Digemari di Tahun 70-an

Dalam kurun waktu 1960-1970-an, suara merdunya sering diputar di radio termasuk radio swasta yang baru bertumbuhan di banyak kota. Rekaman pertamanya yang menghasilkan lagu Si Boncel digemari masyarakat. Ia kemudian berduet dengan Muchsin Alatas yang terkenal lewat lagu Halo Sayang, Dunia Belum Kiamat, Pertemuan Adam dan Hawa, dan Jangan Marah. Popularitasnya sebagai penyanyi menghantarkannya menjadi aktris film.

Populer Berkat ‘Hati yang Luka’

Sebuah lagu melankolis berjudul 'Hati yang Luka' membuat namanya sangat populer di tahun 90-an. Dia termasuk penyanyi yang produktif, setidaknya ada 30 album solo yang telah dihasilkannya.

Peran Terakhir Mak Nyak

Lima puluh enam tahun ia berkarya di panggung seni. Sedikitnya ada 60-an judul film yang telah ia bintangi. Di masa senjanya, daya tariknya sebagai aktris kaya pengalaman masih bisa dinikmati lewat perannya sebagai Mak Nyak di serial Si Doel Anak Sekolahan.

Populerkan Musik Tradisional

Di tangannya, musik tradisional Indonesia yang dianggap ketinggalan zaman dan hanya digemari kalangan tua bisa menjadi musik yang easy listening, modern, namun tetap bermakna.

Lagunya Orbitkan Sejumlah Penyanyi

Pencipta lagu dan penyanyi bersuara khas yang berjaya di tahun 1980 hingga 1990-an ini banyak mengorbitkan penyanyi seperti Dian Piesesha, Maya Rumantir, Hetty Koes Endang dan Meriam Bellina. Selain mencipta dan menyanyikan lagu-lagu Indonesia populer, Pance Pondaag juga mencipta dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Karyanya tak lekang dimakan zaman bahkan setelah kepergiannya menghadap Sang Khalik.

Lebih Fokus Jadi Psikolog

Putri Remaja Indonesia 1978 ini mengawali karirnya dengan menjadi penyanyi dan model. Namun belakangan, perempuan yang sering membintangi iklan televisi ini lebih berkonsentrasi pada profesinya sebagai psikolog dan dosen serta menjadi konsultan di beberapa perusahaan besar.

Dulu Benci, Sekarang Cinta

Ungkapan yang berbunyi, jangan terlalu membenci sesuatu karena suatu saat nanti malah mencintainya, nampaknya cukup menggambarkan perjalanan karir perempuan berdarah Batak-Manado ini di dunia presenter. Awalnya ia membenci profesi penyiar radio karena ia menganggap penyiar itu cerewet, seperti orang gila yang bicara dan ketawa sendiri. Belakangan, justru dunia penyiarlah yang membuat namanya banyak dikenal orang.

Tak Hanya Bisa Berlaga

Wajah indo, tubuh kekar, serta kemampuan beladirinya pernah menghiasi layar lebar di tahun 80-an. Setelah masa keemasannya berakhir, aktor laga senior yang menguasai beladiri taekwondo ini kembali berakting dengan memainkan peran lain yang lebih menantang.

Seniman Nyentrik dari Pasundan

Masih ingat dengan lagu Kalau Bulan Bisa Ngomong yang booming di tahun 90-an? Aransemen musiknya yang enak didengar serta liriknya yang sedikit menggelitik namun tetap romantis menjadikan lagu itu tak mudah terhapus di benak siapa pun yang pernah mendengarnya. Lagu bertema cinta namun tidak cengeng itu dibawakan penyanyi asal tanah pasundan, Doel Sumbang berkolaborasi dengan pedangdut Nini Karlina. 

Putra Ambon Bersuara Emas

Suaranya yang khas, dipadu dengan cengkok serta teknik improvisasi yang baik menjadikan Broery Pesulima sebagai penyanyi pria yang paling disegani di zamannya. Penyanyi asal Ambon kebanggaan Indonesia ini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 51 tahun setelah berjuang melawan stroke.
Advertisement
Pre-Order Buku Hita Batak A Cultural Strategy

Terbaru

Mitologi Pustaha dan Surat Batak

Mitologi Batak mengisahkan adanya dua jenis Pustaha Batak yang diamanatkan Debata Mulajadi Nabolon kepada dua putera Si Raja Batak yakni: 1) Pustaha Agong (Pustaha...
Advertisement

Follow Us on Facebook

26,568FansSuka