Keluarga Suatu Institusi Sakral

[ Yaumil C Agoes Achir ]
 
0
472
Yaumil C Agoes Achir
Yaumil C Agoes Achir | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prof Dr Yaumil Chairiah Agoes Achir meninggal dunia Selasa 1 Juli 2003 sekitar pukul 09.15, di Johns Hopkins-National University Hospital (NUH) International Medical Center Singapura. Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) ini meninggal pada usia 62 karena penyakit lymphoma (kanker kelenjar getah bening) yang telah mencapai stadium V dengan komplikasi penyakit diabetes.

Yaumil, yang dipanggil kalangan terdekatnya sebagai Bu Ade, ini dalam lima bulan terakhir sudah harus bolak-balik Jakarta-Singapura untuk kemoterapi.” Ia meninggalkan suami Ir Agoes Achir dan dua anak, Adiatiawarman dan Raesita, serta tiga cucu. Disemayamkan di rumah duka, Kompleks DPR II No 7A, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sebelum dimakamkan di TPU Karet hari ini (Rabu, 2/7/0), jenazah juga disemayamkan dulu di kantor BKKBN di Jalan Permata 1 Halim Perdana Kusuma Jakarta.

Puteri bangsa dari Pangkalan Brandan yang pada 20 Mei 2003 berusia 62 tahun ini memimpin BKKBN sejak 14 November 2001. Ia seorang ibu dan pemimpin bersuara lembut, bersikap hangat dan keibuan. Yaumil dikenal sebagai tokoh yang meyakini keluarga sebagai institusi sakral dapat mengatasi berbagai kendala yang menghambat partisipasi perempuan dalam pembangunan. Ia juga meyakini bahwa perempuan sebagai ibu yang paling berperan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Kita hidup di Indonesia dengan budaya keluarga,” ujarnya kepada Kompas, suatu ketika. Pandangan Yaumil tentang keluarga- Yaumil memang dilimpahi cinta di dalam keluarganya dan kehidupan keluarganya nyaris tanpa cacat-membuat ia seperti menegaskan masalah kekerasan dalam rumah tangga sebagai faktor yang justru mematikan langkah perempuan.

Namun, seperti dikemukakan Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Prof Dr Saparinah Sadli, upaya Yaumil meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan terus-menerus mensosialisasikan hubungan-hubungan yang terbuka antar anggota keluarga melalui program-program BKKBN harus dilanjutkan.

“Kita kehilangan tokoh perempuan yang duduk di dalam tingkat pengambilan keputusan. Posisinya sebagai Kepala BKKBN sangat strategis, meskipun ia harus meneruskan berbagai program dalam situasi yang sangat terbatas karena bantuan banyak berkurang,” ujar Saparinah.

Sebagai orang nomor satu di kantornya, Yaumil Agoes Achir dikenal tidak pernah menggunakan pendekatan kekuasaan. Bisa dipahami kalau kepergiannya meninggalkan rasa kehilangan dan kesan mendalam bagi para pegawai BKKBN.

Ia adalah seorang pekerja keras, sangat disiplin, tetapi punya rasa humor tinggi. Imam tidak melupakan perjumpaan terakhirnya dengan Yaumil pada perayaan ulang tahun Yaumil ke-62 pada 20 Mei di rumahnya. Ketika itu, Yaumil masih sempat membuatkan sambal.

Ketegaran dan semangat Yaumil yang tinggi sampai saat-saat terakhirnya ketika masih bisa berkomunikasi juga diakui Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Dr Siswanto Agus Wilopo dan Sekretaris Utama BKKBN Lalu Sudarmadi.
Menurut Siswanto, kanker getah bening yang diderita Yaumil Agus Achir termasuk Non-Hodgin’s lymphoma. Penyakit ini termasuk langka dan penyebabnya sampai sekarang belum diketahui.

Setelah chemotherapy di Singapura, sebenarnya keadaannya telah membaik. Akan tetapi, gula darahnya agak tinggi sehingga ia kembali masuk ke RS di Singapura sekitar dua minggu lalu. Karena pertahanan tubuhnya terus menurun, maka ia mendapat infeksi pneumonia.

Yaumil tidak menunjukkan gejala apa pun sampai Februari 2003. Semua asistennya tahu apa yang menjadi keprihatinan Yaumil-yang membuatnya terus bekerja keras-yaitu tidak ingin desentralisasi BKKBN berdampak negatif pada persoalan kependudukan. Karena itu, ia sangat ingin agar Keppres No 103 bisa selesai paling lambat pada akhir Desember tahun ini.

Yaumil C Agoes Achir dilahirkan di Pulau We, Sabang, tanggal 20 Mei 1941. Setelah meraih gelar doktor pada Fakultas Psikologi UI tahun 1990, ia kemudian menjabat sebagai dekan Fakultas Psikologi pada tahun 1992-1994. Pada tahun 1993, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Psikologi UI.

Sejak tahun 1994, ia memasuki birokrasi pemerintah dengan menjadi Asisten III Menteri Negara Kependudukan/ Kepala BKKBN Bidang Pengembangan Kualitas Penduduk. Sebelum diangkat menjadi kepala BKKBN, ia adalah Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Yaumil Chairiah Agoes Achir mengatakan banyak keluarga yang sama sekali tidak menganggap lingkungan keluarga merupakan hal yang penting mendapat perhatian serius. Padahal apabila perhatian terhadap lingkungan keluarga ini sudah disadari akan dapat diciptakan sebuah lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang anggota keluarga secara optimal.

Menurutnya, sesuai dalam UU No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional diamanatkan bahwa lingkungan yang diharapkan adalah kondusif bagi terwujudnya sehat fisik, mental, sosial dan spiritual. Dengan demikian lingkungan tersebut mencakup unsur fisik, biologis dan psikososial.

“Sedangkan dalam UU No. 10 tahun 1992 ayat 19 dikemukakan bahwa daya tampung lingkungan sosial adalah kemampuan manusia dan kelompok penduduk yang berbeda-beda untuk hidup bersama sebagai satu masyarakat secara serasi, selaras, seimbang, rukun, tertib dan aman,” kata Yaumil saat membuka seminar seharai “Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga’ di Jakarta. TI, dari berbagai sumber terutama Kompas 2/7/03

Data Singkat
Yaumil C Agoes Achir, Kepala BKKBN 2001-2003 / Keluarga Suatu Institusi Sakral | Direktori | Guru Besar, BKKBN, UI, Dekan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here