Aryanthi Baramuli Putri
Aryanthi Baramuli Putri | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Apa hubungan antara politik, tinju, dan kelapa? Bagi Aryanthi Baramuli Putri, tiga hal itulah yang membentuk dan mewarnai hidupnya saat ini. Masih ada lagi, Aryanthi senang mengumpulkan benda-benda purbakala dari waruga, kuburan kuno masyarakat Minahasa, juga bermain sepak bola. Maskulin? “Saya tetap perempuan,” tukasnya.

Pada bulan Desember, Aryanthi mengaku mendapat banyak undangan Natal di berbagai tempat. Biasanya, Aryanthi, pemeluk Islam, datang didampingi sang ibu, Albertina Kaunang, yang beragama Protestan. Bagi Aryanthi pertemuan dengan masyarakat adalah hal yang menyenangkan. Selepas bulan Ramadhan Aryanti berhalalbihalal sampai ke pelosok desa.

“Kami berbagi kasih dengan kaum duafa, pertemuan dengan masyarakat menjadi ajang merukunkan diri,” ujarnya.

Sebagai politisi, Aryanthi saat ini adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) periode 2004-2009 mewakili daerah Sulawesi Utara. Tahun 2005, Aryanthi menjadi calon wakil gubernur Provinsi Sulawesi Utara dari Partai Golkar, meski akhirnya kalah dalam pemilihan gubernur secara langsung pertama di Sulut itu.

Jalan hidup menjadi politisi tak pernah direncanakan sebelumnya, meski ia mewarisi “darah” politik di keluarganya. Ayahnya, almarhum AA Baramuli, menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi Utara dan Tengah pada 1960-1962 dan melalui perjalanan berliku di dunia politik hingga menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung pada 1998-1999. Ibunya, Albertina Nomay Kaunang, adalah mantan guru besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia (UI).

Aspirasi
Setelah meraih gelar sarjana hukum pada tahun 1987, Aryanthi menekuni bisnis keluarga di kelompok usaha Poleko Group. Salah satu bidang usahanya adalah pabrik tepung kelapa di Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Sulut, yang terletak beberapa ratus meter dari rumah Aryanthi, tempat kami berbincang-bincang santai, Minggu (16/12) lalu. “Sejak jadi anggota DPD, saya bolak-balik Jakarta-Manado terus. Empat puluh persen waktu saya ada di Sulut, untuk menjaring aspirasi masyarakat,” katanya.

Pengalamannya sebagai pengusaha tepung kelapa menjadi salah satu aspirasi yang ia bawa dalam sidang-sidang DPD di Jakarta. “Saat ini industri pengolahan kelapa kekurangan bahan baku karena tidak ada peremajaan lahan dan hasilnya sebagian besar diekspor. Sulut dijuluki ‘Provinsi Nyiur Melambai’, tetapi tidak memerhatikan kelapa,” ungkap alumni Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini.

Sebagai perempuan politisi, Aryanthi pun memperjuangkan kesetaraan hak-hak perempuan. Salah satunya adalah kesetaraan di bidang olahraga dengan memperjuangkan diakuinya cabang tinju perempuan di KONI. “Tinju tak ada bedanya dengan olahraga bela diri lain. Kalau di taekwondo atau karate ada atlet perempuan, mengapa di tinju tidak?” ujar Aryanthi yang menjadi Ketua Pengurus Daerah Persatuan Tinju Amatir (Pertina) Provinsi Sulut sejak tahun 2003 ini.

Menurut dia, tinju amatir justru lebih aman dibanding cabang bela diri lain karena dilengkapi dengan berbagai perangkat pelindung tubuh. Perjuangan tersebut berhasil setelah Indonesia resmi mengutus perempuan petinju pada SEA Games 2005 di Manila, Filipina. “Di Sulut paling banyak bibit perempuan petinju. Buktinya, pada SEA Games di Thailand kemarin, atlet Sulut yang meraih medali,” tutur satu-satunya perempuan di jajaran Ketua Pengurus Daerah Pertina seluruh Indonesia ini.

Tomboi
Rasanya sulit membayangkan Aryanthi yang berperawakan kecil dan lembut itu memimpin organisasi olahraga keras, seperti tinju. Namun, bagi Aryanthi, semua itu biasa saja karena ia sejak dulu terbiasa dengan berbagai kegiatan yang sering diidentikkan dengan laki-laki. “Jangan salah, saya dari kecil tomboi banget,” ungkap ibu dua anak ini.

Sifat maskulin Aryanthi tercermin saat bergabung dengan tim sepak bola UKI, kemudian masuk tim hoki. Di tim sepak bola Aryanthi berposisi kiri luar, yang tentu menguras tenaga karena harus berlari kencang saat timnya menyerang. Berapa banyak gol yang sudah dicetak Aryanthi? “Di sepak bola dan hoki saya berperan sebagai pengumpan. Filosofinya, saya merintis kemenangan tim,” katanya.

Kecerdasan dan keberaniannya sudah terlihat dan terasah sejak kecil. Saat masih berusia lima tahun, Aryanthi sudah hidup mandiri di sebuah sekolah asrama di Belanda. “Saya ikut Mami tugas belajar di Belanda dan disekolahkan di sebuah asrama. Berbulan-bulan saya tidak ketemu Mami,” kenangnya.

Di sekolah dasar, Aryanthi loncat kelas dua kali sehingga lulus lebih cepat dari teman-teman sebayanya. Berbagai aktivitas organisasi dijalani sejak sekolah, mulai dari menjadi Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) saat SMA hingga menjadi pengurus Resimen Mahasiswa saat kuliah.

Saking tomboinya, ayah Aryanthi merasa perlu mengirimkan anaknya ke sekolah khusus di Eropa agar kembali menjadi “perempuan”. “Waktu itu ayah juga khawatir saya lulus sarjana terlalu cepat karena usia saya baru 20 tahun. Jadi, saya dikirim ke finishing school di Swiss. Itu semacam sekolah etiket untuk putri-putri bangsawan Eropa,” katanya.

Sejak itu, Aryanthi mengaku menjadi lebih feminin dibanding sebelumnya. Bahkan, saat masih aktif sebagai pengusaha, ia selalu tampil anggun, seperti ditunjukkannya pada sebuah foto keluarga di dinding rumahnya. “Sebagai pengusaha, waktunya lebih leluasa karena jadwal diatur sendiri. Jadi, saya masih sempat merawat rambut panjang dan memakai kuteks. Sekarang, sudah enggak sempat lagi karena jadwal sudah diatur orang lain,” tutur Aryanthi yang kini lebih sering tampil bersahaja.

Meski lahir dan besar di Jakarta, Aryanthi merasa tak pernah lepas sama sekali dari kultur tanah leluhurnya di Sulawesi Utara. “Sejak dulu, Mami selalu mengajak orang-orang dari sini untuk bekerja di Jakarta. Jadi, di rumah, saya selalu bergaul dengan orang Manado,” ujarnya. Baru pada tahun 1995, setelah sebuah peristiwa menyedihkan dalam hidupnya, Aryanthi benar-benar kembali ke kampung halaman. Namun, justru di situlah titik balik perjalanan hidupnya. Aryanthi mulai melihat permasalahan-permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat Sulut, mulai dari kurangnya pendidikan kejuruan hingga kekurangan kelapa untuk bahan baku industri. Tahun 2002, saat institusi DPD resmi menjadi salah satu lembaga negara, Aryanthi memutuskan terjun ke dunia politik.

***

Aryanthi Perlu Digoda
Aryanthi sangat sulit tersenyum kalau dipotret. Ia tampak tegang setiap kali kamera membidik wajahnya. Untuk urusan foto, Aryanthi mengaku perlu “digoda”. “Lha, kalau gak digoda, gambarnya seperti ini, tegang banget,” katanya sambil menunjuk sebuah gambar dirinya di dalam kamera digital.

Sikap Aryanthi di depan kamera berbeda saat ia bercakap dengan lawan bicaranya. Entah itu siapa. Ia “mengobral” senyum sepanjang pembicaraan. Bagi Aryanthi, senyum itu penting. Di China, orang malah harus belajar senyum. Lalu kenapa kita malas tersenyum.

Karena senyum itu, Aryanthi cepat beradaptasi dengan masyarakat Kawanua yang suka senyum—smiling people. Dari senyumnya itu Aryanthi meluncur ke dunia politik, memberanikan diri maju dalam pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Sulawesi Utara dua tahun lalu.

Alhasil ia terpilih bersama tokoh yang sudah lama beken di daerahnya, sebut saja Edwin Kawilarang (pengusaha), Ny Sintje Sondakh Mandey (istri mantan gubernur), dan Marhany Pua (tokoh pemuda Sulut).

Ia mendompleng ketenaran ayahnya, AA Baramuli? “Ya mungkin saja, tetapi saya ingin jadi diri saya sendiri,” katanya. Nama Aryanthi memang cukup terkenal di kalangan masyarakat Sulut, tetapi Aryanthi perlu media memperkenalkan dirinya.

Namanya menghias hampir tiap hari di media lokal, mulai dari berita hingga iklan. Sebuah media lokal bahkan mem-blow up sepak terjang Aryanthi setiap hari dalam beberapa halaman.

Politik bagi Aryanthi adalah dunia penuh tantangan. Citra politisi di Tanah Air yang telanjur negatif tidak menghentikan langkahnya berkiprah di bidangnya. Aryanthi justru merasa memikul tugas besar, terutama tanggung jawab sosial kepada konstituennya.

Oleh karena itu, ia mendirikan sejumlah kantor perwakilan di sejumlah kabupaten di provinsinya. “Banyak teman di daerah yang membantu saya. Aspirasi masyarakat macam-macam, mulai dari persoalan jender hingga masalah pelanggaran hukum.” Sekarang ia tengah menangani kasus tanah warga di Bitung yang dicaplok oleh oknum pemerintah.

“Saya gak mau jadi politisi munafik dan standar ganda. Mereka mengkritik pemerintah dengan tujuan mendapat imbalan. Politisi seperti itu tak ubahnya pedagang, selalu berpikir untung rugi,” tukasnya.

Aryanthi mengibaratkan politisi adalah pelayan, siap berkorban, materi, waktu, dan tenaga. “Kalau mau enak, mending saya jadi orang biasa saja, setiap saat bisa pelesir ke luar negeri,” tambahnya sambil mengumbar senyumnya lagi. (Dahono Fitrianto dan Jean Rizal Layuck, Kompas, Minggu 23 Desember 2007) e-ti

Data Singkat
Aryanthi Baramuli Putri, Anggota DPD Sulut (2004-2009) / Politisi Perempuan Potensial | Direktori | Politisi, UKI, DPD

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here