.

Kisah dan cerita perwayangan, seperti Mahabrata, mengandung nilai-nilai keteladanan, kebaikan, kepahlawanan, dan termasuk keangkaramurkaan.

Setelah anak-anaknya mulai meranjak besar, Budi Harsono dan Mut Indayah menerapkan pola lain untuk membangun wawasan tentang kehidupan kepada anak-anaknya.

Contohnya, anak-anak diajak berdiskusi tentang sebuah peristiwa hangat di masyarakat. Di kesempatan itu, dia lantas menanyakan pendapat dan pandangan anak-anaknya tentang peristiwa tersebut. Mereka diberi kebebasan mengutarakan pandangan masing-masing.

Hasil dari pendidikan dan pembinaan yang ditanamkan oleh Budi Harsono dan Mut Indayah kepada keempat putra mereka sangat membanggakan. “Alhamdulillah, anak-anak saya baik-baik semua. Dari aspek pendidikan, pendidikan anak-anak saya tertib.

Dua putra tertua mereka, Budi Indawan dan Sus Budi Indardi sudah menyelesaikan pendidikan sarjana bahkan telah meraih titel S-2. Putra ke-3, Budi Inda Timur Putra, kini berstatus mahasiswa Universitas Parahiyangan, Bandung. Putra bungsu, Budi Inda Catur Satya, masih bersekolah di salah satu SMU di Bandung.

Dari sisi spiritualitas, mereka tidak pernah lalai shalat. Mereka juga rajin berpuasa senin-kamis dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri, tanpa harus dipaksa,” ungkapnya penuh kebanggaan.

Sangat bersahaja nilai keteladanan yang ditanamkan Budi kepada anak-anaknya. Hidup ini semata-mata mencari ridho dari Allah SWT. Yang namanya nasib baik adalah karunia-Nya. Mendapatkan kemudahan hidup misalnya dapat menyelesaikan sekolah dan kemudian mudah mendapatkan pekerjaan adalah pertolongan Tuhan.

Hanya saja, dia berprinsip, pertolongan Tuhan tidak akan datang dengan sendirinya. Pertolongan Tuhan adalah buah dari perilaku kita yang baik. Seperti karena suka menolong orang lain atau lantaran rajin beramal. Jadi, semua itu ada mekanisme timbal-balik dan sebab-akibatnya.

Selain itu, kita akan mendapatkan kemudahan dalam hidup ini bila banyak berserah diri kepada-Nya dan senantiasa mengikuti segala petunjuk-Nya dalam melakoni hidup di dunia ini. “Prinsip melakoni hidup itu saya tanamkan juga kepada anak-anak,” tuturnya. e-ti/af

06 | Terapkan Disiplin Batin

Meski seorang tentara, budi tidak terlalu kaku menerapkan disiplin militer ke tengah kehidupan keluarganya, terutama kepada anak-anaknya. Dalam arti kata, dia tidak menerapkan disiplin yang ketat dan keras, sebagaimana yang dia jalani di dunia militer, kepada anak-anaknya.

Ayah dari empat orang putra: Budi Indawan, ST., MM, Sus Budi Indardi, ST., MM., Budi Inda Timor Putra, Budi Inda Catur Satya ini justru menerapkan prinsip-prinsip demokrasi di dalam rumah tangganya, khususnya dalam mendidik keempat anak laki-lakinya.

Pun dia tidak memaksakan kehendak kepada anak-anaknya agar mengikuti jejaknya menjadi seorang tentara. Keempat anaknya diberikan kebebasan menentukan masa depannya sendiri.

Penganut Islam yang taat dan figur Muslim yang sejak dulu sampai kini terbiasa melakoni puasa Senin-Kamis ini berpandangan, disiplin yang baik diterapkan adalah apa yang disebut disiplin batin.

Menurutnya, disiplin batin adalah kesadaran yang tumbuh dari setiap orang untuk mentaati setiap ketentuan, kelaziman, norma dan tata nilai yang menurut keyakinannya baik dan bermanfaat bagi dirinya.

Orang yang punya disiplin batin ini meyakini bahwa apa-apa yang dia kerjakan berdasarkan satu aturan tertentu pasti memberikan manfaat kepada dirinya.

Dengan kata lain, disiplin batin adalah disiplin yang tumbuh dari dalam diri seseorang itu sendiri. Tidak perlu dipaksa, ditakut-takuti, atau diancam dengan berbagai sanksi.

Dia menunjuk contoh, disiplin dalam mentaati waktu. Dalam Islam juga diajarkan, misalnya, melaksanakan ibadah shalat sangat diutamakan tepat pada waktunya dan tertib.

Dengan disiplin, hidup menjadi tertib. Bila hidup tertib maka hidup pun teratur, terencana, dan terprogram. Semua yang teratur dan terencana akan bermanfaat bagi yang bersangkutan.

Hidup yang teratur, terencana, dan terprogram akan membuat nyaman bagi siapa pun pelakonnya. Itulah salah satu manfaat bila disiplin menaati waktu.

Budi yang menggemari wayang kulit ini tidak menerapkan disiplin seperti tentara kepada anak-anak. Dia lebih menerapkan sikap keterbukaan, pendekatan kekeluargaan, dan suasana demokratis dalam keluarganya.

Pendekatan kekeluargaan dan saling pengertian, menurutnya, relatif lebih mudah diserap dan diterima anak-anaknya. Dia mendidik anak-anak melalui diskusi dan dialog.

Dia memang kadang dibuat jengkel oleh tingkah laku anak-anaknya. Tapi dia tidak sampai membuatnya marah besar. Dia merasa tidak perlu mengeluarkan kata-kata kasar kepada anak-anaknya, apalagi sampai memukul fisik mereka. Karena, “Saya tidak menerapkan pendekatan kekuasaan di dalam keluarga,” tandas penggemar olah raga tenis, golf, jogging, dan sepak bola ini. e-ti/af

07 | Sosok Budi di Mata Mut Indayah

“Pengalah dan Tidak Suka Konflik”

Banyak suka dan duka yang dialami Mut Indayah selama 34 tahun mendampingi Budi Harsono mengarungi bahtera kehidupan. Di mata wanita kelahiran Gombong, 14 Januari 1952, ini, Sang Suami adalah sosok pribadi yang sabar, nrimo (menerima apa adanya), dan bahkan cenderung mengalah hampir pada banyak hal.

“Walaupun suami saya sebenarnya benar, tapi masih dipersalahkan, beliau tetap nrimo dan ngalah saja. Mungkin itu sudah sifat bawaannya dari kecil yang sering mengalah,” ungkap Mut yang dinikahi Budi pada tahun 1972.

Kendati demikian, sesekali Mut Indayah menjadi kesal karena kesabaran Sang Suami dalam menghadapi orang lain, padahal orang itu menyakitinya. Sehingga tak jarang pula dia mengingatkan Budi agar bersikap yang tegas.

Penggemar wayang dan penerap falsafah tokoh wayang dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anaknya ini menambahkan, mengalah memang sebuah sikap yang bagus.

Tapi kalau selalu bersikap mengalah, dan terus-menerus diinjak-injak orang lain, lama-kelamaan bakal jadi kalah. Kalau terus-menerus mengalah, tidak tertutup kemungkinan, kita malah akan dilecehkan.

Jadi, kondisi itu perlu dibetulkan. Caranya? Kita harus mengoreksi, menegur dan kalau perlu memberi tahu agar orang lain mengerti bahwa kita tidak suka diperlakukannya dengan cara demikian. Tujuannya bukan untuk membalas dendam melainkan mengingatkan orang itu agar jangan memperlakukan kita seperti itu lagi.

Mut sering mengeluhkan sikap Budi yang tidak mau mengoreksi orang yang telah memperlakukan dirinya secara salah. Budi lebih memilih sabar dan nrimo saja ketimbang bereaksi.

“Tapi, mungkin itulah kelebihan Bapak. Beliau adalah seorang dengan karakter yang tidak mau menciptakan konflik,” aku Mut Indayah.

Berbeda dengan karakter Sang Suami, dia justru selalu berupaya menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya sampai tuntas. Sebab, dia tipe orang yang tidak mau menghindari masalah.

Namun setelah dia merenungkan, Mut mengakui bahwa ternyata prinsip yang diterapkan Sang Suami dalam menjalani kehidupan ada juga benarnya. Dia teringat pada sebuah falsafah Jawa: “Wong Ngalah Luhur Wekasane. Wong Nrimo Gede Rejekine”.

Artinya: ‘Orang yang mengalah akan ditempatkan Tuhan di posisi atas (luhur). Orang yang pasrah akan dilimpahi Tuhan dengan rezeki yang banyak’.

“Saya meyakini hanya peranan tangan Tuhan yang bisa menjadikan suami saya mampu meniti karir di militer sampai menjadi bintang tiga. Setelah pensiun pun, Tuhan masih memberi kedudukan kepada suami saya sebagai anggota DPR RI. Selanjutnya, dengan kedudukan tersebut otomatis orang menghormati kita dan tentu saja rezeki akan mengalir dengan sendirinya,” papar Mut Indayah.

Fokus pada Tugas
Pribadi khas yang juga melekat pada sosok Budi Harsono, masih kata Mut, adalah jika sedang mengerjakan sesuatu terutama tugas dari kantor, Sang Suami sangat fokus pada pekerjaannya.

Segenap pikirannya hanya tercurahkan pada tugas. Singkatnya, menyelesaikan tugas adalah nomor satu, sementara isteri dan anak-anak itu nomor dua. Mut sangat menyadari, Budi tipe orang yang amanah dan bertanggung jawab pada setiap tugas yang diembankan kepadanya, terlebih tugas-tugas dari kantor. Bapak berpandangan, tugas harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Sering kali, Budi baru bisa pulang ke rumah pada pukul 2.00 atau pukul 3.00 dinihari karena dia harus lembur menyelesaikan tugas di kantor dan. Rutinitas Budi seperti itu diterima apa adanya.

“Bapak orangnya cenderung sangat perfeksionis dalam urusan tugas. Bila, misalnya, besok akan mengerjakan sesuatu, Bapak pasti melakukan cek dan ricek apa saja yang harus disiapkan,” katanya.

Mut mengaku dapat memahami dan menerima sikap Sang Suami. Tak pernah sedikitpun terbersit di benaknya untuk memprotes suami karena dia selaku isteri telah dinomorduakan.

Dia tidak pernah bertanya kepada Budi apa yang sedang dikerjakannya sehingga harus pulang larut malam bahkan sampai pagi esok harinya. Meski kadang-kadang dimintai pendapat dan masukan oleh Sang Suami tentang beberapa hal menyangkut tugas kantor, tapi untuk urusan-urusan dinas luar kota, Mut cenderung tidak tahu sama sekali.

Paling diberi tahu, misalnya, Budi ke acara ini dan itu atau pergi ke luar kota mendampingi Panglima TNI atau Kasospol TNI di masa dinas militer. Atau, mendampingi atau mewakili Ketua Umum dalam kegiatan-kegiatan Partai Golkar.

Mut sendiri kebetulan punya kesibukan di Persit dan mengurusi anak-anak di rumah. Dan, yang paling mendasar, Mut adalah tipe isteri yang tidak suka menuntut banyak kepada suami, termasuk urusan materi.

“Semua mengalir begitu saja seperti air. Apalagi, dari dulu saya orangnya tidak banyak meminta ini dan itu kepada Bapak. Saya nrimo saja. Bagi saya, kami sekeluarga bisa makan saja sudah bersyukur,” ujarnya.

Mut berpegangan pada satu prinsip hidup, dia percaya kepada orang lain 100 persen, apalagi kepada suaminya sendiri. Misalnya, saat membangun rumah, dia pasti memberikan kepercayaan penuh kepada yang mengerjakannya. Kalau ditipu, baginya, itu urusan yang menipu kepada Tuhan. Mut percaya bahwa Sang Suami melaksanakan tugas di kantor dan mengerjakan hal-hal yang positif.

Kadang-kadang Mut sering ditegur oleh Budi karena terlampau mempercayai orang lain. “Kalau percaya sama orang itu jangan sampai 100 persen. Harus ada cadangannya bahwa tidak semua orang seperti Kamu,” kata Mut, mengutip kata-kata Budi.

Nrimo dan Bagja
Lepas dari itu semua, Mut yang mengaku senantiasa menghubungkan segala sesuatu dengan pendekatan religius meyakini bahwa sekarang Tuhan Yang Maha Kuasa melimpahkan ‘imbalan’ dan ‘bonus’ atas jerih-payah, ketekunan, dan keseriusan Sang Suami dalam mengemban tugas-tugas selama ini.

Dia sangat bersyukur, Sang Suami masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk tetap punya kegiatan dan tanggung jawab setelah pensiun dari dinas militer.

Ada resep utama Mut dalam membina rumah tangga agar langgeng dan berbahagia. Resep utamanya adalah sabar dan jujur serta memahami pekerjaan dan kegiatan Sang Suami.

“Saya harus nrimo dan sabar karena yakin semua yang dikerjakannya juga untuk keluarga, isteri, dan anak-anak,” kata penganut filosofi hidup: ”Kesempatan bukan hanya ada satu kali. Berani melepas kesempatan pertama karena yakin Tuhan pasti memberikan kesempatan selanjutnya”.

Mut menunjuk satu pandangan umum yang sering dipakai orang: ‘Kesempatan hanya datang sekali. Karena itu, kesempatan itu jangan dilepaskan tapi langsung diambil’.

Namun, pandangan umum itu tidak berlaku sepenuhnya bagi dirinya. Terkait dengan filosofi hidup yang dipegangnya itu, dia menekankan, walaupun kesempatan ada di depan mata, dia tidak akan serta-merta mengambilnya. Dia harus menakarnya baik-buruknya lebih dulu.

“Apabila kesempatan itu meragukan, maka saya akan melepasnya. Sebab, saya yakin Tuhan pasti akan mengganti pada kesempatan-kesempatan yang lain,” tandas wanita yang masih tampak energik ini.

Mut Indayah senantiasa mendambakan bagja atau nasib baik (keberuntungan) dalam kehidupannya. Menurutnya, kebagjaan diperoleh dari daya upaya (usaha) dan perbuatan. Bagja bisa terwujud berkat ikhtiar manusiawi yang bersandar pada nilai keikhlasan kepada Tuhan.

Misalnya, lewat usaha antara lain belajar dengan tekun, bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh bersikap baik kepada orang serta perbuatan antara lain beribadah dengan tekun, jujur, rendah hati dan banyak beramal. Namun ikhtiar tersebut harus didukung oleh keyakinan bahwa ada tangan Tuhan yang menentukan nasib kita. e-ti | af

Data Singkat
Budi Harsono, Ketua Fraksi TNI/Polri DPR-RI (2001-2002) / Meniti Karier dengan Ikhlas | Ensiklopedi | golkar, Politisi, Jenderal, TNI, DPR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here