Militer-Islam Mitra Sejati

[ Feisal Tanjung ]
 
0
127
Feisal Tanjung
Feisal Tanjung | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Feisal Tanjung, Jenderal TNI (Purn), mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (1993- 1998) dan Menkopolkam (1998-1999), kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 17 Juni 1939. Penulis buku ‘ABRI-Islam Mitra Sejati’ ini meninggal dunia di RS Siloam, Jakarta, sekitar pukul 06.25 WIB, Senin 18 Februari 2013.

Feisal Tanjung adalah lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1961. Kemudian semasa berdinas di militer pernah mengikuti berbagai pendidikan baik di dalam maupun luar negeri antara lain Kursus Lanjutan Perwira (Suslapa) Infanteri (1977), Lemhannas (1982), Sesko di Jerman Barat (1975) dan IDMC (International Defence Management Course) di USA (1981).

Feisal Tanjung mulai meniti karier militer sebagai Dan Ton 1 Kie 2 Kodam XV/Pattimura. Kemudian menjadi Dan Kie RPKAD, Dan Group I RPKAD, Dosen Seskoad (1972), Kas Brigif Linud 17 Kostrad, Dan Brigif Linud 17 Kostrad, Asops Kas Kostrad, Kas Kopus Linud Kostrad, Pangkopur Linud Kostrad, dan Dan Pusenif (1983-1985).

Pada tahun 1985, dia diangkat menjadi Pangdam VI/Tanjungpura, lalu dimutasi menjabat Dan Seskoad (1987-1992). Karier Feisal Tanjung melejit setelah pengangkatannya sebagai Ketua Dewan Kehormatan Perwira (DKP) karena adanya tragedi kerusuhan di Santa Cruz, Dili, Provinsi Timor Timur, 12 November 1991 yang diributkan pihak luar. Pengangkatan Feisal sebagai Ketua DKP sangat mengejutkan karena Panglima ABRI Jenderal Edi Sudrajat tidak merekomendasikan namanya dalam pembentukan DKP.

Di bawah kepemimpinan Feisal, DKP merekomendasikan pemberhentian Mayjen Sintong Panjaitan dari jabatannya sebagai Pangdam Udayana saat itu. Juga pencopotan Brigjen Rudolf Warouw dari Panglima Komando Pelaksana Operasi Timor Timur, serta Kapten Choki Aritonang dan beberapa bawahannya sebagai perwira pelaksana di lapangan.

Setelah itu, dia diangkat menjabat sebagai Kepala Staf Umum (Kasum) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (1992). Lalu mencapai puncak karier militer dengan menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) tahun 1993-1998. Sebelumnya, nama Feisal Tanjung tidak masuk unggulan nominasi sebagai calon Pangab. Yang lebih diunggulkan adalah Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar yang saat itu memegang jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Namun, oleh sesuatu sebab (masalah keluarga), Wismoyo kehilangan kesempatan menjabat Pangab. Feisal Tanjung memangku jabatan Pangab tanpa melalui jenjang Kepala Staf, sama halnya dengan LB Moerdani yang juga menjabat Pangab tanpa pernah menjabat Kasad.

Semasa Feisal Tanjung menjabat Pangab, berkembang rumor penggolongan ABRI Hijau, ABRI Pelangi dan ABRI Merah Putih. Dia Pangab pertama yang bergandengan tangan dengan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang pada awal reformasi berpengaruh kuat dalam Golkar ‘menggantikan’ posisi ABRI. Dia mantan Panglima ABRI yang terkesan lebih dekat dengan BJ Habibie ketimbang Soeharto. Pada 1997, dia menerbitkan buku berjudul ‘ABRI-Islam Mitra Sejati.’

Semasa Feisal Tanjung menjabat Pangab, berkembang rumor penggolongan ABRI Hijau, ABRI Pelangi dan ABRI Merah Putih. Dia Pangab pertama yang bergandengan tangan dengan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang pada awal reformasi berpengaruh kuat dalam Golkar ‘menggantikan’ posisi ABRI. Dia mantan Panglima ABRI yang terkesan lebih dekat dengan BJ Habibie ketimbang Soeharto. Pada 1997, dia menerbitkan buku berjudul ‘ABRI-Islam Mitra Sejati,’ dengan pengantar oleh Dr. M. Din Syamsuddin.

Selama karier militernya, Feisal telah mengemban beberapa penugasan operasi yakni Operasi Masohi Penumpasan RMS (1963), Operasi Trikora-Perebutan Irian Barat (1963), Operasi Dwikora-Konfrontasi Malaysia (1965), Operasi G 30 S/PKI (1965), Operasi Wibawa OPM di Irian 1967, Team ICCS G IV (1973), dan Operasi Seroja Timor-Timur (1976).

Atas pengabdiannya, Feisal menerima penghargaan (tanda jasa) dari Pemerintah RI, antara lain Bintang Mahaputra Adi Pradana, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Utama. Dia juga menerima berbagai Satya Lencana, antara lain Satya Lencana (SL) Santi Dharma X, SL Gerakan Operasi Merdeka (GOM III-RMS), SL Wira Dharma Dwikora, SL Satya Dharma Trikora, SL Penegak G 30 S-PKI, SL GOM IX Raksasa Dharma, SL Kesetiaan VIII, XVI, XXIV dan XXXII, dan SL Seroja serta SL Dwija Sistha.

Feisal Tanjung meninggal pada hari Senin, 18 Februari 2013 di Jakarta setelah lama menderita penyakit kanker empedu. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, dengan inspektur upacara Wakil Presiden Boediono. Dia meninggalkan isteri Masrowida Lubis dan tiga orang anak Astrid Tanjung, Yasser Tanjung dan Yusuf Tanjung beserta beberapa orang cucu. Penulis: Ch. Robin Simanullang | Bio TokohIndonesia.com

Data Singkat
Feisal Tanjung, Panglima ABRI (1983-1988) / Militer-Islam Mitra Sejati | Ensiklopedi | Militer, Panglima, Islam, ABRI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here