Stigmatisasi Late, Elat dan Teal

Late itu Universal

 
0
32

Late, elat dan hosom (iri, dengki, sirik, benci, cemburu, envy, envious, jealousy) dan teal (sok hebat, angkuh, sombong bercampur dengki) adalah sifat manusia universal paling kuno. Namun beberapa pihak, bahkan orang Batak sendiri, seringkali menstigmatisasi seolah-olah late, elat dan teal itu hanya sifat kuno orang Batak. Sifat late itu dimiliki semua manusia di dunia, tanpa kecuali (kodrat alam, sifat bawaan). Maka, siapa yang mampu menekan, meminimaliser atau mengontrol sifat kodrati kuno manusia itu ke arah positif (persaingan sehat tanpa dengki), dialah yang pantas terbilang lebih memanusiakan dirinya sebagai manusia bermutu.

Oleh Ch. Robin Simanullang, The Batak Institute

 

Hita Batak mestinya memulai dari dirinya sendiri, menekan dan mengurangi atau mengendalikannya ke hal-hal positif sifat kodrati kuno late, elat dan teal tersebut; Bukan malah ikut-ikutan (latah) menstigmatisasi dirinya dan suku bangsanya sendiri sebagai manusia paling berkodrati late, elat (iri, dengki, sirik, benci, cemburu, envy, envious, jealousy) dan teal (angkuh, sombong sok hebat bercampur dengki) tersebut. Sifat iri, cemburu dan dengki itu bersifat universal.  Semua manusia memiliki sifat itu. Arnold L. Gesell (1906) memaparkan hasil penelitiannya perihal Jealousy di The American Journal of Psychology, mengatakan bahwa sifat cemburu, iri dan dengki adalah sesuatu yang sangat dalam dan universal dalam sifat manusia. “Sungguh, kecemburuan begitu kuno sehingga sudah ada sebelum kodrat manusia itu sendiri, sebagai saksi manifestasi hari ini dari nafsu ini pada hewan yang lebih rendah.”[1]

Late itu Universal: Arnold L. Gesell menunjukkan keuniversalan late (iri) dan kesombongan itu dengan memaparkan beberapa pepatah kuno yang mengatakan: ‘Jangan iri pada siapa pun.’ Tapi ada seratus pepatah lama yang mengejek pepatah itu. Ada pepatah Prancis yang mengatakan ‘Yang iri mati, tapi iri itu tidak pernah mati;’ pepatah Latin, ‘Iri tidak pernah liburan;’ pepatah Jerman, ‘Tidak ada yang hidup yang tidak iri;’ pepatah Denmark, ‘Jika iri hati adalah demam, seluruh dunia akan sakit!’ Pepatah lain menyatakan, ‘Tidak ada manusia, betapapun tingginya, yang tidak cemburu pada seseorang, dan tidak ada manusia, betapapun rendahnya, yang tidak ada seseorang yang iri padanya.’ Selain itu, ada anggur asam, do­ngeng anjing di palungan, cerita rakyat mata-jahat, dan banyak dongeng tentang ibu tiri yang iri dan ratu yang cemburu.[2] Saat ini (kontemporer) di negeri kita Indonesia, ada istilah SMS yakni akronim dari: Senang Melihat orang Susah; dan, Susah Melihat orang Senang. Itulah late dalam bahasa sifat manusia universal tanpa kecuali.

Secara etimologi kata late (Bahasa Batak), iri, dengki, dendam (hosom); late ni roha, iri hati;  marlate ni roha, cemburu dan iri pada seseorang; masilatean, iri satu sama lain; Elat berasal dari kata late, juga berarti dengki, iri; mangelati, membenci dan menjauhkan diri dari seseorang dengan membencinya; elat ni roha, iri hati, dengki; Teal, miring, timpang, berat sebelah, bobot yang timpang dari timbangan; juga berasal dan/atau sering berpadanan dari kata late, membuat dirinya seolah-olah lebih hebat, sok hebat bercampur late; na teal pangkulingmu, cara bicaramu sok hebat atau tidak pantas; na teal pangalahom, kelakuanmu sok hebat dan tidak patut, angkuh, dan sombong sok hebat bercampur cemburu, iri dan dengki.[3]

Late dan elat juga sinonim dengan hosom yakni iri dan dengki dengan rasa benci dan dendam. Warneck mengartikan dengan baik: hosom, bermusuhan, penuh kebencian; hosom ni roha, kebencian; morhosom ni roha, benci; manghosomi, membenci seseorang (hosom, feindlich gesinnt, voll Hass; hosom ni roha, Hass; morhosom ni roha, hassen; manghosomi, jemand hassen).[4] Hosom juga sinonim monggor,[5] tatapan atau ekspresi dendam dan benci. Hosom juga berpadanan dengan teal (sok hebat) sering disingkat dalam percakapan Hotel.

Arnold L. Gesell mendefinisikan kecemburuan sebagai akibat dari konflik kepentingan (persaingan), juga berkaitan (mengutip Darwin) dengan emosi keangkuhan dan kecemburuan;[6] Bepadanan pengertian dari kata Teal, dalam bahasa Batak; Menurut Arnold L. Gesell, dilihat secara luas, kecemburuan tampaknya merupakan pendampingan psikologis yang diperlukan untuk perilaku biologis, di tengah perjuangan kompetitif, sehingga seseorang tergoda untuk menganggapnya secara genetik di antara emosi tertua, hampir identik dengan keinginan untuk hidup, dan membuatnya hampir tidak kurang fundamental daripada rasa takut atau kemarahan. Faktanya, kecemburuan mudah berubah menjadi amarah, dan itu sendiri merupakan merek ketakutan. Kecemburuan, terkait erat dengan naluri kepemilikan secara umum; hal itu tidak hanya terkait secara positif dengan keinginan untuk melakukan penyesuaian, tetapi secara negatif dengan kapasitas untuk merasakan ketidaksesuaian yang akan terjadi dan aktual.[7]

Dalam KBBI, iri a merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (yang beruntung dan sebagainya); cemburu; sirik; dengki: barangkali ia iri terhadap adiknya yang diberi uang, sedangkan ia tidak; dengki, menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain: perkataan itu timbul karena dengki saja; mengapa engkau dengki terhadap sahabatmu itu.

Late, elat, hosom dan teal dalam Cambridge Dictionary disebut: Envious (adjective); Contoh: I’m very envious of your new coat – it’s beautiful (Aku sangat iri atas mantel baru Anda – itu indah); Synonyms: acquisitive (wanting tings) formal often disapproving, avaricious formal disapproving, covetous formal disapproving, grasping disapproving, greedy, jealous (unhappy)  – Sinonim: serakah (ingin hal) formal sering tidak setuju, ketidaksetujuan formal yang serakah, ketidaksetujuan formal yang tamak, perihal ketidaksetujuan, serakah, cemburu (tidak senang); envy (verb), iri; Thesaurus: synonyms, antonyms, and examples: jealous, I’m so jealous that she’s going to that concert!; envious, She was very envious of her brother’s success; green with envy, You’ll be green with envy when you meet her new boyfriend;  possessive, She has a wildly possessive boyfriend who doesn’t like her even looking at other men; covetous, She’s covetous of his gorgeous house; avaricious, Her uncle was a mean, avaricious man who hoarded every last penny and shared none of it with his family in need. (Tesaurus: sinonim, antonim, dan contoh: cemburu, aku sangat cemburu karena dia pergi ke konser itu!; iri, Dia sangat iri dengan kesuksesan kakaknya; mata hijau dengan iri, Anda akan menjadi bermata hijau dengan iri saat Anda bertemu pacar barunya; posesif, Dia memiliki pacar yang sangat posesif yang tidak menyukainya bahkan melihat pria lain; iri, Dia menginginkan rumahnya yang indah; serakah, Pamannya adalah seorang pria yang kejam dan serakah yang menimbun setiap sen terakhir dan tidak membagikannya kepada keluarganya yang membutuhkan. Kata terkait: enviously, enviousness (dengan iri, iri hati, late, elat); American Dictionary: envious (adjective), wanting something another person has: I’m envious of people that have those big boats. (menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain: Saya iri dengan orang yang memiliki perahu besar itu). [8]

Advertisement

Merriam-Webster mengartikan kata late, elat, hosom dan teal juga dengan kata: Envious: feeling or showing envy, envious of their neighbor’s new car, envious looks (merasakan atau menunjukkan rasa iri, iri dengan mobil baru tetangganya, penampilan iri); Kata lain: enviously (adverb), enviousness (noun) – iri, sirik, dengki; Synonyms: covetous, green-eyed, invidious, jaundiced, jealous, resentful (tamak, bermata hijau, tidak jujur, penyakit kuning, cemburu, kesal marah); Examples of envious in a sentence: a family that is envious of their neighbors’ big house (Contoh iri dalam kalimat: keluarga yang iri dengan rumah besar tetangganya).[9]

Jadi, sifat dan kata late itu milik semua manusia, bersifat universal. Juga ada pada binatang. Bahkan cemburu bukan hanya sifat manusia, juga sifat Illahi, kendati tanpa dengki dan sirik; Kecemburuan Tuhan semesta alam (Yes 9:7); membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka (Maz 78:58), dls. Tentang hal ini, Arnold L. Gesell menyebut: ‘Apakah menurutmu Kitab Suci berkata dengan sia-sia, Roh yang tinggal di dalam kita bernafsu iri?’ Maka dia menyebut iri dan cemburu adalah sesuatu yang sangat dalam dan universal dalam sifat manusia. Sungguh, kecemburuan itu begitu kuno yang sudah ada sebelum kodrat manusia itu sendiri.[10]

Late (elat) dan teal (toal) adalah dua hal yang berbeda tetapi sering dipandang sinonim dan muncul secara bersamaan, atau bergantian saling melengkapi, tidak sama tapi saling membumbui atau saling mewarnai; Seperti halnya envy (envious) dan jealous, iri hati (dengki) dan cemburu. Charles Arthur Mercier (1900) dalam Human Temperaments: Studies in Character, menyebut iri hati dan kecemburuan sering digunakan secara bergantian, seolah-olah keduanya memiliki arti yang sama. Faktanya keduanya sangat berbeda. Namun, iri hati dan kecemburuan sering kali terjadi bersamaan, tetapi keduanya tidak selalu berjalan seiring, baik dalam arti dirasakan terhadap orang yang sama atau dalam arti dirasakan oleh orang yang sama. Orang yang iri belum tentu orang yang cemburu, dan orang yang cemburu juga tidak perlu iri; Namun demikian, kedua temperamen tersebut sering kali berjalan bersamaan.[11]

Lebih lanjut Charles Arthur Mercier mengatakan pengalaman kita menemukan bahwa kebencian, kedengkian, dan ketidaksopanan termasuk dalam kecemburuan – termasuk, bukan sebagai spesies yang termasuk dalam genus, tetapi sebagai bahan yang termasuk dalam puding. Mereka adalah bagian dari komposisinya. Faktanya, iri hati adalah kebencian, kedengkian, dan ketidaksopanan terhadap mereka yang lebih beruntung daripada dirinya sendiri. Pria malang yang iri membenci pria yang lebih kaya dari dirinya; wanita polos yang iri membenci wanita yang lebih cantik.[12]

Clara Beranger (1954) dalam Peace Begins at Home, menyebut iri hati dan kecemburuan sering digunakan secara sinonim, tetapi bisa juga digunakan untuk berbagai arti. Kita mungkin iri pada milik kita sendiri; kita mungkin iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Orang yang cemburu mungkin takut kehilangan apa yang dimilikinya; Orang yang iri bisa jadi sengsara ketika dia melihat orang lain memiliki sesuatu yang tidak dia miliki.[13]

Lebih lanjut Clara Beranger mengatakan:

Perasaan dibayangi oleh prestasi superior tetangga dan perasaan kebutuhan untuk “mengikuti keluarga tetangga” adalah bentuk umum dari iri hati. Iri hati mungkin menyiratkan keinginan akan keuntungan, harta benda, dan posisi yang dipegang oleh teman atau tetangga. Jika keluarga tetangga mendapatkan sebuah mobil baru, seorang tetangga mungkin akan sangat iri sehingga tidak lama kemudian dia membeli mobil yang sama baiknya atau lebih baik, meskipun dia mungkin harus berhutang untuk itu. Jika putri tetangga muncul dengan setelan baru, istri tetangga merasa terdorong untuk membelikan putri mereka setelan baru. Daftar hal-hal yang dinikmati keluarga tetangga atau keuntungan yang mereka miliki dapat diperluas untuk mencakup peralatan rumah tangga, kesempatan pendidikan bagi anak-anak, posisi sosial, dan segala macam manfaat lain yang dapat menimbulkan rasa iri.[14]

Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Bowring (1792-1872), dalam Deontology or, The Science of Morality (1834) mengatakan iri hati dan kecemburuan sangat erat hubungannya, dan sangat berperan dalam menciptakan watak jahat, dan dari situ tindakan jahat. Disposisi, tanpa tindakan, memang bukan sifat buruk; itu adalah kelemahan; tetapi kelemahan adalah tanah di mana sifat buruk sangat mudah ditanam, dan di mana ia tumbuh dengan subur.[15] Menurut Jeremy dan John Bowring:

“Iri hati dan cemburu bukanlah kebajikan atau keburukan. Namun, itu menyakitkan. Iri hati adalah rasa sakit yang berasal dari perenungan akan kesenangan yang dimiliki oleh orang lain, terutama ketika kesenangan itu berasal dari sumber yang diinginkan oleh orang yang iri untuk mendapatkannya; jika keinginan itu dibarengi dengan harapan bahwa keinginan itu akan diturunkan, rasa sakit menjadi lebih kuat; dan terkuat dari semuanya ketika dia mengira bahwa kepemilikan kesenangan oleh orang lain telah menyebabkan dia dikucilkan darinya. Sementara, kecemburuan adalah rasa sakit karena ketakutan yang berasal dari penyebab yang sama atau serupa.”[16]

Trisila (Tolu Dasor) Batak: 1. Berkepercayaan kepada Debata; 2. Bekekerabatan Dalihan Na Tolu; dan 3. Berperangai Putera/Puteri Raja) sesungguhnya telah mengamanatkan Hita Batak supaya mengontrol dan menaklukkan sifat late, elat, teal (iri, dengki, angkuh sok hebat) tersebut. Ketiga Tolu Dasor (Trisila) tersebut adalah menekankan cinta kasih secara religius kepada Debata (Allah), dan cinta kasih kepada sesama manusia: Baik kepada mereka yang berkedudukan terhormat yang lebih tinggi (atasan, Hulahula)  yakni Holong Somba (Kasih Sembah) yang menghormati dan memuliakan; Maupun kepada mereka yang berkedudukan setara (sejabat, Kahanggi) yakni Holong Manat (Kasih Arif) yang egaliter dan arif bijaksana serta saling menolong, menghormati dan memuliakan satu sama lain dalam kebersamaan; Juga kepada mereka yang berkedudukan lebih rendah (bawahan, Boru) yakni Holong Elek (Kasih Lembut-Bujuk) di mana pihak yang berkedudukan lebih tinggi merendah dan menghormati serta memuliakan mereka yang berkedudukan rendah sebagai penolong yang handal dan siap berbakti dengan segala kemampuan terbaiknya; serta Plus (Sihalsihal) yakni Holong Satia (Kasih Setia), kasih seia-sekata dengan tetangga, teman sekampung, sahabat dan seluruh umat manusia tanpa batas bangsa, ras, suku, golongan dan agama. Ketiga kedudukan dan holong tersebut adalah bersifat kontemporer. Jatidiri dan karakter Batak sesungguhnya sudah diamanatkan untuk menerima posisi tertinggi, setara dan terendah secara kontekstual. Ini adalah sistem sosial yang sesungguhnya tidak memberikan ruang kepada late, elat dan teal, iri, dengki, sirik, benci, cemburu, envy, envious, jealous.

Kepatuhan atas sistem kekerabatan DNT tersebut itu jugalah salah satu prasyarat seseorang layak disebut berperangai (berkarakter) Anak ni Raja atau Boru ni Raja (Putera Raja atau Puteri Raja, Pangeran atau Bangsawan), sebagai bagian syarat atau kriteria Sahala Harajaon (Wibawa Kerajaan) lainnya, antara lain berperangai Parbahul bahul na bolon; Paramak na so ra balunon; Partataring na so ra mintop; Parsangkalan na so ra mahiang; yang intinya harus suka berbagi dan menjamu orang lain, serta tidak bersikap iri, dengki dan angkuh: Penggembala tanpa cemeti, penghalau pipit di (penjaga) sawah tanpa busur (Parmahan so mantat batahi, pamuro so mantat sior), penggembala dan penjaga tanpa kekerasan; Meratakan yang lebih dan memenuhi yang tidak penuh (Sihorus na lobi sigohi na longa), mencegah kesenjangan sosial; Perkataannya otentik (Parhata Oloan), sesuai kata dengan perbuatan sehingga didengar dan dituruti sebagai teladan atau panutan, dan sebagainya; Yang dinarasikan sebagai Tolu Tona Sahala Harajaon Batak (Tiga Amanat Wibawa Kerajaan Batak) yakni: 1) Berjiwa Sosial (Parroha Hita);  2) Arif Bijaksana (Parmahan na Bisuk); 3) Berwawasan Futuristik (Parpanatap tu Jolo).

Berpadanan dengan Trisila Batak tersebut, Clara Beranger  mengatakan jika ada cinta di hati kita, perbedaan antara dia dan milikku lenyap. Kita semua adalah anak-anak dari Tuhan yang sama. Jika kita benar-benar mencintai sesama kita, kita tidak bisa iri padanya. Kita bersukacita atas berkat-Nya, bahkan jika itu tampak lebih besar dari berkat kita. Jika kita mencintai Tuhan dan bersyukur kepada-Nya atas setiap manfaat yang Dia berikan kepada kita, kita tidak akan pernah merasa tidak puas dengan membandingkan nasib kita dengan orang lain. Tidak ada yang akan menghapus rasa iri lebih cepat daripada sikap bersyukur. Mengganti pikiran iri hati yang menyempit dan menimbulkan rasa sakit dengan pikiran syukur yang luas dan menciptakan kegembiraan akan mengubah ketidakpuasan menjadi kepuasan dan kesengsaraan menjadi kebahagiaan. Semangat bersyukur adalah semangat bahagia. Pengakuan terus menerus atas kelimpahan kebaikan Tuhan yang selalu tersedia bagi kita akan membuat kita puas dengan apa yang kita miliki dan akan membebaskan kita dari rasa iri terhadap apa yang orang lain miliki.[17]

Lebih lanjut Clara Beranger menyebut: Baik Perjanjian Lama dan Baru memperingatkan terhadap iri hati dan ketamakan dan menempatkan mereka dengan kedengkian, kebencian, dan sifat dasar lainnya sebagai dosa yang harus dihindari. Dalam Surat Roma, Paulus menggambarkan praktek-praktek yang “membenci Tuhan,” yang meliputi “semua ketidakbenaran, kejahatan, ketamakan, kejahatan, iri hati, pembunuhan, perselisihan, tipu daya, kejahatan. Para nabi dan Yesus juga berkhotbah dengan keras menentang ketamakan sebagai kemunduran dari jalan spiritualitas.

Dia yang benar-benar ingin menjalani kehidupan spiritual mencoba untuk tidak iri pada siapa pun atau mengingini harta miliknya, karena dia tahu di dalam hatinya bahwa Tuhan menyediakan secara berlimpah bagi semua anak-Nya. Namun ada kalanya bahkan orang yang paling spiritual pun mungkin merasa iri dan sulit dihilangkan. Seperti kesalahan lain yang tidak menyenangkan Tuhan, iri hati terjadi karena terlalu memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan materi daripada hal-hal yang dari Roh. Kita membiarkan diri kita lupa bahwa Tuhan tidak pernah berpaling dari kita, bahwa Dia selalu menepati janji-Nya tentang cinta dan kehidupan dan kelimpahan. Tetapi dalam pencarian kita untuk keuntungan manusia dan barang materi, kita terlalu sering berpaling dari Tuhan. Kita melupakan kebenaran yang Yesus ajarkan: “Carilah dahulu kerajaan-Nya, dan kebenaran-Nya; dan semua hal itu akan ditambahkan kepadamu.” Yesus memperingatkan agar tidak terlalu memperhatikan pakaian atau makanan atau minuman. Dia berkata bahwa Bapa kita tahu kita membutuhkan hal-hal ini, dan merupakan kesenangan-Nya yang baik untuk memberi kita kerajaan itu. Dia juga memperingatkan agar tidak menumpuk harta di bumi, karena kita cenderung memusatkan hati kita di mana harta kita berada.[18]

Kepentingan keakuan (individualistik) dan superior ras, kesukuan dan bangsa adalah lahan subur bertumbuh-kembangnya persaingan tidak sehat, kecemburuan, keangkuhan sok hebat, iri hati, sirik, dengki, kebencian dan dendam. Dalam kasus global hal inilah yang membakar sehingga terjadinya Perang Dunia yang dilakoni mereka-mereka yang merasa diri paling beradab dan modern. Persiangan kepentingan yang diwarnai late, elat dan teal tersebut tampaknya tidak akan semakin surut jika eksistensi keakuan individualistik tersebut masih terus didewakan. Dan, ironisnya, pesan keagamaan tidak mempunyai tempat bagi mereka yang mendewakan eksistensi individualistik yang berjalan seiring dengan rasionalisme dan mempertuhankan sains, walaupun dipoles dengan humanisme.

Sejarah membuktikan bagaimana kepentingan sempit agama dan terutama kepentingan individualistik dan superior ras, kesukuan dan bangsa, telah menimbulkan late, elat dan teal pada puncak tertinggi dengan terjadinya perang dahsyat yang menelan korban puluhan juta jiwa, baik dalam Perang Sabil/Salib, Perang Dunia dan berbagai perang lainnya.

Kita tak Bermaksud Atavis: Dalam hal ini, secara khusus dalam konteks buku Strategi Kebudayaan Batak ini, Hita Batak kiranya dapat menjadi pelopor dengan merevitalisasi nilai-nilai luhur (filsafat) eksistensialis intersubjektif Batak, yakni kekitaan (Hita); Aku di dalam Kita, Kita di dalam Aku. Suatu filsafat eksistensi yang berpadanan dengan ajaran agama wahyu yang kini dianut oleh Hita Batak kontemporer. Bahwa sesungguhnya filsafat eksistensi kekitaan itu adalah medan yang tandus bagi late, elat, hosom dan teal; Sebaliknya menjadi lahan yang su­bur dan indah bagi bertumbuhnya ‘kasihilah sesamamu sama seperti dirimu sendiri’: Aku di dalam Engkau, Engkau di dalam Aku, Aku dan Engkau ada di dalam Kita; Kita di dalam Kasih (Trikasih Plus Batak (holong somba, holong manat, holong elek, plus holong satia): Filsafat eksistensialis intersubjektif Hita Batak, yang khas dan otentik.

Orang Eropa, termasuk misionaris Jerman, mungkin (bahkan selalu) berpandangan bahwa leluhur kuno Batak itu tidak memiliki nilai-nilai luhur moral, sehingga sering menista dan mengolok-oloknya sebagai kafir dan ketidakberadaban kuno (primitif), tetapi hal itu adalah kegegabahan akibat perasaan superioritas yang dibakar kepentingan dan keangkuhan sok hebat (teal) mereka yang juga tak terbebas dari sifat late dan elat budaya individualistik, kapitalistik dan imperialistik mereka, selain perasaan sok rohani (dalam arti penjiwaan manusia yang bersekutu dengan Allah dalam Roh).

Mereka tidak mau tahu (nyaris tidak ada yang mendalami) nilai-nilai luhur kekerabatan (sistem sosial) kekitaan (eksistensi intersubjektif) Hita Batak, dan sistem sosial DNT, serta tidak mau tahu (tidak mau mendalami, hanya selintas, itu pun lebih melihat sisi negatif) sisi persekutuan roh (Tondi) kepercayaan Batak secara positif selain memandang­nya negatif (sirik) sebagai kafir dan Sipelebegu, dan sangat mengabaikannya kepercayaan leluhur Batak itu sebagai suatu permulaan (persiapan) yang sangat kuat untuk dikuduskan menjadi persekutuan dalam Roh Kudus (Tondi Porbadia)[19] secara empiris masif; Karena mungkin mereka (rasionalisme Kristen Eropa) tidak terbiasa dengan persekutuan roh itu, berbeda dengan orang Batak yang seluruh  denyut nadi hidupnya bersekutu dalam roh (tondi); Tampaknya, rasionalisme Kristen Eropa itu telah mengakibatkan persekutuan orang Batak dalam roh menjadi gersang dan hampa, agama yang dianut kehilangan sentuhan persekutuan roh (empiris masif). Padahal persekutuan dengan Allah itu (Kristen), sesungguhnya adalah persekutuan dalam roh. Jadi, selain filsafat eksistensi kekitaan Hita Batak terdegradasi, juga persekutuannya dengan Roh Kudus sangat gersang dan terdistorsi (Injil yang terdistorsi). Dengan demikian, lahan yang subur untuk tumbuh-kembangnya belukar late, elat dan teal pun ‘terpelihara’ dalam budaya kontemporer modern yang kelihatannya seperti makin beradab, tapi gersang Persekutuan Roh dan Kasih Kekitaan, Aku di dalam Kita (Holong Somba, Holong Manat, Holong Elek, plus Holong Satia).

Dari hasil penelurusan yang kita lakukan atas berbagai lite­ratur tentang Batak yang ditulis oleh orang asing, termasuk misionaris, mereka cenderung lebih bergairah menyoroti penyimpangan-penyimpangan perilaku sosial yang terjadi di Tanah Batak daripada mendalami nilai-nilai luhur budaya Batak. M. Joustra (1907) dalam Litteratuuroverzicht der Bataklanden mengakui hanya sebagian kecil: “Buklet Patik dohot Uhum ni Halak Batak (Hukum dan Peraturan Batak) tidak diragukan lagi merupakan data terkaya di bidang ini, tetapi ini sangat sulit bagi orang yang hanya memiliki sedikit pengetahuan teoretis tentang  Batak Toba untuk memahami; Oleh karena itu, sangat disayangkan bahwa mereka belum menemukan penerjemah (dan editor) di salah satu misionaris Rhine, seperti halnya dengan Ruhut Parsaoron. Hanya sebagian kecil yang menurut saya telah dimasukkan ke dalam esai Warneck: das Eherecht bei den Toba-Batak”.[20]

Selain itu, nilai-nilai peradaban Batak itu nyaris tidak ada yang tertulis dalam manuskrip Pustaha Laklak (Pustaka Batak), namun hanya diwariskan secara lisan empiris. Sehingga mereka berpandangan orang Batak tidak mempunyai nilai-nilai luhur moral, dan hampir semua penulis tentang Batak selalu menyebut orang Batak kanibalis biadab, tidak punya nilai-nilai kemanusiaan. Mereka memandang penyimpangan moral dan sosial sebagai ‘moral Batak’. Padahal penyimpangan moral dan sosial itu pasti terjadi di seluruh komunitas manusia, primitif maupun modern. Sebagai renungan: Apakah bijaksana jika perilaku Hitler kita generalisir sebagai moral dan peradaban Jerman? Apakah bijaksana, jika kanibal Perang Salib kita generalisir sebagai peradaban Kristen Eropa? Apakah bijaksana, jika genosida suku Kanaan yang dilakukan orang Israel ketika keluar dari Mesir dan kembali ke Tanah Kanaan, kita generalisir sebagai budaya orang Yahudi? Dan sejumlah pertanyaan lainnya.

Dan, apabila kita menyatakan hal tersebut (seperti yang mereka timpakan kepada orang Batak) kepada mereka, pasti mereka akan marah dan membantah dengan keras kepala. Sebagaimana yang dikemukakan Friedrich Wilhelm Nietzsche perihal batasan cinta manusia, bahwa seorang manusia yang menyatakan bahwa orang lain adalah idiot dan pendamping yang buruk, marah ketika yang terakhir (hal idiot tersebut) akhirnya menemukan dirinya untuk sebaliknya.[21] Dan, ironisnya, sampai saat ini mereka tidak pernah mengakui kesalahannya. Namun, tanpa mereka akui, kita telah lebih dahulu memaafkannya, bahkan berterimaksih kepada mereka, karena di balik kesalahan mereka ada banyak dampak yang lebih baik. Amsal Batak mengatakan: Suhar di bagasan roha alai manghorhon tu na denggan (Berlawanan dalam hati tapi berdampak kebaikan). Walaupun tentang pengakuan kesalahan ini, Friedrich Wilhelm Nietzsche mengatakan kita melupakan kesalahan kita ketika kita mengakuinya kepada orang lain, tetapi dia umumnya tidak melupakannya.[22] Apalagi mereka tidak (belum) pernah mengakui kesalahan-kesalahannya.

Namun, Hita Batak pun tidak perlu menyesalkan apalagi mengeluh tentang hal tersebut (penistaan dan pembunuhan karakter Batak), apalagi sampai menimbulkan rasa dengki dan benci. Friedrich Wilhelm Nietzsche mengingatkan penderitaan seseorang dianggap berlebihan, karena lidahnya lebih fasih dan suaranya lebih nyaring mengeluh; sehingga terkadang penderitaannya sangat besar; namun hal tersebut hanya karena ambisi dan rasa irinya yang begitu besar.[23] Jadi kita harus berlapang dada dan marhabisuhon. Kita anggap saja pandangan hal-hal negatif tersebut sebagai pikiran sempit orang-orang Eropa, sebagaimana disebut R. Freudenberg, tentang gaya hidup serta kondisi rumah dan lingkungan orang Batak: “Tapi itu tidak menghalangi semangat Batak, paling-paling hanya orang Eropa yang berpikiran sempit!”[24]

Di samping itu, tentu berbagai penyimpangan sosial tersebut tak terlepas dari sifat buruk late, elat dan teal; envy, envious and jealous. Beberapa kesimpulan Arnold L. Gesell dalam penelitiannya tentang kecemburuan dalam hubungannya dengan iri hati dan dengki, bahwa analisis kecemburuan sebagai keadaan mental membuktikannya sangat kompleks dan bervariasi, dan mungkin yang paling menyakitkan dari semua emosi. Unsur yang paling umum adalah kemarahan, kesedihan, dan hanya mengasihi diri sendiri. Rasa sakit itu disebabkan oleh subjektivitas psikosis yang intens, terhalangnya impuls kebanggaan dan apropriasi, hingga disorganisasi ide-ide yang sangat egosentris dan sangat sistematis. Cakupan kecemburuan terbukti jauh lebih luas daripada yang biasanya dikenali. Kecemburuan adalah dasar dari banyak sikap yang dilakukan individu terhadap sesamanya; itu mewarnai kebiasaan dan institusi sosial; itu memotivasi tindakan kelompok.[25]

Maka, saatnya ‘memahami’ pandangan kelompok orang asing terhadap Hita Batak, dengan cerdas, kontemplatif dan transformatif serta kolaboratif (kolaborasi sosial) menarasikan (narasi baru) dengan menempatkan nilai-nilai luhur budaya dan nilai-nilai agama kontemporer yang dianut masing-masing saat ini, untuk secara lebih bijaksana mengeliminir dan menjungkirbalikkan late, elat dan teal ke arah persaingan yang sehat, saling menghormati dan mengasihi (Holong Somba, Holong Manat, Holong Elek, plus Holong Satia), tanpa rasa iri, benci, dengki dan angkuh sok hebat.

Seperti sisi positif kecemburuan yang dilakoni para Raja Huta Batak ketika menyambut dan menjamu para misionaris di hampir semua tempat sebagai tamu asing yang bermaksud baik dan secara moral budaya Batak wajib dihormati. Di mana ketika misionaris dijamu seorang Raja Huta bersama seluruh penduduknya di suatu Huta, Raja Huta tetangganya datang mengundang misionaris untuk bermalam di Ruma Sopo Huta-nya dan dijamu juga secara besar-besaran. Kendati sebagian besar misionaris memandang hal itu sebagai persaingan iri hati dan kebodohan;[26] Karena mereka (misionaris) tidak paham bahwa seorang Raja adalah pemilik tungku masak yang tak pernah padam (Parapi na so haitopan atau Partataring na so ra mintop), pemilik tikar yang tidak pernah digulung, selalu terbuka menjamu semua orang tanpa memikirkan dari kaum mana (marga apa) atau kampung mana, apalagi orang asing yang bermaksud baik. Para misionaris kurang mampu melihat nilai luhur dari ‘persaingan’ berbuat kebaikan tersebut, malahan mengejeknya sebagai kebodohan dan keterbelakangan primitif.

Demikian pula, ketika di suatu huta atau bius telah berdiri gedung Gereja dengan satu menara tinggi, Raja Huta/Bius lainnya pun ingin segera membangun gedung Gereja yang lebih megah  dengan dua menara lebih tinggi.[27] Demikian pula ketika Lembaga Mision Batak berdiri raja-raja dan jemaat berlomba memberikan pelean (durungdurung, persembahan). Sehingga menjadi tradisi Gereja Batak, membangun gedung Gerejanya sendiri dan menanggung segala biaya pelayanan di gereja tersebut secara mandiri. Ini adalah contoh kecemburuan, iri hati, persaingan yang bersifat positif, tanpa dengki.

Hal ini bukan berarti kita berkmaksud menjadi atavis yang ingin kembali ke masa lalu, melainkan kita berorientasi jauh ke depan dengan berpijak pada bumi leluhur kita, berbicara dengan lidah kita, dan menjunjung nilai-nilai luhur budaya kita, dengan narasi baru yang kontemplatif dan transformatif, menjadi pelopor Orde Hidup Baru. Pandangan Friedrich Wilhelm Nietzsche tentang masa lalu kita maknai tidak hitam putih, karena nilai-nilai luhur budaya kita sangat demokratis dengan penghargaan yang sangat menonjol pada perbedaan pendapat. Walaupun harus diakui tidak semua tradisi leluhur harus kita pertahankan secara kaku, tetapi malah harus direvitalisasi atau bahkan sebagian harus digantikan dengan nilai-nilai baru.

Friedrich Wilhelm Nietzsche mengatakan manusia dengan karakter yang tidak menyenangkan, penuh ketidakpercayaan, iri pada kesuksesan sesama pesaing dan tetangga, kasar dan marah pada pendapat yang berbeda, menunjukkan bahwa dia termasuk dalam kelas budaya sebelumnya, dan, oleh karena itu, seorang atavisme; Cara dia berperilaku terhadap orang lain adalah benar dan hanya cocok untuk usia hukum klub; dia adalah seorang atavis. Pria dengan karakter yang berbeda, kaya akan simpati, mendapatkan teman di mana-mana, menemukan semua yang tumbuh dan menjadi ramah, bersukacita atas penghargaan dan kesuksesan orang lain dan tidak mengklaim hak istimewa hanya untuk mengetahui kebenaran, tetapi penuh ketidakpercayaan yang sederhana, – dia adalah pelopor (Forerunner) yang mendorong ke atas menuju budaya manusia yang lebih tinggi. Orang yang berkarakter tidak menyenangkan berasal dari masa ketika dasar kasar dari hubungan manusia belum diletakkan, yang lain hidup di lantai atas bangunan budaya, sejauh mungkin disingkirkan dari binatang buas yang melolong dan mengamuk di penjara di gudang bawah tanah.[28]

Ya, iri dan kecemburuan itu sudah setua kodrat manusia, tak terkecuali leluhur Batak. Siapa pun manusia, kuno atau modern, pasti memilikinya. Dan, kemanusiaan kita hari ini sangat dipengaruhi kemauan, kemampuan dan kebijaksanaan kita untuk mengubahnya menjadi potensi yang baik, berguna dan produktif. Sekali lagi, kita tidak berkehendak menjadi atavis, melainkan menjadi pelopor, menjadi garam dan terang dunia dan/atau rahmat bagi semesta alam. Kita ingin mengubah iri hati dan kecemburuan menjadi potensi perlombaan untuk melangkah maju menapaki Jalan, Kebenaran dan Hidup. Mengubah kecemburuan menjadi kesetiaan cinta, yang memang kita memiliki nilai luhur budaya dan potensi untuk itu.

Sebagai contoh, Arnold L. Gesell mengatakan antropologi dan sejarah masyarakat menunjukkan pentingnya kecemburuan seksual bagi institusi keluarga, untuk kesucian, monogami dan kesetiaan suami-istri.[29] Theodor Reik (1941) dalam Of Love and Lust, menyebut penghormatan dan penghargaan yang tinggi terhadap kualitas atau anugerah ini atau itu pada orang lain tidak perlu dibarengi dengan rasa iri. Sebagian kekaguman sering kali tidak memiliki kualitas ini, dan sangat mungkin untuk mengagumi kebajikan ini atau itu pada seseorang tanpa keinginan yang kuat untuk menjadi orang itu. Saya dapat mengagumi, misalnya, keterampilan seorang juara tenis tanpa keinginan yang mendesak untuk menjadi seorang juara tenis. Di sisi lain, saya bisa ingin bermain tenis dengan baik tanpa ingin berubah menjadi dia. Saya mengaguminya, tetapi kekaguman saya terbatas pada bidang tertentu.[30]

Friedrich Wilhelm Nietzsche (1915) dalam Human All-Too-Human (Manusia Semua-Terlalu-Manusia), mengatakan cinta dan kebencian tidak buta, tapi disilaukan oleh api yang mereka bawa.[31] Theodor Reik mengemukakan:

Kekaguman atau kecemburuan yang merupakan premis psikologis cinta, kondisi bawah sadar perkembangan cinta, memiliki dua kualitas penting. Itu diarahkan kepada seluruh kepribadian, kepada semua anugerah gabungan dari objek, dan itu menghasilkan keinginan untuk menjadi seperti orang ini atau menjadi dia. Hanya kekaguman sepenuh hati tanpa batasan yang menghasilkan kecemburuan khusus yang bersandar pada dasar yang kokoh dan tidak disadari dari cinta.Tidak hanya tidak perlu berkembang menjadi cinta, bahkan dapat mengakibatkan kebencian dan permusuhan yang intens. Itu juga bisa menjadi iri hati dan kecemburuan, bisa dirasakan seperti itu dan bisa ditaklukkan. Ada kemungkinan bahwa hal itu bisa berkurang dan menghilang seiring berjalannya waktu, terutama jika seseorang menemukan penghiburan dalam kualitas atau pencapaiannya sendiri.[32]

Cuplikan Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 2 Bab 7.4. Informasi lebih lanjut hubungi: The Batak Insitute (Hita Batak A Cultural Strategy)

 

Footnote:

[1] Gesell, Arnold L., 1906: Jealousy; in The American Journal of Psychology (Edited by G. Stanley Hall, E.C. Sanford, and E.B. Titchener),  Vol. XVII. October, 1906. No. 4; Clark University, Worcester, Massachusetts: Florence Chandler, p.438.

[2] Gesell, Arnold L., 1906: p.437-438.

[3] Bandingkan: Warneck, Johannes, 1906: Tobabataksch-deutsches Wörterbuch, s.113 & 209.

[4] Warneck, Johannes, 1906: Tobabataksch-deutsches Wörterbuch, s.97.

[5] Warneck, Johannes, 1906: Tobabataksch-deutsches Wörterbuch, s.129.

[6] Gesell, Arnold L., 1906: p.446-447.

[7] Gesell, Arnold L., 1906: p.447.

[8] Envious: https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/envious.

[9] Envious: https://www.merriam-webster.com/dictionary/envious.

[10] Gesell, Arnold L., 1906: p.438.

[11] Mercier, Charles Arthur, 1900: Human Temperaments: Studies in Character; London: Scientific Press, p.62.

[12] Mercier, Charles Arthur, 1900: p.63.

[13] Beranger, Clara, 1954: Peace Begins at Home; Missouri: Unity School of Christianity, p.52.

[14] Beranger, Clara, 1954: p.53.

[15] Bowring, John, Sir, (Arranged and Edited), 1834: Deontology or, The Science of Morality : in which the harmony and co-incidence of duty and self-interest, virtue and felicity, prudence and benevolence, are explained and exemplified: from the MSS. of Jeremy Bentham, Vol.I; London: Longman, Rees, Orme, Browne, Green, and Longman; Edinburgh: William Taft:  p.222.

[16] Bowring, John, Sir, (Arranged and Edited), 1834: p.221.

[17] Beranger, Clara, 1954: p.54.

[18] Beranger, Clara, 1954: p.56-57.

[19] Persekutuan dalam Roh Kudus: Bukan berarti orang Kristen Batak harus berbahasa roh, dengan bahasa aneh yang tidak dimengerti dan dihafal menjadi semacam mantera kadabakadaba atau sejenisnya. Memang, karunia bahasa roh adalah tanda, bagi orang yang tidak beriman, bukan untuk orang yang beriman (1Kor.14:22a); Karunia bahasa roh tidak berkaitan dengan tingkat kerohanian seseorang (Ef. 5:18); Tetapi Persekutuan dalam Roh yang berbuah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, tiada late, elat dan teal. (Gal. 5:22-23); Hidup di bawah kendali Roh Kudus.

[20] Joustra, M., 1907. Litteratuuroverzicht der Bataklanden. Leiden: Louis H. Becherer, bl.101.

[21] Nietzsche, Friedrich Wilhelm, 1915: Human All-Too-Human, A Book For Free Spirits, Part I; Translated By Helen Zimmern, With Introdoction By J.M. Kennedy; New York: The Macmillan Company, p.90.

[22] Nietzsche, Friedrich Wilhelm, 1915: p.372.

[23] Nietzsche, Friedrich Wilhelm, 1915: p.161.

[24] Freudenberg, R., 1904: Onder de Bataks op West-Sumatra, Lichtstralen op den Akker der Wereld, II-III, Rotterdam: M. Bredée, b.4-5.

[25] Gesell, Arnold L., 1906: p.494.

[26] Bruch; (S., Coauteur), ca. 1904: Een Bezoek op Samosir van Zendeling Bruch, Uit Het Hoogduitsch, Uitgeqeven door de Halfstuivers-Vereeniging der Kijnsche Zending, Amsterdam/Pretoria: Höveker & Wokmser, bl.15-16.

[27] Trouw, A. Ds, 1933: Indische Reisbrieven, Assen: Van Gorcum & Comp. bl.38.

[28] Nietzsche, Friedrich Wilhelm, 1915: p.388.

[29] Gesell, Arnold L., 1906: p.494.

[30] Reik, Theodor, 1941: Of Love and Lust, On The Psychoanalysis of Romantic and Sexual Emotions; New York: The Noonday Press, p.46.

[31] Nietzsche, Friedrich Wilhelm, 1915: p.371.

[32] Reik, Theodor, 1941: p.46-47.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here