Sintha Hidayat
Sintha Hidayat | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Seorang anak berusia sekitar 10 tahun berlari kencang di tengah hujan deras di depan pasar swalayan di daerah Jakarta Selatan. Dia menerobos kerumunan anak-anak pembawa payung yang mengerubungi Sintha Hidayat (60).

Jangan… jangan… itu temanku,” anak itu berteriak, “Bu Sintha… Bu Sintha….” Sintha menoleh, mencoba mengingat wajah anak yang menyodorkan payung itu. Tubuhnya yang kecil basah kuyup, tetapi ia tertawa ceria.

“Ternyata dia anak Jalan D,” ujar Sintha sambil menyebut daerah kumuh tempat bermukim pemulung dan masyarakat miskin, suatu komunitas yang telah memberikan pelajaran hidup luar biasa kepadanya selama 22 tahun terakhir.

Anak itu menolak uang jasa yang diberikan Sintha dan baru mau menerima setelah dipaksa. “Di dalam mobil, perasaan saya seperti diaduk-aduk….”

Peristiwa siang itu hanya satu dari rangkaian pengalamannya bekerja dengan pemulung dan warga miskin, pengalaman yang mengantarkan Sintha pada permenungan sangat panjang tentang hidup.

“Saya kehilangan Pak Sidik,” sambung ibu tiga anak, nenek dua cucu ini. Sebagai bagian dari Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) di Indonesia, Sintha mengukuhi kebenaran ucapan Ibu Teresa dari Kolkatta, India—pendiri Misionaris Cinta Kasih (MC)—bahwa yang terpenting dari kerja kemanusiaan adalah bagaimana tetap setia untuk terus bekerja dan berupaya, bukan target atau keberhasilan.

Pak Sidik sudah tua dan sebatang kara. Ketika diantar tetangga ke rumah transit KKIT di wilayah Jakarta Barat, ia sudah tiga bulan terbaring lemah di lapaknya. Pak Sidik mengaku dikhianati centeng pemulung yang berniat mengusirnya dari lapak dalam keadaan sakit karena dianggap sudah tidak produktif. Di rumah transit, Pak Sidik dirawat sampai kondisinya membaik sebelum kemudian pergi tanpa pamit.

Gelap dan sepi

Kurun 22 tahun bukan waktu yang singkat. Meski tak relevan membandingkan dengan perjalanan spiritual Ibu Teresa yang terekam dalam buku Come be My Light (2007), bukan berarti Sintha tak mengalaminya. Ia sempat dibayangi penyangkalan dan hampir mundur karena merasa tak sanggup.

“Kalau melihat lagi ke belakang, saya sadar, tak ada yang kebetulan dalam hidup ini,” kenang Sintha.

Semuanya bermula ketika ia terkesan membaca artikel tentang Ibu Teresa di Kolkatta di majalah Intisari tahun 1980-an. Namun, ketika diajak teman ke pertemuan kecil yang mendalami spiritualitas Ibu Teresa, awalnya ia enggan. Anak-anaknya masih kecil dan banyak urusan di rumah. Ketika akhirnya ia mau pergi, hatinya tergetar oleh doa-doa indah Ibu Teresa dan mulai diusik pertanyaan, “Apa saya bisa menjalaninya?”

Dalam keraguan itu, ia diajak mengunjungi pasien miskin penderita kanker. Sintha menolak karena “Saya tidak tahan melihat orang sakit.”

Ia terpaksa berangkat karena kehabisan alasan. “Di situ saya bertemu seorang anak dengan kanker di mata. Miris sekali. Waktu mau masuk ke kamar seorang ibu dengan kanker payudara yang sudah infeksi, saya mundur. Saya takut dan tidak tahan baunya.”

Malamnya ia menceritakan pengalamannya kepada suaminya, Irwan Hidayat, pengusaha Jamu Sido Muncul. Namun, Sintha merasa Irwan tidak peduli. “Saya stres dan ngganjel karena tak tahu mesti cerita sama siapa.”

Tahun 1985-an itu ia juga pernah coba ikut kegiatan di panti jompo, tetapi tak tahan juga. “Saya mulai putus asa. Saya merasa tak cocok berada di kelompok itu, tetapi mengapa saya terus terusik ya?”

Suatu malam, Irwan yang sedang membaca buku tentang Ibu Teresa bertanya kepadanya, “Siapa yang menyuruh kamu masuk KKIT?”

Pertanyaan itu membuat Sintha gelisah. “Pertanyaan ‘siapa yang menyuruh’ itu terus terngiang. Bukannya semua datang dari diri saya? Tiba-tiba semuanya terang benderang. Semua datang dari suara hati. Itu panggilan Yang Ilahi. Saya harus mampu melewati ini semua….”

Warung sehat

Ketika membantu kegiatan warung sehat KKIT di Jembatan Tomang, Jakarta, ia terpana. “Yang antre banyak sekali dan makanan habis dalam 30 menit. Saya merasa saya bisa melakukan ini, tetapi Tomang kan cukup jauh.”

Sintha dan teman-temannya menemukan suatu lokasi tempat bermukim pemulung dan kelompok masyarakat kelas bawah, tak jauh dari rumahnya. Setelah berhasil mendekati mereka, dan mulai membuka warung sehat, persoalan lain muncul. Mereka tak boleh menggalang dana. “Ibu Teresa mengatakan, kerja kemanusiaan bukan kerja sosial mengumpulkan dana. Ada pertanyaan yang harus dijawab: beranikah kita?”

Ia mulai dengan dana sendiri, empat kali sebulan “menjual” makanan sehat kepada mereka terpinggirkan di sekitar tempat tinggalnya. Kemudian bergantian dengan teman-temannya, lalu urunan mendanai kegiatan itu.

“Ketika tahu kami mengutip uang Rp 50 per orang, MC protes. Kami jelaskan, orang miskin punya harga diri. MC tetap menolak karena jalan Ibu Teresa adalah memberi. Akhirnya kami menyerah, tetapi bingung bilangnya sama warga kenapa jadi gratis. Mulanya alasannya ulang tahun, tetapi mosok ulang tahun terus.”

Akhirnya ketemu juga jalannya. “Bayar Rp 50 seperti biasa, tetapi uangnya ditabung, dari yang recehan, sekarang ada yang menabung sampai Rp 150.000 per minggu. Kami buat buku tabungan sederhana dengan foto, tanpa potongan, tanpa bunga, bisa diambil kapan saja. Ada 506 orang yang mengambil saat Lebaran kemarin.”

Kegiatan itu juga memberikan bantuan obat-obat ringan yang dibutuhkan. “Seperti salep gatal karena kehidupannya memang seperti itu. Kami mengajari hidup bersih, tetapi tetap tak mudah,” tutur Sintha.

Meretas prasangka

Kegiatan itu sempat harus berhadapan dengan prasangka. Yang paling serius adalah tuduhan mengkristenkan warga. Prasangka itu gugur karena dalam KKIT ada banyak orang dari berbagai keyakinan.

Warung sehat dengan seluruh kegiatannya itu membuat Sintha memahami kemiskinan dalam bentuk paling telanjang dan menguatkan kepekaannya berbela rasa. Kegiatan yang dia katakan “kecil” itu ia tekuni sepenuh hati.

Kepasrahan total pada penyelenggaraan Ilahi membuat Sintha mengakrabi bau menyengat dan banyak hal lain terkait kekumuhan. Secara gradual, ia seperti terlahir kembali. Tahun 1997, bersama rombongan dari Indonesia, Sintha menjadi relawan di Rumah MC untuk orang-orang sekarat di Kalighat, Kolkatta.

“Jalan D itu sekolahku,” ujar Sintha. Kegiatan itu telah memberi inspirasi kepada banyak orang yang kemudian melakukan hal serupa pada lebih dari 100 lokasi.

Kerja kemanusiaan adalah labirin gelap dan sepi. Tak banyak orang berani memasukinya. Di situ Sintha bersimpuh dengan setia menjadi saksi bagi keutamaan cinta. Seperti dituturkannya, “Saya tidak bisa lagi berhenti.” e-ti

Sumber: Kompas, Senin, 17 Januari 2011 | Penulis: Maria Hartiningsih

Data Singkat
Sintha Hidayat, Relawan MC (Misionaris Cinta Kasih) / Keutamaan Cinta Sintha Hidayat | Wiki-tokoh | pekerja, sosial, Kasih, cinta, Relawan, misionaris

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here