Pahlawan Gigih dari Palembang

[ Sultan Mahmud Badaruddin II ]
 
0
2431
Sultan Mahmud Badaruddin II
Sultan Mahmud Badaruddin II | Tokoh.ID

[PAHLAWAN] Raja Kerajaan Palembang yang anti campur tangan asing ini berulang kali memukul mundur pasukan Belanda dan Inggris. Karena perjuangannya melawan penjajah, ia hidup dalam pengasingan selama 31 tahun.

Raden Hasan lahir di Palembang pada tahun 1767. Panglima perang yang disegani itu dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Palembang pada tahun 1803 untuk menggantikan ayahnya, Sultan Mahmud Badaruddin. Ia kemudian dikenal sebagai Sultan Mahmud Badaruddin II. Di masa mudanya, ia tekun mempelajari ilmu pengetahuan dan bahasa sehingga di samping menguasai bahasa ibu, ia dapat berbahasa Arab dan Portugis serta hafal isi Kitab Suci Al-Quran.

Ketika menjadi pemimpin Kesultanan Palembang, kebijakan luar negerinya diwarnai oleh semangat anti campur tangan terhadap urusan pemerintahan kerajaan. Kebijakan itu juga dibarengi dengan usaha memperkuat pasukan bagi pertahanan kerajaannya.

Sejak itu, ia berusaha membebaskan Palembang dari pengaruh kekuasaan Belanda. Untuk itu, ia menjalin kerja sama dengan penguasa Inggris di Penang, Malaysia, dimana ia kemudian memperoleh banyak senjata.

Perang dengan Belanda akhirnya tak dapat dihindarkan. Sementara itu, Belanda juga mengalami kekalahan pada saat melawan Perancis di bawah komando Kaisar Napoleon Bonaparte. Raja Belanda Willem V mengungsi ke London dan menyerahkan wilayah Hindia Belanda kepada Inggris.

Untuk mempertahankan wilayah Hindia Belanda, pemerintah Perancis mengirim Herman Wilhelm Daendels yang kemudian memerintah Hindia Belanda sebagai Gubernur Jenderal dari tahun 1808-1811, yang tunduk kepada penguasa Perancis. Selanjutnya, Yansens yang menggantikan Daendels pada tahun 1811 tidak mampu berbuat banyak menghadapi serangan Inggris. Yansens kemudian menyerah tanpa syarat kepada Inggris pada tahun 1811 di Tuntang (dekat Ambarawa, Jawa Tengah).

Dalam pertempuran di Sungai Aur tanggal 14 September 1811, pasukan Belanda dapat dihancurkan Sultan Mahmud Badaruddin II. Dengan demikian, Palembang dapat dibebaskannya dari kekuasaan Belanda. Namun pada bulan September itu juga, Inggris merebut Indonesia dari Belanda. Sultan Badaruddin II tidak mau mengakui kekuasaan Inggris atas Palembang. Inggris memaksakan kehendaknya dengan kekuatan militer. Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stanford Raffles yang merasa memiliki wewenang atas Hindia Belanda mengutus tiga orang opsirnya ke Palembang. Tujuan pengiriman itu adalah untuk mengambil alih kongsi dagang Belanda di wilayah itu. Tetapi, utusan itu ditolak oleh Sultan Badaruddin II.

Tentu saja, hal itu menyebabkan Raffles yang memerintah Hindia Belanda antara tahun 1811-1816 menjadi marah. Pada 20 Maret 1812, ia mengirimkan ekspedisi pasukan di bawah Jenderal Robert Rollo Gillispie. Kedatangan pasukan Inggris itu disambut dengan perlawanan sengit oleh pasukan kerajaan. Karena persenjataan musuh lebih besar maka Sultan Badaruddin II yang ketika itu menyingkir ke Muara Rawas, menggunakan taktik gerilya. Perang gerilya itu banyak merugikan kedudukan Inggris sehingga harus mengakui keberadaan Kesultanan Palembang.

Sesuai dengan Konvensi London tahun 1814, kekuasaan Belanda di Indonesia dipulihkan. Pada bulan Juni 1818, Palembang dikembalikan Inggris kepada Belanda. Badaruddin II diangkat kembali menjadi sultan. Akan tetapi, di daerah pedalaman, rakyat bergolak menentang kembalinya kekuasaan Belanda. Belanda menuduh Sultan Badaruddin II berdiri di belakang pergolakan itu.

Untuk mengatur keadaan Indonesia, pemerintah Belanda mengangkat tiga komisaris Jenderal yaitu van der Capellen, Buyskes, dan Elout. Kemudian van der Capellen diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Untuk itu, pasukan Belanda mengadakan serangkaian tindakan militer namun mendapatkan perlawanan sengit dari Sultan Badaruddin II. Untuk mematahkan perlawanan Sultan Palembang itu, tentara kolonial mendatangkan dua kapal perang yaitu Eendracht dan Ayax. Kapal-kapal itu berlabuh dekat Keraton Besak, tempat sultan bertahta.

Perang besar pun terjadi selama tiga hari tiga malam. Belanda kemudian mengerahkan kapal perang lain yang dikepalai oleh Jenderal Schubert dan Laksamana Wolterbeek. Ekspedisi perang pun mengalami kekalahan sehingga dikirimkan kembali suatu ekspedisi di bawah Jendral Baron de Kock. Pada bulan Juni 1819, pasukan Belanda berusaha merebut keraton, tetapi gagal. Sultan Badaruddin II diajak berunding, tetapi ia menolak. Perlawanan Sultan Badaruddin II bersama pasukannya tidak dapat dikalahkan sehingga pasukan Belanda harus mundur.

Pada tahun 1821, Belanda mendatangkan pasukan yang lebih besar di bawah pimpinan Mayor Jenderal Marcus de Kock. Pertempuran pun pecah kembali. Belanda berhasil menduduki Benteng Kembar dan Plaju. Dengan demikian, jalan menuju Palembang terbuka. Jenderal De Kock mengultimatum Sultan Badaruddin supaya menyerah, tetapi tidak diindahkan Sultan. Belanda pun melancarkan serangan besar-besaran.

Karena dengan jalan perang, Belanda tidak dapat mengalahkan Sultan maka diadakan siasat khusus. Pada suatu hari Sultan Badaruddin II diberi tahu bahwa Susuhunan Husin Dhiaudin dan Prabu Anom mengundang Sultan untuk berunding di atas sebuah kapal Belanda. Sultan Badaruddin II pun tanpa menaruh curiga datang ke tempat perundingan dimaksud. Seketika itu, ia ditangkap karena perundingan itu hanya merupakan perangkap Belanda. Pada 1 Juli 1821, keraton Palembang diduduki Belanda.

Mula-mula Sultan yang gagah berani itu dibawa ke Batavia kemudian diasingkan ke Ternate. Dengan tertangkapnya Sultan Badaruddin II maka padam juga perlawanan kerajaan Palembang yang diganti dengan penguasa-penguasa yang tunduk kepada pemerintah Belanda. Masa pengasingan itu dijalaninya dengan tabah. Sultan Badaruddin II hidup dalam pengasingan selama 31 tahun sampai saat meninggalnya pada 26 November 1852.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Sultan Mahmud Badaruddin II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. e-ti

Data Singkat
Sultan Mahmud Badaruddin II, Sultan Kerajaan Palembang (dinobatkan pada tahun 1803) / Pahlawan Gigih dari Palembang | Pahlawan | pahlawan nasional, Sultan, kerajaan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here