Data Singkat
Sotjawaruni Kumala Palar, Direktur Utama PT Runi Palar / Ikon Generasi Baru Perak Indonesia | 26 Mei 1946 | Direktori | R | Perempuan, Islam, DI Yogyakarta, Pengusaha, perak, desainer, ITT
Nama:
Runi Palar
Nama Lengkap:
Sotjawaruni Kumala Palar
Lahir:
Pujokusuman, Yogyakarta, 26 Mei 1946
Suami:
Drs Adriaan Palar (Lahir di Bandung 14 November 1936, Sarjana Seni Rupa ITB lulusan 1966, jurusan Interior)
Menikah:
29 Oktober 1967
Anak:
Miranda Risang Ayu Palar, SH, LLM
Alvin Daniel Dipodi Palar, S.Sn
Xenia Dani Tajiati Palar
Ayah:
RS Tjokrosoeroso (almarhum)
Ibu:
R Ngt Sumiyati Soenandar (almarhumah)
Pendidikan:
Sekolah Dasar (SD), Yogyakarta
Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yogyakarta
Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA), Yogyakarta
Institut Teknologi Tekstil (ITT), Bandung
Sekolah Keluwesan dan Kepribadian Wanita Sriwendah (1970)
Sekolah Istri Bijaksana (SIB) di bawah bimbingan Prof. DR. Sikoen Pribadi, SPsi (1974-1977)
1990: UPAKARTI The Indonesian Presidential Award of Merit
1991: The Enterpreneurship Award 1991 dari Rotary Club International.
1992: 28 Best Business Executives in Developing Indonesia dari Natakarsa
1994: WIPI Award (Indonesian Women in Travel), Award of Merit in Indonesian Fine Handicraft for Tourism.
1995: Citra Adhikarsa Budaya’95 dari SCTV (one among seven Indonesian ladies who preserved the Indonesian cultures by Indonesian Television Broadcasting– SCTV).
1995: Srikandi Award dari IMI (International Management Indonesia)
1996: Indonesia Award dari Kharisma Indonesia
2001: Best Fashion Accessories Designer dipilih oleh FTV Paris (Fashion TV) pada acara Bali Fashion Week bulan Mei 2001
1950: Pemerintah Indonesia menetapkan lambang negara Garuda Pancasila.
1981: Presiden AS Ronald Reagan ditembak dalam upaya pembunuhan di Washington D.C.
1856: Perang Krimea berakhir dengan penandatanganan Traktat Paris.
30 Maret
Orang pribumi yang pertama kali menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913, ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesier ("orang Indonesia").