Mengurusi Perempuan dan Anak-anak

[ Linda Gumelar ]
 
0
80
Linda Gumelar
Linda Gumelar | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Sebelum menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014), ia pernah menjadi Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Ketua Dewan Pembina Yayasan Kesehatan Payudara, Dewan Pembina Yayasan Onkologi Anak Indonesia dan anggota DPR dan MPR periode 1992-1997. Sebagai menteri, perempuan yang pernah divonis menderita kanker ini harus mengatasi setumpuk persoalan seperti kekerasan, pelecehan, sampai perdagangan perempuan dan anak-anak.

Linda Gumelar, putri keempat dari enam bersaudara ini terlahir dalam keluarga birokrat. Ayahnya H. Ahmad Tahir bekerja di TNI AD dan sempat menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, sementara ibunda Linda, Hj. Rooslila Tahir pernah menjadi anggota DPR RI dan anggota Dewan Kesenian, selain juga dikenal sebagai seniman dan wartawati. Ibunya juga banyak bergerak di organisasi perempuan dan aktivis bahkan punya sekolah di Medan. Bakat kepemimpinan dan berorganisasi inilah yang kemudian diwarisi Linda dari kedua orang tuanya itu.

Istri Ketua Normalisasi PSII Agum Gumelar ini lahir di Bandung, 15 November 1951 dengan nama Linda Amalia Sari. Nama depannya diambil dari bahasa Spanyol yang artinya manis. Sedangkan Amalia artinya anak yang diharapkan beramal baik dalam ilmu, selalu memperhatikan orang yang sedang kesulitan. Sedangkan Sari artinya inti. Meski kedua orangtuanya memangku jabatan yang cukup penting, Linda dididik agar senantiasa bersikap rendah hati. Ketika ayahnya diangkat menjadi Panglima, ia diajarkan untuk selalu menerapkan pola hidup yang sederhana. Semua fasilitas jangan dipakai, misalkan ayahnya memakai ajudan, anaknya jangan ikut-ikutan.

Seperti anak tentara pada umumnya, wanita berdarah campuran Jawa-Batak-Padang ini sejak kecil sudah terbiasa hidup berpindah-pindah. Dari Bandung, Linda yang saat itu masih berusia dua tahun diboyong orangtuanya hijrah ke Jakarta. Linda kemudian disekolahkan di SD Cikini. Baru sekitar tiga tahun menetap di ibukota, ayah Linda diangkat menjadi atase militer di Roma, Italia, selama setahun. Linda pun melanjutkan pendidikan dasarnya di sana. Sekembalinya dari luar negeri, keluarga Linda kembali ke Jakarta dan tinggal di Perumahan Deplu. Kemudian, ibunya mendapat rumah di Panglima Polim, yang hingga kini menjadi kediamannya bersama keluarga. Linda dan saudara kandungnya yang lain disekolahkan di SD Kwitang V, Jakarta Selatan, yang letaknya tak jauh dari rumah.

Pengalaman berpindah rumah dan sekolah itu membuat Linda harus pintar-pintar beradaptasi dengan lingkungan baru. Menurutnya hal itu tidak mudah. Itulah sebabnya, Linda mengaku tak punya sahabat atau teman baik. Baru kenalan sebentar sudah pindah rumah. Ia baru berhasil menemukan sahabat sejati saat bersekolah di SMP 13 Jakarta. Pertemanan mereka bahkan cukup kental karena merasa senasib seperjuangan. Linda dan sahabatnya masih rutin bertemu di acara perkumpulan dan arisan. Begitu juga dengan jalinan persahabatannya dengan teman-teman di SMA 6 Bulungan Jakarta. Di sisi lain, pengalamannya berpindah-pindah itu punya sisi positif juga. Saat memasuki dunia organisasi di masyarakat, ia merasa lebih cepat menyesuaikan diri.

Setelah lulus SMA, Linda yang sempat bercita-cita menjadi dokter bertekad melanjutkan studinya ke Universitas Indonesia, tapi sayang ia tak diterima. Linda kemudian berkuliah di Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Sayang, ia tak bisa menyelesaikan kuliahnya karena menikah. Di kemudian hari, Linda berhasil meraih gelar sarjananya dari Universitas Terbuka, Fakultas Ilmu Sosial Politik, Jurusan Administrasi Negara.

Status lajang Linda berakhir setelah menerima pinangan Agum Gumelar. Pernikahannya dengan pria berdarah Sunda yang juga merupakan prajurit TNI dengan pangkat terakhir Letjen ini dikaruniai sepasang putra-putri, Haris Khaseli Gumelar dan Armi Dianti Gumelar. Pengalamannya sebagai anak tentara yang kerap berpindah-pindah merupakan hal yang merepotkan. Oleh karena itu, meski bersuamikan seorang tentara, Linda tak mengajak serta kedua anaknya, cukup dirinya saja yang mengikuti sang suami bertugas.

Dalam mendidik kedua anaknya pun, Linda banyak belajar dari pengalaman kedua orangtuanya. Salah satunya adalah mengajarkan buah hatinya untuk senantiasa bersikap rendah hati, meski kakek, ayah, dan ibunya memiliki kedudukan penting dalam pemerintahan.

Setelah pensiun dari dunia militer, Agum diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukkam) dan Menteri Perhubungan era Gus Dur. Ketika itu Linda setia mendampingi suami tercinta dalam menjalankan tugasnya. Linda juga aktif berorganisasi, bukan hanya sebagai anggota biasa tapi menduduki posisi penting dalam berbagai organisasi. Diantaranya sebagai Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang telah disandangnya sejak tahun 1999, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kesehatan Payudara, dan Dewan Pembina Yayasan Onkologi Anak Indonesia. Memimpin sebuah organisasi sebesar Kowani yang menaungi 78 organisasi wanita di seluruh Indonesia, dengan jumlah anggota 30 juta orang, menjadikan Linda kaya akan pengalaman.

Sebagai Ketua Kowani, Linda dituntut bekerja keras memperjuangkan nasib perempuan. Menurutnya, masalah perempuan di Indonesia sangatlah kompleks, mulai dari kekerasan, pelecehan, sampai perdagangan perempuan. Untuk itu, Linda dan organisasinya terus menggalakkan berbagai kegiatan dan pelatihan agar perempuan mempunyai kemandirian secara ekonomi. Sebab menurutnya, terjadinya trafficking karena masalah ekonomi dan minimnya pendidikan. Indonesia merupakan negara Asia yang paling sering terjadi kasus trafficking.

Bersama Kowani, Linda juga memperjuangkan pengesahan Undang-Undang Pornografi. Alasannya, pornografi dan pornoaksi ini berdampak negatif dalam kehidupan masyarakat, termasuk penyebab naiknya kasus perkosaan dan pencabulan. Linda juga sibuk mengelola sebuah kegiatan besar yang diselenggarakan rutin setiap tahun seperti International Beautiful, Smart and Healthy Women Expo.

Sedangkan keterlibatan dalam Yayasan Kanker dilandasi pengalaman pribadinya yang menyedihkan. Nyawa Linda nyaris terrenggut oleh ganasnya penyakit kanker payudara. Penyakit mematikan itu pertama kali terdeteksi di awal tahun 1996, ketika Linda hendak menunaikan ibadah haji. Linda sebenarnya sudah mengetahui ada benjolan di payudaranya. Namun ia tak menyangka benjolan yang tidak menimbulkan rasa sakit itu ternyata adalah kanker ganas.

Sebagai Ketua Kowani, Linda dituntut bekerja keras memperjuangkan nasib perempuan. Menurutnya, masalah perempuan di Indonesia sangatlah kompleks, mulai dari kekerasan, pelecehan, sampai perdagangan perempuan. Untuk itu, Linda dan organisasinya terus menggalakkan berbagai kegiatan dan pelatihan agar perempuan mempunyai kemandirian secara ekonomi. Sebab menurutnya, terjadinya trafficking karena masalah ekonomi dan minimnya pendidikan. Indonesia merupakan negara Asia yang paling sering terjadi kasus trafficking.

Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa kanker payudara yang diderita Linda sudah memasuki tahap stadium 2. Harapan hidup Linda diperkirakan tinggal 40 persen. Linda pun syok dan sedih. “Kayaknya dunia mau runtuh. Wanita mana yang tidak hancur hatinya manakala divonis umur tinggal sejengkal,” kata Linda seperti dimuat di laman Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. Bagai tersambar petir di siang bolong, kabar itu hampir melenyapkan mimpinya. “Bagi saya, itu pukulan besar. Seolah menyalahkan Tuhan, kenapa harus saya yang dipilih? Tapi akhirnya saya sadar, saya hanya bisa berserah diri. Kalau ditakdirkan sekarang pun, saya siap untuk dijemput,” kenangnya.

Di atas semua kegalauan itu, Linda Gumelar masih memiliki harapan besar untuk tetap hidup. Optimisme itulah yang melepaskannya dari jerat petaka. “Kala itu saya hanya bisa memohon kepada Allah Swt. Tuhan, jika ini adalah kehendak-Mu, saya pasrah. Namun, seandainya masih ada kesempatan bagiku, panjangkanlah umurku,” ucap mertua pebulutangkis Taufik Hidayat ini.

Atas rekomendasi aktris senior Rima Melati yang pernah mengalami penyakit serupa, Linda berobat ke sebuah rumah sakit khusus kanker payudara di Roterdam, Belanda pada Februari 1996. Di negeri ‘kincir angin’ itu, Linda mendapatkan keajaiban-keajaiban yang membuat semangat hidupnya bertambah kuat selain karena doa dari suami dan kedua anaknya.

Tiga bulan setelah tiba di negeri Belanda, Linda menjalani operasi kanker payudara. Operasi ini juga mengangkat kelenjar getah bening di ketiak kanan dan kirinya untuk menghentikan penyebaran sel kanker di tubuhnya. Setelah menjalani operasi itu, Linda dinyatakan sembuh. “Takdir Tuhan itu begitu indah. Beruntung saya masih memiliki cinta. Saya masih punya keluarga yang selalu memberikan semangat. Saya masih ingin menyaksikan anak-anak saya tumbuh dewasa. Alhamdulillah, akhirnya vonis dokter itu tidak terbukti. Allah Maha Besar,” ungkap nenek dua cucu ini. Sebagai mantan pasien kanker, Linda makin perhatian dengan kesehatannya. Gaya hidup sehat mulai dijalannya. Makan dengan teratur, banyak mengonsumsi buah dan sayuran dilengkapi dengan sedikit porsi protein hewani serta rutin minum susu, menjadi senjata utamanya untuk tampil fit setiap hari.

Yang tak kalah penting, Linda makin piawai mengontrol pikirannya, menjauhi stres dengan cara selalu berpikir positif. “Dulu saya selalu ingin mendapatkan sesuatu yang bernilai delapan. Pokoknya harus perfect. Sekarang saya tidak ngotot lagi. Dapat nilai enam saya sudah senang. Alhamdulillah, dengan cara begitu, saya bisa lebih rileks,” kata Linda.

Pada tahun 2009, giliran Linda yang dipercaya memangku jabatan sebagai salah satu pembantu presiden. Di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Linda ditunjuk menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menggantikan Meuthia Hatta. Sebagai Menneg PP dan PA, Linda Gumelar bertekad melakukan yang terbaik bagi bangsa. Baginya, melakukan suatu tugas itu adalah ibadah. “Jabatan itu hanya sementara. Di mata Tuhan, kita semua sama. Sebagai seorang menteri, sudah menjadi kewajiban saya untuk mendahulukan kepentingan bangsa ketimbang pribadi dan keluarga,” kata Linda dengan nada bijak dan merendah.

Melonjaknya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak mengharuskannya bekerja lebih keras. “Kalau kita peduli pada perempuan dan anak-anak, jangan sekali-kali mengeksploitasi kekerasan dan pelecehan. Kalau kita pro, dukung dan tolong mereka!” pungkas mantan anggota DPR dan MPR periode 1992-1997 ini.

Ketika berita tentang Ruyati binti Satubi yang dipancung di Arab Saudi pada 18 Juni 2011 mengemuka, Linda sebagai Menneg PP dan PA mengaku terkejut. Ia meminta agar Undang-Undang 39/2004 tentang Penempatan TKI direvisi. Dia beralasan, undang-undang itu minim pasal yang mengatur perlindungan.

Dia mencontohkan, dari seluruh isi undang-undang itu, hanya sembilan pasal yang mengatur soal perlindungan TKI di luar negeri. Sisanya, paparnya, hanya bicara soal pengaturan penempatan TKI itu saat bekerja di luar negeri. Bahkan, katanya, yang spesifik bicara tentang perempuan dalam undang-undang itu hanya satu kata. “Tentang perempuan hanya disebutkan satu kata, perempuan hamil tidak boleh jadi TKI, itu saja,” kata Linda.

Kendati sudah menjadi menteri, Linda bertekad akan tetap meluangkan waktu bersama keluarga guna menjaga keharmonisan rumah tangga. Perempuan yang mahir berbahasa mandarin ini akan tetap setia menjadi pendamping Agum Gumelar dan ibu bagi kedua anaknya. “Bagi saya, keluarga adalah segalanya. Saya akan terus meminta nasihat suami dan akan meluangkan waktu bersama anak-anak. Apalagi saat ini saya sudah punya cucu,” pungkas nenek dari Natarina Alika dan Nayotama Prawira ini. eti | muli, mlp

Data Singkat
Linda Gumelar, Menteri PPPA, 2009-2014 / Mengurusi Perempuan dan Anak-anak | Direktori | DPR, Menteri, Kowani, Universitas Pancasila

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here