Terpesona Kejujuran Berekspresi Anak

[ Jose Rizal Manua ]
 
0
127
Jose Rizal Manua
Jose Rizal Manua | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Demi kepribadian anak, Jose Rizal Manua membebaskan anak-anak asuhannya berakting seorisinal mungkin. Tanpa dikte, hanya stimulasi.

Panggung di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (10/7) mendadak senyap. Satu per satu wajah-wajah putih polos dengan baju perlente keluar dari panggung. Belum sampai ke tengah panggung, seorang perempuan kecil berdandan seksi dan menor, yang sepertinya sengaja tertinggal menyusul dengan kehebohan gemerincingnya. Satu per satu mereka berpantomim dan berorasi tanpa suara layaknya pemimpin dengan mimik dan gaya meyakinkan yang berbeda-beda.

“Huuuu,” sorakan lantang muncul dari dalam panggung setiap mereka selesai berpantomim. Begitu seterusnya hingga giliran si bontot yang cantik. Bergerak lincah penuh gemerincing. Awalnya suitan yang muncul, tapi kemudian tetap saja sorakan kecewa yang terdengar.

Cuplikan pentas teater anak yang mengekspresikan pemimpin masa kini tersebut sukses memukau penonton, yang kebanyakan adalah para orang tua yang membawa anak-anak mereka, hari itu. Tawa lantaran ekspresi polos menggemaskan mendominasi respons penonton. Kesalahan kecil tak disengaja menambah gelak dan tepuk tangan penonton.

Sebanyak 209 anak dari 10 provinsi di Indonesia ikut berperan dalam teater yang menjadi puncak acara Forum Pemimpin Muda 2010, pada Sabtu itu. Mereka yang berpakaian adat daerah masing-masing mewarnai panggung dengan nyanyian, tarian, permainan, sampai puisi.

Hampir semua anak di panggung tersebut belum pernah bermain teater secara profesional. Yang istimewa, mereka hanya berlatih dalam waktu dua jam berturut-turut selama tiga hari, tanpa naskah. Adalah Jose Rizal Manua tokoh di balik panggung yang berhasil memaksimalkan potensi anak-anak yang baru pertama kali bermain teater itu.

“Anak-anak tersebut memang pantas disebut pilihan dari provinsi masing-masing. Meski ini yang pertama, saya tak ada kesulitan berkomunikasi dan mengarahkan mereka. Jadi, mereka sudah punya bekal, tinggal merangkai keunikan khas masing-masing daerah,” ungkap Jose yang ditemui Media Indonesia seusai pertunjukan. Tema kepemimpinan, lanjut Jose, memang sengaja ia kentalkan. Mulai dari kritikan pantomim pemimpin yang sering beromong besar dan mengandalkan penampilan hingga puisi pengharapan atas sosok pemimpin ideal.

“Inti pertunjukan tadi adalah bagaimana anak mengekspresikan kepemimpinan di benak mereka. Bagaimana mereka tetap akan menjadi anak-anak yang bermain, bergembira, dan mencoba meraih sesuatu yang tak mudah untuk masa depan. Itu yang ingin ditampilkan,” papar pria kelahiran Padang, Sumatra Barat, 56 tahun yang lalu.

Salah asuh

Sudah1 35 tahun Jose berkutat dalam pengasuhan teater anak. Meski begitu, dia mengaku selalu terpukau dengan spontanitas dan kejujuran berekspresi anak-anak. Anak-anak, imbuhnya, selalu menyimpan kejutan ekspresi dari kepolosan mereka. “Ini yang hampir hilang dari pemain teater dewasa. Setiap anak punya keunikan masing-masing. Selama tidak ada intervensi, Anda akan menemukan ekspresi yang menarik,” sahutnya.

Apalagi, tambah Jose, mereka datang dari provinsi yang berbeda. Tiap provinsi tentunya punya keunikan alam dan budaya. “Ini yang harus dimaksimalkan sebagai keberagaman, jangan diseragamkan. Kalau logatnya memang Papua, jangan dipaksa terdengar seperti Jawa. Inilah bahasa Indonesia dengan ragam logat,” tandasnya.

Teater anak memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jebolan Institut Kesenian Jakarta ini. Sejak umur 15 tahun, atau tepatnya 20 Agustus 1969, Jose telah bermain profesional dalam drama perjuangan di kampungnya. “Dulu saat masih kecil sekali, saya sering dilibatkan main di pertunjukan desa. Di kampung dulu suka ada wayang orang. Nah, kami yang masih bocah di TK dan SD biasa disuruh jadi monyet-monyet itu, lo,” cerita Jose sambil tertawa mengingat asal mula kecintaannya dengan teater.

Rasa bahagia ketika sedang bermain teater secara lepas itulah yang tidak ingin Jose hilangkan saat mengasuh anak-anak dalam bermain teater. Sutradara masa kini, imbuhnya, terlalu sering memberikan contoh-contoh dan tekanan kesempurnaan gerakan kepada anak. “Saya selalu mencoba menghindari intervensi dalam mengeluarkan potensi anak-anak. Tidak ada yang disuruh. Inti bermain teater adalah supaya kepribadian mereka muncul dan terbentuk saat berakting,” sahutnya.

Padahal, saat dilepas berekspresi, anak akan menyuguhkan pertunjukan yang menampilkan pribadinya secara utuh. Jose mengaku kesal dengan sutradara dan pelatih teater dewasa yang sering salah asuh akting anak. Bukannya mengeluarkan potensi, sadar atau tidak, banyak yang justru menjadikan anak berakting dewasa.

“Coba sekarang kita lihat televisi. Acara-acara yang menampilkan bakat anak justru menghilangkan ekspresi anak-anaknya, mereka menjadi orang dewasa. Ingat, sutradara itu hanya mengarahkan, menstimulus, bukan mendikte anak harus bergerak seperti apa. Biarkan mereka ciptakan sendiri gerakannya,” tegasnya.

Teater anak di Indonesia, lanjutnya, memang belum mendapat perhatian serius. Apalagi, kebanyakan pelatih menyamakan cara melatih anak-anak dengan melatih orang dewasa. Tidak banyak yang tahu ada teater anak. Kebanyakan masih menumpuk di Jakarta. Itu pun banyak yang belum memadai. Beberapa tempat ada kekeliruan dalam pengelolaannya. Padahal, anak-anak perlu didekati dengan cara khusus,” ujarnya.

Kekecewaan

Meski masih mengasuh teater dewasa. Jose mengaku teater anaklah tempat utamanya mencurahkan ekspresi dan mimpinya. Jose patut berbangga, teater anak Tanah Air yang diasuhnya sejak 14 September 1988 telah menoreh prestasi hingga ke luar negeri.

Pada World Festival of Childrens Theatre di Jerman, misalnya, teater anak pimpinan Jose meraih dua medali emas berturut-turut. Sayangnya, tidak mungkin hattrick. Impian meraih medali emas ketiga kali kandas saat mereka batal berangkat ke ajang yang sama. Juni 2010.

Aplikasi visa anak-anak itu, kata Jose, dikembalikan Kementerian Luar Negeri tanpa alasan. “Kalau memang mau bantu, kembalikan di waktu yang tidak mepet biar kami bisa urus. Kami masukkan aplikasi tanggal 19 Mei ke Kemenlu, tanggal 4 Juni tiba-tiba berkas kami dikembalikan lagi saat kami sudah tidak bisa urus visa lagi sendiri,” sesal Jose.

Panitia di Jerman pun berinisiatif membantu. Tapi semua terlambat. “Padahal kami membawa nama harum bangsa. Dan sampai sekarang tidak ada penjelasan apa pun dari pihak kemenlu,” ucap Jose dengan nada pilu. Jose mengaku tak habis pikir dengan sikap pemerintah. Kalau pertandingan Piala Dunia yang tanpa prestasi saja. Indonesia tetap mendukung, kenapa pertunjukan seni budaya yang jelas-jelas berprestasi tak dilirik. “Kita punya keunggulan di seni dan budaya, kenapa tidak dikembangkan? Kalau tidak didukung, bagaimana kebanggaan itu bisa dibangun?” tandasnya.(M-4) e-ti

Sumber: Media Indonesia, Selasa, 13 Juli 2010 | Penulis: Vini Mariyane Rosya

Data Singkat
Jose Rizal Manua, Seniman Teater / Terpesona Kejujuran Berekspresi Anak | Wiki-tokoh | Seniman, teater, Drama, Pantomim

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here