Berlari dalam Keterbatasan

[ Amin Alwakiah ]
 
0
54
Amin Alwakiah
Amin Alwakiah | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Cacat tangan bagi Amin Alwakiah adalah kelebihan yang terselubung. Dia menemukan jalan untuk membuka selubung itu, dengan menekuni atletik sekaligus mengasah bakat istimewa di balik sosok atlet difabel.

Sejak lahir, Amin hidup dengan tangan kiri putus hingga siku. Namun, hal itu tak menyurutkan niatnya untuk belajar di sekolah umum dan menggeluti atletik. Spesialisasinya lari jarak pendek.

Tak mudah berlari dengan tangan yang tidak sama panjang karena gerak tubuh menjadi kurang seimbang. Namun, Amin terbiasa melatih keseimbangannya sejak kecil dengan bersepeda.

Untuk mengasah kemampuan, dia mengikuti lomba lari 10 kilometer di Surabaya saat berusia 17 tahun. Hatinya ciut karena dia satu-satunya peserta difabel. Ia gagal masuk 10 besar pelari tercepat.

Meski gagal, Amin percaya bakat bisa dipoles. Itulah momentum yang membuat dia menenggelamkan diri di dunia atletik dan bergabung dengan Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Surabaya, Jawa Timur, wadah pembinaan olahraga difabel.

Ia kian bersemangat setelah bertemu dengan para difabel seperti dirinya. Perasaan senasib membuat mereka saling menguatkan karena merasa “berbahasa” sama. Atlet tunadaksa yang lebih mudah memahami instruksi pelatih ikut menerangkan kepada kawan tunarungu-wicara.

“Solidaritas seperti itu menguatkan saya untuk menjadi atlet,” ujarnya.

Jenjang demi jenjang kejuaraan dia ikuti hingga terpilih mewakili Indonesia di Paralympic Games di Sydney, Australia, tahun 2000. Tak seorang pun wakil Indonesia merebut medali emas, termasuk Amin.

Ia menduga kegagalan Indonesia karena olahraga difabel masih berorientasi rehabilitasi, belum sepenuhnya prestasi. Muaranya, pembinaan di daerah cenderung tersendat, tak muncul atlet muda. Tahun 2000 itu, di Surabaya pun belum ada pemusatan latihan olahraga difabel yang intensif dan berkala untuk mencetak atlet berprestasi.

Kondisi itu membuat difabel yang mengikuti kejuaraan olahraga hanya berlatih “dadakan”, padahal prestasi tak bisa dicetak secara instan.

Baru pada tahun 2005, berkat dorongan komunitas difabel, BPOC Surabaya membentuk pemusatan latihan cabang (puslatcab) yang berorientasi prestasi. Ketika itu usianya 36, maka Amin memilih menjadi pelatih.

Saling percaya

Babak awal kehidupannya sebagai pelatih tak mulus. Meski berpengalaman 11 tahun sebagai atlet, ia kesulitan menangani atlet difabel. “Saya sempat bingung bagaimana cara mengajari tunanetra melempar lembing, kalau melihat lembing saja dia tak pernah.”

Seminar kepelatihan yang dia ikuti dua kali sebulan pun tak secara spesifik memberikan panduan melatih difabel berolahraga. Setelah berbulan-bulan memikirkan cara yang tepat, Amin menyadari ia harus ikut mendampingi atlet satu per satu.

Untuk mengenalkan lembing kepada tunanetra, ia membimbing tangan atlet menyusuri lembing mulai dari pangkal, buku bambu, hingga ujungnya yang runcing. Ia membetulkan letak lembing di genggaman atlet, juga posisi kaki saat bersiap melempar.

Pendampingan intens juga dia tunjukkan saat melatih tunanetra berlari. Pergelangan tangan atlet dan pelatih ditautkan dengan tali. Bila atlet terjatuh, pelatih ikut jatuh. Selama berlari, pelatih bertugas memberikan instruksi agar atlet tak melenceng dari lintasan.

Dari metode ini, Amin menunjukkan, pelatih dan atlet harus setara, solid, dan saling percaya. “Kami belajar memercayai satu sama lain. Kalau memang jatuh, kita jatuh bersama,” tuturnya.

Tugas pelatih tak sekadar melatih fisik dan teknik. Dalam banyak kesempatan, Amin mesti menghadapi atlet difabel yang putus asa dan tak percaya diri. Pada beberapa kasus, ia melihat atlet yang baru mengalami kecacatan pada usia remaja, cenderung lebih sulit dibangkitkan semangatnya.

Amin bercerita tentang Suryo (14) yang tangan kirinya putus karena kecelakaan. Suryo, yang sebelum kecelakaan menyukai bulu tangkis, ditemukan BPOC akhir tahun 2008. Saat itu Suryo amat pemalu dan menyembunyikan tangan berbungkus protesenya (tangan buatan) di bawah meja atau di belakang punggung. Butuh setahun untuk membuat Suryo berani mengayunkan raket lagi dan mencetak emas dalam Pekan Olahraga Pelajar Cacat Nasional, di Yogyakarta (2009).

Di mata Amin, Suryo bak dinamit yang siap meledak. “Saya jadi seperti pencari dinamit. Kami harus pandai mencium bakat atlet,” ujarnya.

Pengalaman sebagai atlet nasional membuat dia yakin, atlet muda membutuhkan pendampingan agar percaya diri. “Mereka tak ingin sendirian saat dalam kesulitan,” kata Amin.

Usaha warisan

Di balik perannya sebagai pelatih, untuk menghidupi keluarganya Amin meneruskan usaha penjualan tas sekolah dan kostum olahraga peninggalan almarhum ayahnya. Setiap hari ia mengendarai motor, hasil bonusnya sebagai atlet, ke GOR Pancasila Surabaya, tempatnya berjualan. Dengan sigap dia mengangkut karung-karung berisi tas dan pakaian.

Pukul 04.30 Amin sudah siap di GOR Pancasila agar tempatnya berjualan tak dipakai pedagang lain. Ia kembali ke rumah sekitar pukul 10.00.

Sejak berusia 14 tahun, Amin telah ikut membantu usaha keluarga yang awalnya terletak di Pasar Pandegiling, Surabaya. Meski relatif tak berkembang pesat, di tangannya usaha warisan keluarga ini bisa bertahan.

Pendapatan dari hasil usaha itu, sekitar Rp 2 juta per bulan, membuat Amin bersyukur karena dia tidak mungkin hanya menyandarkan hidup dengan uang saku dari BPOC.

Tahun 2010 ini, pelatih BPOC mendapat uang saku sekitar Rp 400.000 per bulan, yang dibayarkan setiap triwulan. Jumlah ini sudah naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2009, uang saku yang diterima Amin Rp 200.000 per bulan.

Menjadi atlet dan pelatih difabel adalah dunia sunyi, tanpa banyak publikasi dan perhatian. Nama-nama mereka yang berjuang pun mudah dilupakan. Kendati demikian, bukan materi dan ketenaran yang membuat Amin bersetia pada olahraga bagi difabel.

“Meskipun cacat, sebagai manusia, saya utuh. Bagaimanapun, atlet muda harus bisa berprestasi,” kata Amin penuh semangat. e-ti

Sumber: Kompas, Rabu, 6 Mei 2010 “Amin, Berlari dalam Keterbatasan” | Maria Serenade Sinurat

Data Singkat
Amin Alwakiah, Atlet / Berlari dalam Keterbatasan | Wiki-tokoh | Juara, atletik, cacat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here