Pekerja Keras yang Religius

[ Falk Archibald Kemur ]
 
0
568
Falk Archibald Kemur
Falk Archibald Kemur | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Keterbatasan fisik tidak membuat Falk Archibald Kemur meratapi nasib. Dengan ketekunan, kerja keras dan penyerahan diri kepada Tuhan, ia menapaki karirnya dari bawah hingga menempati posisi strategis di sebuah perusahaan pembiayaan terkemuka di Indonesia. Sebagai pribadi yang peduli terhadap sesama, ia memimpin sebuah organisasi nirlaba bernama Increso.

Sedari kecil, Falk Archibald Kemur sudah menyimpan setumpuk pertanyaan. Sebab dia tidak bisa beraktivitas seperti anak-anak normal lainnya karena penyakit polio yang dideritanya sejak berusia 1 tahun. Ia sering merenung tentang mengapa Tuhan membiarkan ia dilahirkan seperti itu.

Meski lahir di tengah keluarga kristiani, Falk muda tidak terlalu memperhatikan kehidupan imannya karena sudah terlampau sakit hati dengan apa yang menimpanya. Tapi, di sisi lain, hati kecilnya tidak ingin meninggalkan Tuhan. Falk tetap mengikuti rutinitas keagamaan dan membaca Alkitab. “Saya otodidak buka Alkitab sejak usia 5 tahun,” ujarnya saat diwawancarai TokohIndonesia.com di kantornya di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat, 20 Maret 2012.

Falk memang tidak meninggalkan Tuhan tapi juga enggan mengandalkan-Nya. Makanya, Falk melewati hari-harinya bak air mengalir tanpa tujuan hidup yang jelas. Sejak kelas 6 SD, ia mulai tak bersemangat untuk sekolah. Hampir tiap hari sepulang sekolah hingga menjelang sore waktunya dihabiskan hanya untuk berenang. Jika di sekolah akan ada ujian, ia pasti langsung berdoa dan berharap agar pada hari itu juga ujian dibatalkan. Terkadang, ‘doanya’ itu dikabulkan.

Setamat SD, Falk yang menghabiskan masa kecilnya di Manado, Sulawesi Utara lalu hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan studi ke bangku SMP dan SMA. Falk tinggal berpindah-pindah di rumah beberapa kerabatnya. Selama bersekolah, Falk lebih banyak bermain daripada belajar. Akibatnya, ia pernah tinggal kelas saat duduk di bangku SMA.

Memiliki otak encer dan rasa ingin tahu yang besar ditambah lagi kegemarannya belajar secara otodidak membuat Falk mampu menguasai berbagai bidang ilmu selain makin piawai dalam bidang IT. Dengan modal ilmu yang dimilikinya itu, Falk mahir membuat beragam sistem untuk banyak perusahaan terkenal.

Pada masa SMA itulah, Falk kembali menemukan Tuhan. Suatu hari salah satu sahabat mengundangnya untuk ikut dalam sebuah kebaktian. Motivasi Falk datang ke tempat itu adalah ingin membuktikan bahwa orang Kristen itu pembohong semua. Selama 1 tahun Falk mencari bukti dan berbuah sia-sia. Ia justru semakin menyadari bahwa Tuhan selalu memperhatikannya selama ini. Apalagi dia melihat ketulusan dan kesungguhan teman-temannya sebagai pengikut Kristus. “Saya melihat kekuatan Tuhan dalam kehidupan mereka. Bayangkan saja, mereka bisa masuk UI tanpa tes padahal saya melihat mereka nggak pinter-pinter banget,” kenangnya tertawa. Dari situ Falk mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan dan tidak ‘mengandalkan’ manusia.

Setamat SMA, Falk ikut kerabatnya yang pindah ke Filipina dan memutuskan untuk tidak kuliah. Ia lebih memilih mengambil kursus IT (information and technology). “Saat itu saya emang nggak tahu ingin menjadi apa dan belum punya tujuan,” katanya.

Memiliki otak encer dan rasa ingin tahu yang besar ditambah lagi kegemarannya belajar secara otodidak membuat Falk mampu menguasai berbagai bidang ilmu selain makin piawai dalam bidang IT. Dengan modal ilmu yang dimilikinya itu, Falk mahir membuat beragam sistem untuk banyak perusahaan terkenal. Bahkan ia mendapat berbagai tawaran untuk bekerja di perusahaan yang menjadi kliennya seperti Citibank dan lain sebagainya.

Setelah tiga tahun bekerja menangani proyek di Citibank, Falk mendapat tawaran untuk bekerja di PT. Adira Dinamika Multi Finance. Untuk posisi awal, Falk duduk sebagai kepala IT, kemudian berlanjut menjadi kepala operation lalu Corporate Strategic & Analytic Division Head hingga akhirnya sebagai General Manager. Saat menjabat sebagai Corporate Strategic & Analytic Division Head, Falk bersama timnya ditugaskan untuk melakukan perubahan dan inovasi kerja di Adira. Memasuki awal tahun 2003, Falk bersama timnya mulai menerapkan strategi KPI (Key Performance Indicators) dengan menggunakan Balanced Scorecard di level korporat, divisi, area, cabang, hingga individu. Hal itu ditujukan untuk mempercepat perubahan dalam rangka Journey to Excellence yang menjadi motto utama bisnis Adira.

Dalam strategi itu terdapat aturan dan target perusahaan, bagaimana membuat pelanggan puas, bagaimana karyawan dapat memberikan hasil yang terbaik serta bagaimana perusahaan mendukung semuanya lewat jalur HRD (Human Resource Development). Sebelum merealisasikan program tersebut, Falk bersama timnya biasanya mempresentasikannya terlebih dahulu di hadapan CEO.

Perjuangan Falk bersama rekan-rekannya dalam membawa perubahan harus melewati jalan berbatu. Awalnya, ada penolakan dari sejumlah pimpinan di berbagai level karena melihat program baru yang diusung Falk dkk malah menambah pekerjaan. Tetapi, Falk berhasil meyakinkan mereka bahwa sistem ini sangat membantu untuk memantau dan memotivasi karyawan agar lebih produktif dalam bekerja.

Program yang dibuatnya bersama tim akhirnya membuahkan hasil. Jumlah karyawan Adira pada tahun 2004 meningkat hampir dua kali lipat (menjadi 10.000 orang lebih) dibandingkan 2003. Penjualan 2004 meningkat 55% menjadi Rp 1,013 triliun dan laba naik 93,97% menjadi Rp 301,3 miliar. Adira pun tumbuh sebagai perusahaan pembiayaan yang memiliki manajemen yang solid dengan budaya kerja khas Adira yang terus menerus dibina. Menurut Falk, Adira membangun kultur yang tidak seenaknya saja melainkan didasarkan pada pemahaman terhadap keadaan/situasi sehingga karyawan bisa memiliki loyalitas dan rasa memiliki terhadap perusahaan serta bisa mencapai target sesuai dengan keinginan perusahaan. Biasanya, bagi karyawan yang berprestasi akan diberikan reward/penghargaan yang didasarkan pada penilaian umum dan bukan pada penilaian atasan masing-masing.

Selain memompa semangat bekerja, para karyawan juga dihimbau untuk peduli kepada sesama terutama bagi mereka yang kurang mampu melalui sebuah organisasi yang diberi nama Increso. Organisasi sosial nirlaba yang berdiri pada 19 Oktober 2006 itu tidak berada di bawah bendera PT. Adira Dinamika Multi Finance tapi diprakarsai oleh salah satu direkturnya yakni Erida G Djuhandi. “Beliau mengajarkan bahwa di luar sana masih banyak orang yang harus ditolong. ‘Bisa anda bayangkan berapa banyak orang yang tanpa sadar bisa melakukan ini dan menolong 50 ribu orang padahal mungkin ada yang cuma menyumbang 10 ribu rupiah’,” kata Falk mengutip ucapan direkturnya itu.

Nama Increso sendiri merupakan penggalan dari slogannya yakni Inspiring other to share, Credible in what we do dan Solid team to serve. Lambang Increso yang terdiri dari tangan berwarna biru dan hati serta tanda plus mengandung filosofi, dengan tangan menolong orang sepenuh hati di bidang kesehatan.

Sebagai langkah awal, Increso terpanggil untuk menolong bayi dan lansia yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Selama 6 bulan berdiri, tak ada satupun pasien yang datang. Meski demikian, Falk dan rekan-rekannya yang rata-rata adalah para karyawan PT. Adira Dinamika Multi Finance tetap optimis untuk terus memajukan Increso.

Menolong orang miskin di bidang kesehatan tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Penggalangan dananya pun cukup menarik dengan mengajak semua karyawan untuk berempati. “Artinya, meski gajinya masih kecil jangan tunggu kaya baru memberi dan itu sudah dibudayakan sejak 3 tahun terakhir dan kami tidak memaksakan untuk jumlah nominalnya, asal tulus dan ikhlas. Setiap 6 bulan para penyumbang diwajibkan untuk menandatangani dokumen atas kerelaannya dan bukan dikarenakan paksaan,” terang Falk yang ditunjuk sebagai Ketua Increso.

Sejak didirikan, Increso telah berhasil membantu kurang lebih 45-50 ribu orang di seluruh Indonesia. Semua jenis penyakit dilayani kecuali penyakit AIDS, kecantikan, gigi dan kehamilan. Bagi penyakit AIDS itu sendiri, Falk memaparkan alasannya, “Selain nggak ada obatnya, kami tidak mau bagi-bagi uang karena ada perkumpulan lain yang bisa bantu itu, jadi kami nggak mau berkompetisilah. Untuk penyakit kanker diarahkan penyembuhannya dengan menggunakan pengobatan herbal sedangkan untuk stroke, Increso bekerjasama dengan yayasan akupuntur”.

Sedangkan kriteria tidak mampu/miskin adalah mereka yang pendapatannya memang tidak mencukupi untuk biaya pengobatan atau operasi. Selama menjalankan misinya, sudah banyak orang yang berhasil disembuhkan dan menjadi inspirasi bagi pasien lainnya yang membutuhkan dukungan agar cepat sembuh. Akan tetapi, tak sedikit pula yang berusaha menipu Increso dengan dalih untuk pengobatan.

Keberhasilan Increso dalam membantu sesama membuat Falk semakin optimis merajut impian bahwa kelak Increso ada di 33 provinsi dan tersebar di berbagai perusahaan. “Misalnya perusahaan X. Kalau mereka bergabung namanya jadi Increso X,” kata Falk. Untuk mewujudkan impian itu, Increso bersedia memberikan copy sistem, SOP (Standard Operational Procedure), peng-auditan termasuk memberikan modal awal sekitar 300-500 juta/tahun dan minimal bisa menolong empat pasien dalam sebulan. Sejauh ini, sudah ada beberapa perusahaan yang ikut bergabung dengan Increso.

Demi memperluas jangkauannya, Increso menjalin persahabatan dengan orang-orang dari aneka profesi atau lembaga dan institusi yang terbeban untuk membantu sesama. Selain para dokter, rumah sakit dan lain sebagainya, setiap orang yang memiliki kerelaan hati untuk menjemput dan mengantar pasien/penderita ke rumah sakit juga disebut sebagai sahabat Increso.

Saat disinggung soal peran pemerintah dalam mengatasi biaya berobat yang semakin mahal, Falk mengatakan,” Kita motivasinya nggak ada urusannya dengan pemerintah, nanti lama-lama kita jadi ‘tukang minta-minta’. Kalau ingin berbuat, lakukan saja seperti Tuhan bilang, kalau kamu memberi pakai tangan kiri, tangan kanan tidak boleh tahu,” katanya tegas.

Meski mengeluarkan dana yang tidak sedikit tiap bulannya, Increso yang berdiri resmi dengan ijin pemerintah ini belum pernah mengalami defisit. “Kalau dana habis kita stop saja, nggak rugi amat ‘kan, ngapain pusing,” jawab Falk tanpa beban. Boleh jadi, sistem keuangan yang ketat dan transparan serta diaudit secara teliti oleh tim eksternal audit menjadi beberapa faktor yang menopang ketahanan Increso dalam hal pendanaan.

Untuk lebih menyosialisasikan kegiatannya, Increso menerbitkan sebuah majalah internal dengan nama yang sama. “Dengan majalah, orang bisa melihat dari waktu ke waktu bagaimana kiprah dan sepak terjang kami serta sejauhmana perkembangan Increso sekaligus ajang penyebaran informasi. Majalah ini dibagi secara gratis,” kata Falk lagi.

Sukses yang diraih Increso rupanya tidak membuat Falk terdorong untuk menyalurkan bantuan model lain seperti memberikan beasiswa. “Nggaklah karena ada orang lain yang sudah mengurus hal itu. Kita fokus saja di Increso karena memang tidak gampang melayani orang miskin dan harus tepat. Jika salah kita akan melanggar hukum,” tegas Falk.

Falk memang dikenal sebagai pribadi yang fokus dan sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaannya. Meski cuma lulusan SMA plus kursus IT, Falk dipercaya menempati posisi strategis karena bisa diandalkan dan selalu bekerja melebihi panggilan tugas. Baginya, duduk di jenjang strategis tidak semata-mata karena sebuah gelar melainkan karena memberikan yang terbaik bagi perusahaan dan melebihi dari target yang diminta. Misalnya jika perusahaan memintanya 2 maka Falk akan memberi 3 atau lebih.

Selain berkerja keras dan selalu ingin memberikan yang terbaik melebihi target yang ada, Falk senantiasa menegakkan kedisiplinan agar dirinya tak mudah pantang menyerah. Di sisi lain, menurutnya keberhasilan yang dicapainya jangan diukur dari jabatan yang dipegangnya. Sesuai dengan prinsip yang dianutnya, “jangan mengejar uang tapi kejarlah keberhasilan karena dari keberhasilan itu bisa memotivasi orang lain untuk berhasil juga. Dan jangan lupa libatkan Tuhan dalam segala hal”.

Di tengah kesibukannya sebagai General Manager di PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk sekaligus Ketua Increso, Falk tidak melupakan waktu untuk keluarga. Bagi Falk, keluarga amatlah berarti sebab di situ ia bisa berbagi dan saling memberi kekuatan dengan istri dan ketiga anaknya. Apalagi sebagai penganut Kristen yang taat, Falk yang semasa muda tidak mudah berpacaran ini sangat menghormati pernikahannya.

Falk menuturkan bahwa perjalanan cintanya dengan sang istri, Rebecca Pangastuti, harus melalui jalan berliku. Perbedaan status profesi yang menyolok, ditentang calon mertua, dan hubungan yang terputus selama 1 tahun sempat menjadi pergumulan bagi Falk. Bahkan jauh sebelum berjumpa dengan Rebecca, Falk sudah bergumul antara melajang atau berumah tangga. Falk bercerita bahwa ia berdoa meminta tanda dari Tuhan apakah ia akan menikah dan siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya.

Singkat cerita, setelah melewati masa berpacaran yang berliku selama 7 tahun, Falk akhirnya meminta Rebecca untuk menjadi istrinya. Saat mengucap janji sehidup semati, Falk mengaku tak hanya berikrar demi sang istri tercinta melainkan juga terhadap Sang Penulis Hidup. “Saya berjanji sama Tuhan dan mengambil dia dari orangtuanya berarti saya bertanggung jawab akan masa depannya. Yang paling penting dari seorang pria adalah ‘kesetiannya’ sebab jangan pernah ada pembatalan kontrak/cerai karena itu yang paling dibenci Tuhan dan prinsip itu yang saya pegang,” ungkap Falk.

Boleh jadi, prinsip kesetiaan yang dianut Falk, selain diperoleh dari ketekunannya dalam membaca Alkitab, ia dapatkan pula dari teladan orangtuanya. Dari situ, ia mengajarkan ketiga anaknya untuk selalu setia dan takut akan Tuhan. “Jika ingin sukses harus memprioritaskan Tuhan di atas segalanya dan Alkitab juga menulis tentang akibat jika tidak mempercayai-Nya,” jelasnya.

Saat disinggung tentang obsesinya yang belum terwujud, Falk tak ingin muluk-muluk. Ia berharap, suatu hari nanti, ia, istri dan tiga anaknya bisa melayani Tuhan bersama-sama. Ia juga berharap Increso bisa terus menolong orang-orang yang tidak mampu sesuai visi dan misi yang ada serta tetap menjaga kesolidan tim. Perusahaan tempat ia bekerja pun bisa melahirkan para pemimpin yang hebat dan takut akan Tuhan. bety, san, mlp | Bio TokohIndonesia.com

Data Singkat
Falk Archibald Kemur, General Manager PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk / Pekerja Keras yang Religius | Direktori | Pengusaha, danamon, manajer, IT, Adira, Finance

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here