Bapak Koperasi Pegawai Negeri RI

Pahlawan Nasional ini dikukuhkan sebagai Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia atas upayanya dalam memelopori pendirian koperasi pegawai di tiap-tiap kantor di seluruh daerah...

Prajurit dari Gunung Kidul

Sugiono seorang prajurit pembela Pancasila yang menjadi korban kekejaman komunis. Ia kehilangan nyawanya karena memberikan latihan-latihan militer kepada mahasiswa untuk menghadapi kegiatan PKI.

Pejuang Multi Bidang

Sungguh tak terhitung sumbangsihnya bagi bangsa Indonesia. Ia pernah beberapa kali menjabat sebagai menteri, terlibat dalam sejumlah organisasi memperjuangkan kemerdekaan RI, aktif menulis di surat kabar membela kaum buruh dan turut mengembangkan dunia pendidikan di Indonesia.

Pejuang Kemajuan Wanita

Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Berani Mati Terhormat

Akhir hidup pemuda patriotik ini sangat dramatis. Di hadapan regu penembak Belanda, ia menolak matanya ditutup dengan kain. Sebelum butiran peluru menembus dadanya, ia memekikkan teriak "Merdeka!"

Patih Pembela Kehormatan Bali

Benteng Jagaraga menjadi saksi sejarah perjuangan Patih dari kerajaan Buleleng Bali ini. Ia berperang melawan Belanda hingga titik darah penghabisan.

Perjuangan Si ‘Rencong Aceh’

Karena kegigihan sikap dan tindakannya menentang pemerintah kolonial Belanda, Teuku Nyak Arif dijuluki "Rencong Aceh".

Panglima dan Jenderal Besar Pertama RI

Jenderal Besar Sudirman merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun, ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, Panglima Besar TKR/TNI, ini tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Gugur di Usia Muda

Pemerintah mengangkat Brigadir Jenderal (Anumerta) Slamet Rijadi sebagai Pahlawan Nasional. Dalam upacara di Istana Negara Jumat 9/11/07, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyampaikan anugerah Bintang Mahaputera Utama. Lalu, pada Senin (12/11/07) siang, KSAD Jenderal Djoko Santoso bertindak sebagai Inspektur Upacara pada peresmian patung Ignatius Slamet Rijadi di Jalan Slamet Rijadi, jalan raya yang membelah kota Solo, Jawa Tengah.

Nasionalis Sejati dari Sulawesi

Sebagai wujud kesetiaannya terhadap RI, ia menyediakan wilayah kekuasaannya, Polongbangkeng sebagai pusat gerakan di Sulawesi untuk menggantikan kota Makassar. Ia juga membentuk laskar Gerakan Muda Bajoang sebagai wadah perjuangan bersenjata untuk mempertahankan kedaulatan RI.
Advertisement

Terbaru

Moeldoko: UU Ciptaker untuk Wujudkan Indonesia Maju

Jakarta - Di tengah berbagai pro kontra tentang Undang-Undang Cipta Kerja, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menekankan bahwa Undang-Undang Cipta Kerja diarahkan untuk menghadapi kompetisi...
Advertisement

Follow Us on Facebook

26,795FansSuka