Kesetiaan Seorang Kartunis

[ Basuki ]
 
0
235
Basuki
Basuki | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Basuki adalah kartunis yang menelurkan karya setiap hari kerja selama 36 tahun. Selama masa itu ia melahirkan dan memopulerkan dua tokoh kartun. Salah satu tokoh yang dimunculkannya itu diterbitkan dalam seri prangko bersama figur kartun nasional.

Basuki alias Hu Wie Tian adalah warga Kota Medan yang setia menjalani hidup sebagai kartunis. Ia menciptakan dua tokoh kartun, yakni Pak Tuntung yang dilahirkan saat bekerja di harian Analisa dan Pak Bas, tokoh yang dia buat ketika bekerja di Harian Global. Kedua tokoh kartun itu masyhur di Medan.

“Saya hobi melukis, tetapi bukan keturunan pelukis. Sebenarnya, yang membuat saya bisa melahirkan tokoh itu karena ketekunan. Kalau kita tekun, pasti bisa,” kata Basuki mengisahkan awal kariernya sebagai kartunis.

Tahun 1973, ketika harian Analisa terbit, ia langsung menjadi kartunis. Ihwal menjadi kartunis, Basuki menuturkan, adalah gurunya, Paulus M Tjukrono, yang melihat talentanya. Ketika Analisa hendak terbit, dia dipanggil untuk menjadi kartunis. Maka, sejak saat itu ia menjadi kartunis. Setiap hari Basuki berkarya, kecuali pada hari Minggu dan hari libur.

Tak ada yang istimewa dari kartun pertama buatannya, hanya pria dan wanita yang berdansa mengenakan topeng. Nama Pak Tuntung sudah ada di kartun itu, meski figur Pak Tuntung belum tampak.

“Waktu itu saya membikin kartun tanpa tujuan, sekadar melucu agar orang tersenyum,” kata Basuki.

Lambat laun, ia menyadari, sebuah kartun harus memiliki jiwa dan pesan tertentu. Untuk itu, ia rajin membaca dan berdiskusi dengan para rekannya.

Berbeda dengan kartunis lain, Basuki menghasilkan karya setiap hari kerja. Pak Tuntung tak tampil di kalangan pembaca hanya pada hari libur dan Minggu. Maka, dibutuhkan stamina dan pikiran yang terus-menerus mampu mencari ide. Ia mengaku tetap gembira dengan hari-hari yang dipenuhi panggilan untuk berkarya.

Guna menampung pikiran dan ide yang melintas, dua buku tulis tipis disiapkan di kantor dan di rumahnya. Setiap muncul ide kartun, ia menuliskannya di buku itu. Hingga kini catatan ide kartun itu masih tersimpan rapi. Tokoh Pak Tuntung kemudian muncul dan selalu menyentil kehidupan sehari-hari warga Medan dan sekitarnya.

“Mau tak mau, saya harus membuat stok kartun bila mau ambil cuti,” kata Basuki menyiasati agar Pak Tuntung tetap tampil di hadapan pembaca. Sebaliknya, kadang ide begitu deras mengalir sehingga ia bisa membuat beberapa kartun sekaligus.

Suara warga

Lama-kelamaan Pak Tuntung menjadi terkenal. Warga Medan kerap memperbincangkan Pak Tuntung, sosok yang menjadi figur mewakili suara mereka.

Saking populernya, sampai-sampai Pak Tuntung pernah digunakan untuk mencari ide nomor oleh para penggemar judi buntut alias toto gelap pada zaman perjudian itu marak di Medan. Setiap kali Pak Tuntung muncul, warga menafsirkan gerakan dan simbol Pak Tuntung.

“Pernah saya menggambar Pak Tuntung terpeleset dan jatuh. Orang menafsirkan, angka yang akan keluar dalam pekan itu berarti kebalikan dari angka yang keluar pekan lalu,” ceritanya.

“Pernah juga saya menggambar Pak Tuntung mengail ikan, orang menafsirkan angka yang keluar pasti ada angka satu. Anehnya, tebakan itu banyak yang tepat, padahal saya sama sekali tak mengaitkan angka-angka tertentu saat menggambar dan tak terkait judi itu,” tambah Basuki.

Pada zaman Orde Baru kartun Pak Tuntung bergesekan dengan penguasa. Acap kali penguasa mengingatkan agar ia tak terlalu keras mengkritik. Basuki mengaku beberapa kali diperingatkan agar tak menyentil penguasa.

Dia mengaku bangga ketika figur Pak Tuntung diterbitkan menjadi seri prangko tahun 2000 bersama figur kartun lainnya, yaitu Panji Koming (Kompas), Mang Ohle (Pikiran Rakyat), I Brewok (Bali Pos), dan Pak Bei (Suara Merdeka).

Melepas Pak Tuntung

Akan tetapi, ia harus menerima kenyataan ketika berpindah kerja di Harian Global tahun 2006. Pak Tuntung tetap berada di harian Analisa dan diteruskan oleh kartunis lain.

“Sangat berat melepaskan Pak Tuntung karena saya telah bersamanya selama 33 tahun. Saya seperti kehilangan diri sendiri ketika melepas Pak Tuntung, ” katanya lirih. Ia sempat terdiam saat menceritakan peristiwa awal tahun 2006 itu.

Setelah tak lagi bekerja di Analisa, dia sempat tak membuat kartun selama dua minggu. Basuki mempergunakan waktu itu untuk menemui sanak saudaranya di berbagai tempat. Setelah itu ia bekerja di Harian Global dan melahirkan tokoh baru bernama Pak Bas.

Kehadiran Pak Bas sepertinya bisa diterima masyarakat Medan. Dengan cepat masyarakat Medan mengetahui kehadiran Pak Bas.

Di tangannya, dalam tempo sekitar tiga tahun, Pak Bas sudah dikenal warga Medan. Warga dari luar Medan pun mengenal Pak Bas, selain melalui Harian Global, juga lewat dua kafe yang didirikannya di Merdeka Walk dan Sun Plaza, dengan nama Pak Bas.

“Kebahagiaan saya adalah saat ada respons dari masyarakat terhadap karya itu. Apabila figur yang ditampilkan diterima pembaca, itulah yang menjadi kebahagiaan saya,” tutur Basuki.

Sebagian orang sampai mengoleksi kartun Pak Bas. Seorang dosen dari Amerika Serikat yang datang ke Harian Global sempat meminta fotokopi Pak Bas.

Basuki berharap Pak Bas bisa berumur lama. Dia bercita-cita Pak Bas setidaknya bisa berumur sama dengan Pak Tuntung, sampai 33 tahun.

Sebuah cita-cita yang sangat mungkin terwujud. Untuk itulah, Basuki rajin menjaga kesehatan dengan berenang dan joging. Ia tak ingin ada penyakit yang merongrong kesehatannya.

Basuki ingin terus berkarya sampai kapan pun. Dia ingin bisa tetap menyegarkan dan menyentil, membuat warga Medan tersenyum. e-ti

Sumber: Kompas, Kamis, 13 Agustus 2009 “Basuki Kesetiaan Seorang Kartunis” | Andreas Maryoto

Data Singkat
Basuki, Kartunis / Kesetiaan Seorang Kartunis | Wiki-tokoh | melukis, kartunis

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here