Presenter Cerdas dan Berani

[ Ira Koesno ]
 
0
233
Ira Koesno
Ira Koesno | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Gayanya yang khas, lugas dan kritis saat menjadi presenter berita di stasiun televisi SCTV melambungkan namanya. Peraih dua gelar master dari universitas di Inggris ini kemudian mundur dari dunia pertelevisian karena ingin mengembangkan usahanya sendiri. Namun pada tahun 2010, ia pulang kandang ke dunia yang membesarkan namanya dengan memandu talkshow bertajuk Satu Jam Lebih Dekat yang disiarkan TV One. 

Sebelum terjun ke dunia jurnalistik, sarjana akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini sempat bekerja sebagai akuntan di Auditor KPMG Hanadi Sujandro, sebuah perusahaan akuntan publik. Ia bertanggung jawab melakukan audit pos neraca, verifikasi, konfirmasi, dan stock opname. Satu tahun berkarir sebagai akuntan, bungsu dari dua bersaudara ini mencoba alih profesi. Sekitar Februari 1996, ia melamar ke SCTV, yang saat itu membutuhkan reporter dan presenter.

Tanpa harus melewati proses panjang yang melelahkan, ia langsung diterima. Bungsu dari dua bersaudara pasangan Koesno Martoatmodjo dan Sri Utami ini beruntung karena menjalani profesi yang sesuai dengan minat dan bakatnya. “Saya punya dua dunia yang saya senangi, pertama finansial dan yang kedua tulis menulis. Setelah mencoba menjadi akuntan, saya ingin mencoba jadi wartawan,” tutur pemilik nama lengkap Dwi Noviratri Martoatmodjo ini. Yang ada dalam pikirannya saat itu, wartawan adalah pekerjaan menyenangkan dan penuh tantangan.

Sebagai seorang jurnalis senior, perempuan kelahiran Jakarta 30 November 1969 ini telah melalui sejumlah peristiwa. Mulai dari meliput langsung peristiwa darurat militer di Aceh, hingga pengalaman yang sulit ia lupakan yakni ketika ia mewawancarai mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja pada tahun 1998.

Ira bersama jajaran lainnya dipanggil oleh salah seorang pemegang saham SCTV dan keluarga Cendana. Pangkal masalahnya adalah istilah “cabut gigi” yang pada waktu itu dilontarkan sang narasumber, Sarwono. Istilah itu merujuk pada arti yang meminta Soeharto (Presiden RI kala itu) untuk mundur. Pada waktu itu, kebebasan berbicara dan berpendapat di Indonesia di bawah kepemimpinan Soeharto masih terbelenggu.

Ira pun sejak awal menyadari sensitivitas dari istilah itu. Oleh karena itu, ia meminta Sarwono agar tidak menggunakan istilah ‘cabut gigi’ dan hanya berpatokan pada skenario yang telah disiapkan redaksi Liputan 6. “Tapi ia malah mengancam tidak mau tampil jika tidak diperbolehkan melontarkan istilah tersebut,” kenang Ira. Pemanggilan itu berujung pada permintaan agar Ira tidak siaran dulu selama beberapa hari.

Peristiwa kurang menyenangkan yang menimpanya pada waktu itu tak lantas mengurangi kekritisannya. Di era reformasi, saat pers sudah terbebas dari belenggu kekuasaan pemerintah Orde Baru, Ira semakin leluasa melontarkan pertanyaan pedas namun cerdas pada narasumbernya.

Di stasiun televisi SCTV yang berjasa membesarkan namanya, peraih dua gelar master, yakni Master of arts bidang film dan produksi televisi (2000) dari Universitas Bristol, serta Master of arts bidang jurnalistik internasional (2001) dari Universitas Westminster ini mulai diberi kepercayaan untuk melebarkan sayapnya di dunia jurnalisme. Ia tidak lagi hanya membawakan program berita, tapi juga didaulat menjadi Asisten Produser Liputan 6 siang dan Produser investigasi “SIGI”.

Sebagai seorang jurnalis senior, perempuan kelahiran Jakarta 30 November 1969 ini telah melalui sejumlah peristiwa. Mulai dari meliput langsung peristiwa darurat militer di Aceh, hingga pengalaman yang sulit ia lupakan yakni ketika ia mewawancarai mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja.

“Debat Presiden 2004” merupakan acara terakhir yang dipandunya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mundur dari dunia pertelevisian di tahun 2004 karena ingin mengembangkan usahanya di bidang jasa strategi komunikasi terpadu, bernama Ira Koesno Communications (IKComm).

IKComm bergerak di bidang jasa media dan PR (Public Relation) konsultan, pelatihan media dan PR, kampanye publik, menajemen isu, dan hubungan dengan pemerintah. Didukung tenaga profesional yang kaya pengalaman di bidang komunikasi dan goverment relations, ia optimistis IKComm mampu menjaga komitmen dan memberikan hasil terbaik bagi klien. “Saya sibuk mengurus perusahaan. Untuk mengembangkan usaha butuh konsentrasi penuh. Perusahaan tidak akan besar jika ditangani setengah-setengah,” ujarnya. Berhubung usaha yang didirikannya masih berskala kecil menengah, Ira belum bisa meninggalkannya sepenuhnya. “Saya perlu waktu sampai usaha ini bisa jalan stabil. Meski sudah ada tim, tapi masih perlu pendamping,” terangnya.

Langkahnya sebagai wirausahawan tentu terasa lebih ringan karena ia memulai di bidang yang sudah dikenalnya. Dalam perkembangan selanjutnya, berhubung usahanya tersebut sudah bisa ditinggal karena telah ada anak buah yang andal dan dapat dipercaya untuk mengurusinya, ia pun ingin kembali ke dunia televisi. Jika dulu ia lebih dikenal sebagai presenter berita, di tahun 2010 ia menerima tawaran untuk memandu talkshow bertajuk Satu Jam Lebih Dekat yang disiarkan TV One. Walaupun namanya telah dikenal masyarakat sebagai jurnalis dengan segudang pengalaman, namun karena lama tak muncul, ia pun mengaku harus memulai dari awal lagi dan banyak belajar.

Nama besarnya sebagai seorang presenter rupanya belumlah pudar. Sejumlah tawaran terus berdatangan namun ditolaknya. Ira memang dikenal sebagai sosok idealis yang tak sembarangan menerima tawaran begitu saja. Ia kemudian lebih memilih untuk bergabung dengan TV One, televisi pimpinan Karni Ilyas, mantan atasannya ketika masih bekerja di SCTV. Setelah itu, manajemen stasiun televisi yang mempunyai motto Terdepan Mengabarkan itu menyodorkan sejumlah program untuk dipilihnya. Setelah dipelajari, ternyata Satu Jam Lebih Dekat yang lebih cocok.

Program bincang-bincang yang dulu sempat dibawakan mantan anchor SCTV lainnya, Indy Rahmawati, ini menghadirkan banyak tokoh nasional. Menurut Ira, setiap tokoh punya karakter berbeda-beda. Perbedaan itulah yang menjadikan program itu memiliki daya tarik tersendiri.

Pengalamannya mewawancarai sejumlah tokoh dengan berbagai latar belakang dan ciri khasnya masing-masing membuat Ira sangat paham bagaimana cara “menghidupkan” sebuah program. Salah satu cara yang ia lakukan adalah mengangkat kekuatan (daya tarik) yang dimiliki sang tokoh. “Saya harus mampu mengeluarkan kekuatan mereka. Jika kekuatannya tidak muncul, berarti saya gagal. Saya harus banyak berlatih kembali,” tambahnya. Namun Ira menegaskan, kembali ke televisi bukan berarti dia kembali ke jurnalistik.

Sebab menurutnya, jurnalistik membutuhkan komitmen tinggi dan tidak bisa dikerjakan dalam waktu singkat. Bukan hanya itu, menjadi seorang jurnalis harus panggilan jiwa. Seseorang tidak bisa menjadi seorang jurnalis yang baik kalau tidak berasal dari panggilan jiwa. Karena untuk menjadi seorang wartawan banyak hal yang harus dikorbankan, di antaranya harta dan siap bekerja 24 jam. “Kita tidak bisa mencari kekayaan dari jurnalis. Kalau mencari uang jangan jadi jurnalis, nanti akan menghamba pada uang,” pesan Ira bijak. Prinsip inilah yang telah ia tanamkan semenjak pertama kali menjadi wartawan. e-ti | muli, red

Data Singkat
Ira Koesno, Presenter dan Presdir Ira Koesno Communications / Presenter Cerdas dan Berani | Selebriti | Wartawan, Akuntan, UI, direktur, presenter, penyiar, FEUI, broadcasting

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here