Fufufafa Omon-omon
Saat cerita punya penjaga
Apa yang terjadi ketika cerita yang dibesarkan menemukan lingkaran yang bersedia menjaganya?
Dalam Omon-omon Framework, kita telah mengenali gerak sebuah cerita keberhasilan yang tumbuh melampaui pencapaiannya. Ada pembumbuan, pembesaran, lalu pertahanan ketika cerita itu mulai berhadapan dengan kenyataan. Pada tahap terakhir, yang dipertaruhkan bukan cuma ketepatan sebuah klaim. Cerita yang telanjur dibangun sudah menjadi sesuatu yang harus dijaga.
Tetapi kehidupan sehari-hari memperlihatkan perkembangan yang lebih jauh. Sebuah cerita tidak selalu bertahan karena pembuatnya pandai merangkai kata atau punya kuasa untuk mengulangnya. Ia bisa bertahan karena dikelilingi orang-orang yang ikut memperoleh sesuatu dari keberadaannya. Sebagian memperoleh keuntungan, yang lain mencari pengakuan, sementara ada pula yang ingin tetap merasa berada di lingkungan yang dianggap benar. Kepentingan mereka berbeda, tapi bertemu dalam satu kebutuhan: cerita itu harus terus dipercaya.
Pujian bertumpuk, pembenaran datang silih berganti, klaim yang mestinya diperiksa mendadak terasa sah hanya karena diulang berkali-kali. Angka pun kehilangan pekerjaan asalnya. Seratus persen dukungan dianggap belum cukup; seribu persen terdengar lebih meyakinkan, meski jelas persentase tidak bekerja seperti itu. Yang dicari adalah ungkapan yang memberi kesan paling besar. Ketika orang-orang di sekeliling ikut bertepuk tangan, ketidakmasukakalan itu malah memperoleh suasana yang menyerupai kepastian.
Lingkaran semacam ini lahir dari kebiasaan sehari-hari, bukan dari rapat rahasia. Orang memuji tanpa mengukur, mengulang klaim tanpa memeriksa, lalu membela siapa pun yang dianggap mewakili kepentingan bersama. Lama-kelamaan, orang bukan hanya diminta mempercayai cerita, tapi juga menunjukkan bahwa dirinya berada di pihak yang tepat.
Akibatnya terasa ketika seseorang mengajukan pertanyaan sederhana. Alih-alih menjawab isi pertanyaan, orang-orang di sekelilingnya mulai memeriksa siapa yang bertanya, mengapa ia bertanya, dan kepentingan apa yang mungkin ada di balik pertanyaan tersebut. Pembicaraan bergeser dari klaim menuju identitas penanyanya. Pertanyaan berubah menjadi pemeriksaan kesetiaan.
Di dalam lingkaran itu, pembelaan mendapat fungsi baru. Ia menjadi tanda bahwa seseorang tetap dianggap bagian dari kelompok, memahami garis yang harus dijaga, dan layak memperoleh kepercayaan. Semakin keras pembelaannya, semakin mudah ia dibaca sebagai orang dalam. Sebaliknya, orang yang meminta penjelasan bisa dicurigai sedang merusak kebersamaan.
Sebuah klaim mestinya lebih kuat ketika sanggup bertahan menghadapi pertanyaan. Namun di sini pertanyaan diperlakukan sebagai ancaman, sementara pembelaan dijadikan bukti. Lingkaran itu menciptakan ukuran sendiri, lalu memakai ukuran tersebut untuk mengesahkan dirinya.
Mekanisme semacam itu tidak membutuhkan kesepakatan terbuka. Ia cukup hidup di tengah orang-orang yang merasa bahwa meragukan cerita bersama berarti meragukan kelompok mereka sendiri. Bahkan orang yang mulanya hanya ikut memuji bisa terdorong membela berlebihan setelah melihat orang lain melakukannya. Ketika pembelaan sudah menjadi ukuran keanggotaan, mundur selangkah untuk memeriksa kenyataan terasa seperti pengkhianatan.
Di sinilah Fufufafa bertemu dengan omon-omon. Omon-omon membantu kita membaca cerita yang membesar, jaraknya dari pencapaian yang sesungguhnya, serta usaha mempertahankannya ketika jarak tersebut mulai terlihat. Fufufafa menyoroti absurditas perilaku yang menyertai proses itu: pujian yang kehilangan proporsi, penjilatan yang tampil sebagai keyakinan, pembelaan yang makin jauh dari pokok persoalan, atau kemunafikan yang dilakukan dengan percaya diri seolah tidak ada yang janggal.
Ketika keduanya berkelindan, yang muncul bukan cuma orang yang mengarang cerita hebat tentang dirinya atau orang lain. Kita melihat sebuah lingkungan yang membuat cerita tersebut terus memperoleh pembenaran, sekaligus mempertontonkan perilaku yang makin sulit dibedakan dari karikatur. Pujian berlebihan kehilangan sifatnya sebagai pujian, berubah menjadi kewajiban sosial. Orang memuji karena orang lain memuji, lalu pembelaan datang karena pujian itu sudah telanjur menjadi ukuran keberpihakan. Bahkan ketika kenyataan memberi alasan kuat untuk berhenti, mengoreksi diri terasa lebih berisiko daripada meneruskan pertunjukan.
Mungkin itulah sebabnya gabungan Fufufafa Omon-omon terasa menyesakkan. Fu-fu-fa-fa, o-mon-o-mon. Bunyi berulang itu seperti putaran yang tak memberi jalan keluar: klaim diulang, pujian ditambah, pembelaan diperkeras, lalu semuanya kembali ke awal. Rangkaian bunyi itu mungkin tampak sepele, tetapi mengingatkan pada percakapan yang menguras kesabaran karena pertanyaan tak pernah benar-benar dijawab.
Sebuah klaim diulang oleh banyak orang, lalu banyaknya pengulang dipakai sebagai alasan untuk mempercayai klaim tersebut. Pembelaan dianggap sebagai tanda bahwa kelompok masih solid; solidaritas kemudian ditampilkan sebagai bukti bahwa cerita yang mereka jaga memang benar. Lingkaran itu bergerak tanpa perlu menambahkan kenyataan baru.
Di luar lingkaran, orang masih bisa bertanya tentang kesesuaian pencapaian dengan pujian, kewajaran angka yang disebut, dan apakah sebuah keberhasilan sungguh memberi hasil sebagaimana dikisahkan. Di dalam lingkaran, pertanyaan semacam itu sudah bukan lagi pusat perhatian. Yang lebih mendesak adalah menjaga agar cerita tetap utuh dan orang-orang yang menopangnya tetap berada di tempat masing-masing.
Maka, pertanyaan yang layak diajukan tidak lagi seberapa jauh sebuah cerita telah menyimpang dari kenyataan. Ada hal lain yang tak kalah penting: apa yang membuat orang-orang terus mempertahankannya ketika penyimpangan itu semakin terlihat? Jawabannya tidak selalu terletak pada keyakinan mereka terhadap cerita tersebut. Ada kalanya, mempertahankan cerita terasa lebih aman daripada mengakui bahwa selama ini mereka ikut membesarkannya.
Pada saat itulah omon-omon memperoleh kehidupan sosialnya sendiri, sementara fufufafa menjadi wajah yang tampak ketika kehidupan itu mempertontonkan absurditasnya. Keduanya bertemu dalam sebuah pertunjukan yang tidak lagi bergantung pada satu orang.
Siapa pun boleh berganti peran, selama cerita tetap berjalan dan tepuk tangan tidak berhenti. Lama-lama, tak jelas lagi siapa yang sedang meyakinkan siapa, siapa yang sungguh percaya, dan siapa yang sekadar tak sanggup menjadi orang pertama yang berhenti bertepuk tangan.
(Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi, di sini kata mencari keseimbangannya sendiri. Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Pintu masuk Sistem Sunyi akan dimuat saat tab dibuka.


Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif

