Teologi Debata Mulajadi Na Bolon

The Myth of High God

 
0
828
Diagram Debata Mulajadi Nabolon, Teologi Batak

Leluhur Batak percaya kepada Debata Mulajadi Na Bolon (Sang Khalik Maha Besar); Debata na so marmula so marujung (Allah yang tidak bermula tidak berujung); Debata na sada si tolu suhu (Tuhan yang Esa dalam tiga unsur) yakni Tritunggal Debata Batara Guru, Soripada Sohaliapan dan Mangala Bulan. Ini yang kita sebut jenis Mitologi Debata (The Myth of High God) Batak.

Oleh Ch. Robin Simanullang, The Batak Institute

 

Johannes Warneck (1909) dalam The Living Forces of Gospel: Experiences of A Missionary in Animistic Heathendom (Kekuatan Hidup Injil: Pengalaman Misionaris di Heathendom Animistik) menyebut Ompu Tuhan Muladjadi dipandang sebagai pencipta. Itulah arti dari nama itu sendiri.[1] H.A. v.d. Hoven van Genderen (1929) dalam De Bijbelsche Geschiedenissen en de Zending (Sejarah Alkitab dan Misi) menyebut, di kalangan orang Batak Toba (Sumatera) ada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut Ompu Tuan Mula Jadi, yaitu “Heer Oorsprong van het Worden” (Tuhan Asal Menjadi).[2]

Sementara, M.A.M. Renes-Boldingh (1933) dalam bukunya Bataksche Sagen en Legenden (Kisah dan Legenda orang Batak), berkeyakinan bahwa orang Batak pertama pasti memiliki konsep yang lebih murni tentang Tuhan di tempat tinggal mereka yang terisolasi, di tengah-tengah pegunungan Sumatera yang sulit; Yang memungkinkan untuk mempertahankan, menjaga dan memeliharanya dengan ketat sehingga hampir tidak terpengaruh, dibandingkan generasi selanjutnya. Renes-Boldingh menyebut leluhur Batak pasti memiliki kesadaran akan satu Tuhan, Debata, yang adalah pencipta langit dan bumi, dan yang ada “di bawah bumi”, dan yang mengontrol nasib setiap manusia. Dialah hakim yang adil, pembalas kejahatan, tetapi juga memiliki belas kasihan di dalam dirinya untuk semua yang menderita; dan pada saat dibutuhkan seseorang bahkan dapat memanggilnya tanpa pengorbanan (persembahan).[3]

Bahkan, tulis Renes-Boldingh, dalam semua kegelapan dan kemerosotan tauhid ini, setidaknya merupakan sisa darinya, masih bisa mempertahankan diri dalam berbagai ungkapan dan doa-doa singkat yang masih hidup di masyarakat, seperti: “semuanya tergantung Tuhan”; “Kita semua ada di tangan Tuhan,” “seperti yang dikehendaki Tuhan,” dan sejenisnya, yang bisa jadi, tanpa pertanyaan, diadopsi oleh agama Kristen, asal mula sebenar­nya yang mungkin bahkan tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Lalu, ketika kemerosotan dimulai, tidak bisa dikatakan kapan pasti­nya, karena tidak ada catatan tertulis, tidak ada ‘kitab suci’ (tertulis) orang Batak. Namun, kemungkinan besar kemerosotan karena kontak dengan umat Hindu, pada abad ketiga belas dan keempat belas.[4]

Pernyataan Renes-Boldingh tersebut menegaskan bahwa leluhur Batak jauh sebelum kedatangan Hindu, Islam dan Kristen ke Tanah Batak, telah mempunyai kepercayaan kepada Debata, dan mempercayai bahwa: “Semuanya tergantung Debata”; “Kita semua ada di tangan Tuhan,” “seperti yang dikehendaki Tuhan,” dan sejenisnya; Atau selengkapnya: “Saluhut panggolmit ni ngolu saguru tu lomo ni Debata do.” Yang kemudian ‘diadopsi’ agama Kristen: Kita menyebutnya ‘dikuduskan’ agama Kristen.

Menurut Renes-Boldingh orang Batak tidak memiliki kitab suci yang di dalamnya tercatat iman mereka. Apa yang hi­dup dan masih hidup dalam jiwa rakyat telah diturunkan dari generasi ke generasi ke dalam tradisi lisan. Oleh karena itu, pengeditan (penuturan) dari satu saga yang sama seringkali berbeda. Ketika narator merasa perlu memberi kelonggaran kepada pendengarnya, dia melakukannya tanpa tersipu.[5]

Ya, itulah kenyataan yang dialami orang Batak terutama setelah akhir abad 19. Sudah tidak ditemukan pustaha laklak tentang Mitologi, falsafah, nilai-nilai moral, sistem kekerabatan, adat dan hukum Batak. Walaupun pada tahun 1787, J.C.M. Radermacher dalam Beschryving van Het Eiland Sumatra (Deskripsi Pulau Sumatra) masih ‘menyaksikan’ keberadaan Heilig Boek (kitab suci) orang Batak.[6] Tetapi, selepas itu, pustaha laklak berkategori Pustaha Agong dan Tumbaga Holing tersebut tidak ditemukan lagi keberadaannya. Selain kemungkinan ada pihak yang sengaja memusnahkannya, juga kemungkinan Heilig Boek itu juga sangat langka. Untungnya, orang Batak punya tradisi turiturian lisan, sehingga Pustaha Agong dan Tumbaga Holing tersebut tidak bisa dimusnahkan, walaupun mempunyai kelemahan terjadinya berbagai versi dan sulit menemukan kisah asli awalnya (manuskrip).

Schmidt, S.V.D. (1910) dalam Grundlinien Einer Vergleichung der Religionen und Mythologien der Austronesischen Völker (Dasar-dasar Perbandingan Agama dan Mitologi Masyarakat Austronesia), Kapitel Zwei: Die Batak auf Sumatra (Bab Dua: Batak di Sumatera), menyebut, karakterisasi umum agama Batak Toba tidak bisa lebih baik daripada uraian Johannes Warneck[7] yang membagi tiga kelompok ide dan motif keagamaan berjalan berdampingan dalam agama Batak: pertama gambar dunia para dewa, kedua pandangan jiwa yang sama sekali tidak tersentuh, sebagai masalah yang menghidupkan kembali, dan akhirnya (ketiga) ketakutan akan roh, setan, dan leluhur.[8]

Advertisement

Dalam Mitologi Batak lisan tentang Teogoni Debata (The Theogony of High God) yakni mitologi yang menceriterakan tentang Debata (Allah Tinggi) Mulajadi Nabolon sebagai Sang Khalik Semesta yang tidak bermula dan tidak berujung (Na so marmula na so marujung), dikisahkan bagaimana Debata Mulajadi Nabolon menciptakan tiga unsur Debata yang me­rupakan puteranya sendiri.

Sebelum, Debata menciptakan bumi dan manusia, lebih dulu diciptakan tiga puteranya yang kemudian akan menguasai makrokosmos dalam tiga atmosfir mikrokosmos dan unsur-unsur­nya. Ketiga puteranya ditetaskan dari telur ciptaannya. Untuk mengerami dan menetaskan telur tersebut, Debata Mulajadi menciptakan ayam yang sangat gagah perkasa yakni Manuk Patiaraja, disebut juga Manukmanuk Hulambujati, di langit ketujuh. Manuk Patiaraja dibekali 12 butir bijian sebagai bekal satu butir tiap 30 hari (1 bulan), yang menjadi awal parhalaan (astronomi) Batak. Setelah ke-12 butir bijian habis, paruh Manuk Patiaraja gatal dan memecahkan ketiga telur, yang melahirkan Debata Batara Guru, Debata Soripada Sohaliapan, dan Debata Mangala Bulan.

Dengan cara yang hampir sama, Debata juga menciptakan tiga dewi untuk menjadi isteri ketiga puteranya, yakni Si Boru Pareme, Si Boru Parorot dan Si Boru Panuturi. Lalu, setelah dewasa, atas restu Debata Mulajadi Nabo­lon, ketiga dewa (debata) itu menikah dengan tiga dewi tersebut. Debata Batara Guru menikah dengan Si Boru Pareme; Debata Soripada Sohaliapan menikah dengan Si Boru Parorot; dan, Debata Mangala Bulan menikah dengan Si Boru Panuturi.

Pasangan Debata Batara Guru/Si Boru Pareme mempunyai satu orang putra yakni Raja Odapodap dan empat putri (ada juga menyebut satu putri saja) yakni bernama Si Boru Sunde, Si Boru Tapi Omas (Si Boru Mangiring Omas), Si Boru Sorbajati, dan Si Boru Deak Parujar (bungsu). Pasangan Debata Soripada Sohaliapan/Si Boru Parorot mempunyai satu putra yakni Tuan Dihurmajati (juga digelari Si Raja Asiasi) dan satu putri bernama Nai Bauraja (Si Boru Naraja Ingotpaung). Pasangan Debata Ma­ngala Bulan/Si Boru Panuturi memiliki satu putra yakni Raja Padoha (Naga Padoha Niaji) dan satu putri bernama Narudang Ulubegu.

Kemudian, Debata menyempurnakan penciptaan alam semesta dengan menciptakan Bumi (Banua Tonga), melalui cucu kesayangannya Si Boru Deak Parujar, puteri Batara Guru. Kemudian, Dewi Si Boru Deak Parujar menikah dengan Dewa Si Raja Odapodap dan melahirkan Si Raja Ihat Manisia dan Si Boru Itam Manisia, pasangan manusia pertama yang adalah keturunan Debata, yakni nini-nono (cicit) Debata Mulajadi Na Bolon; Manusia adalah titisan (keturunan) Ilahi.[9]

Setelah Bumi dan segala isinya diciptakan, maka makrokosmos tersempurnakan dalam tiga atmosfir mikrokosmos dan unsur-unsurnya, yakni Banua Ginjang (Benua Atas), Banua Tonga (Benua Tengah) dan Banua Toru (Benua Bawah). Ketiga atmosfir Banua itu adalah dalam satu kesatuan makrokosmos yang harus dijaga keseimbangan dan harmonisasinya. Dalam totalitas kesatuan dan keseimbangan harmoni makrokosmos-mikrokosmos tersebut, ketiga Debata diberi fungsi dan kewenangan yakni: 1). Debata Batara Guru sebagai penguasa Banua Ginjang, representasi Debata Panompa dohot Pamasumasu (Pencipta dan pemberi berkat) yang dalam fungsinya disebut juga Ompu Bubi Na Bolon dan Debata Idup; 2) Debata Soripada Sohaliapan, atau Debata Balasori,sebagai penguasa Banua Tonga, disebut juga Ompu Silaon Nabolon atau Sibaso Nabolon, representasi Debata Parorot (Pengasuh, Penyelenggara) yang dinamai juga Debata Asisi (Pengasih) yang imanen; 3) Debata Mangala Bulan sebagai penguasa Banua Toru, disebut juga Ompu Pane Nabolon, representasi Debata Pargogo jala Panguhum (Kekuatan dan Penghakiman); dalam hal tertentu disebut juga Boraspati ni Tano (dewa kesuburan) dan Saniang Naga, dewi air (Danau Toba dan laut), sumber mata air.

Sebagaimana makrokosmos dengan tiga atmosfir mikrokosmos (Banua Ginjang, Banua Tonga dan Banua Toru) adalah satu kesatuan holistik, demikian pula ketiga Debata adalah totalitas kesatuan dalam tiga unsur (na sada sitolu suhu) sebagai Tritunggal yang merepresentasikan (totalitas) Debata Mulajadi Na Bolon.

Penulis berinisial GKN (1870) dalam Bijdrage tot de Kennis van den Godsdienst der Bataks (Kontribusi untuk Pengetahuan Agama Batak), mengutip tulisan-tulisan HN van der Tuuk, sebagai sumber utama esainya dan manuscript serta sumber lainnya, mengatakan bahwa Batak membedakan tiga jajaran dewa, yaitu dewa super atau dewa sebenarnya, yang tinggal di surga, banoewa gindjang (hoogland), para dewa pertengahan, tempat manusia serta banyak roh dan hantu berada, yang kediamannya adalah bumi sebagai pusat, dan para dewa atau makhluk yang lebih tinggi yang tinggal di dunia bawah (loemban bata di toroe, juga disebut padang si loengoenon, yaitu dataran berumput yang sepi). Dewa sebenarnya yang tinggal di dunia atas, kepala mereka adalah Batara Guru yang juga muncul sebagai pencipta dunia, setidaknya dalam salah satu kisah penciptaan yang beredar di antara orang Batak dan yang darinya Tuan van der Tuuk telah memberikan teks dan terjemahan. Sori Pada mengikutinya di peringkat berikutnya. Yang ketiga dari para dewa di atas adalah Mangala Bulan. Ia dianggap sebagai dewa yang tidak stabil, atau kasar. Menurut Burton dan Ward, dia memiliki andil besar dalam kepemimpinan urusan manusia dan akan selalu dapat menggagalkan niat baik para dewa lainnya. Itulah sebabnya orang Batak terutama berusaha untuk mendapatkan bantuannya.[10]

Selanjutnya, GKN menulis: “Dari para dewa yang berdiam di bumi ini, kepala dalam arti tertentu adalah pangeran Bakkara. Doa dimohon kepadanya agar ia dapat memberkati panen, dan atas perintahnya kerbau disembelih dan dagingnya mereka konsumsi sebagai semacam pengorbanan agar panen yang baik dapat diperoleh. Gelar atau nama turun-temurunnya adalah Sisingamangaradja. Ia dikabarkan telah berada di dalam rahim selama tujuh tahun, dan dilahirkan sebagai seorang anak berusia tujuh tahun, memiliki bulu di lidah dan tidak makan daging babi atau daging anjing. Dalam pantangan ini, orang Batak melihat perbedaan utama antara mereka yang menganut agama leluhur dan Muslim. Dewa-dewa lain dari pusat (bumi) ini adalah: sombaon (dari Somba = Sembah, Melayu), roh raja atau bangsawan yang telah lama meninggal. Mereka diberi ‘peringkat yang agak lebih tinggi’ dan dalam cerita mereka juga muncul sebagai roh penjaga.”[11]

Beberapa penulis menyebut bahwa dewa-dewi mitologi Batak itu banyak, bukan hanya tiga yang utama (Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan); melainkan ada juga debata lainnya, yang disebut Warneck dan beberapa penulis asing lainnya sebagai dewa tingkat dua atau dewa yang lebih rendah, yang dinamai Ompu Tuan Bubi Na Bolon, Boraspati ni Tano, Debata Idup, Ompu Silaon Na Bolon atau Sibaso Nabolon, Debata Asiasi, Ompu Pane Na Bolon, dan Saniang Naga.

Menurut Warneck, Debata (dewa-dewa utama) tidak disembah di kuil-kuil atau di tempat-tempat suci, dewa utama transenden mutlak (Kebalikan pendapat Dr. Philip L. Tobing, imanen mutlak). Warneck: “Mereka bahkan tidak berhubungan dengan manusia melalui media apa pun. Manusia tidak banyak berhubungan dengan mereka, dan nama mereka hanya dipenuhi dengan mitos dan doa. Yang lebih pen­ting bagi perasaan religius, karena lebih dekat dengan manusia, adalah para dewa tingkat kedua, dewa-dewa yang lebih rendah yang bukan berasal dari manusia, juga seperti leluhur, yang pada umumnya disembah meskipun tidak bergantung pada dewa-dewa utama. Mereka lebih ditakuti daripada para dewa yang jauh di surga; dan mereka lebih dibutuhkan di desa dan di lapangan.”[12]

Warneck memberi contoh Debata Idup, yang disebutnya dewa maskulin dan feminin; dewa yang disembah untuk kelanjutan  generasi. “Dewa ini disembah dalam bentuk dua patung kayu, satu maskulin dan lainnya feminin, dan simbol-simbol ini dibawa mengelilingi rumah pasangan yang sudah menikah sambil memohon restu anak. Juga Boraspati ni Tano adalah dewa bumi yang baik hati, yang dipersonifikasikan sebagai penguasa buah bumi. Pematangan buah-buahan di ladang adalah yang paling penting bagi orang-orang agraris; akibatnya dewa ini lebih ditakuti dan disembah daripada semua dewa surgawi yang disatukan. Dia adalah dewa pertama yang dipanggil dalam semua doa pengorbanan. Ia dipercaya sebagai dewa yang tinggal di bumi, dan terwujud dalam ukiran kadal yang sangat sering ditemukan di rumah. Begitu pula Saniang Naga adalah roh air perempuan, yang disembah sebagai sumber pemberi maupun kekuatan destruktif air. Boru na Mara adalah roh udara yang menyebabkan penyakit. Penyembahan dewa-dewa semacam itu dapat dijumpai di mana-mana.”[13]

Dr. George Alexander Wilken (1891) dalam De Hagedis is Het Volksgeloof Der Malayo-Polynesiërs (Kadal adalah kepercayaan populer orang Melayu-Polinesia) menyebut bahwa ada dua roh atau dewa yang disembah orang Batak, dengan nama Boraspati, yaitu Boraspati ni bagas, yaitu Boraspati rumah; dan Boraspati ni tano, yaitu Boraspati di tanah. Keduanya adalah roh penjaga: yang pertama menjaga rumah, yang lain mengawasi tanah, panen yang melimpah diminta dari mereka, dan dari mereka dimohon berkah, kesehatan dan kebahagiaan. Karena kata boraspati juga digunakan dalam arti kadal, orang mungkin berasumsi bahwa kedua dewa cenderung mewujudkan diri mereka dalam kadal.[14]

Menurut Wilken, nama Boraspati tersebut berkaitan (diidentikkan) dengan nama Saraswati yang juga dari nama kadal (Jawa Kuno); Juga Brhaspati, dewa kebijaksanaan, guru para dewa di India. “Karena alasan yang sama dengan Saraswati, Brhaspati pasti diidentikkan dengan kadal. Jelas bahwa kadal, sebagai hewan peramal yang memperingatkan terhadap bencana, adalah penjaga. Demikian juga menjadi jelas bahwa Brhaspati, dewa kebijaksanaan, telah menjadi Boraspati-ni-bagas dan Boraspati-ni-tano, penjaga rumah dan tanah, pada orang Batak.”[15] Namun, Wilken dalam catatan kaki menyebut dalam Weda Brhaspati dikaitkan dengan karakter dewa penjaga, di mana ia disebut antara lain “pembimbing, pelindung dan penjaga orang-orang yang bertakwa, yang olehnya menyelamatkan dari segala bahaya dan bencana serta diberkati dengan kekayaan dan kemakmuran” (Lihat: Muir, teks Sanskerta Asli, vol. V, hlm. 280), tetapi tampaknya diragukan bagi orang Batak. Bahwa Brhaspati bagi orang Batak, sebagai Boraspati-ni-bagas dan Boraspati-ni-tano, roh penjaga rumah dan tanah, oleh karena itu merupakan konsep yang belum diambil alih dari Hindu, tetapi berasal dari masyarakat Batak sendiri, sebagaimana ditunjukkan dalam teks.[16]

Di Batak Boraspati tersebut terdiri dari tiga jenis yakni: 1) Boraspati ni Jabu (Bagas) yakni (simbol) Cicak (Boraspati), penjaga rumah; 2) Boraspati ni Huta yakni (simbol) Tokek (Cicak/Kadal berbintik dan bersuara keras), penjaga kampung; 3 Boraspati ni Tano , yakni (simbol) kadal (Ilik). Yang terdapat dalam ukiran Gorga Batak adalah Cicak (Boraspati); Bukan kadal atau tokek. Atau paling tidak harus dibedakan Borapati ni Bagas (Cicak) dengan Boraspati ni Huta (Tokek) dan Boraspati ni Tano (Kadal).

Setelah menganalisa tugas dan peran nama-nama dewa-dewi tersebut, termasuk upacara ritual yang berkaitan dengannya, kita berkesimpulan bahwa pemberian nama-nama tersebut adalah bersifat fungsional; Yang merupakan sebutan lain dari masing-masing Tritunggal Debata sesuai fungsi tertentu. Se­perti, Ompu Bubi Na Bolon adalah nama sebagai representasi pencipta; Debata Idup sebagai pemberi berkat kehidupan dari fungsi Batara Guru. Demikian pula nama Dewa Ompu Silaon Nabolon atau Sibaso Nabolon, dan Debata Asisi adalah bahagian dari representasi Debata Parorot (Pengasuh, Penyelenggara) dari Debata Soripada Sohaliapan. Demikian pula, sebutan dewa Ompu Pane Nabolon, Boru na Mora atau Saniang Naga adalah satu tarikan nafas dari representasi Debata Pargogo (Kekuatan) Mangala Bulan yang juga secara fungsional sebagai  Boraspati ni Tano itu. Demikian pula, Saniang Naga adalah dewi air, yang disembah baik kebaikan dan kekuatan destruktif airnya, juga dalam fungsi Debata Mangala Bulan.

Namun sebutan Ompung Boraspati ni Tano tersebut juga dipanggil dalam kesatuan Batara Guru, Soripada dan Ma­ngala Bulan dalam totalitas Debata Mulajadi. Hal tersebut terlihat dari salah satu bunyi tonggotonggo (doa) dalam persembahan kurban, yang juga dikutip Warneck berbunyi: “Ompung, bertiga Dewa di ketinggian paling atas di surga tertinggi, di atas batu bergulir yang dilengkapi dengan undakan. Turunlah, kakek, dari kayu berlubang, dari dewa atas ke bawah. Dengarkan kami, Ompung Boraspati ni Tano. Ompung Batara Guru, Batara Guru yang kami taati, Batara Guru tempat kami mengadu, Batara Guru tempat kami semua bergantung. Di sini, Ompung, adalah pengorbananmu, seekor kuda, seekor ikan, dan sirih. Bersatu dengan Ompung kami Soripada, Sori Sohalipan (yang suci), Sori yang kami konsultasikan, Sori pada siapa kami bergantung. Inilah pengorbanan untukmu. Bersatu dengan Ompung kami Mangalabulan, yang hebat di awal dan di akhir. Ini pengorbanan untukmu. Bersatu dengan Ompung kami Debata Mulajadi, yang agung; menaungi kami, Ompung, lindungi kami, Engkaulah yang menciptakan asal mula segala sesuatu, yang meratakan tengkorak, membuka telinga, mengukuhkan hati, mengembang hati, dan membagi jari satu sama lain. O, Dewata Asiasi, yang diutus kepada kami di dunia, kasihanilah kami, 0, Ompung. Dan semua kamu (hamu) yang layak dihormati (sumangot leluhur), hamu yang berkeliling di pegunungan dan awan. Ini adalah pengorbanan untukmu. Oh, Bunda Boru na mora, Boru Saniangnaga, berikut adalah pengorbanan untukmu. Doa dipersembahkan untuk kesuburan tanaman dan ternak, untuk kesehatan dan kemenangan, dan banyak keturunan.”[17]

Tetapi Warneck dan penulis asing lainnya mengartikan nama-nama itu sebagai banyaknya dewa-dewa Batak selain tiga dewa utama. Padahal, jelas, pemberian nama-nama lain tersebut adalah sebagai sebutan fungsional kepada ketiga Debata. Namun, walau mereka menyebut adanya dewa-dewa lain, kata Debata dalam pengertian Allah secara umum banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari: Sungguh mengejutkan, kata kata PW. Schmidt, S.V.D. (1910), bahwa, selain kepercayaan pada banyak dewa, istilah umum Debata (Allah) akrab dengan orang Batak yang politeistik. Meskipun Anda jarang mendengar nama dari lima dewa utama dan dewa kecil, kata Debata dalam pengertian Allah secara umum banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang percaya bahwa nasib rakyat bergantung padanya, memohon belas kasihannya, berpaling kepadanya dengan desahan, memanggilnya pada saat dibutuhkan tanpa membuat pengorbanan apa pun dan takut padanya sebagai hakim dan pemberi upah yang adil.[18]

Schmidt, menyebutkan dalam sejumlah peribahasa (um­pama dan umpasa) hanya kata umum Debata yang digunakan. Seluruh rangkaian predikat tinggi diprediksikan dari Debata ini dan hal-hal besar diharapkan darinya: 1. Getel manik-manik bumi (Erdbetel) ditanam di pasar; Biar Debata membantu kita, ia meningkatkan pengetahuan; 2. Satu diikuti dengan dua cara menghitung. Ada hal-hal yang lebih panjang dan pendek, seperti yang diciptakan Debata di dunia ini; 3. Debata adalah hakim yang mumpuni; 4. Untuk mengisi kekurangan, meng­ambil kelimpahan, semua ini ada dalam kekuasaan Debata; 5. Sitata tumbuh berbaris. Saat Debata membantu, setetes embun menjadi makanan; 6. Pohon yang ditebang berdiri tegak oleh tanaman selempang. Debata berdiri dan melihat ke bawah pada orang-orang yang diperkosa; 7. Manusia tidak boleh mengubah apa yang sedang dilakukan Debata; 8. Jangan mengambil jalan yang bengkok; Debata adalah penguasa kekayaan; dan, 9. Debata memberkati. Dia membuat kita semua punya tondi.[19]

Akan tetapi, lanjut Schmidt, sama sekali tidak dapat diterima untuk mempertimbangkan keadaan Batak saat ini sebagai permulaan pertama yang lemah dari kepercayaan pada dewa yang bangkit dari banyaknya animisme dan manisme yang membi­ngungkan. Melihat upacara-upacara lama dan formula-formula doa, yang semakin tidak bisa dipahami oleh para dewa, dan mitos dan legenda cukup membuktikan hal ini. Memang benar bahwa baik leluhur maupun pelayanan alam memiliki wakil mereka di surga para dewa; tetapi bahkan jika leluhur dan roh-roh alam (yang lebih kecil), karena pertumbuhan berlebihan animisme dan manisme dalam kehidupan sehari-hari, menikmati pemujaan yang lebih intens daripada para dewa yang lebih tinggi, mereka belum berhasil mengguncang tatanan hierarkis para dewa yang telah datang dari zaman kuno. Mereka bukan dewa utama dalam hal yang sama, tetapi hanya mendapatkan tempat mereka jauh di bawah mereka.[20]

Lalu, terjadi pembelokan dan penyimpangan narasi yang sangat mendegradasi kepercayaan dan nilai-nilai moral leluhur Batak. Seperti, narasi M.A.M. Renes-Boldingh (1933) dalam Bataksche Sagen en Legenden, berikut ini: “Tetapi bahkan dewa-dewa ini, yang pada dasarnya harus tetap berada di luar pemikiran religius manusia, dan yang tidak dapat mempe­ngaruhi tindakan mereka menjadi lebih baik atau lebih buruk, karena mereka sendiri tidak mewakili nilai-nilai moral, juga tidak menunjukkan norma-norma moral, pada gilirannya harus memiliki memberi jalan untuk pemujaan Bégu, roh orang mati, yang menyeret keberadaan sedih tanpa akhir di alam hantu dan dikutuk untuk melakukan segalanya dengan cara lain, seperti yang biasa mereka lakukan di dunia orang hidup. Jadi mereka harus membenci orang yang dulu mereka cintai; menghancurkan apa yang disayang dan milik mereka di masa lalu.”[21]

Narasi pembelokan dan pemalsuan yang sangat licik yang mengarahkan sasaran bagaimana kepercayaan leluhur Batak itu tidak mengusung nilai-nilai moral tetapi justru mengusung kebencian; Sangat bertentangan dengan Trisila Batak yang lahir dari bortian (kandungan) Mitologi Batak tersebut.

 

Cuplikan Buku Hita Batak A Cultural Strategy.

 

Footnote:

[1]   Warneck, Johannes, 1909: The Living Forces of Gospel: Experiences of A Missionary in Animistic Heathendom (Authorised Translation From The Third German Edition By Rev. Neil Buchanan), Edinburgh and London: Oliphant, Anderson & Ferrier, p.29.

[2]   Hoven van Genderen, H.A. v.d. 1929. De bijbelsche Geschiedenissen en de Zending. Rotterdam: Nijgh & Van Ditmar’s, bl.11.

[3]   Renes-Boldingh, M.A.M., 1933: Bataksche Sagen en Legenden, Nijkerk: G.F. Callenbach, b.7.

[4]   Renes-Boldingh, M.A.M., 1933: b.7.

[5]   Renes-Boldingh, M.A.M., 1933: b.18-19.

[6]   Radermacher, J.C.M., 1787: b.28.

[7]   Warneck, Johannes, 1909: Die Religion der Batak Ein Paradigma fur die animistischen Religionen des Indischen Archipels,  Leipzig: Dietrich’sche Verlagsbuchhandlung Theodor Weicher, s.2-3.

[8]   Schmidt, PW. S.V.D., 1910: Grundlinien Einer Vergleichung der Religionen und Mythologien der Austronesischen Völker; Vorgelegt in der Sitzung Am 3. März 1909 (Kapitel Zwei: Die Batak auf Sumatra); Denkschriften der Kaiserlichen Akademie der Wissenschaften in Wien. Philosophisch-Historische Klasse. Band LIII; Wien: Alfred Holder – Akademie Deü Wissenschaften, b.37.

[9]   Kisah lengkap perihal Mitologi Penciptaan ini diuraikan dalam Bab 2.3: Kisah Mitologi Si Raja Batak.

[10]  GKN, 1870: b.289.

[11]  GKN, 1870: b.289-290.

[12]  Warneck, Johannes, 1909: The Living Forces of Gospel, p.31.

[13]  Warneck, Johannes, 1909: The Living Forces of Gospel, p.31-32.

[14]  Wilken, George Alexander, Dr., 1891: De Hagedis is Het Volksgeloof Der Malayo-Polynesiërs (Met 2 platen); in Bijdragen Tot De Taal-land-en Volkenkunde Van Nederlandsch-Indie, Vijfde Volgreeks.-Zesde Deel (Deel.XL der Gerheele Reeks), Derde Aflevering; ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 484.

[15]  Wilken, George Alexander, Dr., 1891: blz, 489.

[16]  Wilken, George Alexander, Dr., 1891: blz, 489.

[17]  Warneck, Johannes, 1909: The Living Forces of Gospel, p.37.

[18]  Schmidt, PW. S.V.D., 1910: s.38.

[19]  Schmidt, PW. S.V.D., 1910: s.38.

[20]  Schmidt, PW. S.V.D., 1910: s.38.

[21] Renes-Boldingh, M.A.M., 1933: b.7-8.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here