Motivator Menulis dan Membaca

[ Hernowo Hasim ]
 
0
257
Hernowo Hasim
Hernowo Hasim | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Penulis buku best seller “Mengikat Makna”, “Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza”, “Quantum Reading”, dan “Quantum Writing” ini mulai menapaki karier kepenulisannya pada usia 44 tahun dan berhasil menulis sekitar 17 buku dalam waktu tiga tahun. Prinsipnya, menulis harus memberikan dampak yang memberdayakan bagi pembaca dan senantiasa menggabungkan menulis dengan membaca.

Tak ada istilah terlambat dalam berkarya. Itulah yang dialami oleh Hernowo atau yang lebih dikenal sebagai “Hernowo Hasim”. Karier kepenulisannya justru dimulai ketika usianya sudah berkepala empat. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-44 pada 12 Juli 2001, penulis yang telah bekerja di Penerbit Mizan selama puluhan tahun (sejak 1984) ini meluncurkan buku pertamanya “Mengikat Makna” yang langsung masuk kategori best seller. Selain Mengikat Makna, buku lainnya yang mencetak best seller adalah Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, Quantum Writing, Bu Slim dan Pak Bil: Kisah tentang Kiprah Guru “Multiple Intelligences” di Sekolah, dan Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar secara Menyenangkan.

Hernowo mengakui bahwa ia tak pernah bercita-cita menjadi penulis. Ia juga tidak berasal dari keluarga penulis. Ayahnya seorang pegawai kantor pajak sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Meskipun buku pertamanya baru dipublikasikan secara komersil pada tahun 2001, Hernowo sebenarnya telah menulis sejak SMA.

Kebanyakan buku yang ia tulis mengambil dua tema besar yakni tentang pengalaman membaca dan menulis, serta bagaimana menerapkan metode-metode baru kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.

Pada tahun 1993, saat duduk di bangku kelas III Madrasah Aliyah Negeri, Hernowo menerima honor tulisan pertama sebesar Rp. 7.500 dari tabloid Hikmah. Saat itu, tulisannya dimuat di rubrik kecil bernama “Mereka Bicara“.

Sepanjang tahun 1997-2002 ada juga beberapa tulisannya yang dimuat. Honornya mulai Rp. 50.000-Rp. 200.000 per tulisan. Menurut Hernowo, jika dibandingkan dengan honor di luar negeri, pasti honor penulis Indonsia tertinggal sangat jauh. Namun dengan semakin banyak media massa yang bermunculan berarti apresiasi masyarakat terhadap tulisan semakin bagus. Logikanya, nilai jual lebih tinggi lagi. Lahan bagi penulis pun semakin lebar.

Setelah meluncurkan buku pertamanya, hingga 2008, ia telah menghasilkan 29 judul buku. Yang luar biasa, 17 di antaranya ia selesaikan hanya dalam waktu 3 tahun. Kebanyakan buku yang ia tulis mengambil dua tema besar yakni tentang pengalaman membaca dan menulis, serta bagaimana menerapkan metode-metode baru kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.

Hernowo bisa kreatif menulis setelah merumuskan konsep “mengikat makna” yaitu memadukan kegiatan membaca dan menulis secara bersamaan. Kegiatan “mengikat makna” inilah yang dilakukan oleh Hernowo setelah berumur 44 tahun. Berkat kegiatan itu, Hernowo semakin banyak membaca dan semakin bergairah menulis apa pun yang didapatnya dari membaca.

Prinsip “mengikat makna” ini berulang kali dia tanamkan pada siapa pun yang berminat pada kegiatan membaca dan menulis. Prinsipnya: “Membaca adalah memasukkan kata-kata sebanyak mungkin ke dalam pikiran. Sementara menulis adalah mengeluarkan atau menampilkan pengalaman batin lewat bantuan kata-kata.”

Bagi Hernowo, menulis dan membaca merupakan dua kegiatan yang tak dapat dipisahkan. Adalah mustahil jika seseorang bisa menulis dengan enak dan lancar tanpa membaca. Demikian juga sebaliknya. Akan sangat sulit bisa membaca efektif tanpa menuliskan kembali hal-hal penting yang diperoleh dari membaca.

Setelah melakukan program “mengikat makna” secara berulang-ulang, pengagum Andrea Hirata ini menemukan formula khusus sebagai pembelajaran. Formula itu bernama brain based learning. Sukses dengan formula brain based learning, pendiri sekaligus pengajar di Mizan Learning Center (MLC) ini kembali menciptakan formula baru untuk mengonsep kegiatan membaca dan menulis berbasiskan cara kerja otak. Formula itu disebut brain based writing. Adapun maksud kata “writing” di situ, tak hanya menulis, tapi juga membaca.

Untuk meningkatkan kreativitas menulis, Hernowo menggunakan metode Mind Mapping, metode yang dicetuskan oleh Tony Buzan. Metode ini mengajarkan untuk menuliskan apapun yang tersimpan dalam pikiran, dengan menggunakan otak kanan dan otak kiri. Hernowo mengaku, lewat metode ini pula tulisan-tulisannya menjadi sangat logis, tertata dan urut.

Akibat cara itu, Hernowo makin bersemangat untuk menulis, hingga akhirnya ia menelurkan Andaikan Buku itu Sepotong Pizza. Berjarak dua tahun dari terbitnya buku tersebut, Hernowo kembali hadir dengan Vitamin T. Lewat buku ini, Hernowo ingin memberikan gizi bagi rohani para pembaca.

Kini, Hernowo benar-benar telah merasakan manfaat menulis dan membaca. Produktivitasnya pun makin meningkat dan tetap prima. Ia masih rajin menulis resensi buku, artikel-artikel motivasi seputar membaca dan menulis dan sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai seminar dan pelatihan menulis. Apa yang diyakininya, menulis adalah proses ‘menjadi’ dan ‘berkembang’, terus dilakoninya setiap hari. Bio TokohIndonesia.com | cid, red

Data Singkat
Hernowo Hasim, Penulis dan chief editor di Mizan publisher / Motivator Menulis dan Membaca | Direktori | penulis, menulis, motivator, Mizan, buku, editor, penerbit, membaca

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here