Data Singkat
Mr. Assaat gelar Datuk Mudo, Ketua KNIP dan Mendagri / Pejabat Presiden RI (RIS) | 18 Sept 1904 – 16 Jun 1976 | Ensiklopedi | A | Laki-laki, Islam, Sumatera Barat, DPR, MPR, Mendagri, Ketua KNIP, BP KNIP, PRRI
Nama:
Mr. Assaat gelar Datuk Mudo
Lahir:
Dusun Pincuran Landai, Kanagarian Kubang Putih, Banuhampu, Agam, Sumatera Barat, 18 September 1904
Meninggal:
Jakarta, 16 Juni 1976
Agama:
Islam
Jabatan Utama:
Ketua KNIP dan Mendagri
Isteri:
Roesiah (Menikah 12 Juni 1949)
Anak:
Dua orang putera dan seorang puteri
Pendidikan:
Sekolah Agama Adabiah di Padang
MULO di Padang
School tot Opleiding van Inlandsche Artsen di Jakarta
AMS (SMA) di Jakarta
Rechts Hoge School (Sekolah Hakim Tinggi) di Jakarta
Meester in de Rechten (Mr) dari Belanda
Karir:
Advokat (1939-1942)
Camat Gambir, Jakarta
Wedana Mangga Besar, Jakarta.
Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dengan Badan Pekerja (1946-1949)
Pejabat Presiden Republik Indonesia di Yogyakarta (Desember 1949 – Agustus 1950)
Anggota Parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat)
Menteri Dalam Negeri Kabinet Natsir (September 1950 – Maret 1951)
Anggota Parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat)
Pejuang PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera
1950: Pemerintah Indonesia menetapkan lambang negara Garuda Pancasila.
1981: Presiden AS Ronald Reagan ditembak dalam upaya pembunuhan di Washington D.C.
1856: Perang Krimea berakhir dengan penandatanganan Traktat Paris.
30 Maret
Orang pribumi yang pertama kali menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913, ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesier ("orang Indonesia").