Misi Doloksanggul dan Sekitarnya

Misionaris Willhelm Herling Sisuan Bulu

 
0
97
Hita Batak A Cultural Strategy, Pustaha sijahaon ni halak na bisuk jala marhaporseaon (Buku bacaan orang bijak dan beriman)

Misionaris Willhelm Herling adalah Sisuanbulu Misi Kristen di Doloksanggul dan sekitarnya (2 Mei 1904), ketika Doloksanggul (Humbang Hasundutan dan Pakpak Dairi) masih wilayah Tanah Batak Merdeka. Saat itu, Nommensen mengabarkan ‘peringatan palsu’ kepada Inspektur RMG di Barmen yang sangat menakutkan Willhelm Herling bahwa para pengikut Si Singamangaraja akan menyerangnya di Pos Misi Doloksanggul. “Gelukkig bleek het een loos alarm (Untung ternyata itu alarm palsu)”, tegas Inspektur RMG Rudolf Wegner.[1]

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

Sierk Coolsma (1901) mencatat pada tahun 1897, Culemann meng­alihkan perhatiannya ke beberapa bentang alam, yang sejauh ini tetap belum berhubungan dengan Injil, dan berbaring mengarah ke Si-Boga, yaitu Bonandolok dan Doloksanggul. Ketika dia melakukan perjalanan melalui bentang alam ini, dia kagum dengan banyak populasi, yang diperkirakan mencapai puluhan ribu. Seorang raja tua di bentang alam tersebut dengan mendesak meminta seorang misionaris agar ia dapat menjadi seorang Kristen sebelum kematiannya. Namun keinginan raja tua itu tidak terpenuhi. Kemudian, H. Brakensiek yang baru tiba diharapkan untuk medan baru itu, tetapi ia tampaknya lebih diperlukan di tempat lain, dan raja tua itu meninggal tanpa melihat keinginannya terpenuhi.[2]

Jadi para Raja Huta/Bius di Doloksanggul sekitarnya, yang menurut Inspektur RMG Rudolf Wegner: “vroegen 20 der aanzienlijkste hoofden om een Zendeling en verklaarden zich bereid, hem aan te zullen nemen” (20 raja yang paling terkemuka meminta seorang misionaris dan menyatakan diri mereka siap untuk menerimanya);[3] untuk mengajarkan Injil ke Doloksanggul sekitarnya, tapi tidak segera bisa dilayani.

Baru pada 2 Mei 1904, Misionaris Willhelm Herling membuka pos misinya di Doloksanggul yang masih wilayah Tanah Batak Merdeka, belum dijajah Belanda. RMG memindahkan Tuan Willhelm Herling dari Nias dan belajar Bahasa Batak selama satu tahun lalu mangarimba di Doloksanggul. Menurut penuturan Raja Kores Simanullang (1891-1961), Misionaris Willhelm Herling disambut meriah di Doloksanggul dengan jamuan makan bersama yang dihadiri para raja dan penduduk dari berbagai huta dan Bius; Selain Bius Doloksanggul 1 dan 2, juga Bius Marbun, Simanullang Toba, Simanullang Dolok, Bonandolok dan Simamora Nabolak. Tuan Herling sisuan bulu rumah misi di Doloksanggul yang dibangun menjadi pargogung­an. Tahun 1905, tepatnya Natal 25 Desember 1905, Misionaris Herling sudah membaptis 90-an orang di Doloksanggul, dan segera menyusul ratusan orang lainnya, di antaranya Raja Juda Simanullang (Ompu Luga, 1861-1937) dan keluarganya, di antaranya puteranya Raja Kores Simanullang (Ompu R. Binsar Halomoan, 1891-1961). Tahun 1906, didirikan Gereja, sekolah dan Balai Kesehatan Zending (Pargodungan).[4] Balai Kesehatan tersebut berkembang menjadi Rumah Sakit Pembantu Zending.[5]

Saat Willhelm Herling baru membuka pos misinya di Doloksanggul, Nommensen mengirim surat kepada Inspektur RMG di Barmen, berisi adanya peringatan ancaman bahwa para pengikut Raja Si Singamangaraja akan menyerang Pos Misi itu yang akan sangat membahayakan nyawa Tuan Willhelm Herling. Inspektur RMG Rudolf Wegner mengisahkan: “Kemudian Herling, diinformasikan oleh surat dari Dr. Nommensen tentang adanya peringatan, karena dikabarkan bahwa para pengikut Si Singa­mangaraja tidak suka seorang misionaris menetap di wilayah merdeka dan mereka bermaksud untuk menyerang; untung ternyata itu alarm palsu dan saudara kita bisa kembali”. (Toen werd Herling door een brief van Dr. Nommensen teruggeroepen, immers het gerucht verspreidde zich dat de volgers van Si Singamangaraja het kwalijk namen, dat in het onafhankelijk gebied zich een Zendeling vestigde en dat zij voornemens waren een inval te doen; gelukkig bleek het een loos alarm geweest te zijn en onze broeder kon terugkeeren).[6] Inspektur RMG Rudolf Wegner menegaskan bahwa Nommensen memberi kabar adanya peringatan ancaman (melalui surat) kepada Inspektur RMG di Barmen, tentang para pengikut Si Singamangaraja yang disebut Nommensen bahwa mereka tidak suka seorang misionaris menetap di wilayah merdeka dan bahwa mereka bermaksud untuk menyerang; Untungnya ternyata itu alarm palsu!

Saat itu, belum ada izin dari Pemerintah Hindia Belanda kepada misionaris RMG memasuki Doloksanggul sekitarnya, karena masih merupakan wilayah Tanah Batak Merdeka. Doloksanggul sekitarnya, sampai ke Pakkat, Parlilitan dan Pakpak Dairi serta Uluan dan Habinsaran masih merupakan basis perang gerilya Pejuang Rakyat Batak yang berjuang bersama Si Singamangaraja mempertahankan kedaulatan Tanah Batak Merdeka. Tetapi 20-an raja di Doloksanggul sekitarnya telah menandatanagani surat perminta­an kiranya misionaris berkenan datang menga­barkan Injil di wilayah Tanah Batak Merdeka itu dan menjamin keselamatan misionaris itu. Dan, Herling datang memenuhi permintaan itu.

Melihat kenyataan itu, kemudian Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Surat Keputusan No.15, tertanggal 12 November 1904, menyatakan tidak ada keberatan dari pemerintah untuk misionaris RMG mengunjungi/melayani wilayah pemerintahan Parmonangan, Doloksanggul, Ranggigit, Lumbantobing, Sisoding dan Lumbanhariara di Tanah Batak Merdeka, ketika mereka melakukan sendiri ke tempat-tempat yang Raja Huta/Bius-nya meminta kedatangan mereka kepada petugas administrasi tetangga dan menjamin keselamatan mereka dengan petugas itu.[7] Saat itu, Doloksanggul sekitarnya masih wilayah Tanah Batak Merdeka, belum dianeksasi Belanda.[8] Lalu, segera setelah itu, April 1905, Doloksanggul, Simanullang dan Bonandolok dianeksasi. Pemberitahuan Singkat di Majalah Rijnsche Zending 1905, meneyebut:

“Dalam perjalanan bulan ini (April) bagian barat Dataran Tinggi Toba, antara lain bentang alam Dolok Sanggoel, Si Manoellang dan Bonandolok serta bentang alam utara tenggara Danau Toba yaitu Si Gaol, Si Boentoean, Marom, Djandji Matugoe dan seluruh Uloean, dimasukkan ke dalam wilayah pemerintahan”.[9]

Saat itu, masyarakat ‘parlanja’ (pedagang) Doloksanggul masih lebih memilih ke Barus melalui Pakkat, daripada ke Sibolga melalui Tarutung. Maka salah satu paling terkenal dalam kisah-kisah tetua di Doloksangul sampai tahun 1950-1960-an, adalah kisah kedatangan Van der Tuuk (yang dilafalkan Pandortuk, atau Pandoltuk) ketika disambut di beberapa kampung saat Pandortuk dalam perjalanan dari Barus menuju Bangkara sebagai tamu Raja Si Singamangaraja XI pada akhir Februari-Maret 1853.[10] Para Parlanja menjual kemenyan ke Barus dan dari Barus membawa kain katun dan garam. Sehingga ada anekdot tentang Parlanja yang digelari Simamora na Oto, sebab seorang bermarga Simamora, pertama kali membawa garam dari Barus dia menyimpan (menyembunyikan) garamnya ke dalam air, yang ternyata menjadi mencair dan hilang. Juga plesetan sebutan kepada guru yang sering memukul muridnya disebut Guru Pandoltuk. Jadi bagi para Parlanja (pedagang) dari Humbang Hasundutan (saat ini) sudah terbiasa bertemu orang asing di Barus, termasuk dengan Pandortuk (1847-1853).

Advertisement

Tuan Herling dan isterinya Maria Herling mengabdi di pos misi Doloksanggul ini hingga akhir hayat mereka. Isteri Tuan Herling, Maria Herling meninggal 23 Oktober 1906 (usia 32 tahun) meninggalkan seorang puteri dan dikebumikan di komplek Gereja tersebut. Tuan Herling membuat batu nisan isteri­nya, Auf Wiedersehen (Good bye). Bebe­rapa tahun kemudian, 24 Maret 1912, setelah Pargodungan Doloksanggul berkembang, Tuan Herling menderita penyakit typhus dan sempat dibawa/dirawat di RS Pearaja Tarutung tapi nyawanya tidak tertolong dan berpulang ke rumah Bapa.[11] Tidak diketahui lagi di mana Tuan Herling dikebumikan. Alangkah baik­nya, ada atau tidak ada kuburannya, Monumen Tuan Willhelm Herling dibangun di tempat ini, dan menamai jalan menuju gereja ini Jalan Tuan Willhelm Herling.

Sesaat setelah Willhelm Herling wafat, Inspektur RMG Rudolf Wegner (1859-1934) menulis ‘in memoriam’ Willhelm Herling di Majalah De Rijnsche Zending (1912) menceritakan bahwa pada pagi tanggal 26 Maret 1912, ketika sebuah telegram datang, mengatakan: Herling alizarin, yaitu, Herling telah meninggal, kami segera meminta penggantinya.[12] Lebih lanjut Rudolf Wegner mengisahkan: (Selengkapnya baca Buku Hita Batak A Cultural Strategy).

Footnote:

[1] Wegner, Rudolf, 1912: Wilhelm Herling; in de Rijnsche Zending, Tijdschrift, Uitgegeven Door de Vereeniging tot bevordering der belangen van het Rijnsche Zendinggenootschap te Barmen (Onder Redactie van P. Groote, J. H. Meerwaldt en C. J. H. Verweijs); Amsterdam: H. C. Thomsen, bl.114

[2] Coolsma, S., 1901: blz.376.

[3] Wegner, Rudolf, 1912: Wilhelm Herling; bl.114

[4] Oral Story: Guru Tumpak Hasiholan Simanullang (1928-2008), konfirmasi tahun 1996, berdasar (sesuai) penuturan Ayahandanya Raja Kores Simanullang (1891-1961).

[5] Rumah Sakit Zending Doloksanggul:  kemudian tahun 1960 pengelolaannya diambilalih Pemkab Tapanuli Utara, dan menjadi cikal bakal RSUD Doloksanggul saat ini.

[6] Wegner, Rudolf, 1912: Wilhelm Herling; bl.114.

[7] Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1906, Twedee Gdeelte, Kalender en Personalia; Batavia: Landsdrukkerij, bl.388.

[8] Wegner, Rudolf, 1912: Wilhelm Herling; bl.114

[9] De Rijnsche Zending; Tijdschrift, 1905; Uitgegeven door de Vereeniging tot bevordering der belangen van het Rijnsche Zendinggenootschap te Barmen, Onder Redactie van J. H, Meerwaldt en P. Van Wijk Jr.; Amsterdam: Höveker & Wormser, bl.80

[10] Nieuwenhuys, Rob (Editor), 1982: b.59-71. (Baca: Bab 11.1.3: Pandortuk Ateis Sibungka Pintu, Sub-Judul: Disambut Si Singamangaraja XI).

[11] Nommensen, J.T., 1921, h.205.

[12] Wegner, Rudolf, 1912: Wilhelm Herling; bl.113

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here